Romantis itu Sungguh Sangat Sederhana

Berkali-kali aku menatap kalender yang angkanya sengaja kulingkari menggunakan spidol merah yang tebal. Itu adalah hari ini. Dan itu adalah ulang tahunku. Sekaligus ulang tahun pernikahan kami yang pertama.

Tadi malam aku berharap tengah malam lelakiku membangunkanku untuk memberikan kejutan atau paling tidak ucapan selamat ulang tahun. Tapi nyatanya tidak. Bahkan hari sudah berganti petang, dan terus merangkak menuju malam. Tapi tak ada ucapan, tak ada hadiah, apalagi kejutan.

Aku menghela napas panjang. Dia benar-benar lupa. Sepulangnya dari kerja, kulihat seperti biasa dia mencium keningku dan memeluk sebentar lalu beristirahat sejenak. Entah ia menyadari rautku yang manyun atau tidak. Harapanku dia menyadarinya kalau istrinya sedang menunggu-nunggu hari ini sejak berbulan-bulan yang lalu. Bayangan akan anniversary pernikahan yang indah. Semacam kisah para pengantin muda di infotaiment.

Pukul sembilan malam, menjalang kami tidur, kami masih mengobrol seperti biasa. Dan tak sedikit pun dia membahas tentang hari ulang tahun. Aku kesal. Kubiarkan ia masih dengan cerita-ceritanya sedangkan aku pura-pura mengantuk dan memejamkan mata. Jahat sekali sungguh, tapi egoku masih menyuruhku untuk terus di atas.

“Adek, kenapa?” tanyanya lembut.

Aku geming, masih membelakinya.

“Maafkan, Mas, ya.”

Seketika aku membalikkan badan. Bom waktu yang tadi kutahan-tahan akhirnya meledak malam itu.

“Mas sudah tidak sayang lagi ya, sama Adek? Mas jahat sekali sama Adek? Apa karena Adek sudah tidak penting lagi buat Mas?” Kuberondong dia dengan penghakiman.

Nampak dia tercekat mendengarnya, namun bisa kulihat rautnya tetap berusaha menunjukkan kelembutan dan beristighfar pelan agar tak terpancing emosi. Aku paham sekali, dia butuh tempat untuk bercerita, untuk menyandar, tapi tempat itu hari ini malam membuatnya seolah tak berharga sama sekali. Aku menjadi aku yang bukan aku kali ini.

“Tenangkan Adek dulu.” Dia masih dengan suara lembut sambil memegang dua lenganku dan kemudian memelukku yang sudah tidak bisa membendung air mata.

Satu jurus andalanku kalau sudah tidak tahan dengan apa yang aku hadapi adalah menangis. Sedangkan aku paham betul bahwa tangisanku adalah hal yang paling membuatnya sedih. Ia akan merasa bahwa ia telah gagal membahagiakan istrinya. Selanjutnya maaf beruntun akan ia ucapkan. Lelakiku, sungguh aku merasa bersalah telah melakukan ini padanya.

“Mas tidak mengingat hari ulang tahunku dan hari ulang tahun pernikahan kita yang pertama.” Masih dalam isakan aku membuka mulut mengeluarkan semua yang kupendam seharian tadi.

Dia melepaskan pelukan dan menghapus air mataku perlahan.

“Jadi itu yang membuat Adek seharian menampakkan muka masam pada Mas?”

Aku mengangguk. Jadi dia menyadari bahwa seharian ini istrinya bersikap beda dari hari biasanya.

Ia tersenyum menatapku. “Dengar baik-baik, Dek. Demi Allah Mas bukan tidak sayang lagi atau apapun itu tuduhan Adek. Jujur, Mas memang tidak mengingat hari ulang tahun Adek maupun hari pernikahan kita, apalagi memberikan ucapan, kado maupun kejutan seperti yang Adek harapkan. Tapi ketahuilah, Mas selalu mengingat Adek dan selalu menyebut nama Adek dalam setiap doa-doa Mas. Mas pikir itu akan menjadi hal yang lebih dari cukup sebab Mas menyerahkan segala urusan Mas pada Allah melalui doa-doa itu.” Panjang lebar dia menjelaskan.

Sesak di dadaku mendadak mereda. Dan otak warasku mulai mencerna setiap kalimatnya. Ya Rabb, rasanya aku ingin melipat wajahku dan menyembunyikannya di tempat yang paling tersembunyi. Naif sekali pemahamanku tentang keromantisan dan kasih sayang.

Dua porsi nasi bersanding dengan beberapa lauk pauk juga sayur telah siap di depan kami yang sedang duduk lesehan malam ini, posisi favorit kami saat sedang bersantap. Setelah mencuci tangan dan berdoa, tangan kekar itu lantas mencomot tahu pecak dan menciduk sayur asam di hadapannya.

Aku sendiri siap mengambil kuah lontong ke atas bubur di mangkuk di depanku. Beberapa saat ikan panggang tak tersentuh sama sekali. Tanganku malah reflek ingin mengambil sambal terasi favorit suamiku.

“Adeeek … jangan, itu pedas!” serunya pelan yang hapal bahwa istrinya tak akan tahan dengan rasa pedas, namun sering penasaran dengan rasa itu.

Aku nyengir seketika menatap dia yang menampakkan wajah protes, namun tetap kentara kelembutan di rautnya.

Dia melanjutkan makan, aku juga. Sesaat kemudian tangannya beralih ke piring berisi ikan pindang, mencomot daging ikan hingga terlepas dari tulangnya. Kemudian menyuir dan menaruhnya ke atas mangkuk di depanku. Aku seketika tersenyum sambil menatap wajahnya. Terpancar kasih sayang dan ketulusan di sana.

“Romantis itu … bukan kata-kata.” Tangannya masih menyuir satu ikan panggang hingga dagingnya tandas menyisakan tulang. Aku tak bisa menyembunyikan rona bahagia sambil terus menatapnya.

“Jangan menatap Mas terus. Ayo diselesaikan dulu makannya.” ujarnya.

Aku masih senyum malu-malu dan menatapnya, lalu mengangguk takzim. Bahagia itu sungguh sangat sederhana. Dia benar, romantis itu bukan kata-kata, tapi tindakan. Bukan selamat ulang tahun maupun kado serta kejutannya, tapi doa-doa terbaiknya yang tak berlaku saat hari itu saja, tapi di setiap sujud-sujud setiap hari.

Oleh: Ummu Ayyash.

Tinggalkan Balasan