rezeki datang dari arah tak terduga

Rezeki Datang dari Arah Tak Terduga Itu Benar-Benar Nyata!

“Pak, dari mana saya harus mengganti uang kontrakan Bapak, sementara buat makan keluarga saya saja kurang, saya juga tidak tahu apakah besok kami masih bisa makan.”

Aku tercekat pasi mendengar penuturan Pak Joko, pemilik rumah kontrakan. Suaranya parau dan terbata. Terdengar tak berdaya dan pasrah. Aku bingung harus berkata apa lagi padanya. Sebenarnya sangat ingin sekali marah, karena ia telah mengingkari janjinya pada kami. Namun aku tahan amarah itu. Sambil tetap memegang gagang telepon, kupandangi istriku yang berada di sampingku. 

Wajahnya tampak tegang dan kesal. Dia berkali-kali komat-kamit, mendikteku untuk mengatakan sesuatu yang bisa memaksa Pak Joko menepati janjinya. Namun sedikit pun aku tak tega untuk memaksanya. Terbayang olehku, tiga orang anak Pak Joko yang masih kecil-kecil sedang menahan lapar di sana.

Siang itu aku memang sengaja menelepon Pak Joko, untuk menagih janjinya yang akan mengembalikan uang kontrakan rumah yang telah kami bayar untuk setahun ke depan, sebab sebelumnya sekitar dua minggu yang lalu dia berjanji pada istriku untuk mengembalikan uang kontrakan, jika kami pindah dari rumahnya.

Saat itu, menurut cerita istriku yang menemuinya, Pak Joko ingin segera menjual rumah kontrakan yang kami tempati, padahal seminggu sebelumnya kami sudah membayar perpanjangan kontrak untuk satu tahun ke depan. 

Tapi entah mengapa, tiba-tiba Pak Joko berubah pikiran secepat itu. Alasan yang ia sampaikan sebenarnya tidak masuk akal. Menurutnya rumah itu terlalu jauh dari rumahnya sendiri yang berjarak kurang lebih 2 jam perjalanan, hal ini membuatnya sulit untuk mengontrol rumah investasinya itu, sementara dia seorang yang cukup sibuk dalam pekerjaannya. 

Kalau alasan itu yang dia buat, mengapa dulu dia membeli rumah itu dan kemudian dikontrakkan. Bukankah dia sudah mempertimbangkan semua akibatnya sebelum membeli rumah itu. Pasti ada alasan lain yang tak dia katakan pada istriku.

Ahh, tapi biarkan itu jadi alasan dia. Aku tidak peduli. Yang pasti rumah itu akan ia jual dan aku harus secepatnya pindah. Begitulah, akhirnya aku bersama istri memutuskan untuk mencari rumah kontrakan baru sesegera mungkin dan masih berpikir bahwa biaya untuk kontrak rumah baru itu kami dapatkan dari uang kembalian kontrakan Pak Joko. 

Kami pun blusukan ke beberapa perumahan. Memang tidak mudah menemukan rumah yang nyaman dengan harga yang pas di kantong. Sekitar satu minggu kemudian, kami baru menemukan rumah yang cocok. Yah, meskipun kami tetap harus nombok, tapi paling cuma nombok sedikit saja, begitu pikir kami sebelumnya, karena kami benar-benar mengharapkan uang kembalian itu.

***

Sejak menikah satu tahun lalu, aku dan istriku memang memutuskan untuk berhijrah ke kota ini. Kota di wilayah dekat Ujung Kulon ini, memang terasa sangat jauh bagi kami. Apalagi bagi istriku yang sama sekali belum pernah merantau. Ratusan kilometer kami tempuh, demi untuk bisa membuktikan bahwa kami bisa hidup mandiri, tidak mau tergantung lagi dengan orang tua pun mertua atau sanak saudara. Istriku pun rela meninggalkan keluarga dan pekerjaannya hanya karena ingin mengabdi pada suaminya ini. 

Bulan-bulan pertama adalah masa yang sangat sulit bagi kami. Ya, disamping karena harus berpisah dengan orang-orang yang kami cintai, kami juga harus belajar beradaptasi dengan lingkungan dan kultur yang berbeda dengan daerah asal kami.  Hidup dari gaji yang sangat pas-pasan, yang mustahil akan cukup jika dihitung dengan logika dan matematika. 

Bisa membayar kontrakan pertama saja, kala itu sudah cukup luar biasa bagi kami, karena belum sangat memungkinkan untuk membeli rumah walau kredit sekalipun.  Kalaupun mau dipaksakan, berarti aku dan istri harus rela makan angin tiap hari. Haha … jelas tidak mungkin.

Namun sesulit apapun bagi pasangan pengantin baru seperti kami kala itu, adalah masa-masa yang paling indah dalam kehidupan pernikahan kami. Masa-masa penuh romantisme, penuh pengertian dan kemakluman satu sama lain. Hidup hanya berdua, tinggal di rumah kontrakan kecil dan sederhana di sebuah perumahan rakyat yang begitu padat dan berusaha berbaur dengan orang-orang baru di sekitar kami adalah jadi cerita kenangan yang tak mungkin kami lupakan sampai kapan pun. 

Rumah kontrakan itu adalah rumah yang penuh cerita bagiku dan istri. Di situlah pertama kalinya kami menikmati jamuan hidup yang sebenarnya. Kebahagiaan yang kami dambakan kala sebelum menikah terwujud di rumah itu, menikmati sedapnya masakan istriku, tertawa bersama saat harus menguras celengan uang receh di tanggal tua, hanya untuk beli mi instan dan sebutir telur, atau menikmati indahnya sepi saat kami belum bisa meramaikan rumah itu dengan suara seorang buah hati. Sungguh semua kenangan itu tertulis rapi di masing-masing temboknya, penuh haru biru.

***

Dan kini suka atau tidak suka, kami harus meninggalkannya. Ada rasa sedih yang menggelayut kala menyadarinya. Rumah itu seolah sudah menyatu dalam kehidupan kami, berat rasanya kalau harus pergi darinya. Tapi mau bagaimana lagi, itulah yang harus terjadi. Roda ini tetap harus berputar walau menyusuri jalan yang berlumpur.

“Mas, sudah, jual saja kalung pemberian Mas dulu. Aku enggak apa-apa, nanti kalau ada rezki kan kita bisa membeli yang lebih bagus dari ini.”

“Tapi Dek …”

“Sudahlah Mas, ini yang bisa kita lakukan. Kita sudah pernah berjanji, bahwa kita tidak akan membebani orang tua lagi, apapun keadaan kita saat ini, Mas.”

Istriku tersenyum pasrah dalam suara pahit menahan kesedihannya. Aku terharu mendengar keikhlasannya. Aku merasa tidak bisa membahagiakannya saat itu, membuatnya sedih dan hanya menyengsarakannya saja. Tapi apa boleh buat, memang hanya itu yang bisa kami lakukan untuk bisa membayar kontrakan baru.

Pak Joko sudah tidak bisa diharapkan lagi untuk mengembalikan uang kontrakan itu. Dia berdalih dan balik menyalahkan kami, kenapa kami buru-buru pindah, kilahnya. Walaupun akhirnya dia mengaku bahwa saat ini usahanya sedang bangkrut, itu sebabnya ia memutuskan menjual rumah untuk modal usaha berikutnya. Kami pun terpaksa mengikhlaskannya walau dalam hati tetap berharap ada itikad baik darinya.

Dua hari lagi adalah batas akhir kami tinggal di rumah itu dan kami harus melunasi uang kontrakan yang baru, secepatnya. Sementara uang hasil penjualan kalung istriku hanya cukup untuk membayar separo dari harga kontrakan. Kalau mau pinjam teman sebenarnya bisa saja, tapi yang namanya meminjam, pasti juga harus mengembalikan. 

Sementara kami berdua sama-sama punya prinsip, tidak mau menjadi beban orang lain, disamping juga karena memang gaji yang pas buat makan berdua, tidak mungkin ada anggaran untuk mencicil pinjaman jika kami memutuskan untuk berhutang.

Praktis uang gaji bulananku lah yang harus terkuras untuk melunasinya. Hanya tersisa selembar uang kertas merah untuk makan sebulan. Entah bagaimana nanti, aku dan istriku sudah pasrah saja. Fokus kami saat itu adalah yang penting kami sudah bisa pindahan tanpa merepotkan orang lain. Urusan makan, bagaimana nanti saja. Biar Allah yang mengatur.

Begitulah, setelah semua urusan pindahan kontrakan beres, rasanya beban kami kala itu berkurang. Kami pun tak memikirkan lagi tentang Pak Joko, bahkan berharap pun tidak. Allah menganugerahkan keikhlasan yang benar, yang tidak penuh dengan keterpaksaan lagi, pada kami. 

Satu demi satu aliran rezki yang tak disangka pun mulai beranjak mendekati kami. Aku yang pada waktu itu sangat bingung bagaimana mencari tambahan untuk makan sebulan, dibuat sangat takjub ketika suatu sore, beberapa hari setelah kami pindah, ada seorang tetangga yang menengok kami dengan membawa telur dan mie instan yang cukup untuk makan sebulan.

Memang hanya telur dan mi, tapi buat kami, itu bagaikan mata air di tengah padang pasir nan tandus. Sangat menyegarkan dan menyejukkan tentunya, setelah beberapa hari sebelumnya, hanya sambal dan kerupuk saja yang menemani nasi yang kami makan. Sungguh luar biasanya, hingga kekhawatiranku tentang makanan sudah dicukupi oleh Allah dalam sekejap. 

Beberapa hari kemudian, keajaiban kembali terjadi. Aku mendapat undangan meeting tahunan seluruh karyawan dari kantor pusat tempatku bekerja. Meeting ini rutin diselenggarakan tiap tahun untuk mengapresiasi sekaligus mengevaluasi kinerja seluruh karyawan. Tanpa dinyana aku terpilih sebagai karyawan yang mendapat bonus lumayan untuk ukuranku kala itu. Penghargaan yang tidak kusangka sama sekali. Dan satu lagi, aku juga mendapat doorprize uang tunai di meeting itu. Ajaibnya adalah jumlah bonus dan doorprize itu tepat 10 kali lipat dari uang kontrakan kami yang tidak dikembalikan oleh Pak Joko.

Allaahu Akbar. Langit mendung kala itu seketika jadi benderang dalam penglihatanku. Senyum kebahagiaan dan rasa syukur mengembang begitu lebar. Tak sabar rasanya untuk segera memberitahu istriku tentang hal ini sembari memeluknya. Tak sabar rasanya untuk melihat istriku merasakan kebahagiaan dari buah keikhlasan yang kami tanam sebelumnya.

Semua kejadian itu sungguh mengajarkan kepada kami tentang sebuah kepasrahan dan keyakinan akan kebaikan Allah pada hamba-Nya yang sedang berusaha belajar ilmu ikhlas, ilmu yang tertinggi dalam kehidupan. Jika seorang hamba sudah berhasil menguasai ilmu itu, maka tidak akan ada kekhawatiran sedikitpun dalam menjalani sisa hidupnya, meski berada dalam bahaya sekalipun. Allah yang akan datang menolongnya.

Kejadian itu juga mengajarkan pada kami tentang indahnya rasa syukur dan sabar dalam segala keadaan. Syukur dan sabar adalah dua hal yang membawa pada hakikat kebahagiaan. Bahwa dalam hidup tak selamanya mulus dan indah. Selalu saja ada kerikil tajam dan jurang nan curam yang menghadang. Maka jadikan rasa syukur dan sabar itu sebagai alat melewatinya hingga tercapai kebahagiaan yang sesungguhnya.

Oleh: Nailuss Sa’adah.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan