dari sahabatan jadi pacaran

Sahabat Jadi Cinta? Why Not?

Tresna jalaran saka kulina. Pepatah Jawa yang bermakna bahwa cinta akan tumbuh seiring, sejalan dengan kebiasaan bersama. Kalian percaya? Aku sih, percaya. Kalau kalian menolak untuk mempercayainya, ya silakan saja. Toh faktanya banyak kan, cinta yang pada akhirnya tumbuh bersama dengan berputarnya waktu.

Pertanyaannya, fairkah cinta yang bermula dari persahabatan itu? Akan menjadi asyik kah, jalinan asmara yang muncul tersebut? Simaklah kisah berikut ini!

***

Makan berdua itu menjadi sebuah awal kedekatan lain antara aku dan Wakhid. Setelah rapat terbatas pagi itu, aku menjadi sering keluar berdua dengannya. Ya, dengan dalih rapat atau membahas agenda organisasi tentunya. Aku tak berani menganggap ini sebuah kencan. Aku masih berpikir ini tentang organisasi. Entahlah itu benar atau salah. Bagaimaan dengan Syifa? Tahukah dia? Aku tak tahu, yang jelas, aku tak pernah menceritakan hal ini kepadanya. Entah dengan Wakhid, berceritakah dia kepada Syifa? Aku juga tak tahu.

Awalnya hanya makan berdua, lama-lama berubah pola. Belanja buku, sampai mengundang narasumber seminar sastra juga berdua. Duh, semoga ini enggak berlanjut jadi cinta. Gumamku bohong pada diriku sendiri. Aku jadi ingat awal bertemu dengannya ketika ospek. Rentetan peristiwa kebersamaan di UKM juga tersiar bak kleidioskop di kepalaku. Aku tersenyum sendiri. Akan seperti apa kelanjutannya? Apakah aku mulai jatuh cinta? Entahlah.

***

Aktivis mahasiswa adalah gelar yang aku sandang saat ini. Kerenlah untuk ukuran penuntut ilmu di level perguruan tinggi. Tidak lebih keren dari para fresh graduate yang langsung mendapat pekerjaan sesuai ijazahnya sih. Tapi bagiku, menjadi mahasiswa plus (sekali saja plusnya), plus sebagai aktivis tentunya adalah sebuah kondisi ideal bagi para penuntut ilmu seperti aku. Bagaimana bisa? Yang jelas dengan menjadi aktivis kampus, aku akan mendapatkan ilmu selain yang aku peroleh dari kelas.

Ilmu berorganisasi, bersosialisasi, bekerja dalam tim, memecahkan masalah, apa lagi? Kalian jawab sendiri lah. Yang jelas, menjadi aktivis pasti banyak manfaatnya. Dan tentu saja pasti ada bedanya antara mahasiswa 3K (Kos, Kampus, Kos (lagi)) dengan aktivis mahasiswa. Apa bedanya coba? Sekadar di akronimnya saja sih, yaitu Kampus, Kos, Kampus (lagi), ha-ha-ha.

Oke, berhentilah membahas anak aktivis. Mari masuk ke bahasan cinta yang sesungguhnya. Jadi begini, aku kenal dia, sebut saja Wakhid, ketika ospek di tingkat fakultas. Dia menjadi pendamping untuk kelasku. Secara fisik, lumayanlah, perawakan tinggi, kira-kira 180 cm, badan berisi, wajah manis oriental gitu. Rambutnya tebal berombak, berlesung pipit sebelah kanan, dan tentu saja kulitnya putih ala Mas-mas Korea gitu.

Zahra! Jaga pandanganmu. Jangan kamu biarkan nafsu mengajakmu terus memandanginya! Kamu itu anak pesantren, harusnya kamu paham adab pergaulan dengan pria yang bukan mahram kamu!

Aduh, aku tidak bermaksud mengumbar pandangan juga kok. Wajar dong, dia sebagai pendamping kelas menjadi pusat perhatian kami. Iya, kami, mahasiswa baru kelasku. Bukan hanya aku saja. Apalagi ketika dia menjelaskan tugas-tugas untuk ospek fakultas. Aku wajib memerhatikannya kan? Nah, ketika pemilihan ketua kelas, kebetulan aku yang terpilih. Mulailah komunikasiku denganya terjalin cukup erat.

Dia ternyata adalah ketua Unit Kegiatan Mahasiswa Sastra di fakultasku. Tidak hanya piawai memimpin organisasi, teladan dalam hal karya juga dia miliki. Tulisan-tulisannya kerap dimuat di media massa lokal maupun nasional. Beberapa media online juga kerap memuat cerpen, puisi atau sekadar esai-esai ringannya.

Aku yang memang memiliki ketertarikan dalam dunia sastra menjadi mantap untuk bergabung dalam UKM Sastra ini. Jujur, bukan karena adanya Wakhid aku ingin bergabung, lebih dari itu, aku ingin banyak menimba ilmu di UKM itu.

Benar, ketika pembukaan calon anggota UKM dibuka, aku segera mendaftarkan diri. Kalian tahu ada berapa orang yang berminat di UKM Sastra ini? Tak banyak, hanya ada sekitar 10 orang dari sekitar 1000an mahasiswa baru di fakultasku. Aku merasa prihatin, sekaligus tertantang. Tertantang untuk membuktikan bahwa sastra itu keren. Huft.

Singkat cerita, aku telah memulai kehidupanku sebagai aktivis mahasiswa. Waktuku banyak aku habiskan di kampus, kos, kembali ke kampus. Lembur adalah hal biasa. Banyak event sastra yang harus aku ikuti atau aku selenggarakan bersama teman-teman. Termasuk Wakhid tentunya. Dia kan ketua UKM kami. Aku merasa senang berada di UKM ini. Bagaimana tidak?

Wawasanku tentang sastra bertambah banyak. Kemampuan menulisku juga begitu. Semua kuperoleh dari seringnya aku bersosialisai dengan para pegiat sastra. Bahkan dengan para sastrawan senior di Kota Budaya ini.

Kebahagiaanku bertambah manakala aku ditunjuk menjadi sekretaris UKM Sastra kami. Kebanggan bagi seorang mahasiswa baru tentunya. Dari sinilah kisah ini bermula. Wakhid, aku, dan Syifa menjadi tim KSB (ketua, sekretaris, bendahara) yang solid. Tanpa mengesampingkan pengurus lain atau anggota yang lain, tetapi faktanya memang aku dan mereka berdualah ujung tombak UKM ini.

Sering kami bertiga berdiskusi hingga larut malam (dalam WhatsApp Group tentunya) demi mempersiapkan sebuah event sastra. Tak jarang kami harus kembali ke kos larut malam demi sebuah pentas pembacaan puisi misalnya. Tentu dengan anggota yang lain, tidak hanya kami bertiga.

Seringnya kami bersama membuat kami dekat. Bahkan dekat secara personal. Kedekatan kami tidak lagi sekadar mereview tulisan, atau melakukan editing bersama. Merancang sebuah pergelaran sastra di kampus sering pula. Kami sudah berubah menjadi sahabat dan tim yang kompak. Ya, kami, aku, Syifa, dan Wakhid.

Sebagaimana Wakhid, Syifa, si gadis periang ini adalah cerpenis muda nan penuh talenta. Tubuhnya tinggi semampai, hampir sama denganku. Jilbab selalu dia kenakan dengan rapi menemani senyum yang selalu terkembang.

Gaya berbicaranya menggelora dan selalu ditambah dengan gestur tangan yang aktif menguatkan. Pribadi yang cerdas dan penuh dengan ide-ide luar biasa. Dia sahabat dekatku, sedari aku menginjakkan kaki di kampus ini sebagai mahasiswa baru.

Di mata mahasiswa lain kami sering menjadi bahan olokan. Wakhid adalah Bapak, aku adalah Ibu pertama, Syifa adalah Ibu kedua, atau sebaliknya. Terserah apa kata mereka. Kami hanya berusaha menjalankan tugas di organisasi sebaik mungkin. Bagaimana penilaian mereka terhadap kami, itu urusan mereka. Aha, ilmu cuek para sastrawan sudah mulai kukantongi.

Meski telah berusaha cuek, namun kadang aku juga sedikit merasa risih. Maka ketika aku sedang menyantap batagor di warung tenda depan kamus bersama mereka (Wakhid dan Syifa) aku sampaikan unek-unekku. Aku katakan, bahwa jangan sampai persahabatan dan kekompakan yang sudah terjalin rusak hanya karena omongan orang.

Syifa mengiyakan perkataanku. Begitu pula Wakhid. Dia mengatakan kalau menjadi pengurus organisasi haruslah profesional. Semua tenaga dan pikiran dicurahkan demi kemajuan organisasi. Rasanya kami makin kompak. Tak akan terkoyak hanya oleh omongan orang.

Suara-suara teman se-UKM atau mahasiswa lain mulai menghilang, kalah oleh sikap cuek kami. Kami merasa menang. Organisasi terus berjalan, maju, dan semakin berkembang. Mahasiswa anggota UKM semakin bertambah. Jumlah karya yang menampang di media pun semakin banyak. Soliditas kami semakin kuat.

***

Sesuatu yang agak aneh terjadi pagi itu. Saat mentari Kota Gudeg baru menampakkan senyum hangatnya guna menyapaku. Sebuah pesan masuk ke gawaiku. Dari Wakhid, ketua UKM-ku.

Zahra, kita rapat terbatas pagi ini jam 08.00 di markas. Evaluasi pentas pembacaan Sajak-Sajak Pembebasan kemarin, ya! Urgent!

Aku berbegas mandi, berdandan ala kadarnya. Tak lupa sarapan secukupnya. Dengan sepeda motor aku segera menuju kampus. Markas yang disebutnya tadi adalah ruangan sebagai kantor UKM kami. Sampai di markas, Wakhid telah sibuk membereskan beberapa dokumen sisa pentas Sajak-Sajak Pembebasan kemarin. Ceceran kertas berisi puisi karya mahasiswa anggota UKM maupun karya aktivis terdahulu dimasukkannya ke dalam tas.

 Tak ada orang lain selain aku dan dia. Dia lalu mengajakku pergi ke warung makan langganan kami. Aku bingung, ini acara rapat terbatas atau syukuran. Dia membuka “rapat” itu dengan menceritakan perihal peringatan dari pihak kampus mengenai pentas itu. Pihak kampus merasa khawatir jika pentas kemarin menjadi sebuah aksi yang dapat membahayakan kampus.

Wajar saja kekhawatiran itu ada. Puisi yang dibacakan kemarin memang sarat kritik dan pesan moral. Namun, aku katakan bahwa seleksi maupun pembatasan karya sudah dilakukan. Jadi, pihak fakultas tidak perlu risau sebenarnya. Kita tinggal menjelaskan saja ke pihak fakultas.

Hampir tiga bulan frekuensi jalan berduaku dengan Wakhid berlangsung. Memasuki bulan keempat aku kembali jalan dengannya. Dalih kali ini adalah mengajukan permohonan gedung untuk acara dramatic reading cerpen karya cerpenis nasional Danarto. Bukan dalih sih, benar UKM kami akan melakukan pentas dramatic reading. Untuk menyelenggarakan acara itu kami memang perlu menyewa gedung. Maka aku dan Wakhid ke sana.

Selesai urusan itu, aku diajaknya mampir ke sebuah kedai kopi. Sekadar melepas lelah sekaligus rapat terbatas mempersiapkan pentas esok malam. Sampai suatu titik Wakhid tiba-tiba menanyakan Syifa. Tahukah Syifa tentang kebersamaan kami ini?

Kujawab, mungkin tahu. Sudah hampir empat bulan kan, kebersamaam ini ada. Mustahil dia tak tahu. Kami terdiam, meski lalu kuberanikan diri mengatakan bahwa ini sebuah tindak kecurangan. Sedari awal kami (aku, Syifa, dan Wakhid) sepakat akan profesional menjalankan roda organisasi. Namun nyatanya, kami (aku dan Wakhid) telah bertindak tanpa Syifa. Jujur, aku senang bisa berdua dengan Wakhid, namun, aku tak tega kepada Syifa. Aku merasa menjadi pengkhianat waktu itu.

Dari ceritamu kutahu Syifa mengerti kebersamaan ini. Dia paham bahwa kebersamaan ini adalah bagian dari tugas. Itu dari perkataannya, aku sendiri belum mendengarnya langsung dari Syifa, dan entah akankah aku bertanya kepadanya (Syifa)? Dia (Syifa) bahkan mengizinkan kebersamaan ini. Mengizinkan? Iya, selama masih dalam batas tugas organisasi it’s okay katanya.

Aku merasa ada yang janggal. Kuberanikan bertanya padanya tentang hubungan mereka? Kalian tahu apa jawabannya? Tepat. Tiga bulan yang lalu, mereka telah resmi bertaaruf. Hmmm. Syifa merasa kami telah bersahabat baik. Maka Syifa tak mempermasalahkan saat aku jalan bersama Wakhid, dalam kapasitas organisasi tentunya.

Kalian tahu bagaimana perasaanku kini? Nano-nano kata orang. Bagaimanakah itu nano-nano? Deskripsikanlah sendiri. Bagiku, cerita ini pahit. Namun dibalik kepahitan ini terdapat ada sumber ide yang besar. Akan kukembangkan ide ini menjadi puisi atau mungkin saja kujadikan cerpen. Entah akan kuberi judul apa nanti. Yang jelas, jika sudah jadi akan kujadikan bahan untuk pentas dramatic reading.

Mereka akan kuajak memerankan tokoh dalam cerpenku nanti. Aku sendiri akan memerankan diriku. Biar penonton tahu, sahabat itu telah berubah jadi cinta. Why not? Aku ra popo. Tresna pancen jalaran saka kulina. Kata pepatah Jawa.

Oleh: Wawan Murwantara.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan