kisah unta dalam al-Quran

Sampai Unta Bisa Masuk ke Lubang Jarum

Gaya puitik al-Qur’an jelas tak perlu diragukan lagi keanggunannya. Di antaranya ialah metafora “sampai unta bisa masuk ke lubang jarum” yang ditujukan pada orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah yang dijaminNya takkan diberi berkah-berkah dari pintu-pintu langit dan takkan dimasukkan ke dalam surgaNya semustahil seekor unta bisa masuk ke lubang jarum!
***

Pada suatu waktu, saya deal sebuah lahan untuk bikin cabang Kafe Basabasi. Mudah dan lancar. Rencana, sebulan ke depan akan mulai dibangun.

Masalah mulai tampak pada pembuatan surat perjanjian yang terus molor. Finalnya, ternyata rembukan matang ala orang dewasa itu dibatalkan sepihak oleh pemilik lahan. Saya kecewa. Ini kenapa ya ada orang tua yang obrolannya macam bocah saja, gumam saya kesal. Tapi saya memilih diam. Tak melanturkan kecewa dalam bentuk apa pun. Cukuplah jadi i’tibar buat saya.

Saya yakin ada rencana Allah yang lebih baik buat saya di kemudian hari. “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia buruk bagimu.”

La haula wa la quwwata illa billah tawakkaltu alaih ….

Jelang Idul Adha, sepanjang perjalanan pulang dari Sleman sambil entah telah berapa kali mengulang hafalan al-Mulk, saya berhenti di depan sebuah lahan yang dituturkan manajer Kafe Basabasi beberapa hari sebelumnya. Ini luar biasa strategis untuk bikin kafe, batin saya. Saya lalu berdoa pendek, di pinggir jalan, dari atas motor, “Ya Allah, jika lahan ini membawa kebaikan kepadaku, mudahkanlah jalannya, namun jika akan membawa kemadharatan, persulitlah. Engkaulah yang tahu dan aku tak tahu…. Amin.” Alfatihah.

Beberapa waktu kemudian saya ke Madura. Di jalan, saya mendapatkan hikayat yang menyesakkan dada itu. Ya Allah, inikah hikmah dari rencana baikMu kepada saya?

Saya tak tahu, tapi saya yakin rangkaian peristiwa apa pun tak pernah terjadi kebetulan, karena selalu ada tangan Allah di baliknya. Bagaimana mungkin Allah dirumuskan dalam nalar kebetulan-kebetulan? Mustahil!

Saya pun lalu ingat betapa benar bahwa kesekufuan atau kesederajatan merupakan “tali pengikat batin” yang tak pernah dusta. Pamabuk akan berkawan dengan pemabuk; pezina akan berkumpul dengan pezina; pelantun al-Qur’an akan bersahabat dengan pelantun al-Qur’an; sang munafik akan berjibaku dengan para munafik pula, dlsb.

Hukum kesekufuan al-Qur’an ini sangat mutlak, bekerja dalam segala hal.

Lahan baru itu alhamdulillah deal dengan mudah.

***

Saya ingat pada seseorang yang telah amat lama banyak terlibat dalam kehidupan profesional dan pribadi saya. Ia orang baik, sangat baik dan tulus, hanya karena masih sangat muda wajarlah acap galau hingga hidupnya tak kunjung mencapai titik cemerlang.

Saya ajak dia ngaji, lalu ngopi, dan berkisah tentang rencana kafe baru itu. Sebagaimana biasa, seperti sebelum-sebelumnya, ia antusias sekali. Menyampaikan gagasan begini begitu yang memperkaya konsep calon kafe itu. Ia memang orang yang sangat baik. Saya percaya betul itu.

Saya mantap mengangkatnya jadi manajer di kafe baru itu.

Berkali-kali saya jadi merenung. Tercenung. Menekuk kepala ditelan i’tibari’tibar lahir dan batin yang didatangkanNya dalam rangkaian peristiwa yang jelas kait-mengait ini.

Antara rencana dan konsep awal yang telah matang dan mendadak batal tanpa kuasa saya tampik, dilanjutkan kesaksian-kesaksian yang membuat saya tersentak akan betapa mirisnya memang ketidaksesuain lisan dan perbuatan, takbir dan tabir, lantunan al-Qur’an dan hawa nafsu, hingga terbentangnya jalan baru yang lebih mulus dan besar sekali potensi kemajuannya.

Allah ….

Membayangkan betapa setiap kita mengimpikan kesuksesan dalam hidup ini, secara ekonomi hingga sosial, jelas keniscayaan. Lalu semua kita bergiat, bekerja, berstrategi, berlobi, bernegosiasi, dan berelasi, dalam arus besar ikhtiar tersebut.

Dalam lalu-lalang perjalanan tersebut, selalu ada yang datang dan dekat dan menetap. Apa pula yang kemudian kumpul lama, namun jadi menjauh dan lalu hengkang. Ada pula yang datang untuk sekadar singgah sekejap, lalu hilang. Ada lagi yang datang, biasa saja, tak bersambung, kemudian terhubung dengan dekat, kuat, dan lama.

Semuanya jelas bekerja dalam hukum kesekufuan tadi.

Betul, semua kita telah mafhum, tak ada di antara kita yang tak pernah jatuh dan melakukan kesalahan. Sefatal apa pun! Entah itu terjadi akibat hati yang telah sangat kotor karena keburukan, pelanggaran, dan kemaksiatan yang dilakukan selama ini atau pun semata akibat tergadainya iman oleh goda setan dan hawa nafsu sesaat, misal kamuflase syahwat.

Apa pun titik kejatuhan itu, kesekufuan akan selalu berdenyar dengan sangat adil. Ya, adil sekali!

Ia sesederhana: jika kau memperbaiki diri atas kesalahanmu di masa lalu, maka energi positifmu akan menanjak ke jenjang yang lebih tinggi dan kesekufuan itu akan terajut ke jenjang tinggi pula; jika tidak, maka akan semakin membentang jauh, jauh, jauh, lalu hilang.

Kesekufuan akan mengundang atau mengusir sebuah kehadiran. Saya mendadak ingat ungkapan “wongkang soleh kumpulono” di bagian ini. Yang bisa dekat dengan orang soleh mestilah orang soleh pula, tak mungkin si blangsak, kan.

Namun perkara paling pelik buat semua kita pada poin ini ialah getar batin–pertanda masih hidupnya iman—yang pada suatu masa mendorong kita secara batiniah untuk mengakui kesalahan-kesalahan kita di masa lalu, bertaubat kepadaNya, lalu memperbaiki diri untuk tak lagi-lagi melakukannya. Ini sangat tergantung pada IMAN–masihkah ada keyakinan di hati kita betapa Allah Maha Mengetahui atas segala dusta dan kepalsuan kita yang lalu membuat kita takut pada azabNya?

Tak perlulah jauh-jauh ke akhirat, di dunia ini saja, jalan kesuksesan yang kita tahu mustahil berdiri di atas kaki kita sendiri karena semua kita senantiasa membutuhkan tangan-tangan yang lain untuk saling bergandengan, takkan terbuka bila tangan kita tak sekufu dengan tangan orang lain yang akan kita gandeng.

Tangan yang kanan dan tangan yang kiri yang akan terjulur dan bergenggaman erat haruslah sama derajatnya, sama tulusnya, sama amanahnya, sama berniat baiknya. Bila ada kotoran di salah satunya, mustahil keduanya saling menggenggam erat. Kalaupun pernah berjabatan, pastilah akan selalu ada penyebab bagi keterpisahannya. Gusti Allah mboten sare, Lur ….

Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya sekali-kali takkan dibukakan bagi mereka pintu-pintu (berkah) dari langit dan tidak pula (mereka) masuk surga sampai unta bisa masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat dzalim. (QS. al-A’raf, 40).

Coba renungkan dengan hati frasa “sampai unta bisa masuk ke lubang jarum” tersebut. DibukakanNya pintu-pintu berkah dari langit–dalam ayat lain juga disebutkan “pintu-pintu berkah dari bumi”—alias terbentangnya jalan kesuksesan hidup sangat mustahil terjadi kepada mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah dan (atau) sombong terhadap kebenarannya.

Ini perkara hati. Batin. Rohani.

Perhatikanlah mana ada orang yang menjual dusta ke sana-sini, berbisnis dengan cara berselubung tipu-tipu, berhasil menjadi sosok yang sukses dan luhur seumur hidupnya!

Perhatikanlah mana ada orang yang melanggar ayat-ayat Allah dengan berani melakukan maksiat-maksiat yang dibenciNya berhasil benar meraih kebahagiaan hidup yang paripurna seumur hidupnya!

Dan perhatikanlah mana ada orang yang hatinya kotor karena menyepelekan ayat-ayatNya bisa semeja penuh ceria dengan orang-orang yang hatinya tulus, luhur, dan takut kepadaNya dengan haq!

Boleh coba, atau boleh dicermati, pada diri sendiri atau orang-orang di sekitar kita, dalam rangka menuai i’tibar untuk muhasabah diri, mereka yang perilakunya terang-terangan menentang ayat-ayat Allah (kuffar) atau mencampuradukkan ayat-ayat Allah dengan kemaksiatan (munafik) takkan pernah mendapatkan apa-apa yang bisa didapatkan oleh mereka yang tulus beriman kepadaNya.

Guyuran berkah-berkah Allah dari langit pasti tak pernah salah alamat dalam mengantarkannya ke pintu-pintu kediamanku, kediamanmu, dan kediamannya ….

Mengharapkan berkah-berkah Allah nyasar ke pintumu yang blangsak, itu semustahil kau menunggu unta bisa masuk ke lubang jarum.

Mendambakan kau sukses dalam keberkahan hidup di atas kelakuan-kelakuan maksiatmu, itu semustahil kau menunggu unta bisa masuk ke lubang jarum.

Mencitakan kau bahagia sekemilau sumringah mentari pagi di antara kemunafikan-kemunafikan yang tak kunjung kau tobati, itu semustahil kau menunggu unta bisa masuk ke lubang jarum.

Mengimpikan kau menjadi bagian dari lingkungan orang-orang soleh yang sebenar-benarnya takut kepada Allah sehingga seluruh ucapan dan tindakannya senantiasa adalah ketulusan yang lillahi ta’ala, sementara hatimu kotor penuh pamrih, siasat, dan hasrat materi serta puja-puji, itu semustahil kau menunggu unta bisa masuk ke lubang jarum.

Bagaimana mungkin kau tak kunjung merenungkannya dengan kepala menekuk dan hati merendah di hadapanNya?

Oleh: Edi AH Iyubenu. 

*) Tulisan ini adalah salah satu bagian dari calon buku Edi AH Iyubenu, “Sampai Unta Bisa Masuk ke Lubang Jarum”, yang insya Allah akan terbit Januari 2019. Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan