Sabar Aja. Tunggu Jodoh Terbaik Kiriman Allah

“Malam minggu kok di rumah aja, sih?”

“Cari pacar dong, biar bisa jalan-jalan ke luar….”

“Udah umur, loh. Nggak kepengen apa, punya samwan spesial?”

Celetukan-celetukan seperti di atas, seringkali dilayangkan tatkala malam minggu tiba dan teman-teman diapeli kekasihnya. Sementara saya? Lebih memilih mendekam di kamar (kost) nonton DVD atau baca buku. Tak jarang, mereka yang ngakunya perhatian, menawarkan jasa mak comblang dengan memperkenalkan teman lelaki. Entah mengapa, status saya sebagai jomlo bahagia seolah mengusik mereka. Padahal, apa yang salah dengan tidak mempunyai pacar?

Saya normal, tentu saja. Sebelumnya, pernah juga punya kekasih, saat itu masih terlalu belia, masih mengenakan seragam putih-abu. Setelah mulai beranjak dewasa, saya ingin mencari seseorang yang tidak saja ingin mengajak berpacaran, tetapi, langsung ke hubungan serius yang bernama pernikahan. Pacaran setelah menikah, sepertinya lebih asik. Tidak perlu takut pada khalwat, dan godaan yang bisa menjerumuskan lainnya. Jujur saja, saya kapok dengan yang namanya pacaran. Apa pasal? Karena, hanya buang-buang waktu dan tenaga! Kok bisa? Ya bisa.

Saya sibuk memperhatikan dia, ngasih hadiah kesukaan yang padahal uangnya didapat dari orangtua, duh! Saya sibuk mikirin dia, sudah makan apa belum? Lagi di mana? Ngapain? Sama siapa? Saya mencoba peduli, tapi ternyata, menurutnya over protective dan malah bikin bete. Gimana enggak, lawong istri juga bukan, tapi kepo maksimal!

Kami juga sering jalan ke sana dan ke sini nggak jelas, mengacuhkan nasihat atau bahkan cibiran orang dengan dalih, “Kami nggak ngapa-ngapain, kok. Bisa jaga diri.” Padahal, setiap duduk berdekatan, bohong rasanya kalau nggak ada rasa ser-seran. Sering nahan diri, biar nggak dihasut setan dan berbuat maksiat.

Nah! Rempong kan, pacaran itu? Udah gitu, eeh…, ujung-ujungnya putus juga, karena satu dan lain hal alasan. Buang-buang waktu kan jadinya? Jadi, sejak kejadian itu, saya nggak mau lagi pacaran. Maunya, ya saling kenal biasa saja tanpa terikat. Kalau memang benar jodoh, InsyaAllah akan ada signal yang dikirim dari Allah bahwa dialah jodoh saya. Rasanya pasti beda kalau pacaran setelah halal. Mau ngapain aja bebasss, udah sah, kan? Gak perlu resah dan takut sama fitnah. Mau perhatian, ya jadi kewajiban. Super-duper protektif, ya gak bakal dibilang kepo maksimal. Intinya, pacaran setelah halal itu, lebih mendapatkan ridha dari Allah.

Namun, hingga berusia 24 tahun, saya masih juga sendiri. Ya mau bagaimana? Saya belum bertemu dengan seseorang yang memiliki signal kuat yang dikirim Allah ke hati, bahwa dia itu calon imam saya. Ternyata, itu mengganggu Ibu. Beliau ingin, putri satu-satunya ini cepat-cepat mencari pendamping. Agar terhindar dari fitnah kata Beliau.

“Mau sampai kapan kamu sendirian? Teman-teman ibu sudah pada gendong cucu, loh.” Saya hanya bisa meringis setiap Ibu mengatakan demikian, ya mau bagaimana lagi? Jodoh saya belum datang.

“Jodoh itu dicari, Nduk. Bukan cuma ditunggu!” ucap Ibu di suatu siang, melalui sambungan telpon seluler. Posisi kami berjauhan. Saya merantau di kota, selepas menamatkan sekolah menengah kejuruan. “Apa perlu, Ibu carikan?”

Wah, tahun 2011 (ketika itu) masa mau mengikuti tren Siti Nurbaya, sih? Spontan saya menolak. Saya katakan pada Ibu, akan mencari sendiri.

Teman kost yang mengetahui posisi saya sedang dikejar deadline menikah, mengenalkan temannya pada saya. “Dia itu baik, mapan, dewasa secara usia. Orangtuanya tinggal di sini juga (Jakarta), jelas asal-usulnya. Dia mencari akhwat yang siap diajak menikah.”

Pada pertemuan petama, penilaian saya terhadap pria tersebut, yaa… baik. Sopan. Pintar. Secara fisik, tinggi dan tegap. Walaupun agak sedikit banyak bicara menurut saya. “Coba saling mengenal dulu. Siapa tahu, dia jodohmu yang dikirim Allah, kan?”

Entah mengapa, dalam hati saya ada rasa tidak sreg. Secara penampilan fisik dan lainnya, memang dia ini bisa dikatakan idaman para wanita, tapi, mengapa saya tidak berpikir demikian? Kelebihan yang dia punya, tidak menyentuh perasaan saya.

“Jangan terlalu pilih-pilih, nggak baik loh. Inget itu sama umur yang udah nggak muda lagi, ntar malah nggak ada yang mau sama kamu.” Teman saya, terus saja mengingatkan.

Jleb! Kesal! Sangat menyebalkan! Saya tahu, usia saya sudah tidak lagi muda, sebentar lagi mencapai seperempat abad. Andai dia tahu, saya juga ingin cepat-cepat mengakhiri status lajang yang melekat, dan segera menyandang gelar nyonya, tetapi bagaimana? Tak secuil pun hati saya tersentuh pada lelaki yang hampir sebulan saya kenal tersebut.

Entah apa yang salah pada diri saya. Padahal, dia ini sering ngajak saya keluar untuk makan bersama; kadang hanya berdua dan sesekali bersama beberapa teman, kemudian pulangnya membelikan sesuatu; entah itu jam tangan couple, baju, pernak-pernik, pernah juga saya dibelikan MP3 mini (pemutar musik) agar ada hiburan kalau sedang bosan katanya. Setiap berkunjung, ada saja buah tangan yang dibawa dan dibagikan pada teman-teman kost. Alih-alih merasa senang, saya malah terbebani dengan apa yang dia berikan. Ditolak seperti apa pun, tetap saja dia ngotot menghadiahkannya pada saya.

Bagaimana kalau ternyata saya dan dia tidak berjodoh? Apa nggak menyesal sudah buang-buang uang untuk makan, jalan-jalan dan membelikan saya barang? Bagaimana kalau dia kesal dan menuntut macam-macam atas pemberiannya? Duh, itu yang saya takutkan. Karena nyatanya, perasaan saya ke dia masih saja datar. Boro-boro ada pikiran ingin menjalin rumahtangga dengannya, bahkan menjalin pertemanan pun rasanya risih.

Ya, dia terlalu perhatian dan banyak bicara (kata halus dari gombal). Kalau jalan bersama, tak jarang dia menggandeng jari saya, kayak orang nyebrang jalan. Huft…, saya nggak suka. Bukan mahrom.

“De, mau nggak, menikah dengan saya?” Jeder! Ini pertanyaan maut yang nggak satu atau dua kali dia tanyakan. Bikin saya gemetar jawabnya karena bingung milih kata-kata yang nggak menyinggung. Jujur, saya ingin bilang ‘Tidak.’ Tapi, bayangan orangtua yang terus menodong nikah dan teman yang selalu menjodoh-jodohkan, membuat saya ragu mengambil keputusan.

“Dijalani dulu! Kalau sudah menikah, kalian bisa saling mengoreksi sifat buruk. Ngak ada orang yang sempurna di dunia ini.” Begitu ucap orangtua dan teman saya.

Bingung! Galau! Ingin menolak, tapi lelaki ini ngotot banget. Orangtua dan teman pun sama ngototnya. Akhirnya, saya lari pada Allah dan menjadikan tempat curhat, berkeluh-kesah. Saya jadi rajin mengunjungi Allah pada sepertiga malam, minta diberi petunjuk. (Jangan ditiru sikap yang begini, ya? Kalau sudah ada perlu, baru bermanja-manja merayu Allah, selama ini, ngapain aja?)

Beberapa hari berlalu. Minggu pun berganti menjadi bulan. Belum ada jawaban dari Allah atas doa saya. Saya kembali ragu, terima atau tolak?

Hingga pada suatu hari, saat saya sedang menekuri akun sosial media, tiba-tiba saja sebuah pesan masuk dan mengejutkan saya. Dari seorang perempuan yang mengaku kekasih lelaki yang beberapa bulan ini dekat dengan saya. Saya melongo! Jadi, dia sebenarnya sudah mempunyai kekasih? Bertambah kaget ketika saya dikirimi foto mesra mereka. Allahu Rabbi, inikah jawaban atas doa hamba beberapa hari ini?

Lemas rasanya mengetahui hal yang entah mengapa, kok terasa menyakitkan di hati. Ada rasa nggak terima, jadi, selama ini saya dekat dengan lelaki yang sudah berkekasih? Terus, ngapain dia dekatin saya bahkan ngajak menikah? Perhatian dan barang-barang yang dibelikan, itu maksudnya apa? Berbagai pertanyaan berputar-putar di kepala.

Saat saya tanyakan padanya, dia awalnya tidak mengaku. Berbelit-belit. Tetapi, pada akhirnya mengatakan bahwa sebenarnya dia telah hilang perasaan pada gadis itu. Berbagai macam keluhan tidak menyenangkan diceritakannya tentang hubungan mereka yang ternyata sudah berjalan setahun lewat. Duh, saya merinding mendengarnya. Sudah sekian lamanya, bukannya buru-buru menikah dan saling memperbaiki hal yang tidak menyenangkan di dalam hubungan, kok malah nyari kekasih baru dan menebar janji-janji manis?

Ya Allah, alhamdulillah Kau tunjukkan siapa dia sebenarnya sebelum terlambat. Jika saja waktu itu saya gegabah, termakan kebaikan yang ternyata hanya rayuan, dan bisa jadi hanya jebakkan, bukan tidak mungkin saya akan bernasib sama seperti gadis itu; dicampakkan. Naudzubillah.

Teman saya, menyesal karena tidak tahu lelaki yang dikenalkannya ternyata seperti itu. Saya pun harus dengan sabar memberikan penjelasan pada ornagtua bahwa belum saatnya saya bertemu jodoh. Allah masih menyimpannya rapi. Kami pasti akan bertemu atas ridha-Nya, suatu saat nanti. Nikmati saja dulu menjadi jomlo bahagia. Jangan gegabah, terburu-buru memenuhi target menikah karena usia. Salah-salah, masuk perangkap buaya darat! Teliti, bersabar dan ikhlas. Lillahi Ta’alla. InsyaAllah, akan dipertemukan dengan jodoh terbaik kiriman Allah. InsyaAllah.

Oleh: Ranti Eka Ranti. K

Tinggalkan Balasan