Sebelum Kamu Resign, Coba Baca Ini Dulu

Ternyata resah dan kegalauan karyawan muda saat ini tidak melulu diakibatkan karena putus cinta atau gagal move on dari mantan. Keragu-raguan untuk meninggalkan pekerjaan juga menjadi alasan yang seringkali mengakibatkan galau, apalagi saat pengalaman pertama bekerja.

Ketakutan tidak mendapat pekerjaan lain hingga khawatir tidak mendapatkan ganti yang lebih baik bisa saja menghantui kita ketika berpikiran untuk resign dari kantor. Lebih dilema lagi, ketika pekerjaan yang sedang kita jalani membuat kita merasa tersiksa dan enggan pergi ke kantor. Apa yang sebaiknya kita lakukan ya? Bagaimana sebaiknya kita mengambil keputusan agar tidak salah langkah?

Menemukan Alasan yang Tepat

Sebelum benar-benar memutuskan untuk resign dari pekerjaan, cobalah merenung. Pahami, apa alasan yang paling kuat yang mendorong kita ingin berhenti dari pekerjaan. Pastikan bahwa yang paling berpengaruh bukan semata karena faktor emosi. Pertimbangkanlah dengan matang, bandingan hal yang membuat kita tidak nyaman dengan hal baik yang kita dapat.

Mana yang lebih banyak diantara keduanya? Apakah dengan melanjutkan bekerja kita menjadi sosok yang lebih baik? Atau justru kita merasa tidak mengalami perubahan selama menjalani pekerjaan itu? Jika pada kenyataannya, memang lebih banyak hal negatif, maka silakan persiapkan diri untuk mundur. Hilangkan kekhawatiran pada hal yang belum terjadi. Jika kamu meninggalkan pekerjaan karena ingin menjadi lebih baik, ingat bahwa Allah akan mengganti yang hilang dengan yang lebih baik.

Berkonsultasi dengan Atasan atau HRD di Kantor

Selain memetakan sendiri alasan untuk mengundurkan diri, ada baiknya kita berkonsultasi pada orang yang tepat. Kepada HRD atau atasan yang memahami kondisi pekerjaanmu. Nasihat mereka tentu bermanfaat bagi kita, apalagi seorang atasan yang sudah lebih dahulu bekerja di kantor. Bisa jadi, atasan kita juga pernah mengalami hal yang sama ketika pertama kali bekerja dahulu.

Masukan dari orang lain membantu kita untuk berpikir lebih luas dari sudut pandang yang berbeda, pertimbangan kita tentu jadi lebih matang. Atasan juga mungkin akan menyampaikan pendapatnya tentangmu, seberapa maksimal kinerjamu selama ini dan apa saja yang menjadi evaluasi. Evaluasi kerja bisa kamu bawa sebagai bekal melanjutkan ke tempat lain jika memutuskan resign.

Menentukan Waktu yang Sesuai

Setelah merenung, membandingkan beberapa hal dan berdiskusi dengan atasan atau HRD, kita sudah bisa nih merencanakan waktu yang tepat untuk mengundurkan diri. Tentu jika kita memiliki kontrak kerja dengan rentang tertentu, kita harus mempertimbangkannya agar tidak menyalahi perjanjian. Selain itu, jangan sampai meninggalkan tanggungan saat resign ya, selesaikan dulu semua tanggungjawab yang diserahkan kepada kita.

Buat to-do list sesuai dengan batas waktu yang ada. Sampai ketika kita sudah dekat waktu resign, kita bisa menyerahkan semua laporan kepada atasan atau yang berwenang. Usahakan ada space waktu beberapa hari untuk mengantisipasi laporan atau pekerjaan yang perlu direvisi. Dengan begitu, ketiadaan kita nanti tidak merepotkan orang lain. Tentu kita ingin meninggalkan kesan baik, bukan?

Menyusun Rencana dengan Rapi

Yang tidak kalah penting dalam persiapan resign adalah menyusun rencana. Langkah ini sangat dianjurkan, supaya kita tidak kebingungan selepas keluar dari kantor. Memang, persoalan rezeki itu urusan Allah tetapi dengan membuat rencana setidaknya kita bisa memanfaatkan waktu luang untuk hal yang lebih positif dibanding dengan menganggur atau bengong hingga tanpa sadar tabungan yang sudah didapatkan habis begitu saja.

Akan lebih baik jika rencana yang kita buat tidak hanya satu rencana. Antisipasi itu perlu, bukan? Apalagi sebagai makhluk yang tidak bisa melihat apa yang terjadi di depan, kita bisa saja mengalami hal yang tidak diinginkan. Antisipasi akan mengurangi risiko demikian dan kita menjadi lebih tenang menghadapi tantangan selanjutnya.

Menyiapkan Mental

Selanjutnya, mental kita juga perlu dipersiapkan. Karena nantinya, setelah resign kita akan mengalami perubahan mulai dari jadwal harian dan mungkin pendapatan yang berkurang bahkan kosong selama kita belum mendapatkan pekerjaan baru. Mental yang tidak kuat bisa bikin kita stress. Bahaya sekali. Kalau sampai stress, usaha kita untuk mencari pekerjaan yang baru akan terganggu.

Selain itu, mungkin kita akan menghadapi komentar orang lain. Bisa jadi ada yang berkomentar ‘Ngapain resign, udah bagus dapat pekerjaan kenapa dilepas?’ dan sebagainya yang membuat kita merasa salah melangkah. Jadi, pertebal mental dan go ahead! Pertimbangan yang matang, persiapan yang baik akan membawamu menuju kesempatan yang lebih baik. Wish you a good luck!

Oleh: Hapsari TM

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan