“Sungguh tidak ada manfaat bagiku bila semua yang aku miliki justru menggelisahkan hatiku. Allah, beri aku hidayah-Mu.” (Halaman 52)

Jleb!

Sebuah kalimat dalam buku Allah, Aku Rindu kepada-Mu berhasil membawaku pada masa lalu. Masa-masa ketika hidupku bagaikan sebuah pesta yang semua isinya semu. Di balik kebahagiaan itu yang ada hanyalah kotoran dan sampah berserakkan.

Perjalanan hidup yang kusebut pesta itu memang penuh pencapaian. Semua kuraih dengan perjuangan serta kerja keras. Namun, keberhasilan yang kuraih itu justru membius, menjadi racun yang mematikan; mematikan hati dan pikiran.

Sampai pada suatu hari aku berdiri sendirian di antara serakan persoalan. Hidup jauh dari keluarga dan tidak ada teman yang peduli. Aku tidak berdaya. Aku menyerah pada satu titik dalam hidupku.

Harus apa dan bagaimana aku sekarang? Pertanyaan itu menggelanyuti pikiranku setiap saat.

Aku menyerah, ya Allah … aku menyerah. Hanya suara hati seperti itulah yang bisa kuteriakan dalam diam.

Aku pun tidak lagi dapat berdiri pada puncak kegelisahan. Jiwa dan pikiranku lelah. Aku roboh.

Menyerah tidak berarti aku diam. Aku mencoba mencari kesempatan untuk menyendiri–meraba penyebab hatiku yang semakin gelisah. Aku selalu mencoba mencari kesempatan setelah lewat tengah malam, sebab siang hari aku harus bekerja full time.

“Ya Allah, berikanlah hidayah kepadaku di dalam golongan orang-orang yang Engkau berikan hidayah.” (Halaman 59)

Sampai pada suatu malam aku bisa melakukannya, aku tersungkur di atas sajadah lusuh di waktu yang gelap gulita dan dingin. Kurenungi semua kejadian demi kejadian. Kupasrahkan semuanya pada Allah yang Maha Berhak. Tapi, aku masih merasakan ada yang belum benar pada penyerahan diri ini. Gelisah dan hampa tetap merajai hati.

Aku bertekad berserah sepenuhnya pada Allah. Berserah bukan menyerah. Pelan tapi pasti kutemukan jawaban atas kegelisahan hati ini. Aku menyadari kesuksesan dan kemewahan yang kumiliki ternyata tidak bisa membuat hatiku tenang. Aku telah terperosok pada laku yang seolah hebat. Aku benar-benar telah menjadi seonggok manusia yang tersesat. Astagfirullah.

***

Aku adalah seorang perempuan desa yang lahir dari keluarga sederhana. Takdir membawaku jauh dari keluarga dan merantau ke negara tetangga. Waktu itu usiaku belum ada delapan belas tahun saat memutuskan untuk menjadi TKW. Aku merantau jauh bukan karena diminta orangtua, melainkan keinginanku sendiri.

Ya, inginku saat itu hanya untuk mencari uang agar aku bisa melanjutkan sekolah dan meraih cita-cita. Sampai sekarang aku menyebutnya cita-cita gila. Aku selalu ingin tertawa jika mengingatnya. Edan tenan.

Hongkong membuaiku. Di sana aku bisa mendapatkan apa saja yang kumau. Aku bisa mendapatkan uang banyak, bisa melanjutkan sekolah meski hanya melalui program paket C. Setelah selesai kejar paket aku bisa lanjut kuliah. Hongkong juga memberiku kesempatan mengembangkan hobi. Aku bisa menjadi apapun yang kuinginkan dengan mudah.

Aku pernah menjadi seorang dancer profesional. Memiliki teman banyak dan dikenal banyak orang. Bergaul dengan anak-anak hits yang tujuan holliday-nya tempat-tempat asyik. Hinggap dari satu panggung ke panggung lainnya.

Hongkong benar-benar membuatku merasa enjoy. Sekalipun jauh dari keluarga hidupku happy. Ah, tapi semua itu tidak berlangsung lama. Hari ke hari kurasakan bahagiaku gersang. Aku kerap merasa kesepian padahal aku berada di tengah keramaian. Sering aku merasa tidak berkawan padahal ada mereka bersamaku.

Sampai pada suatu titik aku memilih meninggalkan zona nyaman itu. Aku memutuskan untuk menyudahi apa yang sudah kumulai. Aku keluar dari group dancer demi menemukan ketenangan.

“Ya Allah … sebaik-baiknya jalan yang kutempuh, ialah jalan taubat. Sebab tiada kemanfaatan bila aku masih saja sibuk dalam kemaksiatan. Ya Allah … sebaik-baiknya jalan yang kutempuh, ialah jalan hijrah. Sebab tiada keberkahan hidup bila yang aku lakukan hanyalah menuruti hawa nafsu dan serakah” (Halaman 62)

Saat itu pula ujian hidup satu per satu menyapaku. Di kampung Bapak sakit keras, di perantauan aku telah tertipu-uang oleh karib sendiri. Aku juga kehilangan pekerjaan gara-gara salah satu bank mengirim surat tagihan ke alamat majikan. Tagihan atas utang bersama teman-teman yang semuanya lepas tangan!

Inikah teguran-Mu atas kelalaianku? Ataukah bukti cinta-Mu padaku?

Hidupku benar-benar berada dalam kegelapan. Aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk Bapak di kampung. Pulang. Mana mungkin aku pulang tanpa membawa hasil (uang), sedangkan aku sudah bertahun merantau. Tidak mungkin aku pulang dengan tangan kosong, sementara mereka tahu nominal gajiku perbulan.

“Berhati-hatilah bila kebaikan Allah selalu kaudapatkan bersamaan dengan maksiat yang terus kaulakukan. Berhati-hatilah. Bisa jadi, itu adalah awal kehancuranmu yang berangsur-angsur.” (Halaman 65)

Astagfirullah …

Selama itu aku benar-benar telah menjadi orang yang lalai. Aku tebuai oleh kemudahan-kemudahan yang Allah berikan padaku. Aku tersesat pada jalan yang kupilih sendiri. Tersesat dalam realitas semu. Aku tidak menyadari telah menjauhi dan melupakan Allah.

Maka, saat itu, dalam kondisi tidak berdaya tidak berkawan aku memutuskan bangkit dan berubah. Bergerak secepat yang aku bisa untuk mencari Allah. Aku yakin, Dia tidak pernah pergi, tapi akulah yang telah mengasingkan-Nya.

Pada masa-masa itu, aku menjalani hidup yang tidak mudah. Di satu sisi, batinku terus menjerit mencari penciptanya. Di sisi lain, aku tidak bisa menyisihkan dunia, sebab belitan masalah dan rentetan tanggung jawab setia mengantre.

“If Allah wants to do good to somebody, He afflicts him with trials.” (Halaman 82)

Jangan menyerah, Ti. Yakin Allah pasti menolong. Begitulah aku menghibur dan menguatkan diri sendiri. Sungguh saat itu adalah sebuah proses pergulatan batin yang sengit. Allah benar-benar sedang menempahku.

Berulang kali aku mencari pekerjaan baru, tapi gagal. Di kampung keadaan Bapak semakin parah, sedang hutang di negara orang harus kulunasi. Bisa apa aku tanpa-Mu ya Rabb?

Semakin ke sini semakin kusadari. Mereka yang tadinya selalu ada untuk berbagi bahagia tidak mau tahu atas apa yang sedang terjadi padaku. Jangankan membantu meringankan beban, mendengarkan keluh kesahku saja mereka enggan. Lalu pada siapa lagi aku harus minta pertolongan selain pada-Nya.

“Hanya kepada-Mu aku mengharapkan pertolongan. Mudahkanlah, ya Allah. Mudahkanlah.” (Halaman 91)

***

Aku fight all the way. Kuambil keputusan-keputusan dengan segala risikonya. Aku yang tidak kunjung mendapat majikan/pekerjaan baru sempat menjadi ilegal di Macau. Aku mencari kerja part time–kerja serabutan yang penting halal dan bisa untuk bayar bank.

Dengan melipatgandakan sabar dan ketelatenan aku terus bertahan di negara orang. Pantang pulang sebelum masalahku selesai. Satu ayat Al-Qur’an yang pernah kudengar saat (nekat) ikut pengajian sangat membekas di hati. Menguatkan aku menjalani kerasnya kehidupan yang telah kupilih.

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridhaan Allah. Dan Allah Maha penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (QS. Al- Baqarah [2]: 207)

Aku terus berusaha mendekatkan diri pada-Nya. Membenahi ibadah wajibku, menambah dengan yang sunah, walau aku tahu caraku jauh dari sempurna. Aku melakukan seperti apa yang aku bisa.

Aku memang tidak pernah tahu dengan cara apa Allah akan menolongku. Apa aku siap menghadapi cara-Nya? Aku hanya terus berjuang memelihara konsisten pendekatan diri pada-Nya. Total berserah diri.

Semakin berserah aku semakin merindukan-Nya. Rindu yang sebenar-benarnya rindu. Qiyamul lail menjadi sarana yang luar biasa bagiku dalam mencari-Nya. Tersungkur di atas sajadah seolah membenamkan diri di pelukan Sang Maha Kekasih.

“Allah knows what is the best for me and when it’s best for me to have it.” (Halaman 35)

Tidak bisa kugambarkan dengan kata-kata. Kepulangan–taubatku adalah perjalanan batin yang tidak mudah. Tahajudku adalah muara dari segala perjuangan yang kulakukan untuk bertemu Allah. Aku seperti benar-benar pulang ke asal setelah melalui berbagai ujian yang payah.

Alhamdulillah, Allah menyelesaikan masalahku dengan cara-Nya. Melalui seorang perempuan asal Blitar, Allah menitipkan rezekiku. Aku mendapat majikan baru dan dapat kembali bekerja di Hongkong untuk menyelesaikan tanggung jawab yang belum tuntas itu.

“Allah, semakin aku jauh dari-Mu, jiwaku semakin hampa, hatiku semain gelisah, dan tak ada lagi kenikmatan dalam ibadah. Ampuni aku ya Allah, bila selama hidupku belum mampu mengenal-Mu. Andai saja Engkau masih memberiku waktu, tentu saja aku ingin mengenal-Mu dan ingin lebih dekat dengan-Mu. Allah aku rindu kepada-Mu.” (Tulisan di cover belakang buku)

Melangkah dengan restu pun, tidak serta merta membawa bahagia

Mungkin ia masih bersembunyi

Mungkin ia masih mencari waktu

Mungkin jua, aku tidak bisa mensyukuri

Aku berjalan lagi membawa doa

Jalan hitam tidak menuntunku pada cahaya

Doa retas, lepas

:Aku kandas

Aku terhempas dalam lingkaran

Berpusing dari dosa ke dosa

Lorong yang tanpa ujung

:Hampa

Aku akan terus berjalan

Wajahku hilang

Namaku hilang

Dalam lingkaran

:Aku remuk tanpa redam

Ke mana Dia?

Di mana Dia?

Kenapa Dia membiarkanku asing dalam pencarian?

Aku (pernah) lelah menunggu-Mu

***

Membaca buku seri Mardhatillah buku satu berjudul Allah, Aku Rindu kepada-Mu karya Pak Dwi Suwiknyo benar-benar menyadarkan pembaca (aku, ding) apa itu rindu. Rindu memang berat, seperti kata Dilan. Jadi, ketika rindu itu sudah terobati jangan biarkan apa yang telah kita temui pergi dan hilang lagi.

Rindu bagiku adalah suatu alasan untuk pulang dan menemukan ketenangan.

 

Judul: Allah, Aku Rindu Kepada-Mu

Penulis: Dwi Suwiknyo

Penerbit: Trenlis

Cetakan: Pertama, November 2018

Tebal: 167 halaman

ISBN: 978-602-52799-0-4

***

Oleh: Isti Syarifah.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: