Sahabat, Maafkan Aku yang Dulu, Terimalah Aku yang Sekarang

Aku lupa tepatnya kapan memulai hijrah memakai jilbab panjang. Meski aku berusaha untuk pelan-pelan berubah, orang-orang di sekitar tetap merasa kaget sehingga mencium ketidakberesan pada diriku. Aku yang dulunya suka memakai celana jeans, kaos ketat, dan jilbab pendek, tiba-tiba sekarang memakai jilbab panjang, rok, pakaian longgar, bahkan gamis.

Dulunya suka mengunggah foto selfie, tiba-tiba satu pun tak ada lagi fotoku di media sosial. Dulunya suka ketawa ngakak, berkata kasar, ya meskipun sekarang masih sering keceplosan, tapi tidak sesering dulu. Semua orang terheran-heran, apa gerangan yang membuatku berubah.

Semua memang berawal dari sebuah organisasi yang kuikuti. Semenjak bergabung di sana, sikapku banyak yang berubah. Bagiku perubahan itu ke arah yang lebih baik, namun sayangnya orang-orang mengartikan hal-hal buruk terjadi padaku.

Banyak yang mengira aku telah dicuci otak. Karena saat itu begitu marak “organisasi negative” yang mencekoki anggotanya dengan paham-paham melenceng. Padahal sama sekali aku tidak sedang mengalaminya.

Saat masuk dalam organisasi itu, sedikit pun orang-orang di dalamnya tak pernah berkomentar atau mempengaruhi aku tentang jilbab yang kukenakan. Mereka mau menerimaku apa adanya dan bagaimana pun aku, justru itulah yang membuat aku luluh.

Aku merasa nyaman dalam sebuah lingkungan yang dibalut keislaman. Aku merasa begitu dihargai dan dijaga di dalamnya. Berbeda dengan pergaulanku yang bisa berkata kotor dengan bebas, bergaul dengan laki-laki tanpa ada pembatas, bahkan ibadah tak lagi menjadi prioritas.

Awalnya aku menjadi bunglon, sore ke kajian bersama ukhti-ukhti, malamnya nongkrong di cafe bersama teman-teman. Saat itu aku masih belum konsisten untuk mengenakan rok, bisa dikatakan aku orang yang kondisional.

Ke kajian bisa, ke konser juga bisa. Banyak orang yang bilang, aku begitu plin-plan. Lama-kelamaan aku mempertanyakan diriku, bagaimana sebenarnya keseriusanku untuk hijrah. Kalau begini terus-terusan, aku menjadi orang yang tidak mempunyai pendirian.

Setelah itu, aku masih tetap menjadi bunglon. Aku tak memaksa diriku untuk berubah drastis. Semua butuh proses, pikirku. Aku juga diajari murobbiyahku, kalau ingin berubah pelan-pelan saja awalnya konsisten dulu pakai rok, jilbab menutupi dada, lalu kelamaan semakin panjang dan panjang.

Aku lupa bagaimana proses detailnya, tiba-tiba aku sudah pada fase dimana aku merasa malu sekali menggunakan celana dan jilbab pendek. Semua mengalir begitu saja tanpa ada perencanaan.

Aku tak pernah merencanakan untuk menjadi diriku yang sekarang. Sampai sekarang, aku tak mempunyai alasan kenapa bertahan pada jilbab panjang ini, hanya saja yang kutahu aku tak pernah punya alasan untuk menanggalkannya. Jilbab ini sudah menjadi bagian dari hidupku.

Dikira orang, aku terlihat baik-baik saja. Tidak pernah ada keluh kesah yang kusampaikan kepada mereka. Tidak ada status galau yang kutulis pada media sosial. Karena semenjak itu aku tiba-tiba hilang dari dunia facebook dan instagram.

Sebenarnya alasanku menghapus foto-foto dan jarang mengunggah status karena aku ingin menjaga diri dan entah aku merasa malas untuk terlihat di dunia maya lagi. Namun, hal itu diartikan orang-orang bahwa aku sengaja mengasingkan diri karena sedang di bawah pengaruh organisasiku.

Tak jarang ada teman yang blak-blakan mengatakan takut dengan aku yang berjilbab panjang. Ada seorang teman dekat yang sampai mengirimi pesan whatsapp untuk menegur dan memperingatkan agar berhati-hati. Aku tahu, sebenarnya itu adalah bentuk rasa peduli mereka.

Seperti orang yang tidak mencuri lalu dituduh mencuri, rasanya sakit sekali. Padahal berjilbab syar’i ada tuntunannya dalam Al-Quran. Kita diperintahkan untuk mengulurkan jilbab ke seluruh tubuh.

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin:

“Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs. Al-Ahzab ayat 59)

Merasa sedih, saat aku ingin menjadi lebih baik, justru saudara Islamku yang banyak menghujat. Dalam keadaan down, aku hanya banyak menumpahkan segalanya kepada Allah.

Meskipun kadang, aku meragukan hijrahku. Aku takut jika ternyata jilbab yang kukenakan ini hanyalah ajaran pada golongan-golongan tertentu. Dari situ aku sibuk mencari, bertanya, dan berpikir, apa sebenarnya arti dari jilbab yang kupakai.

Namun ternyata, Allah semakin memberi kenyamanan saat aku memakai jilbab panjang. Allah memberiku rasa yakin bahwa yang kupilih ini adalah yang tepat.

Aku membungkus semua jilbab pendek, kaos dan pakaian ketat, serta celana jeans milikku untuk aku berikan kepada gadis pengemis sekitar kos yang sekiranya badannya lebih kecil dariku.

Itu kulakukan karena takut jika aku memakainya lagi. Aku hanya mempunyai beberapa helai jilbab, rok, dan kemeja muslim. Sampai aku pernah dikatai temanku, katanya jilbabku tidak pernah ganti.

Sesak rasanya mendengar itu. Sambil menangis aku berdoa minta jilbab dan gamis ke Allah. Alhamdulillah, tanpa kuduga ada seseorang yang memberiku gamis. Dari situlah aku merasa yakin bahwa jalan yang kupilih ini adalah pilihan yang tepat.

Hal yang membuatku lebih yakin lagi, karena di lingkungan baruku ini aku tidak diajari untuk membenci, menghujat, atau mengghibah orang-orang. Dulu pertama kali menginjakkan kaki di perantauan, hampir sering aku dinasihati agar berhati-hati dengan organisasi Islam garis keras.

Mereka itu suka memengaruhi, mencari korban, dan sederet citra buruk lainnya. Aku yang begitu polos saat itu menuruti itu semua untuk mencari aman. Sampai akhirnya, aku tidak menjadi orang yang berkembang karena terlalu takut masuk pada sebuah organisasi Islam.

Padahal aku merasa di perantauan menjadi begitu jauh dengan Allah dan Islam. Qadarullah, sejauh apa pun menjauh, jika Allah yang mendekatkan, maka tetap akan dekat. Dan aku bersyukur bisa dipertemukan dengan organisasi yang membukakan pikiranku.

Ternyata ukhti-ukhti yang kupandang buruk selama ini justru mereka yang begitu halus memperlakukanku. Mereka mengucap salam setiap bertemu, menjabat tangan, berbicara lembut, masyaallah, ternyata sebaik ini orang yang aku benci dulu.

Nyatanya, semenjak kenal mereka aku diajari untuk mendoakan semua teman-temanku yang belum hijrah, bukan malah mencibirnya.

Aku sadar, tak seharusnya aku mendengar apa yang hanya kata orang tanpa ada bukti. Jika kita ingin menilai orang, duduk dan bicaralah dengannya, nilailah dengan mata hati kita sendiri, bukan hanya dengan mendengar bagaimana tentangnya dari orang lain.

Oleh: Anik Cahyanik.

Tinggalkan Balasan