Sebentar, Pilih Jadi PNS atau PLN (Pegawai Luar Negeri) Saja?

Adek kelas bertanya: Kenapa pilih kerja keluar negeri dari pada jadi PNS?

Setahun lalu, salah seorang teman mengundang saya datang ke kostnya. Saya kira majelis ta’lim seperti yang sudah sudah. Ternyata, acara syukuran karena lolos CPNS.

Ia menceritakan pengalamannya. Berawal dari mimpi 2 tahun lalu, ia belajar dan berusaha. Hingga di test CPNS pertama, lolos dengan nilai memuaskan.

“Aku hanya berharap dan berdoa. Dan Allah memberikannya. Padahal pesimis lolos karna yang mengikuti test puluhan ribu dari seluruh Indonesia.” Matanya berkaca-kaca.

Teman lain berkata, “Orang tuaku nangis Vii waktu tahu aku lolos CPNS.”

Seseorang bergumam lirih, “Menjadi PNS ini sebagai hadiah untuk kedua orang tuaku di Surga. Semoga mereka bahagia.” Saya menahan air mata.

PNS, Pegawai Negeri Sipil, tak asing di telinga.

Papa adalah seorang PNS. Tapi bagi saya, tak ada yang istimewa. Tak ada mobil. Hanya motor bekas dan satu pinjaman saudara. Kami tak mampu membeli yang baru. Terparkir begitu saja di halaman. Tak ada garasi. Tak ada ruang untuk mesin kotak beroda empat. Rumah kami yang sepetak tak mampu menampung mereka.

Kata orang-orang, kami keluarga yang berkecukupan. Hingga ditolak berkali-kali saat mengajukan permintaan beasiswa, hanya karna saya anak PNS.

Padahal penghasilan papa hanya cukup untuk makan 6 orang termasuk saya, 1 kakak dan 2 adik. Selebihnya, dari menggali ‘lubang’.

Saat pertengahan semester, mama meminta saya menemani ke toko emas. Saya kira, akan membeli perhiasan. Ternyata, beliau menjual satu-satunya liontin peninggalan nenek. Liontin cantik dengan batu merah berkilau di tengahnya.

Mama menawar keras agar mendapat nominal tinggi. Tapi kemudian pasrah melepas dengan harga di bawah harapan.

“Cuma dapet segini, buat bayar semesteranmu aja kurang.” Mata mama basah. Hati saya porak-poranda. Saya tak yakin, ia masih memiliki cincin pernikahan.

“Saya ga lolos CPNS pak,” lapor saya ke salah satu dosen.

“Ga apa. Tahun depan coba lagi.”

“Males pak. Saya ga minat.” Padahal lebih karena kecewa. Ditolak itu ternyata nyeri.

“Nah itu, karna ga minat. Makanya ga lolos.” Saya pikir ini gurauan untuk melebur sakit hati saya. Kemudian melanjutkan, “Kamu pengen ke mana?”

“Kerja di RS Internasional pak. Syukur-syukur bisa go international. Hahaa.” Kami tertawa terbahak-bahak.

Di depan ruang dosen, menertawai bodohnya mimpi ingar itu. Teramat aneh dan mustahil bagi seorang manusia kecil seperti saya.

Tapi seminggu kemudian ada telfon dari kakak kelas. “Dek, kamu mau kerja di RS sini ga? Bertaraf Internasional. Alhamdulillah, aku keterima CPNS. Kamu gantiin aku ya?”

Prosesnya hanya 2 minggu, dari sejak pengiriman berkas dan test ujian masuk. Saya resmi bekerja di sana.

Dan 2 tahun kemudian, tahun 2015, saat telah resign dan menganggur, ada seseorang ngehubungi saya, “Dek Vio, masih minat keluar negeri? Aku mau pulang Indonesia, ibuku sakit. Kamu gantiin posisiku mau yaa?”

Berangkatlah saya keluar negeri.

Dek, menjadi PNS atau bekerja di negeri orang, bagi saya tak menjadi masalah. Saat sebagian yang lain ingin keluar negeri, ada sebagian lainnya berbahagia mengabdi pada bumi pertiwi. Tapi bukan berarti yang satu lebih baik dari yang lainnya.

Gaji? Heii, apa kau mempermasalahkan perbedaan gaji sayang?

Manusiawi memang. Tapi menurut Kiyosaki, “Hanya kelas menengah yang bekerja karena gaji.”

Kau tahu dek, CEO perusahaan besar seperti Steve Jobs (Apple) dan Sergey Brin (Google) berawal dengan gaji 1 dollar USD.

Bagi orang-orang hebat ini, bayaran tidak dipikirkan. Karna yakin, pendapatan akan naik mengikuti kualitas diri. Berpikir bagaimana tetap berkontribusi. Tetap berusaha berjalan dan menciptakan inovasi. Hingga menjadi perusahaan sebesar yang kau tahu kini.

Luaskan padanganmu sayang. Lihatlah dari berbagai sisi.

Jika kau ingin menjadi PNS, jadilah PNS yang jujur dan amanah. Berkontribusi untuk negeri. Menjadi contoh kebaikan untuk sesama. Ikuti konferensi atau pelatihan di tempat-tempat yang belum pernah kau kunjungi.

Pelosok desa. Pulau terpencil. Kota tanpa penghuni. Lalu berjalan-jalanlah keluar negeri. Agar hatimu semakin dalam. Seperti mutiara di dasar samudra. Indah dan mahal sekali.

Jika kau ingin bekerja keluar negeri. Pastikan orang tua merestui. Lapangkan jiwamu menerima hal baru yang tak pernah kau dapatkan di tanah leluhur. Kosongkan separuh gelas. Dan siapkan untuk menerima hal baru.

Karna disanalah letak pembelajaran tertampung tanpa ego dan bangga hujan pujian. Lalu pulanglah dan membangun negeri. Tanah tempat kita dilahirkan.

Bersyukur dengan apa yang telah saya miliki. Tapi bukan berarti saya bangga. Tidak. Saya justru malu dengan teman-teman yang tetap tinggal di dalam negeri. Mencurahkan segala kemampuan untuk memajukan negeri.

Merantau ke pedalaman Papua dan menjadi relawan. Bertegur sapa dengan pribumi yang bahkan tidak tahu Jakarta di sebelah mana. Pasti sulit sekali. Dibanding saya yang masih memikirkan perut sendiri.

Ada perawat yang memilih melanjutkan kuliah lalu mencerdaskan bangsa dengan menjadi dosen. Ada yang membuka restoran dan menyehatkan masyarakat karna paham sekali dengan gizi seimbang. Ada yang mengembangkan budidaya ternak dan membuka lapangan pekerjaan bagi warga kampungnya karna mendapat ilmu nursepreneurship.

Bukan berarti mereka tidak hebat dan tidak berpikir out of the box karena memilih tinggal di Indonesia. Tapi mereka berkembang dengan kehebatannya masing-masing.

Saya tidak menjadi PNS karna memang tidak memilih PNS. Berkesempatan keluar negeri karna sengaja memilihnya menjadi doa dan harapan saya.

Saya ingin mengembangkan diri. Menguji sejauh mana dapat beraktualisasi di segala kondisi. Mendobrak dinding keterbatasan dari mahasiswa yang berhutang untuk membayar kuliah menjadi perawat di tanah nabi.

Saya ingin sekali mengikis kotak prespektif yang menilai bahwa bekerja keluar negeri itu hebat sekali. Ahh, tidak, Sayang. Yang hebat itu adalah seorang pribadi yang tetap berbagi meski serba kekurangan. Yang tetap berdiri tegak setelah jatuh terjerembab. Yang tetap berpegang pada iman saat ujian datang bak hujan. Yang tetap tersenyum meski hati remuk redam.

Pilihan itu ada ditanganmu, Sayang. Berdiri dan tersenyumlah. Allah telah menyiapkan jalan di setiap pilihan. Jika memilih A, kita akan begini, jika memilih B, kita akan begitu. Tanyakan pada hati yang paling dalam. Ia selalu jujur dan tulus menjelaskan.

Maafkan ketidakarifan kakakmu dalam menilai sesuatu. Saya tak ingin mengubah pikiranmu menjadi apa yang saya ingin. Itu egois sekali.

Saya hanya ingin engkau menjadi sebaik-baiknya dirimu sendiri. Karna setiap manusia tercipta untuk menjadi pribadi istimewa. Dengan caranya.

Tersenyumlah, Sayang. Kuatkan kakimu. Mari kita melangkah menuju ridho-Nya. Allah bersama hamba yang selalu mengingat-Nya. Tetap berupaya memantaskan diri dan bermanfaat bagi sesama.

“Banyak orang berusaha keras untuk berhasil. Mereka menginginkan rumah besar, usaha sukses, dan segala hal. Tetapi penelitian kami menemukan bahwa memiliki segala hal tidak menjamin apa yang sungguh-sungguh kita inginkan, yaitu kebahagiaan.

Kita perlu terlebih dulu mencari kebahagiaan, damai dan visi di dalam diri, maka apa yang diinginkan akan muncul dengan sendirinya.” Marci Shimoff, MBA. Pengarang Chicken Soup for the Woman’s Soul.

Meski keluarga kami biasa saja, tapi kebahagiaan dan syukur selalu penuh selayak air di tengah lautan. Lebih memesona dari liontin yang mama gadaikan.

Dari Kakakmu yang selalu mendukung apa pun pilihanmu.

Oleh: Marintha Violeta.
Riyadh, Arab Saudi, 25 Maret 2016, 23.20.

Tinggalkan Balasan