Romantis Bukanlah Ia yang Selalu Mengatakan Cinta

Mata basahku memaksa pita suara memekik kecil dan menciptakan isak-isak tangis yang tak tertahan. Aku kembali terbaring di ranjang memandang langit-langit kamar. Betapa bodoh dan naifnya, betapa nikmat Tuhan benar-benar pernah kudustakan. Jika dikatakan surga seorang istri berada pada suaminya, lantas, masihkah aku berhak menjejakkan kakiku di sana? Suamiku ….

“Dek, kenapa melamun? Ikannya gosong, Dek.”

Aku tersentak kembali menatap wajan, bau gosong menyeruak. Bukannya segera mengecilkan kompor yang siap melanjutkan membakar wajan dan seisinya, kakiku tanpa kendali malah berlari menuju kamar. Membiarkan lelaki yang dua bulan lalu telah sah menjadi suamiku.

“Dek, ada apa?” tanyanya polos begitu menyusulku ke kamar dan melihat istrinya ini terisak tak keruan sebabnya.

“Mas, tolong jawab pertanyaanku …,” lidahku kelu, ia menatapku dengan pandangan sendu yang khas miliknya. “Apa Mas mencintaiku? Apa Mas benar-benar mencintaiku saat memutuskan menikahiku?”

Aku sudah lelah menahan semua ini, perasaan yang melanda membuat tak nyaman selama ini. Impian sebuah pernikahan yang sakinah mawaddah wa rahmah seperti menguap dari benakku. Agamanya memang sangatlah baik, ia mengamalkan semua ilmu dalam kehidupan sehari-hari. Namun ia sangat kaku. Selayaknya perempuan pada umumnya tentunya ingin selalu mendapatkan sebuah keromantisan lewat kata-kata mesra. Sejak menikah, aku lupa kapan terakhir ia bilang bahwa ia mencintaiku, oh, atau mungkin memang tak pernah sekalipun.

Ia teramat baik, dan memang selalu peduli, apapun yang kuminta selalu ia turuti, namun menurutku sebagai lalaki, ia sangatlah tidak peka. Pagi itu, dalam lanunan ayat-ayat yang ia baca dalam sholat shubuh, tiba-tiba aku tak mampu menahan buliran bening yang membelah kemuning pipi dan membasahi mukena yang kupakai. Usai dzikir dan berdoa, ia bertanya, “Ada apa, Dek?” Kubalas hanya dengan menggelengkan kepala.

“Kenapa Adek bertanya seperti itu?”

“Apa Mas mencintaiku? Jawab, Mas, tolong jawab. Sejak dua bulan pernikahan kita, Mas sama sekali tak menunjukkan bahwa mas mencintaiku. Bahkan hal sepele sekalipun Mas menolak, masalah status hubungan di facebook misalnya.”

Rasanya memalukan, ini hal sepele. Ia memang bukan lelaki yang kecanduan gadget dan sosial media, namu buka berarti ia tak memiliki teman di sana. Namun aku heran ia selalu menolak jika aku memintanya merubah status hubungan di sana. Dalam pikiran terlintas bahwa ia mungkin malu memiliki istri sepertiku.

“Aku ingin merasakan kemesraan seperti teman-temanku di dunia maya. Bahkan yang lebih miris lagi, Mas tak pernah mengatakan kata cinta untukku. Kenapa, Mas? Apa kau malu memiliki istri sepertiku. Apa kau menyesal?” Tumpah sudah semua yang kupendam.

“Maafkan Mas yang belum bisa membahagiakan Adek, bahkan membuat adek berpikir seperti itu.”

Aku ingin sekali memukul bantal di sampingku, bukan itu jawaban yang kuinginkan. Kata ‘aku sayang kamu’ bahkan akan menjadi hal yang lebih dari cukup.

“Mas kira, kalimat ‘kuterima nikahnya … ‘ yang Mas lantunkan di hadapan wali Adek, bahkan di hadapan Allah dan malaikat, adalah hal yang jauh lebih berarti dan lebih syahdu dibanding kalimat ‘aku cinta kamu’. Karena di dalamnya berisi sebuah perjanjian, bahwa Mas bertanggung jawab penuh atas dirimu, Dek. Adek ingin tahu kenapa Mas tidak ingin mengumbar hubungan kita di sosial media seperti yang kebanyakan orang lakukan? Karena Mas tidak ingin fokus dalam dunia maya. Mas ingin membangun sakinah mawaddah wa rahmah itu di dunia nyata, Dek. Dan tidak perlulah hal itu kita pamerkan kepada orang lain. Maafkan Mas yang belum bisa membahagiakan Adek.”

Kalimat-kalimatnya seperti terekam jelas dalam otakku, mengiang-ngiang. Ya Allah, aku masih jauh sekali dari sosok istri shalihah. Aku menangis, selama ini membayangkan hal-hal yang bersifat duniawi kudapat dari suami dan berharap bahagia dari sana. Sedangkan kasih sayang yang ia berikan dan lebih bernilai pada kepentingan akhirat malah sempat kudustakan. Hingga kabar dari seorang sahabat membuatku terkejut, bagaikan dadaku tertimpa sebuah batu besar.

Mereka—kusebut mereka karena tak hanya satu orang yang bercerita dan mempercayakan curhatan mereka kepadaku—yang kutahu sempat, bahkan selalu, membuatku iri karena kemesraan mereka di sosial media bersama pasangan masing-masing, mengumbar keromantisan di khalayak umum, tiba-tiba mengabarkan bahwa hubungan pernikahan mereka berada di ujung jurang yang sangat dibenci Allah, perceraian.

Aku terisak di atas ranjang, mengingat semua yang telah kukeluhkan. Padahal Allah telah menganugerahkan seorang suami shaleh yang selalu menundukkan pandangan, yang selalu menjaga ibadahnya, yang selalu membimbingku meski aku sering abai. Aku berjalan pelan ke luar kamar, sudah dua hari demam membuat tubuh lemas dan tak bisa melakukan aktivitas layaknya seorang istri.

Terdengar sebuah suara piring beradu dengan garpu serta kran air menyala. Di dapur tampak lelakiku sedang memakai celemek dan mencuci peralatan dapur yang kotor. Di atas kompor juga nampak panci-panci yang berisi lauk dan sayur. Bahkan aku tau, dua hari ini ia sengaja pulang cepat dari pekerjaannya demi merawatku yang sedang sakit. Ia sangat terkejut mendapatiku berdiri di ambang pintu antara ruang tengah dan daput.

“Adek? Kenapa kemari? Adek pingin apa? Minum?” tanyanya seketika mendekat dan menuntunku untuk duduk di salah satu kursi terdekat.

“Mas, maafkan Adek.” Air mata lagi-lagi menerjang pipi begitu saja. Sejak percakapan di kamar beberapa hari hari yang lalu aku tersadar bahwa romantis bukanlah ia yang selalu mengatakan kata cinta. Romantis ialah ia yang selalu berjuang membawa pasangannya meraih ridho Allah bersama-sama. Ia menggenggam tanganku lalu mengecup keningku, bersamaan dengan tanganku yang mengeluarkan sesuatu dari balik jaket yang kupakai. “Alhamdulillah, positif.”

Binar-binar matanya menunjukkan kebahagiaan tak terkira. Tuhan Maha Baik, aku ingin terus memperbaiki diri demi meraih gelar istri shalihah dan gelar ummu wa rabbatil baiti. Ia memelukku erat. Syahdu.

Anna uhibbuka fillah, ya Habibi.

Oleh: Ummu Ayyash.

Tinggalkan Balasan