Salahkah Jika Aku Belum Juga Menikah?

Terhitung sejak sebelum wisuda, aku sudah bekerja sebagai tenaga honor di kantor ini. Meskipun tidak sesuai dengan jurusan kuliah yakni Ilmu Pendidikan tapi aku menikmati, sebab bekerja di sini tidak seberat sebagai guru.

Aku mengacungkan jempol bagi teman maupun mereka yang tetap ikhlas memilih guru sebagai profesi. Salut dengan kesabaran dan segala yang berkaitan.

Dari September 2012 mulai bekerja di Kantor Urusan Agama di kecamatan tempat tinggalku. Tidak peduli dengan ocehan orang yang sering menanyakan kapan aku nulis buku nikah sendiri, sedangkan punya orang sudah beratus pasang yang kutulis.

Tak jarang pula yang mengatakan bahwa aku setiap hari keluar masuk KUA, sedangkan membawa calon suami ke situ belum pernah. Aku cuma tersenyum dan merasa tidak perlu menanggapi.

Namun, belakangan pertanyaan ‘hantu’ perihal kapan menikah itu jadi sangat memuakkan. Apalagi angka usia kepala tiga sudah di ambang pintu. Ditambah lagi mereka yang tahu kalau aku tidak punya pacar, seakan status begini membuat mereka rugi.

Aku mau jawab apa jika memang belum waktunya. Bagiku sekarang, pacaran memang bukanlah jalan satu-satunya mendapatkan jodoh. Aku percaya itu meskipun tampilanku tidak sesyar’i wanita berbaju gamis dengan jilbab lebar bahkan ada yang bercadar.

Suatu hari tanpa sengaja aku bertemu dengan seorang lelaki. Sebut saja namanya Ucok. Dia ini pernah menjadi tamuku di kantor. Urusannya saat itu adalah mendaftarkan pernikahan sepupunya. Pada pertemuan hari itu kami saling kikuk. Aku sendiri kikuk karena tidak nyaman, tidak tahu dengan dirinya.

Mengingat kisah bertemu pertama kali dengannya. Hari itu dengan setelan kemeja dan celana pendek Ucok datang membawa satu map berkas berisi syarat pernikahan.

Wajahnya mengantuk dan aroma mulutnya tidak sedap saat berbicara. Percampuran antara bau rokok yang sudah akut dan minuman tuak. Kalau saja tidak mengingat harus profesional dan menghormati tamu, mungkin aku akan memintanya lebih cepat pergi dari hadapanku.

Dalam keadaan tidak nyaman, aku berusaha sabar menjawab setiap pertanyaan yang dia lontarkan terkait pernikahan. Hingga akhirnya sampai pada dialog yang tentunya membuatku terkejut sekaligus tersinggung.

“Suku apa kau, Dek?”

“Jawa,” jawabku singkat.

Dia tersenyum kemudian melanjutkan percakapan.

“Aku memang suka kali sama gadis Jawa ini. Banyak kawanku yang memilih menikah sama orang kita Jawa. Hatinya lembut dan penurut sama suami. Udah menikah kau, Dek?” tanya Ucok dengan dialek kental logat Medan.

Aku senyum dan enggan menjawab. Tak lama kemudian rekan kerjaku menyahut, “Belum. Carikanlah jika ada yang cocok.”

Seperti gayung bersambut, dia kemudian dengan semangat menawarkan diri. “Samaku aja kau mau? Ladangku lumayan lebar, tak usah lagi kau bekerja, kau urus saja aku dan anak-anak.” Dengan lantang dan penuh percaya diri.

Hari itu jujur kuakui, aku tidak bisa menguasai diri. Entah karena sudah tidak nyaman dengan tampilan dan bau mulutnya yang bisa kujamin minum tuak dan rokok adalah hobinya, tanpa bercermin aku bisa menebak wajahku seketika kusut.

Dia demikian pula. Saat melihat aku tanpa jawaban disertai wajah kusut, mukanya berubah seumpama jeruk purut. Mungkin Ucok merasa harga dirinya sebagai lelaki sudah kuremehkan.

Tak peduli, aku lebih memikirkan perasaanku. Jangan mentang-mentang aku belum menikah lantas akan menerima siapa saja yang datang tanpa melihat latar belakang orang tersebut, batinku.

“Ada apa ini?” tanya rekanku yang lain karena keadaan jadi senyap seketika.

Dia masih dengan percaya diri menjawab, “Adek ini udah perawan tua pun masih pilih-pilih mencari jodoh. Mungkin jodohnya udah mati.”

Deg!

Rasanya aku ingin menangis tapi sekuat tenaga kutahan. Gengsi, dong, jika harus menangis di hadapan lelaki kurang etika seperti Ucok. Aku tak peduli lagi dengannya yang masih ada di situ. Kulanjutkan pekerjaan lainnya.

Tentu masih jelas kudengar, rekanku tadi akhirnya menasehati Ucok supaya tidak berbicara sembarangan. Tidak ada yang tahu jika jodoh seseorang sudah mati atau belum. Dia juga disuruh untuk terus semangat mencari wanita yang ikhlas menerimanya sebagai suami.

Tak lama kemudian dia pamit dan meminta maaf atas ucapannya tadi. Meskipun kujawab iya memaafkan, tapi hingga kini aku masih sedih mengingat kejadian tersebut. Karena itulah aku kikuk atas pertemuan dengan Ucok.

Waktu terus berlalu. Episode demi episode terus kujalani hingga pada tahap yang paling pahit. Lebaran tahun lalu ibuku berpulang ke Rahmatullah. Aku masih juga sendiri.

Harapan terbesar ibu belum kesampaian menyaksikanku menikah. Sedih? Sangat, tapi aku menguatkan diri bahwa menikah bukan harus secepatnya tapi setepatnya, seperti judul buku. Hehehe …

Hingga suatu hari kejadian kurang menyenangkan kembali terulang. Ada sepasang calon pengantin yang menikah di kantor. Serombongan keluarganya ikut dan hari itu aku juga bertemu dengan orangtua pengantin.

Selesai pernikahan, ibu dari mempelai pria tadi memulai obrolan sederhana denganku. Biasalah ramah tamah antara tamu dengan orang di kantor.

“Kau anaknya si anu?” Menyebutkan nama ibuku.

Aku mengangguk.

“Omakmu sudah meninggal, ya? Maaf ibu tidak tahu pas hari kejadian itu. Sudah menikah kau?” tanyanya lagi. Ternyata ibu ini adalah teman masa muda ibuku.

“Belum,” jawabku singkat.

“Sedihnya. Omakmu meninggal belum ditengoknya kau menikah. Mau kau sama si ini, memang tukang minum tuak dia tapi tak apalah asal kau segera menikah?” Dia menyebutkan satu nama.

Sebagai informasi, ibu yang jadi lawan bicaraku dengan Ucok tinggal di desa yang sama. Desa itu memang diketahui dengan hobi masyarakatnya yang gemar meminum tuak.

Lelaki di sana, baik tua maupun muda bisa dijumpai dengan kebiasaan nongkrong di warung sambil main kartu tak ketinggalan merokok atau minum tuak. Memang tidak semua tapi kebanyakan masih begitu.

Kembali mendung tiba-tiba menyelimuti wajahku. Meskipun sekuat tenaga aku tersenyum, kemudian tanpa jawaban aku meminta izin meninggalkan tempat dengan alasan punya urusan lain.

Aku ke belakang kantor. Menatap tanaman singkong dan pohon pepaya yang ditanam pada lahan yang hanya sekian meter saja luasnya. Ada airmata yang berusaha menerobos pelupuk mata. Juga ribuan jarum seakan menusuki hati dan jantung.

Adakah yang salah dengan kesendirian ini? Mengapa mereka mudah sekali menawarkan calon yang sedemikian padaku?

Siapa pun gadis yang normal tentu memimpikan sebuah pernikahan. Hidup bersanding dengan orang yang bersedia menjadi pelabuhan hati. Tapi bisakah kita yang mengatur waktunya?

Seandainya bisa, aku tentu lebih memilih ketika selesai wisuda. Saat itu aku masih punya pacar dan belum menyadari bahwa aktivitas itu merugikan. Jika pacaran yang menjadi penentu, harusnya aku sudah menikah, kan? Aku dan mantan juga merencanakan, tapi memang takdir memisahkan kami.

Lantas, apakah wanita seperti kami menjadi beban bagi mereka yang kerap usil dengan mempertanyakan kapan? Juga apakah kami tidak berhak untuk memilih seseorang yang tepat menjadi pasangan? Duh, repotnya kehidupan ini jika tetap begitu selamanya.

Meminjam istilah yang masih hits di pasaran. Jangan bertanya kapan nikah. Itu berat, cukup doakan saja jika tidak mampu memberi solusi yang tepat.

Oleh: Mawar Dani.

1 thought on “Salahkah Jika Aku Belum Juga Menikah?”

Tinggalkan Balasan