Alhamdulillah, bahagia.

Sejujurnya aku tidak benar-benar percaya dengan balasan WhatsApp-mu. Bagaimana mungkin kamu bahagia dengan pernikahan tanpa cinta? Apalagi kamu pernah bilang, kamu melakukan itu demi kebahagiaan orangtuamu. Jelas bukan untuk bahagiamu, kan?

Kapan pulang?

Bagaimana harus kujawab pertanyaamu, Ra? Apa kamu lupa aku berada dan mengakar di negara ini karena apa? Karena siapa? Aku yakin kamu tidak lupa bahwa kamulah penyebab aku tidak ingin pulang dan tinggal di negara kita sendiri.

SMS itu sering kubaca, Ra. SMS yang kamu kirim di siang bolong saat negara ini berada di puncak musim panas. Kamu bisa bayangkan bagaimana panasnya hatiku saat itu?

Sial! Kenapa aku harus membalas pertanyaanmu dengan kalimat itu. Aku yakin kamu sedang menata kalimat untuk minta maaf. Asal kamu tahu, Ra tidak sedikitpun niatku membuatmu merasa bersalah. Aku hanya ingin kamu peka, jangan lagi bertanya kapan aku pulang karena aku sendiri tidak pernah tahu.

Maaf.

Maaf? Kenapa hanya begitu, Ra? Apa laki-laki itu ada di dekatmu sehingga kamu tidak bebas berbalas WhatsApp denganku?

Ra … Dara.

Ah, pesanku hanya centang satu. Selamat tidur Daraku. Maaf jika aku masih terus menghubungimu, aku hanya ingin tahu kabarmu. Selalu. Seperti waktu itu, saat kita masih sama-sama di perantauan.

Pertemuan tidak disangka itu berhasil menjebakku dalam penantian tidak berujung. Ya, meski sebenarnya telah kamu sampaikan jalan yang kulalui ini jalan buntu. Harap yang kupeluk adalah harapan kosong.

Ah, sudahlah. Biar saja kunikmati debar harap ini seorang diri. Mencari aroma bahagiaku pada masa lalu–saat masih bersamamu.

***

Petang itu, saat aku terjebak dalam kebingungan–tersesat di dalam Causeway Bay Station (salah satu stasiun kereta bawah tanah di Hong Kong), seorang perempuan berambut sebahu dan sedikit pirang mendekatiku.

“Indo, ya, Mas?” tanyamu hati-hati.

“Iya.” aku menjawab senang karena bagiku kamu akan menjadi petunjuk untukku.

“Oh.” katamu singkat sembari mengangguk dengan senyum yang tertahan.

Aku pun memberanikan diri bertanya. Sebelumnya aku menyapa dengan mengangguk pada seorang wanita paruh baya di atas kursi roda yang ada di depanmu.

“Mbake kerja di sini?” basa-basi aku bertanya. Sebenarnya aku tahu kamu sedang bekerja di negara ini. “Hmmm, kalau boleh tahu arah ke Tsim Sha Tsui ke mana ya, Mbak?” lanjutku bertanya. Tetapi, kamu tidak lekas menjawab pertanyaanku.

Kamu jongkok di sisi kursi roda perempuan yang bersamamu. Kalian bercakap dengan bahasa yang sama sekali tidak kumengerti. Sesekali ibu jarimu mengarah padaku. Mungkin kamu berusaha menjelaskan siapa aku pada bosmu itu.

“Masnya mau ke Tsim Sha Tsui?” tanyamu setelah jeda beberapa saat.

Aku mengangguk. “Iya, Mbak. Mau pulang ke penginapan.”

“Bareng kami aja. Kebetulan kami mau pulang dan lewat Tsim Sha Tsui.”

Mendengar tawaranmu seketika cemasku lenyap. Harapan barupun bermunculan di hati. Aku mengikuti arah langkahmu yang santai mendorong kursi roda tempat perempuan itu duduk. Diam-diam aku memerhatikan caramu berkomunikasi dengan perempuan itu. Lembut dan sopan. Tidak kusangka di balik penampilanmu yang sedikit tomboy, ada hati yang sabar dalam menjaga orang tua.

Untuk pertama kalinya aku terpesona padamu. Bahkan sempat terbesit dalam pikiranku jika suatu saat kamu akan menjadi partner hidupku dalam merawat ibu di rumah. Ah, pasti ibu akan bahagia memiliki mantu perempuan sesabar kamu.

 “Di sini memang kayak gini, Mas. MTR penuh saat jam pulang dan berangkat kerja. Apalagi kalau hari Minggu atau tanggal merah. Penuh sesak. Seisi kereta akan uyel-uyelan, campur mulai dari orang Hong Kong, China, kita–orang Indo, Philipine, Pakistan sampai bule yang liburan ke sini.”

Aku memerhatikan sekeliling. Mengangguk membenarkan kata-katamu. “Sudah lama kerja di sini, Mbak? Eh, ya, namanya siapa?” tanyaku yang sejak tadi tersimpan dalam benak.

“Baru mau dua tahun. Oh, iya …. Aku Dara. Kalau masnya?”

“Ardy.”

“Di sini ….”

“Libur, Mbak. Tadi habis ketemu sama Bude. Aku kerja di negara sebelah terus ikutan teman-teman liburan ke sini.”

“Taiwan?” tanyamu yang tampak penasaran.

“Korea, Mbak. Hehehe ….”

Kamu hanya mengangguk tanpa bertanya lagi. Mungkin kamu bertanya kok aku nyasar sendirian di Causeway Bay. Mungkin kamu juga bertanya di mana atau ke mana teman-temanku.

“Aku ke sini rame-rame, tapi tujuan kami beda, jadi jalannya nggak sama-sama. Nginepnya juga beda tempat. Aku nginep di penginapan yang ada di depannya masjid Tsim Sha Tsui. Bude yang nyarikan waktu itu.”

Aku sangat menikmati perjalanan dari Causeway Bay menuju Tsim Sha Tsui. Liburanku waktu itu memiliki kesan tersendiri. Kita ngobrol ngalor-ngidul seperti teman lama, padahal baru berapa puluh menit yang lalu saling kenal.

Pertemuan tidak disengaja dan kebersamaan sesaat itu akhirnya meninggalkan banyak cerita. Kita semakin akrab meski tidak lagi pernah jumpa. Melalui telepon dan facebook kita selalu bertukar kabar dan menyemai rasa. Dunia maya telah melipat batas antara Korea dan Hong Kong.

Kamu berhasil membuatku sembuh dari luka masa lalu. Perhatian demi perhatian yang kamu berikan memberiku semangat hidup baru. Kamu pun tidak menolak saat kuminta untuk bertemu Budeku. Ah, aku semakin mantap untuk serius padamu. Apalagi kamu sering meminta pendapat padaku untuk hal kecil yang akan kamu lakukan.

 “Aku pingin pakai jilbab. Gimana, Mas?” katamu suatu malam saat kutelepon.

Alhamdulillah. Batinku. Keinginanmu saat itu menambah sejuk semilir angin musim semi. Rasa cinta di hatiku pun semakin bersemi.

“Gimana, Mas?” ulangmu.

“Ya, bagus, Dek. Pasti tambah cantik.”

Kedekatan kita telah mengubah banyak hal. Mulai dari gaya kita bicara dan memanggil. Di awal aku memanggilmu ‘Mbak’ berubah jadi ‘Dek’, misalnya. Kita pun sama-sama menjadi saksi hidup perubahan diri kita. Aku, menjadi salah satu saksi hidup hijrahmu dari seorang yang tomboy menjadi muslimah.

Perubahanmu benar-benar luar biasa. Dari penampilanmu yang hampir sepertiku, memakai jeans bolong atau kolor dengan kaos oblong atau kemeja. Kini berganti dengan rok dan baju panjang. Rambut pirang yang biasanya dihiasi topi, sekarang terlindungi dengan kain bernama jilbab.

Kebiasaanmu saat libur pun tidak lagi sama. Dengan berubahnya penampilamu, kamu jarang duduk-duduk di taman tanpa kegiatan positif. Setiap mau berangkat libur kamu pamit kalau mau ikut pengajian yang diadakan majelis TKW di sana. Sungguh perubahan yang semakin membuat aku senang.

Hari silih berganti. Musim demi musim kita lalui dengan hubungan yang entah. Tidak jelas statusnya. Apakah kita hanya sebatas teman biasa, adik–kakak, atau teman tapi mesra? Terserah, yang penting aku senang. Kita saling melengkapi dan sama-sama bahagia.

Bulan depan aku mau balik Indo. Balik terus.

Deg! Aku terkejut membaca pesan WhatsApp darimu. Mendadak sekali. Tiap malam kita teleponan tapi kamu tidak pernah membahas kepulangan itu.

Maafin aku ya, Mas kalau selama kenal banyak salah.

Belum kubalas pesan pertamamu sudah disusul pesan yang semakin membuatku bingung.

“Ada apa, Mas?” tanyamu setelah menjawab salamku.

“Nggak apa. Males aja ngetik. Maaf ya malam-malam aku telepon. Yakin pulang nggak balik HK lagi?” aku mulai menyeledik.

“Halah! Biasanya juga telepon meskipun sudah jam satu malam.” ujarmu disusul tawa renyah seperti biasanya. “Iya. Aku seriusan mau pulang terus. Gak boleh tambah kontrak lagi sama Bapak-Ibu.”

Satu, dua bunga di hatiku layu–berguguran, padahal Korea tengah berada di musim semi. “Mau nikah, ya?” tanyaku harap-harap cemas.

“Nggak. Calon ada belum ada kok nikah.”

Dag-dug! Dag-dug! Aku berusaha tenang. “Kalau gitu aku nyusul. Nanti aku main ke Malang sama keluarga. Boleh? Aku pingin serius sama kamu, Dek.” Kataku hati-hati dan penuh harap. Aku yakin kamu siap bila menikah diusiamu yang sudah dua puluh tiga tahun.

“Seriusan? Ya, aku tunggu.”

Setelah malam itu perlahan kutahu hubungan kita. Menuju serius, bukan? Kita pun masih berkomunikasi. Ya, bukan lagi Korea – Hong Kong, tetapi Malang – Korea. Kebiasaan kita pun tidak ada yang berubah. Aku tetap meneleponmu saat malam atau waktu aku libur. Aku juga aktif mengirim foto daun kesukaanmu–momiji saat musim gugur. Foto salju saat musim dingin, foto bunga sakura saat musim semi. Foto-foto yang kuambil saat aku libur nguli–kerja. Sedang musim panas di Korea bagimu tidak ada yang menarik untuk difoto.

***

Assalamu’alaikum, Mas. Aku mau minta maaf. Aku nggak bisa melanjutkan hubungan kita. Aku dijodohkan sama orangtuaku. Aku harap Mas Ardy nggak marah dan nggak sakit hati. Aku cuma ingin membahagiakan mereka. Maafkan aku, Mas.

Jeduag!!! Serasa gondam menghantam dadaku. Rasa panas seketika menjalar ke seluruh tubuh. Tiba-tiba aku merasa terbakar, panas luar dalam. Hati dan ragaku terbakar di siang bolong saat musim panas. Rasanya luar biasa.

Tiba-tiba semangat kerjaku hilang, padahal saat itu aku berada di puncak semangat karena dua bulan lagi aku akan menyusulmu. Pulang ke Indonesia untuk melamarmu. Dengan perasaan kacau balau aku terus mencoba menghubungi nomormu yang sudah tidak aktif.

Kamu ke mana, Dara? Aku butuh penjelasan secara langsung. Bukan SMS seperti itu. Ra, kenapa kamu menerima perjodohan itu? Bukankah kamu tahu dua bulan lagi aku pulang untuk memenuhi janjiku?

Aku masih selalu berharap kamu menghubungiku atau bisa kuhubungi. Tetapi, harapanku sia-sia. Nomormu tidak pernah aktif lagi. WhatsApp dan facebook-mu pun lenyap entah ke mana. Dan aku pun batal pulang ke Indonesia. Untuk apa aku pulang jika hanya akan menyakiti hatiku sendiri? Toh, pulangku untukmu. Demi bersamamu.

Musim terus silih berganti tanpa mau berhenti. Aku tetap menikmati statusku sebagai kuli pabrik di negeri gingseng ini. Mencoba untuk move on darimu meski pada kenyataannya selalu gagal. Tidak ada lagi keinginan untukku kembali ke Indonesia. Percuma. Ibu, satu-satunya orang yang kumiliki pun telah berpulang pada pemilik kehidupan.

Dara Antika menyukai status anda. Hampir setahun tanpa kabar tiba-tiba kamu muncul dengan meng-like status lamaku–sebuah puisi untukmu. Seketika kenangan tentangmu, tentang kita mengapung dalam ingatan.

Entah kenapa meski diiringi perih, hanya dengan hadirnya jempolmu, bahagiaku, semangatku kembali lagi. Segera kutelusuri timeline facebook-mu untuk mencari tahu kabar pernikahanmu. Tetapi hasilnya nol.

Tidak ada apa-apa yang kamu posting selain promo-promo gamis dan jilbab. Tidak apa, aku tetap bahagia karena bisa tahu nomor baru dan WhatsApp-mu. Lekas saja kutanya kabarmu yang sebenarnya hanya alasan. Sebuah modus untuk mengutarakan rindu dan harapanku yang tidak pernah berubah.

Salahkah aku yang masih dan selalu mendambamu, Ra?

***

Oleh: Isti Syarifah.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: