Menikah dengan lelaki pilihan sendiri adalah dambaan setiap perempuan. Apalagi pakai jatuh cinta sebelum nikah. Amazing rasanya.

Tidak usah ribet pake proses penjomblangan. Natural begitu saja. Langsung klik pada pandangan pertama. Aduh, pandangan pertama? Kayak anak muda aja. Tepatnya, pandangan pertama, setelah sekian lama tidak berjumpa. Alhamdulillah, tidak pake proses pacaran lama-lama. Kedua orang tua kami sama-sama merestui.  

Inner beauty terpancar begitu saja dalam aura wajahku. Apalagi pas hari-hari mendekati pertunanganku. Semua terasa dan terlihat indah. Senyuman yang lama menghilang, kini bermekaran lagi, bagai bunga-bunga di musim semi. Ah kok jadi lebai diriku. Jadi malu nih, jika mengingat masa-masa itu.

Aku semakin yakin, inilah jodohku. Seorang pria tampan nan salih jebolan pesantren salaf. Ketampanannya telah menaklukkan hatiku. Kesalihannya membuatku nyaman ketika berta’aruf dengannya.  Maklumlah lima tahun menjomblo. Gersang terasa hati ini.

Akhirnya kegersangan tanah jombloku tersiram hujan ketampanan dan kesalihannya. Hanya rasa syukur yang bisa kupanjatkan kepada-Nya. Kehadirannya dalam hidupku, benar-benar bermakna rasanya. Meskipun aku pernah mendamba pada sosok pria mapan sebelumnya, tapi rasa itu hilang sudah. Pria mapan tersebut bernama Akmal. Rasa yang kupertahankan selama lima tahun, terasa sia-sia sajalah, tapi tak apalah. Karena Allah telah menggerakkan rasa cintaku kepada pria tampan itu, bukan pria mapan itu lagi. 

Dari segi penampilan, aku tergolong gadis yang cuek. Selain cuek terhadap penampilan juga cuek terhadap cowok. Bukan berarti aku tidak gaul sama cowok, justru aku lebih suka bergaul dengan banyak cowok. Tetapi aku benar-benar menjaga perasaan ini jangan sampe jatuh cinta sama teman cowok.

Meskipun di antara mereka ada yang berusaha pedekate sama aku,  aku berusahaha menghindar dan alhamdulillah berhasil. Ketika ada yang mulai berani nyrempet-nyrempet mengungkapkan perasaannya kepadaku, aku selalu berhasil mengalihkan pembicaraannya. Menetralisir keadaan menjadi biasa-biasa saja. 

Banyak teman yang bertanya, “Mengapa kamu bisa bertahan menjomblo?”

Aku pun hanya bisa tersenyum sambal berkata, “Tenang bro … santai saja, lagi malas mikirin hal-hal yang nggak penting. He he …”

Mereka tidak tahu, sebenarnya aku mendamba pada seorang pria mapan tetangga kampungku. Ya, Akmal si pria mapan itu.

Hal itu yang membuat teman-teman kuliah, sangat tidak percaya kalau aku mau menikah. Maklumlah, selama kuliah aku istiqamah menjomblo. Sukses menjomblo lima tahun, di mata teman-temanku adalah hebat. Tapi bagiku biasa-biasa saja. Karena aku berhasil merahasiakan perasaanku pada sosok pria mapan, si Akmal, yang sampai detik ini aku tidak paham, apakah dia menaruh hati padaku atau tidak.

Aku bingung apakah perasaanku padanya ini rasa cinta atau sekadar obsesi semata. Hal itulah yang membuatku penasaran sampai sekarang. Tapi menjomblo itu perlu jatuh tempo juga, kan? Akhirnya takdir mempertemukanku dengan sang jodoh.

***

Jodoh memang datang pada saat yang tepat.

Semenjak lulus kuliah, aku harus pulang kampung. Mengamalkan ilmu di lembaga pendidikan yang dekat dari rumah. Akhirnya aku harus mengubah penampilanku, karena status baruku sebagai guru. Di usiaku yang menginjak 24 tahun, aku teringat deadline jombloku. DL yang kubuat waktu aku masih duduk di bangku SMA.

Di samping itu, Ayah dan ibu setiap hari juga terus mendesak. Ibu pingin agar aku cepat nikah. Bahkan ibuku memaksaku untuk segera menikah. Meskipun memaksa anehnya beliau belum punya calon suami buatku. Ibu hanya bisa berdoa agar aku segera dipertemukan dengan jodohku. Dan segera hidup berumah tangga layaknya teman-teman seusiaku.

***

Rumah tangga bahagia adalah dambaan setiap insan. Sepuluh tahun sudah berlalu. Suka duka rumah tangga selalu menghiasi langkahku. Terlalu banyak duka, sehingga duka itu pun berganti suka.

Awalnya aku banyak mengeluh ketika duka melanda. Selalu menangis ketika sedih mengiris. Akhirnya aku bisa bersahabat baik dengan semua duka. Karena keberhasilanku mengambil hikmah dari duka yang melanda. Cobaan demi cobaan datang mendera. Tetap belajar sesakinah mungkin dalam menghadapi persoalan hidup. Berjuang bersama suami tercinta dalam melewati cobaan mendera dengan sabar.

Sabar yang berujung mawaddah wa rahmah. Kemapanan ekonomi pun semakin terbuka lebar min haitsu laa yahtasib. Ketika kemapanan ekonomi semakin menapak, teringatlah diriku tentang sosok pria mapan yang pernah kudamba di masa lalu. Ya, teringat Akmal kembali. Tapi hanya sekadar ingat saja, karena aku tidak tahu, entah di mana dia sekarang berada.

Tiada terasa usia pernikahanku menginjak 17 tahun. Teringat masa muda dulu, sweet seven teen. Pastinya happy banget. Bagaimana tidak happy, dari segi ketenangan hidup dan kedewasaan hati dalam berumah tangga sudah lumayan teruji. Alhamdulillah… kepengin apa saja bisa terpenuhi.

Kepengin melanjutkan studi ke program S2 terfasilitasi. Setelah wisuda S2, kebahagiaan semakin bertambah. Aku dikasih kado suami, menunaikan ibadah umrah bersama. Happy banget kan?

Dua bulan setelah umrah, suamiku mengajak traveling ke Malaysia? Aduh, istri mana yang tidak bahagia kalau diajak suaminya jalan-jalan ke luar negeri. Nah, dari situlah mulai ada godaan baru. Otakku mulai membuka-buka lagi tabung memori yang telah mati. Hal itu terjadi karena rasa penasaranku dalam hidup ini. Penasaranku pada sosok pria mapan di masa lalu.

Meskipun rumah tanggaku sudah tergolong mapan lahir batin. Bahagia jiwa dan raga. Ya, aku mulai teringat Akmal kembali

Kalau kuhitung-hitung sudah 22 tahun lebih penasaranku belum terjawab. Maklumlah setelah lulus SMA munculnya perasaan tersebut. Selama itukah? Ah, kayak cerita di sinetron aja. 

Ketika aku sibuk prepare to traveling, aku bertemu dengan teman lamaku, teman SMA, di kantor money changer. Dia adalah teman Akmal sejak kecil. Akhirnya dia memberiku nomor teleponnya. Tanpa menunggu lama, aku pun mulai berkomunikasi dengan Akmal via Whatsapp.

Awalnya biasa saja, hanya say hallo, menanyakan kabar dan pekerjaan. Tidak sampai ada keinginan untuk kopi darat. Sebelum berangkat ke Malaysia, kusampaikan kepadanya bahwa aku dan suamiku akan berlibur ke Malaysia selama tiga hari. Ternyata dia sudah sering berlibur ke Malaysia.

Begitu bahagianya aku dan suami bisa jalan-jalan ke negeri Jiran.  Rasanya seperti honeymoon lagi. Sesampainya di KLIA (Kuala Lumpur International Airport), kami langsung menuju hotel. Kami menginap di hotel Signature, mempersiapkan diri untuk acara selanjutnya.

Keesokan harinya kami mulai menikmati destinasi ke Dataran Merdeka, lapangan bersejarah yang berhadapan dengan gedung sultan Abdul Samad, bangunan tua bergaya Maroko. Perjalanan dilanjutkan ke Istana Negara, The King’s Palace, tempat tinggal raja Malaysia.

Kami menikmati makan siang di restoran di dekat Batu Cave. Kami pun melanjutkan perjalanan ke Sungai Wang Plaza, sekadar mencari oleh-oleh buat keluarga. Selanjutnya menikmati waktu sore di dekat Twin Tower, menara kembar Petronas. Sekadar berfoto mesra dengan suami.

Di sela-sela kesibukan kami menikmati destinasi wisata, Akmal selalu menyempatkan diri untuk menghubungiku via WA. Dia mulai cerita ngalor ngidul kisah hidupnya selama ini.

Keesokan harinya, setelah melanjutkan perjalanan ke beberapa destinasi wisata di Kuala Lumpur lainnya, akhirnya kami tiba di KL Bird Park dan KL Butterfly Park. Setelah puas di situ, kami harus segera check out dari hotel dan langsung menuju ke bandara.

Pada saat perjalanan dari hotel ke bandara, aku beranikan diri untuk menanyakan perasaannya dulu kepadaku. Dengan jujur dia mengatakan bahwa dulu dia memendam rasa suka kepadaku. Bahkan dia tidak berani mengungkapkan perasaannya kepadaku. Hampir lima tahun, dia memendam persaannya! Tapi karena hasil istikharah ibunya kurang baik, maka dia memutuskan untuk menerima gadis lain pilihan ibunya.

Dia juga menceritakan bagaimana pernikahannya dengan gadis pilihan ibunya. Aku bertanya, tanggal/bulan/tahun berapa dia menikah, ternyata dia menikah pas pada tanggal pertunanganku. Mengapa aku tidak tahu ya? Ternyata pernikahannya dilaksanakan di rumah mempelai wanita, di Jakarta. 

Lega rasanya hati ini setelah mengetahui perasaannya kepadaku. Terjawab sudah penasaranku padanya. Penasaran yang harus kupendam selama 22 tahun. Tapi apakah aku bahagia? Ternyata biasa saja.

Hilang sudah rasa penasaranku. Bagai tersungkur di Kuala Lumpur. Hilang begitu saja tanpa berbekas. Alhamdulillah, sesampainya di Indonesia, kuceritakan kembali perbincangan kami di WA kepada suami dari awal hingga akhir. Suamiku pun tersenyum, sambil berkata, “I always believe my beautiful wife. Aku pun selalu bersyukur karena cintamu kepadaku tidak terukur.”

Ternyata, akhir dari sebuah penasaran terkadang tak se-amazing yang kita angan-angankan sebelumnya, yakinlah sesuatu yang kita angan-angankan belum tentu indah saat menjadi kenyataan.

Oleh: Siti Zainab Yusuf.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: