UANG itu bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang. Kadang, karena prinsip itu pengertian rezeki jadi kita persempit sendiri. Rezeki itu ya, bentuknya semata-mata uang. Sampai-sampai, ada yang rela melakukan apa saja, enggak peduli itu jalan buruk demi dapat uang. Ada saudara yang berselisih karena uang. Aku juga pernah menyaksikan dua orang temanku saling memusuhi karena urusan pinjam meminjam uang yang nominalnya enggak lebih dari empat puluh ribu rupiah.

Aku bersyukur, selama kuliah dulu uang jatah bulananku selalu lancar. Bahkan, enggak jarang sebelum bulan berganti, Ibu sudah mengirimi uang untuk bulan depan. Ya, ada untungnya juga Ibu enggak pakai ATM. Udah gitu, bank yang Ibu pakai lokasinya cukup jauh dari rumah. Jadi, setiap kali Ibu bepergian dan lewat di bank itu, Ibu sekalian transfer ke rekeningku. Aku enggak pernah sampai minjam-minjam ke teman, atau puasa seharian karena enggak bisa beli makan.

Kalau lagi bokek, ndilalah ya, ada aja rezekinya. Mulai dapat uang hasil bantu-bantu dosen, sampai jadi panitia acara—seenggaknya bisa makan gratis. Pernah juga dapat traktiran dari dosen pas dompet menipis. Atau temanku nraktir kalau pas lagi ultah. Sekering-keringnya kantongku, perut masih aman. Paling, nahan diri aja untuk enggak keluar jauh-jauh. Atau nolak kalau diajak nongkrong sama teman. Ngirit bensin, Cuy.

Sampai aku lulus dan masuk ke dunia kerja, aku sekali pun enggak pernah dalam kondisi dompet kosong melompong. Terakhir, aku memang pernah harus hidup irit, waktu itu karena gajiku di bawah UMR. UMR Tangerang Selatan di tahun 2016 sekitar 3 juta lebih sedikit. Gajiku ada di kepala dua. Ya … kalau dibawa ke Jogja sih, cukup banget, tapi untuk di Jabodetabek, aku sempat nyaris sesak napas hidup di BSD.   

Beruntungnya, aku dapat fasilitas tempat tinggal dari perusahaan. Jadi, aku enggak mikir biaya sewa tempat tinggal. Waktu itu, aku tinggal bareng tiga teman di satu rumah. Untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan gaji yang mepet, kami patungan beli bahan makanan. Tiap hari kami masak, ya pokoknya gimana caranya biar kami tetap bisa makan tiga kali sehari.

Dulu, kami—aku dan teman kerja—rajin belanja ke pasar kaget tiap Selasa sore. Pasar yang dipenuhi pedagang sayur dari Tasikmalaya itu menawarkan harga sayur yang lebih miring dibanding pasar modern di kota. Ya, bawa uang enam puluh ribu udah cukup buat stok sayur dan lauk—enggak pakai daging—selama seminggu. Kami juga enggak senang belanja di abang sayur, soalnya harganya enggak beda jauh sama belanja di minimarket. Beli bawang cuma seuprit aja, udah berapa ribu sendiri.

Uniknya lagi, kami punya tanggal gajian yang berbeda, sesuai dengan tanggal kami mulai bekerja. Itu beneran jadi hal positif buat kami karena pas yang satu bokek, yang lain bisa jadi baru aja terima gaji. Mudah bagi kami untuk saling back-up. Enggak dengan cara pinjam meminjam sih, lebih ke bagaimana kami kerja sama bikin dapur tetap ngebul. Ya, bisalah giliran belanja beras dan sayur beserta minyak dan bumbu-bumbu lain.

Kayaknya sih, kalau enggak salah ingat, separah-parahnya kami bokek masih bisa makan nasi goreng pakai irisan sayur kol. Lauknya telur dadar, satu butir buat berempat. Atau, makan nasi lauknya omelette mie. Makan banyak karbo dengan protein seadanya.

Mungkin bos kami memang mendidik anak buahnya dengan cara begitu, ya? Gaji dipepetin, tapi kami dibuat bekerja sama secara alamiah. Bahkan, sekecil urusan bersih-bersih dan ngotak-atik alat semacam vacum cleaner pun kami kerjakan bergantian. Enggak ada OB soalnya. Hasilnya memang oke, dalam kerjaan kantor urusan kerja sama enggak kaget-kagetan lagi. Secara enggak langsung kami terlatih dalam pengelolaan keuangan.

Dulu sih, waktu punya gaji minim begitu godaan terberat cuma satu. Kalau lagi stres atau pengin refreshing dari rumpek-nya kerjaan, kami enggak bisa ke mana-mana. Karena di Tangerang Selatan adanya cuma mall, mall dan mall. Ya, gimana sih, dompet tipis kalau ke mall, kok rasanya bahaya. Udah gitu, misal di mall cuma mau muter-muter, ujungnya kami pasti lapar. Duh, makan di mall kalau yang murah enggak kenyang. Kalau yang standar-standar aja, kami enggak punya cukup uang.

Ya, alhamdulillah, enggak ngenes-ngenes amat. Kami masih bisa senyum, masih bisa ke mall juga sekali waktu. Makan pakai voucher buy 1 get 1 dari restoran cepat saji yang jual ayam. Lumayan, itu juga masih dapat gratis cola. Meski cola-nya cuma satu, nanti yang lain minum air mineral, bawa tumbler sendiri-sendiri. Kami bisa hidup, tapi enggak bisa bergaya ala-ala pekerja Ibu Kota seusia kami. Kami ini wanita karier dengan gaya mahasiswa kontrakan.

Tapi, aku jadi sering kangen sama momen itu. Bisa dibilang, itu salah satu kenangan terbaik selama menjadi pekerja kantoran. Hidup (agak) susah, yang bikin aku paham arti kerja sama dan berbuat baik ke tetangga, tetangga samping kamar. Iya, maksudnya teman-teman yang hidup seatap. Aku enggak harus berselisih karena pinjam meminjam uang. Malah kami makin dekat karena sama-sama merasa butuh.

Ujian tongpes (kantong kempes) yang berat justru terjadi baru-baru ini, ketika aku enggak lagi jadi pekerja kantoran. Saat aku memilih secara sadar untuk berkarier sebagai … apa ya? Penulis? Hahaha … aku bingung kalau diminta menyebut pekerjaanku. Sebut aja pekerja lepas. Bekerja tanpa punya penghasilan tetap, alhamdulillah … masih tetap berpenghasilan.

Suatu hari di tanggal 24 November, kalkulator dalam otakku berhitung, tepat setelah kedua tangan membuka ritsleting dompet. Aku mendapati dua lembar kertas, satu berwarna hijau dan yang satu lagi berwarna ungu. Ah, uangku tinggal tiga puluh ribu. Tapi, aku ingat, Si Beaty (begitu aku memanggil motorku) sudah haus. Jarum penunjuk bahan bakarnya sudah mencapai garis merah, mentok. Udah kering kerontang, kalau enggak diisi aku enggak bisa pergi. Padahal, besok aku ada agenda Blogger Gathering.

Oke, enggak masalah isi bensin 15 ribu aja. Itu cukup, setidaknya buat dua-tiga hari. Aku sih, enggak akan kesulitan buat makan, karena tinggal sama Kakak sendiri. Makan dan tempat tinggal udah enggak jadi pikiran. Tapi, bisa apa dengan 15 ribu, ya? Sabun dan shampo juga pas habis. Minggu depan … aku bayar TPY pula. Tiba-tiba lamunanku terbuyar, karena sebuah pesan masuk.

Kuota data anda tersisa 20%. Silakan lakukan pengisian ulang untuk perpanjangan otomatis.

Ya, Rabb. Pulsa regulerku enggak ada, kalau paket data habis, aku enggak bisa jualan buku. Aku dapat duit dari mana? Uang dari ngeles privat baru akan aku terima bulan Desember nanti. Sementara, satu siswaku yang lain sedang minta libur pekan ini. Allah, aku … harus bisa hidup dengan lima belas ribu dan kuota internet 20% selama dua pekan?

Waktu itu yang kepikir, kalau belum ada pemasukan, aku mau libur TPY dulu. Jualan buku, nanti bisa deh cari wifi atau kalau malam minta tethering pakai HP Masku. Yang penting, Sabtu ini aku bisa datang ke Blogger Gathering. Setahuku, di acara itu ada hadiah langsung untuk best instagram post. Ah, kudu aku incar kesempatan itu!

Sabtu pagi, 25 November, aku bersiap berangkat ke sebuah kafe di Jogja. Dengan dresscode biru-putih, aku melangkah dengan penuh harap. Kuketik sebuah pesan untuk kedua orang tuaku sebelum menarik gas sepeda motor.

Bund dan Be, hari ini adik ikut acara blogger. Nanti ada kompetisi foto instagram, doakan adik menang, ya. Kalau menang hadiahnya uang. <3

Iya, katanya restu orang tua bisa bikin perjuangan kita mulus, kan? Kupikir hari itu bisa jadi milikku karena doa mereka. Alhamdulillah, pesan itu dibalas dengan doa terbaik. Oke, selanjutnya aku tinggal merayu Allah aja.

Sepanjang jalan, aku cuma istighfar, nyebut Allah. Enggak kuhitung berapa kali, karena terganggu sama ngelamun juga. Pikiranku juga kadang ke mana-mana, termasuk nangkap ide nulis. Iya, memang sebagian besar ide nulisku lahir saat aku berkendara.

Sampai di lokasi, aku duduk di posisi ternyaman, aku enggak mau hilang fokus. Aku nungguin banget pengumuman soal kompetisi instagram post. Aku pun mulai membuka goodie bag, mengamati produk dan melihat apa yang ada di meja, siapa tahu ada hiasan yang bisa kupakai untuk foto. Heeem …

“Oke, sebelum acara dimulai, silakan semuanya boleh ambil foto sebanyak-banyaknya ya,” ucap MC memulai penjelasan acara gathering.

“Setelah itu, kita akan minta semuanya untuk post foto yang paling kreatif, minimal lima feed, ya.”

Semua masih sibuk ambil foto. Termasuk aku yang menyusuri ruangan tempat acara berlangsung, nyari spot foto yang cocok buat produk shampo itu.

“Kasih caption yang menarik disertai hastag yang sudah kami tentukan, bisa dilihat di kertas yang ada di atas meja.” 

Siap. Mereka minta lima, aku kasih enam feed. Aku ambil foto sebanyak-banyaknya dan aku upload dalam enam feed. Udah kuunggah post itu di awal-awal waktu. Agar setelah itu, aku tinggal konsentrasi mendengar pembicara menyampaikan materi.

Sepanjang acara, setelah upload foto andalanku, aku cuma manggil Allah di kala diam. Yaa Razzaq … Yaa Razzaq … Yaa Razzaq …. Sebetulnya, dzikir begitu kudunya enggak cuma pas kepepet. Tapi, aku manusia biasa, kadang makin ingat Allah kalau kepepet. Yaa Razzaq ….

Entah berapa kali aku nyebut Allah dengan sok romantis begitu. Yang aku ingat, pokoknya sampai aku merasa dapat enggak dapat hadiahnya, aku sudah berusaha dan minta. Kalau kepepet, paling aku akan nahan malu, minta bayaran cash setelah ngelesin, enggak usah dirapel. Agak melanggar janji dengan orangtua murid.

Ajaib!

Ajaib!!

Ajaib!!!

Di akhir acara, namaku disebut sebagai salah satu pemenang instagram post. Allahuakbar. Allah tahu kebutuhanku. Allah bantu aku cuma dalam hitungan jam. Ya Allah, betapa mudahnya Engkau membantuku.

Selama ini, dalam kondisi tongpes, kita tahu betul bahwa kita bisa berusaha dengan cara hidup irit. Ternyata, Allah juga menawarkan jalan lain yang mudah—tanpa perlu ngibulin atau merugikan orang lain. Waktu aku merasa punya kebutuhan, aku yakin bahwa Allah sudah lebih dulu menghitung apa yang aku perlukan. Jadi, Dia tinggal kasih sesuai dengan takarannya. Kita cuma perlu minta, minta doang. Kurang enak apa?

Dari situ, aku belajar bahwa rezekiku bukan cuma menang dan dapat uang, tapi Allah juga menjagaku dari berniat buruk dalam kondisi panik dan enggak kreatif. Iya, karena enggak punya ide mau cari tambahan uang dengan ngerjain apa lagi. Hehehe. Itu rezeki juga, kan? []

Oleh: Hapsari T. M.

Ilustrasinya dari sini.

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: