AKU membuka pintu kos dengan sangat hati-hati. Lalu melangkah pelan dengan setengah berjinjit menuju kamar. Aku yakin perempuan itu sedang tertidur pulas setelah seharian lelah bekerja. Tetapi sayang, keyakinanku salah, sebab Mbak Dina enggak ada di kamar.

Ke mana Mbak Dina pergi? Enggak biasanya malam-malam gini masih di luar. Apa mungkin dia lembur, ya? Hatiku bertanya-tanya.

Begh! Kuhempaskan badan di atas kasur busa yang biasa kami–aku dan Mbak Dina tiduri. Ada rasa khawatir tentang keberadaannya. Hmmm … tapi dia kan sudah dewasa, pasti enggak akan terjadi apa-apa.

Pandanganku menangkap sesuatu saat menoleh ke meja sudut kamar. Secarik kertas berwarna kuning mentah terselip di antara wadah pensil dan alarm. Aku seraya berdiri dan meraih lipatan kertas itu.

Asalamualaikum, Dek Lani.

Kamu sudah pulang ke kos? Baik-baik saja, kan? Hmmm … maafin Mbak Dina, ya, mungkin sedikit bikin kamu khawatir. Mbak Dina sekarang ada di rumah, sudah enggak kerja lagi. Kamu yang hati-hati di sana. Semangat kerjanya.

Salam, Dina.

Slep! Serasa ada yang menculat dari dadaku. Rasa sesal perlahan menguar memenuhi langit-langit kamar. Tuhan … apakah keegoisanku penyebab Mbak Dina pulang?

Mbak Din …

Kukirim WhatsApp yang mungkin enggak penting ke nomor Mbak Dina. Sambil menunggu balasan darinya, kenangan-kenangan bersama perempuan bermata teduh itu mengapung di pelupuk mata.

***

Dina Anggraini, dia bukan kakak atau saudara dekatku. Perempuan yang kupanggil ‘mbak’ itu adalah kakak kelas sewaktu kami SMA. Selain kakak kelas, dia memang tetangga yang dekat dengan keluargaku. Rumah kami hanya berjarak 100 meter.

Dia yang lulus SMA lebih dulu dariku pun memutuskan merantau ke kota. Mencari kerja berbekal ijazah SMA dan pengalaman saat magang. Aku dengar, sih, Mbak Dina diterima di perusahaan ekspor impor sarang burung Walet sebagai staff admin. Salah satu jabatan yang ‘wah’ di mata penduduk kampung kami. Maklum, rata-rata orang dari desa kami ke kota biasanya bekerja sebagai art (asisten rumah tangga), buruh pabrik atau buruh resto.

Suatu senja, saat Mbak Dina pulang untuk liburan, aku memberanikan diri menemuinya. Kuceritakan susahnya mencari pekerjaan setelah aku lulus.

“Ada lowongan enggak di tempat Mbak Dina kerja?” tanyaku tanpa basa-basi.

“Hmmm, ada, sih … tapi operator produksi,” ujar Mbak Dina.

“Aku mau dong, Mbak. Daripada nganggur.”

“Gajinya sedikit. Selama masa training dibayarnya harian, dan enggak boleh bolos atau izin,” jelas perempuan bermata teduh itu dengan suara yang lembut.

“Enggak masalah, Mbak. Kan, memang semua itu dimulai dari bawah dan kecil.” Aku berusaha meyakinkan Mbak Dina.

“Hmmm … ya, sudah kalau kamu mau. Kebetulan lusa ada walk interview, kalau mau kita bisa berangkat barengan besok sore.”

Yes! Aku mengangguk semangat lalu pamit untuk minta izin kepada Bapak Ibu. Akhirnya ada yang bersedia ngajakin aku ke kota buat kerja, batinku. Kupercepat langkah agar lekas sampai di rumah.

“Beneran Dina ngajak kamu kerja di tempat dia?” tanya Bapak tidak percaya.

“Iya, Pak. Kalau enggak percaya Bapak tanya sendiri sama orangnya.”

“Apa pasti keterima, Nduk?” sahut Ibu.

“Aku, sih, yakin diterima, Bu. Kan, ada orang dalam yang bawa ke sana,” jelasku sesederhana mungkin agar Bapak Ibu mengizinkan.

“Terus kamu tinggal di mana? Kan, enggak punya kenalan di kota. Saudara juga enggak ada sama sekali. Nunut sopo (numpang siapa)?” tanya Ibu penuh kekhawatiran.

Aku bergeming sesaat, mencoba mencari jawaban yang tepat. “Anu … tidur di indekosnya Mbak Dina, toh, Bu. Tadi dia bilang gitu, kok. Katanya kosan dia lebar.”

Ibu dan Bapak saling pandang. Dadaku mereka buat deg-degan menunggu keputusan antara diizinkan atau tidak.

“Ya, kalau itu keinginanmu, Bapak Ibu cuma bisa mendoakan. Pokoknya hati-hati di kota. Harus pintar juga cari teman supaya enggak sampai salah jalan. Konco seng apik kui seng nggowo awake dewe nang hal seng apik (teman yang baik itu adalah orang yang membawa kita pada hal yang baik). Jadi harus bisa menjaga pergaulan.” Panjang dan lebar nasehat Ibu kujawab dengan anggukan.

Dengan kebahagiaan tiada tara aku melipat dan memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas. Tidak lupa dokumen yang diperlukan untuk melamar pekerjaan kuselipkan di antaranya. Hmmm, ada sih yang mengganjal di hati. Segera kuketik pesan dan mengirimnya ke WhatsApp Mbak Dina.

Aku: Mbak … aku sudah dapat izin dari Bapak Ibu. Hmmm… tapi aku bingung besok tidur di mana?

Mbak Dina: Alhamdulillah. Kamu bisa tinggal di kosku, Lan.

Aku: Serius, Mbak?

Mbak Dina: Iya. Asal kamu enggak keberatan aja tidur bareng sekasur sama aku.

Aku: Oke, Mbak. Suwun, yo (terima kasih, ya).

Yes! Semua sudah beres. Enggak ada hal yang perlu aku khawatirkan. Aku pun beranjak tidur dengan hati berbunga karena besok akan pergi ke kota. Keindahan hidup di kota menari-nari di pelupuk mata.

***

Kurang lebih 120 menit kami menempuh perjalanan dari desa ke kota menggunakan sepeda motor Mbak Dina. Lumayan lama dan melelahkan. Mbak Dina menggeser pagar besi dan memasukan kuda besinya ke garasi.

“Ini kos-kosannya. Semoga kamu betah, ya,” ujar Mbak Dina sambil membuka pintu. “Kamu boleh tinggal di sini selama kamu mau dan betah.” Lanjutnya.

Aku mengangguk, mengiyakan tawarannya. “Semoga besok aku keterima, ya, Mbak.”

“Aamiin. Insyaallah. Berdoa saja, Lan.”

Aku membantu Mbak Dina membereskan kosnya yang sedikit berantakan. Mungkin sebelum pulang kampung dia enggak sempat beres-beres. Ya, sejujurnya aku sudah pengin istirahat, tapi kan harus tahu diri kalau lagi numpang. Mau enggak mau aku juga bantu dia beresin beberapa barang bawaan yang dibawanya dari desa.

Setelah kos rapi dan bersih, perut kenyang juga badan wangi kami istirahat. Mengumpulkan tenaga untuk esok hari. Sayangnya, aku enggak bisa tidur nyenyak. Salah tingkah mikirin walk interview besok.

Entah harus bagaimana kugambarkan kebahagian ini. Aku bahagia karena diterima kerja, meskipun hanya sebagai operator produksi. Setidaknya, mulai besok aku sudah tidak nganggur lagi.

Sejak pukul 17.00 Mbak Dina enggak bosan dengar ceritaku. Dia ikut senang aku keterima kerja di tempat dia. Katanya pulang-pergi enggak sendiri lagi. Sampai di kos ada temannya jadi gak sepi.

“Lan … kamu enggak usah cari kos-kosan. Di sini aja, barengan. Pulang-pergi kerja juga bisa sama-sama. Ngirit.”

Aku mengiyakan kata Mbak Dina. Toh, itu menguntungkan bagiku. He-he-he. Selain biaya tempat tinggal dan makan, aku juga bisa ngirit ongkos transport.

Enggak terasa aku kerja dan tinggal sama Mbak Dina hampir enam bulan. Selama itu pula dia enggak pernah minta untuk bantu bayar uang kos atau bensin ke aku. Sebenarnya enak, kan? Sudah nebeng, gratis pula. Tetapi, aku mulai merasa enggak nyaman. Dia yang bukan siapa-siapa berani mencampuri urusanku. Mengatur siapa yang pantas dan tidak berteman denganku.

Begini enggak boleh. Begitu enggak baik. Cowok itu playboy, cowok ini sukanya morotin doang. Katanya teman kerja yang itu beginilah, begitulah. Dia juga bilang anak gadis enggak baik keluar dan pulang malam. Ah, sudah berasa kayak Ibuku saja. Ketidaksukaanku diatur membuat aku enggak betah di kos Mbak Dina.

Sore itu saat Mbak Dina lembur, tanpa meninggalkan pesan, sepulang kerja aku ikut bersama temanku–Sofi. Seperti biasa, setelah menerima gajian aku, Sofi dan beberapa teman lainnya nge-mall. Makan enak di café sama pacar kami masing-masing. Kenyamanan hidup seperti inilah yang selama ini kuimpikan. Meskipun anak kampung tapi di kota aku bisa jadi anak hits. Kerja buat happy saja, mumpung masih muda.

Seminggu aku enggak pulang ke kos Mbak Dina dan enggak ngabarin dia. Selama itu juga aku bolos kerja. Entahlah, aku malas bertemu dengan dia yang ngaku-ngaku sahabat. Katanya sih sahabat, tapi dia enggak selalu mau kalau kuajak pergi untuk hepi-hepi. Setahuku sahabatan itu, kan selalu sama-sama dalam suka dan duka. Lah, ini …?

“Lan, besok aku mau ke kantor buat resign. Aku mau ikut pacarku kerja di tempat dia,” kata Sofi enteng.

“Aku juga mau masuk. Sudah seminggu bolos,” ujarku tenang.

“Eh, iya bantuin bayar kos, dong. Kurang, nih. Uangku habis buat main seminggu ini.”

Aku meraih dompet. “Tinggal segini,” kataku sembari menujukan empat lembar uang berwarna merah dan dua biru tua.”

“Aku pinjem, ya. Kamu kan enak ada Mbak Dina yang bisa kamu tebengi.” Sofi mengambil semua uang yang ada di dompetku. Sisa uang sebulan gajian.

Pagi itu aku dan Sofi duduk di kursi yang tidak jauh dari pintu masuk. Dari beberapa puluh pegawai yang keluar-masuk aku enggak melihat Mbak Dina. Enggak biasanya. Ah, mungkin dia tadi datang lebih awal. Mbak Dina kan salah satu karyawati teladan yang selalu di eluh-eluhkan para pegawai kantor ini.

Aku mulai kembali bekerja sebagai operator produksi, setelah sebelumnya mendapat Surat peringatan. Hari ini tanpa Sofi karena dia resmi resign. Diam-diam aku memikirkan Mbak Dina. Gimana kabar dia seminggu ini, ya? Dia cemas enggak dengan keadaanku? Atau dia merasa bersalah enggak karena aku tidak pulang ke kos tanpa kabar?

Sepulang kerja aku langsung jalan lagi dengan pacarku. Sayangnya, malam itu enggak seindah biasanya. Setelah makan malam yang baik-baik saja, Aldo mutusin aku. Alasannya dia mau nikah sama perempuan pilihan orangtuanya. Parahnya Aldo enggak mau mengantarku pulang ke kos Mbak Dina. Sedang aku sudah enggak punya uang lagi di dompet. Tuhan … teguran dari-Mu kah ini?

Mau enggak mau aku jalan kaki pulang ke kos Mbak Dina. Jangan tanya gimana rasanya kakiku. Bengkak dan berat. Sebenarnya naik ojek online hanya delapan ribu, tapi lima ratus rupiah pun aku enggak punya. Bisa juga telepon Mbak Dina minta dijemput, tapi gengsi masih merajai hatiku. Telepon Sofi juga enggak bisa.

Sepanjang jalan aku teringat nasehat Ibu malam itu. Konco seng apik kui seng nggowo awake dewe nang hal seng apik (teman yang baik itu adalah orang yang membawa kita pada hal yang baik). Diam-diam aku menyesal mengabaikan nasehat Mbak Dina. Dia memang bukan siapa-siapa, tapi dia peduli padaku. Selama bersama dia aku sama sekali enggak pernah merasa susah.

Aku benar-benar menyesal telah mengabaikan sahabat sebaik Mbak Dina. Kupercepat langkah agar segera sampai di kos dan meminta maaf kepadanya. Tetapi sayang, aku tidak menemukan dia di kamar melainkan secarik kertas kuning yang terdapat tulisan tangannya. Baru kusadari arti sahabat saat dia telah pergi. Sahabat enggak harus ada di mana kita berada. Tetapi, yang mengajak pada kebaikan, bukan keburukan.

***

Oleh: Isti Syarifah.

Ilustrasinya dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: