Sumber gambar: berhaji.com

Rahasia Terwujudnya Impian ke Baitullah

Pagi itu sekitar pukul 03.00 WIB, aku terbangun dari tidurku. Dan spontan aku menangis haru karena bermimpi menggandeng bapak ibuku tawaf mengelilingi Ka’bah. Namun tangisanku tak bersuara, hanya menetes air mata saja, karena waktu itu masih di pesantren yang tidurnya di Mushola bareng dengan teman-teman lainnya.

Setelah kejadian itu aku pun tak berhenti berdoa di setiap selesai shalat agar Allah memberi anugerah kepadaku, bapak dan ibuku juga keluargaku untuk bisa berangkat haji ke Baitullah. Namun, sebelumnya juga sudah berdoa meminta kepada Allah untuk bisa ke Baitullah. Hanya saja tidak serajin setelah datangnya mimpi itu.

Saat bersama santri, pak Kiyai juga berdoa dengan bahasa arab yang artinya kurang lebih agar kita semua bisa naik haji ke Masjdil Haram dan berziarah ke makam Nabi yang berada Madinah dengan sehat, cepat, lancar, aman, dan diterima oleh Allah.

Pada tahun 2011, kira-kira 10 tahun setelah mimpi itu, bapak dan ibuku berangkat haji ke Tanah Suci. Aku merasa senang karena mimpiku waktu itu menjadi kenyataan. Walaupun aku tidak menyertai beliau berdua berangkat ke Tanah Suci.

Aku pun terus berdoa kepada Allah. Bahkan di dalam doaku, aku sempat bilang ke Allah; “Ya Allah, di dalam mimpiku aku menggandeng bapak ibuku mengelilingi Ka’bah-Mu, mengapa hanya bapak ibuku saja yang engkau panggil. Aku kapan?” pintaku penuh harap.

Aku pun terus berdoa kepada Allah di setiap selesai shalat, seakan doa itu menjadi satu paket setelah shalat. Namun juga ada doa lain lagi yang juga sepaket setelah shalat yaitu doa untuk kedua orang tua. Rasanya kurang puas kalau setelah shalat belum doa itu.

Pada tahun 2013. Ada pengumuman lomba dai di TV swasta Nasional. Yaitu lomba “Dai Aksi Indosiar. Aku pun memberanikan diri untuk ikut, karena ada hadiah umrah bagi juara 1-3. Aku pun mendaftar dan akhirnya diterima dan masuk nominasi 36 besar di Jakarta.

Saat tampil pertama, aku gagal dan harus pulang di pagi itu juga. Harapanku pupus untuk bisa ke Baitullah. Mungkin karena waktu itu aku terlalu percaya diri untuk tidak banyak meminta dukungan kepada teman-teman, karena baru awal penampilan, ku berfikir akan mudah bisa lolos ke babak selanjutnya.

Pada tahun 2014, ada lagi lomba dai di MNCTV. Lomba itu berjudul “Dai Muda Indonesia.” Aku pun ikut mendaftar kembali, dengan harapannya agar bisa ke Baitullah karena di lomba kali ini hadiah umrahnya untuk 10 besar.

Aku pun ikut audisi lomba dai MNCTV tersebut di Bandung. Dari sekitar seribuan peserta Alhamdulillah saya masuk 6 besar dan bisa lolos ke Jakarta dan bisa tampil di TV secara live.

Aku pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk selalu meminta dukungan kepada teman-teman baik online maupun ofline agar bisa mendukungku dalam perlombaan “Dai Muda Indonesia di MNCTV waktu itu. Dan tentunya, doaku tambah kencang lagi dibanding biasanya.

Termasuk juga isteriku yang berusaha meminta dukungan kepada pemerintah setempat, agar bisa mendukung sepenuhnya warganya dalam kontes dai seluruh Indonisia di TV nasional tersebut. Namun, walaupun sudah berusaha maksimal, tetap saja pemerintah daerah tidak mendukung penuh. Hanya Kemenag yang bisa memberikan support dana untuk baliho dan dukungan SMS.

Hari demi hari ku lewati di karantina, bersama teman-teman dari berbagai daerah. Kita berteman di luar arena lomba, namun bersaing ketat saat di panggung arena perlombaan.

Dari 36 besar yang disebut “titian dai,” aku bisa masuk ke 20 besar yang disebut dengan “mimbar dai.” Namun saat mau menuju 10 besar yang disebut dengan “kubah dai,” dan jika masuk 10 besar bisa mendapatkan hadiah umrah, aku gagal, dan harus pulang.

Pupus lagi harapan ku untuk ke Baitullah. Namun, aku tidak pernah berhenti berdoa di setiap selesai shalat agar dianugrahi Allah bisa ke Baitullah.

Di awal 2015 saat musim umrah, ada telepon masuk. ”Assalamu’alaikum, apa benar ini dengan ustadz Adin?” Tanya seseorang yang belum aku kenal. “Waalaikumssalam, iya benar. Ada apa ya?” tanyaku. “Kami dari pihak travel umrah yang menjadi sponsor acara dai muda MNCTV, memutuskan untuk yang memberikan hadiah umrah kepada 20 besar lomba dai kemren, jadi ustadz bisa berangkat umrah bulan ini. Mohon segera siapkan pasport dan lengkapi semua persyaratannya ya. Terimakasih.”

Allahu akbar! Sujud syukur kepada Allah yang telah menganugerahiku untuk berkunjung ke Tanah Suci secara gratis. Dan bahkan sampai sekarang pihak travel memercayaiku untuk membawa jamaahnya saat ada rombongan jamaah yang membutuhkan pembimbing. Alhamdulillah ….

Oleh: Kakadin Storyteller

Tinggalkan Balasan