Le, Mbah Aziz sedo (meninggal) sore tadi. Innalillahi wa innailaihi rojiuun.”

Innalillahi wa innailaihi rojiuun. Minggu yang lalu Mbah Umar, sekarang Mbah Aziz. Maut tidak pernah mau kompromi ya, Pak.”

Sore itu kampungku kembali ramai. Bukan karena ada konser dangdut atau pentas jathilan tentunya. Sripah (lelayu) kami menyebutnya. Berbagai kesibukan untuk rukhti jenazah segera kami lakukan.

Di pedesaan seperti tempatku ini, untuk hal-hal sosial seperti itu masyarakat masih sangat peduli. Lain dengan perkotaan yang kata banyak orang kehidupannya sudah agak cuek bebek. Entah benar atau hanya asumsi, aku juga tidak yakin.

Berbagai kegiatan untuk membantu keluarga yang sedang dirundung duka itu berjalan secara otomatis. Persiapan untuk memandikan jenazah, penggalian liang lahat, penataan tempat untuk menggelar upacara pemberangkatan jenazah dan lain-lain langsung dieksekusi warga.

Paling-paling sedikit komando oleh Pak Dukuh atau Pak Rois, sekadar untuk memastikan saja. Bagiku, semua itu pemandangan yang biasa. Namun, bisa jadi semua itu merupakan hal yang luar biasa untuk beberapa orang di daerah lain.

Kesibukan warga di kampungku seakan tak pernah henti. Baru sepekan ada warga yang meninggal, sudah ada warga lain yang menyusul. Untuk kasus Mbah Aziz dan Mbah Umar ini menarik lho. Almarhum berdua ini ketika masih muda adalah partner kerja yang solid. Kata beberapa tetangga, almarhum berdua ini blandong (penebang kayu) yang andal.

Teknologi gergaji mesin waktu itu belum ada. Jadi, kalau memotong kayu almarhum berdua ini menggunakan gergaji manual. Kalian tahu enggak seperti apa dan bagaimana caranya?

Aku kasih tahu ya! Gergaji itu berbentuk lempengan besi tipis bergerigi di salah satu sisinya. Lebarnya kurang lebih 20 cm. Panjangnya bisa 2-3 meter. Di masing-masing ujungnya ada pegangan berupa kayu yang ditancapkan pada lempengan besi tipis itu. Cara memotong kayunya dengan diletakkan di atas lubang galian. Satu orang di dalam lubang, yang lain ada di atas.

Menariknya, ketika sedang memotong kayu, keduanya sering meneriakkan yel-yel penyemangat seperti ini, “Aku ndisik (aku duluan), kowe keri (kamu belakangan) secara berulang-ulang.”

Selain agar gerakan gergaji tidak salah (saling tarik atau saling dorong) ternyata yel-yel itu adalah spirit yang ampuh.

“Ini membicarakan kematian kenapa malah jadi guyonan?” tanya seorang kawan di sela-sela kesibukan rukhti jenazah Mbah Aziz.

“Ternyata, kebiasaan meneriakkan aku ndisik, kowe keri ini terbawa sampai pada perihal kematian almarhum berdua. Dalam waktu lima hari, beliau berdua pulang ke rahmatullah dengan bergantian,” seorang temanku memberi penjelasan.

Almarhum berdua adalah sesepuh yang aktif ke masjid. Selepas salat magrib kami sering bercengkerama sambil minum teh dan menikmati gorengan. Cerita perjuangan masa muda beliau berdua sering aku dengarkan. Kini masjid menjadi sepi dengan kepergian almarhum berdua. Sedih memang, tapi ada hal agak konyol yang dikatakan beberapa kawanku.

“Mungkin almarhum berdua di alam kubur nanti bisa kembali bercengkerama. Bahkan saling memekikkan teriakan aku ndisik kowe keri sambil tertawa bahagia.”

Sejenak kesedihan kami berubah menjadi tawa mendengar guyonan yang sangat khusnudzon ini. Namun, tawa itu seketika hilang. Hening. Para warga yang bertugas menyiapkan tempat untuk upacara pemberangkatan jenazah masih sibuk bekerja. Beberapa terdiam tanpa mengucap sepatah kata.

Tiba-tiba seorang kawan memecah keheningan.

“Berita di koran beberapa waktu yang lalu ada yang lebih mengherankan. Dua orang sahabat mulai dari sekolah dasar sampai kuliah bahkan ketika bekerja selalu di tempat yang sama. Di akhir hayatnya mereka berdua meninggal dalam waktu yang sama pula. Keduanya dimakankan di makam yang sama secara berdampingan. Luar biasa bukan?”

Tidak ada yang menyahut. Mungkin semua merasa takjub.

Aku menimpali, sekadar agar kawanku tadi tidak merasa kecewa tak ada respon atas lontaran beritanya.

“Kalau kasus di Parkus itu, kalian ingat enggak? Belum ada satu bulan lalu.”

“Seorang kakek yang tewas di pangkuan LC itu ya?” tanya seorang kawanku.

Hooh. Tragis banget ya. Udah uzur, bukan nyari jalan lapang ke kubur, malah nyari jalan ke neraka. Ups, surga neraka itu urusan Dia. Bukan urusan kita kok ya,” kawan lain menimpali.

***

Kisah-kisah kematian tersebut sesungguhnya adalah panggilan Allah. Mati adalah salah satu dari tiga panggilan yang Allah berikan kepada kita. Ini seperti yang aku baca dari buku seri keempat tetralogi Mardhatillah karya Mas Dwi Suwiknyo yang berjudul Ya Allah kepada-Mu Aku Kembali.

Di halaman 6, Mas Dwi menuliskan bahwa Allah memanggil kita hanya tiga kali. Panggilan yang pertama adalah adzan untuk salat lima waktu. Kedua adalah panggilan untuk menunaikan ibadah haji. Ketiga adalah panggilan untuk pulang ke haribaan alias mati.

Panggilan pertama dan kedua kita sering bisa mengelak. Ada saja alasan untuk menundanya. Kita (aku saja mungkin ya, kalian sih enggak kayaknya. Enggak beda maksudnya, ha-ha-ha) sering menunda salat dengan alasan masih sibuk. Waktunya nanggung atau bisa juga merasa waktu salatnya masih panjang. Iya kan? Ngaku wae!

Untuk panggilan haji, ini lebih banyak lagi alasannya. Belum mampu secara pembiayaan adalah alasan utama dan ini bisa ditoleransi lah. Soalnya rukun Islam kelima ini memang syaratnya adalah mampu secara finansial, kekuatan fisik, psikis dan juga adanya jaminan keamanan selama perjalanan.

So ngeles dikit masih bisa diampunilah, semoga. Semoga segera diberi kemampuan untuk dapat menunaikan ibadah haji maksudku. Aamiin.

Panggilan ketiga inilah yang tidak akan bisa kita menundanya. Panggilan untuk pulang kepada Sang Pencipta alias mati. Ibarat kata, kita ini sedang dolan (bermain ke tempat tetangga) lalu dipanggil ibu untuk pulang. Oh kalau kasusnya seperti ini kita masih bisa mengelak ya? Lain berarti kasusnya.

Ini lho penggambaran yang paling pas itu seperti dalam Al-Quran surat an-Nisaa’ ayat 48. Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.

Di surat an-Nahl ayat 61 juga ada yang artinya … Maka apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun. (dalam buku Mas Dwi, halaman 37)

Panggilan ketiga ini adalah sebuah kepastian buat kita (enggak cuma aku saja, kalian juga pastinya). Pertanyaannya, sudahkah kita mempersiapkan bekal untuk pulang ini?

Bukunya Mas Dwi ini adalah hasil dari renungan beliau lho. Bukan renungan di Goa sih kayaknya, tetapi pesan-pesannya tetep jleb lho. Coba saja baca halaman 9 dari buku itu.

Ketika Imam Al Ghazali ditanya mengapa engkau masih hidup? Beliau menjawab, “Sebab dosaku masih banyak dan Allah izinkan aku untuk bertaubat.”

Masih diberi hidup, kehidupan, dan penghidupan ternyata agar kita bisa terus bertaubat karena saking banyaknya dosa. Itu versi Imam Al-Ghazali yang jelas lebih saleh, alim, dan wara, daripada kita (sekali lagi enggak cuma aku, kalian juga termasuk ya :-P).

Pertanyaan besarnya, sudahkah kita gunakan kesempatan yang diberikan Allah ini untuk bertaubat, memohon ampun atas dosa-dosa kita? Atau sebaliknya malah kita gunakan kesempatan ini untuk berfoya-foya dengan masih berharap (secara bodoh) bisa masuk surga. Seperti ungkapan ora nggenah, muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga.

***

Bagaimanakah sesungguhnya diri kita ini, akan dilihat seperti apa akhirnya nanti. Seorang rahib (pemuka agama Yahudi) telah menghabiskan hidupnya dengan beribadah kepada Allah Swt. Sayang, di penghujung hidupnya ia terpikat oleh wanita hingga melakukan zina.

Ketika malaikat menimbang amalnya ternyata keburukan lebih berat daripada kebaikannya. Ia selamat dari siksa karena keikhlasannya memberikan sepotong roti kepada pengemis ketika mandi selepas zina. Masyaallah. Ibadah hampir seumur hidup terhapus oleh zina sekejap mata. (Ah lama juga ding. Mosok zina dengan wanita hanya sekejap mata, ya?)

***

Khusnul khatimah adalah harapan bagiku (kalian berharap juga enggak?) Akhir yang baik, sekaligus modal awal untuk kehidupan di alam berikutnya. Bukan amal yang dapat diandalkan. Rahmat dari-Nya lah yang bisa menyelamatkan kita.

Nah, tanda-tanda khusnul khatimah itu ada beberapa. Di buku hitam manis itu, Mas Dwi sudah menuliskan tanda-tanda khusnul khatimah.

Lihat dan baca halaman 69: Siapa yang akhir ucapannya adalah kalimat laa ilaaha illallaah, ia akan masuk surga. (HR. Hakim).

Terus di halaman sebaliknya, “Tidak ada seorang muslim pun yang meninggal pada hari Jumat atau malam Jumat, kecuali Allah akan menjaganya dari fitnah kubur.”

Oke, dua tanda cukup ya, yang lain baca sendiri. Kalau belum punya bukunya, beli dong!

Nah, dari dua tanda itu aku akan bahas sedikit deh. Tanda pertama adalah jika akhir ucapan seseorang itu adalah kalimat tauhid, maka dia akan masuk surga. Pertanyaannya itu mudah atau susah? Kalau kata para sesepuh itu susah ya.

Secara di masa-masa injury time gitu setan tuh makin meningkat dalam menggoda manusia lho. Kalau sampai manusia yang sudah dekat ajalnya kok tergoda, artinya mereka (setan) dapat tambahan kawan di neraka kan? Misi mereka berhasil itu.

Nah, biar gampang melafalkan kalimat tauhid tersebut, kita harus membiasakannya di kala masih sehat. Habis salat, lagi di jalan naik motor misalnya, atau bahkan kalau bisa sebelum tidur bacalah kalimat tersebut. Insyaallah kalau selama hidup kita terbiasa berkumur (minjem istilah Pak Edi Mulyono) kalimat mulia tersebut, maka akhir hayat kita semoga akan dimudahkan oleh-Nya untuk mengucapkannya.

Biar yang mau wafat terbantu, yang sehat diharap bisa dengan menuntun saudara yang sedang menghadapi maut itu.

Tanda kedua adalah wafat di hari atau malam Jumat. Wah, malam Jumat ternyata enggak cuma tentang sunah rasul. Sunah rasul yang dipahami banyak orang, bahkan sering jadi bahan guyonan yaitu tentang hubungan suami istri belaka.

Padahal sunah kan luas, segala perbuatan, perkataan, bahkan diamnya Kanjeng Nabi adalah sunah rasul. Maka kalau jima’ pada malam Jumat dianggap sebagai satu-satunya sunah rasul ya ngawur to namanya.

***

Kematian itu pasti datang. Dia tidak akan mem-PHP kita. Namun, akan seperti apa akhir hayat kita, semua sudah diskenario oleh Sang Penulis Terbaik. Tugas kita sebagai makhluk adalah berusaha sepenuh hati sekuat tenaga untuk menggapai ridanya.

Jika Dia telah rida, apapun bisa terjadi. Bahkan, muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga tadi bisa saja terjadi atas kehendak-Nya. Namun, agama telah memberi petunjuk kepada kita bagaimana agar perjalan pulang kita bisa mulus sampai pada Sang Pemilik Rumah Sejati.

Selagi masih diberi kesempatan, yuk kita gunakna untuk bertaubat, mengurangi dosa, dan berusaha berbuat baik pada sesama. Amal kita tak akan mampu mengantar pulang, biarkan rida dan kehendak-Nya yang menjemput dengan penuh kasih sayang.

Judul: Allah Kepada-Mu Aku Kembali

Penulis: Dwi Suwiknyo

Penerbit: Trenlis

Tebal: 168 halaman

ISBN: 978-602-52799-3-5

Cetakan: Pertama 2018

***

Oleh: Wawan Murwantara

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: