Ilustrasi dari Instagram.

Sayangnya, Kita Tak Sungguh-Sungguh Menatap Langit

Ada begitu limpah ruah karunia yang diberikan Allah kepada kita setiap saat, kita tahu itu. Ada begitu jubel petolongan dan perlindungan yang disulurkan Allah kepada kita setiap waktu, kita pun tahu itu. Ada begitu sesak isyarat-isyarat yang dihamparkan Allah kepada kita setiap masa, kita pun sangat pasti tahu itu.

Lalu, apa balasan patut kita padaNya?

Tak banyak benar di antara kita yang tahu diri untuk senantiasa bersyukur kepadaNya. Kebanyakan kita malah menghantarkan kepongahan, kelalaian, dan keengganan untuk menyatakan syukur setidaknya dalam taat ibadah padaNya.

Sakit, ya, kita ini. Iya, pasti!

Tidak mungkin tidak sakit jiwa seseorang yang setelah disuguhkan kepadanya hidangan lezat, manis, dan mengenyangkan, dia malah berpaling begitu entengnya kepada sang pemberi. Celakanya, jiwa sakit kita tak kita rasakan sebagai kelainan, ketidakwajaran, keganjilan, apalagi kekurangajaran. Kita lebih selalu memiliki berjuta argumen dan alasan untuk mengesahkan kebangsatan kita, kemaksiatan kita, dan kemungkiran kita padaNya.

Andai kita berkenan sejenak menatap langit di kala siang atau pun malam, niscaya hati kita akan sedikit demi sedikit tersembuhkan sakitnya.

Mengapa langit?

Al-Qur’an bilang bahwa langit dihamparkan tanpa tiang. Kita memang tak pernah menemukan ada tiang-tiang penyanggah langit.

Al-Qur’an di ayat lain bilang silakan kalian menyulurkan tali untuk jadi panjatan agar kalian bisa sampai ke wajah langit. Kita tak pernah bisa melakukannya dalam cara apa pun. Termasuk, sains telah melakukannya, peluncuran pelbagai pesawat ulang alik ke angkasa–dan tak ada satu pun yang mencapai wajah langit.

Al-Qur’an mengatakan di ayat lain–dan begitu banyak ayat sejenis ini—bahwa langit selalu bertasbih kepadaNya. Iya, langit, yang darinya turun hujan, lalu air-airnya yang jatuh ke semua sudut bumi tanpa pilih kasih–tempat bersih ataupun onggokan sampah—menjadikan bumi hidup, menghijau, menghasilkan tanaman-tanaman, buah-buahan, dan dari semua itu binatang-binatang dan manusia-manusia menyambung kehidupannya.

Sejatinya, dari apa yang ditampakkan langit untuk mampu kita tatap dan berkah hujan yang menjadikan hidup kita terus berkelanjutan ini terdapat bukti-bukti kemahakuasaan, keagungan, dan kasih sayang Allah kepada kita semua, tanpa kecuali. Mau orang saleh, orang kafir, orang munafik, orang yang menjual ayat-ayat Allah demi kekuasaan dan jabatannya, semua menyusu pada tasbihnya langit.

Bagaimana mungkin kita lalu sanggup alpa untuk bertasbih kepadaNya?

Itulah penyakit jiwa kita. Itulah pula hal mendasar yang menjadikan lalu terbedakan dengan tegas antara hamba Allah dan musuh Allah; antara mereka yang selalu bersyukur kepadaNya dengan mereka yang selalu menyataan dirinya sebagai poros pencapai segala kejayaannya.

Maka, kapankah terakhir kita sempat menatap langit dan lalu terbetikkan kesadaran-kesadaran rohaniah akan kemahakuasaan Allah atas penciptaanNya itu?

Gemilang lampu kota, merkuri, sorot mobil, kerlap-kerlip mal dan hiburan malam, sangatlah berdaya magnet raksasa menyedot kita semua tenggelam dalam keterpukauannya. Langit kita tinggalkan, kita tak sempatkan, maka semakin dalamlah kita terjungkal dalam perburuan-perburuan hawa nafsu yang tiada batasnya.

Syahwat, libido?

Adakah ia punya batas? Tak ada. Sama sekali. Di suatu hiburan malam yang riuh berkemilau, aurat-aurat diumbar sedemikian tanpa rasa malu–dan lenyaplah keagunan langit di pelupuk jiwa. Terjadilah segala kemaksiatan yang dilarangNya, dengan penuh nikmat, girang, dan tak lagi merasa berdosa. Semakin lama semakin teballah debu dosa dan dzalim itu menghempaskan wajah kita, hati kita.

Harta, adakah pula ia batasnya?

Tak ada. Berapa pun yang telah kamu miliki kini, apa pun itu bentuknya, kita yang telah dilumat oleh gebyar-gebyar kejayaan duniawi senantiasa menengadahkan mulut untuk mereguk dan mereguk lagi dengan lebih luas, banyak, dan berlimpah. Tanpa pernah merasakan bahwa kita sejatinya tak membutuhkan semua itu, sebanyak itu.

Pujian, jabatan, kekondangan, adakah mereka punya batas?

Tidak ada. Kita tabalkan diri kita sedemikian luhungnya, bernasnya, digdayanya, cerdasnya, lalu dengan seluruh hal yang tengah melekat pada diri ini, kita tempatkan diri sebagai pencipta dan sekaligus pendulang segala kegemilangan itu.

Allah ditempatkan di mana?

Lupa, ditinggalkan tepatnya. Tiada Allah sama sekali dalam segala apa yang kita miliki kini, kita dikenal kini, dan kita dihormati kini.

Al-Qur’an mengatakan bahwa untuk menghancurkan semua kejayaan dan kegemilangan yang dipongahi manusia-manusia itu cukuplah dengan satu lengkingan saja dari langit. Lengkingan malaikat Israfil yang memungkasi segala kemungkaran, kekufuran, dan kemaksiatan manusia kepadaNya.

Kapan itu? Allah belaka yang tahu. Dan, makin celaka lagi, sebab ketidaktahuan kita, gemarlah kita menganggapnya takkan terjadi, atau baru akan terjadi nanti-nanti, nanti-nanti sekali, jauh sekali, entah kapan. Dan kita tetaplah terayun-ayun dalam pesona hawa nafsu yang melenakan dan melalaikan diri dari kehancuran yang mengincar kapan saja itu.

Dalam skala yang lebih kecil dan personal, kita yang sedang sehat-sehat dan jaya-jaya, kesulitan betul untuk menjadikan pandangan, pendengaran, dan pembacaan kita pada banyak peristiwa hancurnya seseorang yang perkasa dengan begitu mudahnya, bahkan tak terduganya.

Dustakanlah semua itu, akibat kita tak pernah menyempatkan diri untuk menatap langit, menyimak dengan seksama tasbihnya kepada Allah, seolah kita akan hidup selamanya, abadi selamanya, dan jaya selamanya, berkat kehebatan akal, otak, dan kerja keras kita di dunia.

Pada suatu masa yang tak terbayangkan, bagaimana bila kau tak lagi bisa bangun pagi dengan tubuh tegak dikarenakan sebelah tubuhmu bagai mati begitu saja?

Apakah itu mustahil terjadi padamu?

Tak mungkin, katamu.

Bagaimana bisa bilang tidak mungkin?

Bukankah telah banyak sekali hal sejenis itu terjadi pada sahabat-sahabatmu, anggota keluargamu, atau orang-orang hebat yang kau puja selama ini dan kemudian kau dengar mengalami keadaan tak terperi begitu? Lalu seiring jalannya waktu yang menyesakkan, bukan hanya tubuhnya yang rapuh dan hancur, tetapi juga limpahan hartanya, pamor kekondangannya, dan jadilah ia tiada dalam keadaan masih ada.

Adapun langit di atas sana tetaplah ada, luas tak terbatas di mata, menurunkan hujan yang penuh berkah, dan sudah pasti tiada henti bertasbih padaNya.

Tataplah langit, Kawan, ia adalah senyatanya isyarat bagi kemahakuasaan, keagungan, dan segala kemahaanNya.

Oleh: Edi AH Iyubenu

Tinggalkan Balasan