Saya Menangis, Saat Menemukan Allah di Paris

Saat pertama kali berada di Paris, tidak sedikit yang menentang, alasan satu dua karena penjajah dan tentu saja, liberal selain pembunuh dan pembantai. Tapi ketika berhari-hari tak mendengar kumandang adzan, sulitnya mencari makanan halal, ada satu tempat yang membuat tubuh saya terguncang, tak mampu berkata-kata, hanya tetesan air mata.

Pagi itu saya bergegas, dua teman asal Perancis menginfokan bahwa ada satu museum yang wajib didatangi selain Musee du Louvre atau Louvre Museum. Jika kalian pernah belajar sejarah dan seni, tentu tempat ini adalah surga. Lukisan fenomenal karya Leonardo Da Vinci terpampang dengan penjagaan ketat nan penuh wibawa. Saya sudah ke sana, dan memang luar biasa.

Dengan menaiki metro atau kereta bawah tanah dari Arc de Triomphe atau dalam Bahasa Indonesia artinya Gapura Kemenangan, yang sudah dipenuhi oleh turis China dan Korea, tentu saja, benteng Napoleon tak pernah sepi pengunjung, replikanya ada di alun-alun Kota Kediri, Jawa Timur—saya mempercepat langkah. Khawatir terlalu siang untuk sampai di jalan 1 rue de la Légion d’Honneur tepat di sisi Sungai Sein.

Tapi ah, benar saja, pintu baru akan dibuka satu jam lagi, tapi antrean sudah seperti ular beranak pinak. Kluwer mlungker-mlungker. Andai antusias sebesar ini di Indonesia, maka tak ada yang namanya cagar budaya gulung tikar dan museum bangkrut karena tak mampu membayar gaji karyawan dan listrik bulanan.

Setelah berdiri dengan ratusan pengunjung lain, akhirnya pintu kaca dibuka. Jantung melompat-lompat, darah berdesir naik turun tak mau diam. Inilah dia, Museum terindah kedua di Paris, dan masuk jajaran ke-7 terbaik di dunia, Musee d’Orsay!

Berawal dari Orsay Railway Station, gedung dengan arsitektur seperti setengah tabung tidur ini akhirnya dipugar dan menjadi pameran seni kelas dunia yang dibuka pada desember 1986. Menampilkan 2000 lukisan dan 600 patung, meubel, fotografi dan seni lainnya dari tahun 1848 sampai 1914.

***

Saat masuk saja, saya sudah tercengang dengan atap kaca tebal melengkung sempurna. Bias cahaya matahari menembus langit-langit, lalu dengan jenaka, menari-nari bersama jajaran patung liberty mini, putri jelita, hingga ukiran gagah laki-laki yang penuh integritas, pada zamannya.

Selain pahatan patung memesona, pula menjadi tempat terlengkap singgasana mahakarya impressionist dan post-impressionist dunia, oleh pelukis terkemuka seperti Monet, Manet, Degas, Renoir, Cezanne, Seurat, Sisley, Gauguin, dan Van Gogh. Setiap ruangan di Musee d’Orsay memberikan sensasi berbeda. Cezanne dengan lukisan natural tetapi dalam, dan Van Gogh yang lembut tapi artistik seperti tertuang pada lukisan ‘Starry Night’ yang terkenal.

Tapi, diantara seluruh sisi, pagar, tembok, dan tiang menjulang yang penuh gaya, ada satu ruangan yang membuat saya tercekat, kaku. Kelu. Mata berkaca-kaca, hampir tak percaya. Sakit hati karena segilintir orang menganggap kepindahan ke Paris membuat iman jatuh dan terperosok pada kekufuran rasanya hancur lebur.

Nama Allah terukir indah di figura. Lafadz Allah tergores megah di kanvas. Laa ilaha illallah. Laa ilaha illallah. Saya menyentuh deretan huruf arab dengan cat emas itu. Masyaallah, benar, ini terbaca laa ilaha illallah!

Foto dari Dokumentasi Pribadi.

Air menggenang di sudut mata. Sesak di dada. Dalam kesendirian yang merayapi setiap hari. Keterasingan karena mendadak harus beradaptasi dengan mereka yang tak paham agama ini. Dalam ketakutan dikucilkan oleh lingkungan yang selalu menggangap aneh jilbab di kepala. Saya tersungkur. Ternyata, Allah yang kucari di kota ini, tak pernah jauh. Allah ada di mana-mana. Tak pernah meninggalkan manusia.

Tak hanya bersemayam di sirau-surau, tetapi juga di sini, Paris. Tempat di mana muslim pernah terusir karena konfrontasi teroris dan kecaman media internasional.

Salah satu lukisan berjudul ‘Pilgrims going to Mecca’ karya Leon Belly menyanyat hati. Berkisah tentang rombongan caravan yang menaiki unta. Membelah padang pasir. Terlihat lelah dan payah karena perjalanan jauh dan sengatan matahari di ubun-ubun. Tapi tetap berjuang untuk berhaji ke tanah suci.

Foto dari Dokumentasi Pribadi.

Leon Belly sendiri menjelaskan dalam rapat asosiasi seni dunia, dengan lukisan ini, ia menunjukkan gagasan bahwa selain perpecahan (saat itu sedang ramai perang dunia kedua), ada agama yang universal, satu iman, satu tuhan.

Saya menghapus segumpal air di sudut mata. Memandang deretan lukisan yang penuh kalimat Allah, berdzikir dalam-dalam. Paris, yang selama ini dicap sangat intoleran terhadap islam, ternyata menyimpan begitu banyak kebijaksanaan.

***

Islam datang ke Perancis pada abad ke-8 Masehi. Tetapi pada tanggal 10 Oktober 732 Masehi, perang tumpah. Pemimpin prajurit Islam, Abd-ur Rahman terbunuh, pasukan dipukul mundur. Perancis kembali diduduki oleh kemenangan Charles Marten yang dianggap sebagai penyelamat Kristen dan Eropa pada masa itu.

Tapi meski begitu, seiring berjalan waktu, Islam berkembang pesat. Kini, masjid mulai didirikan. Restoran halal menjamur meski masih hitungan jari. Tapi keterbukaan pemerintah dengan tidak menghancurkan atau memindahkan lukisan ini keluar Perancis membuat saya paham.

Barangkali bukan mereka yang membenci Islam, tapi kita, yang belum mampu memadamkan dendam. Islam pernah besar, dan semoga suatu saat, akan kembali besar.

Oleh: Marintha Violeta.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan