Sayang, Ini Lho yang Aku Mau

Sayangku, apa benar kau sudah tak tahan dengan kecerewetanku? Apa betul, kau mulai bosan dengan keluhanku? Sungguhkah kau merasa tidak nyaman dengan sikapku?

Pesan itu kukirim. Satu detik, dua detik, satu menit, dua menit. Hingga hitungan jam tak kunjung ada balasan.

Baiklah, jika kau tidak mau aku cerewet, tidak mau aku banyak mengeluh, juga senang melihat aku diam dan hanya tersenyum manis padamu, maka aku akan cari seseorang yang akan menyediakan telinganya untuk keluh kesahku, akan aku cari orang yang suka cita menerima kecerewetanku sebagai bentuk perhatian.

Send! Lagi-lagi kukirimkan chat panjang. Tapi nyatanya nasib chat itu pun sama. Tak mendapat balasan dari sang penerima.

Kesal, jengkel! Aku putuskan untuk gencatan senjata. Memangnya hanya kamu yang bisa diam? Hhhh!

***

Kejadian itu, mungkin pernah kita alami. Barangkali tidak sedramatis itu, tapi pasti bagi seorang yang telah berumahtangga sedikit banyak pernah merasakan betapa laki-laki terkadang lebih bisu dari tembok yang memang tak mampu berkata-kata.

Hal ini jika dibiarkan, bisa memicu retaknya rumahtangga atau pun mengundang hadirnya orang ketiga.

Memang, wanita mempunyai kebutuhan berbicara lebih banyak dari laki-laki. Liputan6 dalam situsnya tertanggal 21 Februari 2013 menyebutkan bahwa wanita butuh mengeluarkan 20.000 kata perhari, sedang laki-laki hanya 7000 kata saja. Waow! Satu banding tiga kan ya?

Di situlah terkadang perbedaan dalam menyikapi masalah muncul. Contoh kecil, saat anak sakit.

Sang istri akan berkata, “Duh, gimana ini, anak dari pagi rewel. Badan anget, nggak mau bobok. Gendong terus sampai pegel semua ini badan. Mintanya nyusu terus padahal akunya capek jadi ASInya kurang banyak.”

“Sakit apa?” suami bertanya santai.

“Lah tadi kan aku udah bilang, panas. Anak panas, nggak mau bobok dari tadi. Minta gendong terus dan nyusu nggak berhenti. Aku capek ASInya dikit, gimana ini?”

“Oh ….”

“Kok oh?” istri gemas suaminya masih santai. “Ayo periksa! Anterin ke dokter langganan. Biar nanti dikasih obat apa gitu, terus bisa bobok dan aku nggak pegel gendong terus.”

“Sekarang?”

Istri pun mulai kesal dan kembali mengatakan anaknya panas sejak pagi dan blablabla … suami yang mendengarkan semakin pusing. Dan suami masih bertanya-tanya, periksanya kapan kalau ngomel terus dan nggak siap-siap.

Hahaha … kenyataannya, istri memang perlu menjelaskan satu jawaban dengan detail. Bahkan kadang penjelasan itu menggunakan kosa kata yang sama dengan yang ia katakan sebelumnya. Padahal, suami cuma butuh satu jawaban, “Sakit panas dan segera anterin periksa.”

Tapi sekali lagi masalah kecil seperti itu, bisa berakibat fatal jika suami merasa istri terlalu cerewet juga suka mengeluh sementara istri merasa suami tidak perhatian. Nah, kan!

Lantas bagaimana supaya dua karakter yang berbeda itu bisa bersinergi dan selalu harmonis? Yuk, simak pasal cinta di bawah ini:

Siapkan telinga.

Berpura-puralah ikut prihatin jika istri sedang mengeluh. Atau ikutlah bahagia jika istri sedang asik cerita dapat harga murah untuk pembelian ini dan itu. Meski kadang, hal yang diceritakan itu sudah pernah disampaikan sebelumnya. Tapi pura-puralah itu adalah curhat pertama yang suami dengar.

Belajalah memuji.

Gombal sedikit untuk istri berpahala loh. Jika suami bukan tipe orang yang pintar berkata-kata, belajarlah. Sekadar bilang, “Kamu cantik deh kalau lagi masak.” Hmm … bisa dipastikan si istri semakin rajin di dapur. Begitu pun kalau suami ingin istri rajin di sumur atau di kasur (hehehe, beres-beres kamar maksudnya).

Berilah kejutan.

Kejutan itu tidak harus mahal. Sekadar membawa makanan kesukaan sepulang kerja, atau mengajak pergi saat hari libur berdua saja tanpa anak-anak. Itu sudah membuat hati istri bahagia tiada tara. Ia akan merasa menjadi wanita yang diperhatikan dan dicintai.

Diamlah saat istri marah.

Memberi nasihat memang kewajiban suami. Mendidik dan mengarahkan istri agar menjadi pribadi yang shalihah juga kewajiban suami. Tapi, nasihat-nasihat itu tidak akan masuk manakala disampaikan langsung ketika suami melihat kekeliruan istri.

Berilah nasihat saat istri tidak lagi marah. Ambil jarak waktu antara marah dan nasihat minimal setengah hari.

“Yang, nggak usah lah nonton drama Korea lagi.”

“Kenapa?”

“Sayang jadi sering menunda salat.”

“Hmmm ….”

“Juga jadi membuang-buang waktu.” Istri melirik, merasa kurang senang dinasihati, tapi tidak marah. “Waktunya kan bisa untuk hal lain, mengepel lantai misalnya.” Istri mulai memajukan bibirnya sesenti.

Beberapa saat hening. Suami deg-degan istrinya marah, istri tak berkutik karena memang benar apa yang dikatakan suaminya.

“Dan paling aku nggak suka ….” Suami melirik istrinya. Tangannya coba merangkul wanita yang dinikahinya itu beberapa tahun silam. “Aku jadi kurang ganteng di matamu karena kamu suka lihat yang lebih ganteng aktor Korea itu.”

Dan bisa dipastikan, setelahnya suami-istri itu saling malu. jika bisa digambarkan dengan animasi, pastilah wajah si istri bersemu merah seperti baru saja ditempeli buah apel Washington. Juga wajah suami, pasti berubah seperti es balok yang ada di kutub utara. Beruap tapi nyes, dingin karena malu. Hahaha ….

Belajarlah memberi tahu jika pulang terlambat atau ada urusan lain.

Karena sejatinya, seorang istri, terlebih yang berstatus ibu rumah tangga pasti sangat-sangat menunggu-nunggu waktu saat suaminya pulang. Kangen, rindu, dan ingin bercerita banyak hal.

Jika suami terlambat pulang, pastilah istri kecewa. Dan tahukah, menunggu adalah pekerjaan paling menyebalkan. Meskipun hanya lima menit terasa lima jam. Apalagi jika menunggu tanpa kabar (yang ini jomblo lebih paham kayaknya, hehehe).

Jurus terakhir, senantiasa berdoa pada Allah agar diberikan berkah, mawaddah dan sakinah dalam rumahtangga.

Oleh: Sri Bandiyah.

Tinggalkan Balasan