AKU seorang leader penjualan buku-buku pada satu tim penjualan. Selain membantu (jika tidak mau disebut membimbing) teman-teman pengiklan mencapai target mereka, aku juga masih mengiklan di facebook—satu di antara media sosial yang menjadi tempat beriklan kami.

Biasanya, hari Senin sampai Kamis, aku posting iklan dua kali dalam sehari. Jumat biasanya aku membuka postingan lapak untuk teman-teman maya lain yang memiliki aktivitas berjualan online. Sabtu adalah hari suka-suka. Aku bebas posting apa saja. Sedangkan hari Minggu, aku memakai Facebook untuk berinteraksi lebih dekat dengan teman maya. Komunikasi yang tidak ada hubungannya dengan iklan-iklan. Bila diibaratkan dunia nyata ya semacam ngobrol biasa.

Hari itu, Minggu, bilangan ketigapuluh pada bulan Desember. Aku iseng. Masih memosting foto satu set kitab tafsir yang terdiri dari 15 eksemplar buku. Tapi, dalam caption yang kutulis, tidak ada kalimat iklan yang menyodorkan informasi harga, atau diskon sebagaimana biasanya:

Semoga DIA memudahkan yang mimpi membaca, atau, memiliki set ini.

Hanya itu yang kutulis. Kemudian datanglah dua akun berkomentar. Satu memberi komentar positif. Satu lagi bilang, “Mau.”

Aku akan bercerita tentang akun kedua, yaitu dia yang memberi komentar, “Mau.”

Panggil saja dia Buba (tanpa R). Karena sejak tahun 2009 aktif memakai akun Facebook, baru pertama kali dia komentar, maka dengan sigap jempol ini mengeklik profilnya. Siapa dia, ya?

Fotonya seorang laki-laki berjenggot. Postingan-postingannya merupakan share link politik, dan agaknya dia mendukung satu di antara calon yang mungkin akan maju dalam pemilihan presiden Indonesia, nanti. Hingga turun, aku telusuri, tidak juga menemukan postingan yang berupa kalimatnya. Tulisannya sendiri, gitu. Berdasar pengamatan sekilas, aku lanjut melayani Buba.

“Harganya berapa?”

“Normal satu juta empat ratus ribu. Diskon, jadi satu juta lima puluh ribu.”

Sebenarnya, aku biasa mengajak calon pembeli untuk menghubungiku melalui wattsapp. Tapi, hari itu, aku tetap menjawab di kolom komentar. Ya, kalau dia jadi beli, kan alhamdulillah. Hari Minggu yang semestinya bebas iklan, bisa menghasilkan. Nikmat mana jika demikian yang pantas aku dustakan?

Diam-diam, ada harapan bersemi bahwa Buba akan membeli paket tafsir itu. Satu rasa  terlarang bagi seorang leader yang memiliki motto: jangan berharap pada manusia, nanti akan kecewa. Tapi, harapan semacam ini memang hadir teramat halus di hati siapa pun. Tidak ada yang melihat, kecuali DIA dan malaikat pencatat amal manusia.

“Siapa pentahqiqnya?”

Untuk pertama kali, aku mendapat pertanyaan ini. Pentahqiq adalah orang yang meneliti/memeriksa dengan detail. Akhirnya, aku mencari jawaban yang Buba minta. Ada empat imam yang tak usah kutulis namanya di sini (agar tidak berwarna iklan juga tulisan ini). Dia menyebutkan nama seorang imam, yang dia tidak mau ada nama imam itu dalam buku yang gambarnya kuposting. Jelas. Tidak ada nama imam tersebut dalam deretan para pentahqiq.

Apakah dia akan langsung memberi alamat, kemudian transfer?

Oh. Belum.

Buba bertanya, apakah nominal yang kusebut itu sudah termasuk ongkos kirim? Tentu saja belum. Dengan masih berharap dia akan membeli, aku katakan bahwa jumlah total pembayaran sangat mungkin masih ada di bawah harga normal. Sementara ini, aku belum mendapati ongkir tinggi sekali (serupa syair dalam lagu naik-naik gunung), kecuali ke wilayah timur negeri ini, atau malah ke luar negeri. Aku juga menyampaikan bahwa diskon tersebut sudah sangat fantastis. Tiga ratus lima puluh ribu, di bawah harga normal.

Apa Buba merespon baik, sebaik komentar awalnya?

Belum.

Atau, lebih kusuka mengatakan tidak. Karena, dia malah menjawab komentarku dengan bukti transfer yang dikopi-paste. Semacam bukti transfer m-banking yang berupa huruf dan angka, bisa dikopi-paste itu. Tentu saja aku tidak tahu, apakah itu benar, atau tidak. Apakah itu bukti sungguhan, atau palsu. Namun, sangat jelas adalah dia melakukan hal teraneh yang pernah aku temui.

“Maaf, ini maksudnya apa?”

Daripada aku menebak, gondok, dan ingin teriak, tapi kutahan. Maka aku menunggu jawabnya. Jawabannya sungguh mendadak membuatku ingin menjadi tokoh utama dalam kartun super hero. Aku mengepalkan tangan kanan. Meninju langit. Ada api menyala berkobar-kobar di atas tubuh. Alam menyambut dengan petir, dan cuaca gelap. Super hero bersiap menghancurkan kejahatan. Buba lah kejahatan itu.

Katanya, aku tak perlu mengatakan itu diskon fantastis. Sebab, bukti transfer yang dia beri jauh di bawah harga diskon penawaranku. Dia juga menyusulkan nominal lain, yang total jumlahnya satu juta tiga ratus lebih. Aku tidak hapal jumlah persisnya. Aku hanya melihat angka awal.

Oh, My God!

Ternyata dia memukulratakan untuk harga buku-buku tersebut, pada penjual berbeda, yang sepertinya harus sama. Entah kenapa, komentarnya seolah mengatakan bahwa aku terlalu banyak mengambil laba (padahal, bilapun iya, itu bukan hal yang salah, kan?), atau aku saja yang sensitif. Kalimatnya seolah menjebak bahwa aku bohong, atau menutupi harga sesungguhnya.

Sayangnya, Buba memberi komentar di kolom komentar akun Facebook milikku yang kuatur publik. Semua pemilik akun Facebook temen-temen bisa melihat postingan, sekaligus komentar-komentar yang ada.

Aku tidak nyaman atas keanehan ini.

Tanpa pikir lama, aku diskusi langsung dengan dua tim melalui akun wattsapp. Yaitu timku dan juga tim seorang kawan. Mereka juga memberi saran. Tanpa menunggu Buba berkomentar mengular, aku blokir akunnya.

Apa karena emosi?

Bukan seratus persen demikian. Baper itu jelas ada. Aku tidak mau berpura-pura langsung netral, sebab mencapai titik itu masih dalam proses. Jika Buba berakhlak, tentu dia akan menjaga ketikan di postingan orang.

Aku menjadikan media sosial sebagai pintu yang bisa diketuk, buka, dan masuki siapa pun menuju kehidupan nyataku. Artinya, akun-akun aneh, dan perusuh (ya aku anggap Buba sebagai perusuh) yang mengganggu lalu lintas di pintu tersebut, akan aku singkirkan.

Setelah itu, beberapa kemungkinan aku bayangkan. Misanya saja, bagaimana jika Buba ini adalah calon pemborong buku-buku kami? Lalu, pikiran lain dalam diri menampik, pastilah dia bukan pembeli yang menjadikan jual beli atas dasar suka sama suka. Jika mengawali komunikasi dengan kerusuhan, suka sama suka yang bagaimana Buba bangun?

Kadang, pikiran juga berhenti dalam lamun. Bagaimana jika Buba adalah penipu? Dia hanya akun abal-abal yang kurang kerjaan, lalu membuat onar, setelah itu tidak peduli dengan apapun yang terjadi. Lalu, pikiran positif hadir melerai, apa untungnya membuat keributan, sedang kami tidak saling kenal? 

Untuk kesekian kalinya, DIA memberiku teguran. Bahwa berharap pada manusia memang bikin kecewa. Aku berharap pada Buba agar membeli, ternyata? Ah, kamu sudah membaca ceritaku, bukan?

Berdasarkan peristiwa ini, aku berpesan pada diriku sendiri, dan juga teman-teman yang berkenan menyimak:

  1. Bila memang ingin tahu dan bertanya tentang satu barang, alangkah baiknya melalui jalur pribadi. Kecuali bisa memastikan pertanyaan itu aman, dan tidak menimbulkan kerusuhan.
  2. Jika mendapati dua penjual menawarkan barang sama, dengan harga berbeda, bisa diam. Beli saja mana yang ingin dibeli. Menunjuk-nunjuk dan merasa tidak terima dengan informasi yang diperoleh, hanya akan membuang energi.
  3. Jika teman di media sosial hanya menjembatani perasaan yang tidak baik, untuk apa lanjut? Kita berhak menentukan, bukan hanya memilih siapa teman kita, kan? Apalagi, teman dan yang ditemani itu biasanya disamakan. Teman jahat, yang ditemani ikut disangka, atau sungguhan jahat. Ya, seperti perumpaan umum, bahwa kalau berteman dengan penjual minyak wangi, akan ikut wangi. Minimal mencium semerbak wewangian.
  4. Perbedaan harga untuk barang yang sama, selama itu ada pada penjual berbeda, itu bukan kesalahan. Coba sesekali datang ke mall khusus alat-alat elektronik. Kamu akan mendapati satu produk yang sama, persis detailnya, namun harga beda jauh, sebab beda toko yang menjualnya.
  5. Mari bersemangat pada fokus. Sebab, angin, gerimis, jalan licin menuju tujuan bukan untuk dihindari. Kita bisa melewatinya, insyaAlloh, dengan cara yang mungkin. Bismillah.

***

Oleh: Kayla Mubara.

Ilustrasinya dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: