Rezeki Itu Sudah Dibagi, Kemuliaan yang Perlu Dicari

Kumpulan manusia yang berlalu-lalang sudah menjadi pemandangan yang amat wajar di tempat ini. Pusat kota yang menjadi jantung ekonomi, menyuguhkan pemandangan penuh riuh.

Pedagang kaki lima berjajar dari ujung ke ujung. Ada penjual empek-empek, kerang, bakso, martabak hingga nasi goreng serta penjual makanan berat lainnya. Mereka menggelar dagangannya di pusat kuliner kota.Termasuk aku yang ikut mengais di antara mereka.

Sibuk sedari pagi hingga malam. Meladeni pembeli yang silih berganti datang, membeli satu dua wadah jus. Membuatku tenggelam dalam kesibukan. Hingga terkadang azan yang berkumandang kuabaikan.

Namun, itu bukan pemandangan yang janggal. Karena, nyaris semua pedagang menganggap panggilan itu hanya gema pengeras suara yang tak ada artinya. Masing-masing stand selalu dalam kawalan. Tak sampai hati meninggalkan, khawatir melewatkan pelanggan yang datang.

Bukan hanya gerobak kaki lima yang berjajar. Tukang becak ikut menjaring rezeki di sana. Lokasi amat dekat dengan pemberhentian bus terakhir setiap sore. Menjadi lokasi strategis untuk menawarkan jasa mereka.

Mataku mengamati sekitar, beberapa kali aku membatin saat menyaksikan seorang bapak 50 tahunan selalu meninggalkan becaknya saat azan menggema, amat berbeda dengan rekan-rekannya. Padahal kala semacam itu, calon penumpang sedang ramai-ramainya menggunakan jasanya.

“Mbak, Bapaknya di mana?” seseorang menyapa. Tangannya menunjuk becak yang terparkir di depan lapakku berjualan. Becak lainnya tampak sudah mengantar penumpang. Hanya tersisa satu becak usang. Becak milik Pak Ihsan.

“Oh, sepertinya solat, Pak,” jawabku singkat sembari mengupas buah. Memotong dan memasukkannya dalam blender.

Pukul dua begegas untuk solat  Zuhur, pukul lima berjalan menunaikan solat Asar. Dan jam setengah tujuh beranjak mendirikan solat Magrib. Sedangkan Isya kutuaikan saat sudah sampai rumah. Begitu ritme ibadah yang kujalani selama berjualan di sini. Itu sudah cukup baik, karena yang lainnya justru tampak melalaikannya.

Namun, berbeda dengan bapak di depan outletku itu, bagi bapak dengan tubuh kekar karena rajin mengayuh becak itu, bunyi azan seakan punya magnet sendiri. Tanpa pikir panjang, dirinya bergegas melangkahkan kakinya ke sumber suara. Menenteng plastik hitam berisi salin yang ia kenakan saat solat.

Padahal, bagiku amat sayang menyiakan penumpang yang beberapa kali menanyakan keberadaannya. Saat aku mengabari bahwa ada penumpang yang tadi bertanya, Pak Ihsan hanya menjawab dengan senyum yang tersunggih teduh.

“Pak, sayang lho, beberapa kali ada penumpang yang bertanya saat Bapak tak ada,” ujarku saat kami sama-sama senggang.

“Tak apa Neng, belum Rezeki,” jawabnya sederhana.

Pak Ihsan, kukenal sejak mulai berjualan di sini, sedari 4 tahun lalu. Beliau sudah 10 tahun menjadi tukang becak dan mangkal di tempat ini cukup lama. Barang pasti, dirinya amat paham siklus penumpang yang akan datang. Tapi sepertinya, lelaki paruh banya itu punya pertimbangan sendiri.

“Pak, ini ada jus, Bapak mau?” tanya ku suatu ketika.

“Maaf Neng, Bapak sedang puasa.” Beliau menimpali singkat dan melanjutkan rapalan yang sedari dari terucap oleh mulutnya.

Hah, mengayuh becak dengan berpuasa? tanyaku dalam hati.

Diam-diam, aku mengagumi bapak itu. Meski kami tak pernah bicara banyak, tapi kebiasaan yang sering kulihat membuatku tertarik mengamati gerak-geriknya.

Becak miliknya tampak lapuk, dengan cat warna kuning yang sudah mengelupas. Terlihat lebih usang dibanding becak lain yang mangkal. Namun, kekokohannya bisa di persaingkan.

Pak Ihsan masih terlihat bugar, dan yang amat menyenangkan, dirinya selalu sumringah. Tak pernah mengeluh meski pelanggan sedang sepi. Tak seperti penjual di paguyuban ini. Banyak yang akan berteriak saat pembeli lenggang. Seakan mereka selalu dikejar oleh kebutuhan yang mencekik untuk di penuhi. Di kepala mereka hanya ada uang, uang, dan uang.

Azan maghrib terdengar. Karena pembeli lengang aku ikut bergegas menuju masjid terdekat dengan lapak kami. Pak Ihsan dengan plastik kebanggaannya melangkah di belakangku.

“Mau sholat, Neng?” tanyanya ramah.

“Iya, Pak,” aku menggangguk, kemudian kami berjalan beriringan.

Selepas solat mataku kembali terbelalak, tukang becak yang penghasilannya tak seberapa itu memasukkan sejumlah uang ke dalam kotak amal masjid. Aku yang merasa malu ikut tergerak menirunya. Batinku terus bertanya-tanya, tentang banyak kebaikan yang pak Ihlas lakukan.

Lelaki 50 tahun itu, hidup sebatang kara, istrinya sudah meninggal dan tak di karunia anak. Meski sudah lama ditinggal meninggal, sama sekali tak terlintas olehnya untuk menikah lagi. Begitu yang aku degar dari penjual di sekitar.

Tak ada penjual yang tak dekat dengannya, hingga tak jarang rekan pedagang memberinya makan. Pak Ihsan berbaur dengan setiap orang. Bantuannya sangat dibutuhkan untuk mengangkut barang yang kami jual, dan tanpa mematok harga, dirinya siap mengangkut apa saja yang kami butuhkan. Kapan saja, dan di mana saja, selalu dijabani dengan gembira.

“Pak, boleh saya bertanya,” aku membuka pembicaraan saat Pak Ihsan duduk meminum jus yang kuberikan. Terlihat amat nikmat, seakan di deru kehausan selepas mengantar penumpang.

“Iya, Neng. Mangga.” jawabnya ramah.

“Bapak, kenapa selalu meninggalkan becak, di saat justru pelanggan sedang ramai?” aku mengawali.

Wajah teduhnya hanya tersenyum. Diam sejenak lalu menjawab, “Itu kan sudah masuk waktu solat, Neng.”

“Tapi kan waktunya masih panjang, Pak. Bisa mengantar satu penumpang dulu. Sayang lho, Pak,” tanggapku begitu saja.

Lagi-lagi senyumnya terulas. Kini suaranya terdengar lebih tegas.

“Rezeki itu sudah dibagi, Neng. Tapi kemuliaan itu perlu dicari.” Kalimat itu menyibak pikiranku. Tak sampai sejauh itu aku memikirkannya. Aku terdiam memahami kalimatnya dalam renungan.

“Di dunia ini saya hanya hidup sebatang kara, dan hanya menjadi tukang becak.” Tutupnya dengan mata memerah. Membuat tenggorokanku makin tercekat. Mulai memahami maksud kalimatnya.

“Neng, Terimakasih ya, jusnya. Bapak ambil es batu yang tadi dipesan,” jawabnya meninggalkanku yang masih tertampar.

Pak Ihsan yang penghasilannya entah berapa, berpikir hingga ke sana. Benar saja, kegigihannya mengais kemuliaan, membuatnya di sayang banyak orang. Tak sedikit tukang becak disini, tapi dia satu-satunya yang sering dimintai pertolongan untuk mengambil barang pedagang lainnya.

Beliau  yang selalu hangat, selalu ikhlas dalam pekerjaan, bahkan melakukan yang terbaik dalam memberi pelayanan. Membuat tiap pedagang di sekitar tak enggan memberinya satu dari dagangannya untuk disantap setiap harinya. Bukan karena Pak Ihsan meminta, tapi karena kami yang tergerak memberinya.

Itulah maksud rezeki yang sudah dibagi. Sudah barang pasti tepat pada sasarannya. Tak akan tersesat. Namun, kemuliaan yang tak dicari tak akan pernah sampai pada diri ini.

Salatku, sedekahku, juga hubunganku dengan sesama. Banyak hal yang kemudian kuraba satu persatu. Amat jauh dengan yang sudah dipraktikkan oleh tukang becak itu.

Aku malu, terlalu menyita banyak waktu untuk mengejar rezeki yang telah pasti. Namun lalai pada kemuliaan yang harus diraih.

Kemuliaan di hadapan pencipta, kemuliaan di mata sesama juga kemuliaan dalam pandagan diri sendiri. Sama sekali tak satu pun yang pernah aku perjuangkan.

Hanya mengejar dunia yang tak pernah terlihat tepinya. Serasa hidupku kini amat merugi. Terimakasih sentilannya Pak Ihsan, ujarku dalam hati.

Oleh: Nida Fatah.

Tinggalkan Balasan