Di antara pesona ayat-ayat al-Qur’an ialah terdapatnya sejumlah ayat yang menggunakan diksi, metafora, atau ilustrasi yang indah dan puitis. Di antaranya ialah ayat 27 dari surat Yunus yang bertutur tentang orang-orang kufur, mungkar, dan ahli maksiat. “… Seakan-akan wajah mereka ditutupi oleh keping-keping malam yang pekat.”

Tentu, sebab al-Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan kepada manusia sebagai petunjuk (hudan linnas), narasi puitis tersebut bukanlah sekadar pepesan kosong atau buaian yang mendayu-dayu. Ia memuat kebenaran!

Bagaimana menalar metafora analogis (gambaran perbandingan) antara wajah malam yang pekat dengan wajah pelaku kemaksiatan dan kekufuran?

Sudah menjadi pengetahuan dan pengakuan global dari perspektif ilmu apa pun bahwa naluri dasar manusia cenderung kepada—meminjam istilah Sigmund Freud—itu nature of contruction. Hasrat-hasrat menuju hal-hal yang baik, positif, konstruktif itu merupakan panggilan dasar manusiawi yang membedakan dirinya dengan binatang, misal. Masyarakat global acap mengistilahkannya “etika universal” atau “HAM”. Kaum religius dan sekular (bahkan ateis dan agnostik) juga menyepakatinya.

Wajar karenanya bila segala bentuk perilaku yang merusak, negatif, diasosiasikan sebagai kejahatan, keburukan, dan bertentangan dengan etika universal dan HAM. Kita kerap mendengar ungkapan sejenis “tidak etis” (amoral, destruktif, barbar, uncivilized) dan “dehumanis” sebagai padanan pelanggaran pada HAM itu.

Atas modal dasar berkebaikan itu, tak peduli apa pun agama dan keyakinannya, sejatinya seluruh umat manusia menjunjung keadaban dan menentang kebiadaban.

Dalam perjalanannya, sejumlah manusia lantas terseret pada perilaku-perilaku merusak (nature of destruction) yang dipicu oleh ketaklukannya pada dorongan-dorongan hawa nafsu atau emosi yang gelap. Kehendak berkuasa, misal, atau ambisi keserakahan merontokkan nature of construction tadi, yang secara hakiki tidaklah beda dengan tabiat binatang untuk berkuasa dan makan sebanyak-banyaknya. Untuk alasan inilah, kita juga mengenal istilah “homo homini lupus“, manusia adalah serigala bagi manusia lainnya. Ya, tentu, manusia yang menyingkirkan panggilan tabiat berkebaikan itu saja.

Nurani berkebaikan itu, bagaimanapun, tidaklah bisa dienyahkan dari denyar hati dan pikiran manusia, sejahat apa pun ia. Tetap selalu ada perasaan bersalah, bahkan berdosa buat kaum religius, yang menghantarnya mengalami tekanan-tekanan psikis. Memang, kadar dan ekspresinya akan berbeda-beda antar pelaku keburukan. Semakin ia tenggelam dalam perilaku keburukan, semakin pudarlah kadar rasa bersalah dan dosa itu. Sebaliknya, di awal melakukannya ia akan sangat intens didera perasaan negatif tersebut.

Apa pun kasarnya, rasa bersalah itu meniscayakan noktah-noktah gelap di hatinya, juga pikirannya. Seorang penipu tentu akan dihantui oleh wajah pilu korbannya. Seorang pembunuh juga dihantui kegelisahan serupa. Dan sebagainya.

Noktah-noktah rasa negatif itulah yang makin lama makin menjadikan wajahnya suram, kusam, dan gelap. Semakin tenggelam dalam keburukan maka akan semakin reduplah pancaran cahaya rohani itu dari wajahnya. Semakin legam semakin mencerminkan kadar keburukan perilakunya, pula kadar kebebalan hatinya atas rasa negatif itu.

Di titik ini, kita pun mendengar ungkapan “wajah yang tak bercahaya akibat tak disaput air wudhu”, kan?

Ungkapan tersebut sebaris dengan asumsi umum bahwa kebiasaan berwudhu mengandaikan kedekatannya pada amaliah yang diperintakan Allah dan jauhnya dari pelanggaran kepadaNya. Yak, berarti bahwa otomatis para penegak shalat, misal, lalu steril dari keburukan. Buktinya, banyak sekali para tokoh agama yang tersandung kasus korupsi dan zina, misal.

Tetapi, secara lahiriah, kebiasaan berwudhu tetaplah memposisikannya sebagai insan yang tersepuh hati dan pikirannya atas keburukan yang telah dilakukannya. Secara batiniah, sepuhan air wudhu itu meniscayakannya untuk meraih betik-betik kesadaran dalam hati atas keburukan-keburukannya. Betik-betik hati itulah yang menjadi perawat bagi kadar suara nuraninya, walaupun soal kembali mengulanginya atau tidak merupakan hal berikutnya lagi.

Maka, sejelek-jeleknya kelakuan maksiat orang yang masih merawat shalatnya, niscaya wajahnya akan tetap menyimpan seberkas cahaya ketimbang para ahli maksiat yang sama sekali tak mengusap wajahnya dengan air wudhu.

Dalam kitab Al-Fiqh ‘alal Madzahib al-Arba’ah, juz 5, hlm 353-354, Syaikh Abdurrahman al-Jaziri menjelaskan bahwa seorang muslim pezina terenggut imannya di kala ia sedang berzina dan kembali lagi imannya kala ia beribadah kepada Allah. Iman yang telah tertanam di hatinya hengkang seketika akibat dosa zina itu, lalu balik lagi, dan begitu terus setiap ia mengulangi dosa itu.

Tentunya tidak tepat jika kita memahami pernyataan tersebut sebagai “amannya iman” di hadapan perbuatan dosa apa pun. Tidak. Hengkangnya iman berkali-kali itu bukannya tidak menyisakan persoalan batin dan noktah hitam tadi. Bila terus diulangi, maka rasa dosa itu amat logis untuk membuatnya bebal pula. Berikutnya, oleh al-Qur’an diistilahkan jatuh kepada “qulubun ya yafqahuna biha, punya hati (yang beriman) tetapi tak mampu mencerdaskannya (menyelamatkannya dari keburukan-keburukan).”

Para pelaku keburukan, kejahatan, kemungkaran, dan kemaksiatan akan selalu menuai deraan rasa bersalah, berdosa, dan menyesal di kedalaman hatinya. Ini sudah menjadi khittah dari nature of construction tadi secara ilmu psikologi.

Allah lalu menyediakan pintu maghfirah atas kejatuhan kita pada pelbagai keburukan itu. Allah sungguh Maha Pengampun.

Namun, bila suatu keburukan itu diulang, dan diulang lagi, deraan rasa negati di hati dan pikiran itu akan menyuram dan melamat. Semakin sering semakin hengkang.

Jika kamu berdusta untuk pertama kalinya, rasa sesal dan dosa itu akan terasa sangat kuat dan tebal di hati dan pikiranmu. Jika diulangi, perasaan negatif tadi akan berkurang. Diulangi lagi, kembali menipis kadarnya. Jika terus dilazimkan, yang terjadi kemudian ialah menjadi terbiasa, menganggapnya biasa saja, dan tak lagi menguarkan rasa sesal. Pada titik demikian, telah sempurnalah keping-keping gelap malam (noktah-noktah dosa, salah, dan keburukan) itu menutupi wajah kita.

Jelas sekali sampai di sini betapa pudarnya cahaya (nur) di wajah kita mencerminkan pudarnya rasa takut atas dosa dan keburukan serta sesal dari hati dan pikiran itu. Gelap gulitanya wajah kita menandai semakin merata dan menebalnya keping-keping gelap malam itu menelungkupi hati dan pikiran kita.

Hati yang pekat, pikiran yang gulita, dan wajah yang gelap takkan memproduksi suasana batin, pikiran, dan perbuatan apa pun selain kepekatan itu sendiri. Wajar segala aspek hidupnya lalu menjadi terasa berat, pelik, dan sempit. Dalam ekspresinya, kemudian ia bisa menyemburat dalam perilaku pendek-sempit pikir, sesak-jengah hati, dan pontang-pantingnya perilaku.

Segala bentuk sikap emosional dan temperamental akibat fakir refleksi dan renungan atas apa yang telah dan akan dilakukannya merupakan di antara ciri-ciri manusia yang hati, pikiran, dan wajahnya kebak dengan perbuatan-perbuatan dosa, kufur, ingkar, dan keburukan.

Maha benar Allah dengan ilustrasi puitisNya dalam surat Yunus ayat 27 tersebut.

Oleh: Edi AH Iyubenu.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: