Saya ingin berbagi sedikit strategi menulis berdasarkan pengalaman personal saya yang sangat subjektif sifatnya.

Karena itu, pengalaman ini tentu saja berbeda dengan pengalaman kawan-kawan semua.

Tapi semoga bisa membuka secercah perspektif dan bisa saling memperkaya pengalaman menulis di antara kita.

Pengalaman personal dalam menulis ini, saya turunkan dalam poin-poin berikut:

1. Saya menentukan tema atau katakanlah subjek yang akan saya tulis.

Subjek ini tentu saja merupakan subjek yang saya mampu atau kuasai, bahkan suatu subjek yang sangat saya sukai. Subjek ini membuat saya bergairah; membuat adrenalin saya terpacu.

2. Mengumpulkan materi-materi yang relevan dengan subjek yang akan ditulis, baik berupa buku, artikel, atau jurnal.

Harus saya akui, di sini kadang dibutuhkan modal yang tidak sedikit. Apalagi kalau kita harus menulis subjek yang bersifat akademik keilmuan atau ilmiah pemikiran. Sebab ada standar yang agak cukup ketat ketika menulis wacana-wacana yang sifatnya akademik.

Walaupun sekarang buku, artikel, dan jurnal-jurnal ilmiah sudah tersedia melimpah secara online dan saya bisa men-download-nya, tapi secara pribadi saya masih tidak puas membaca dalam bentuk e-book.

Karena itu, buku-buku yang telah saya download dalam bentuk file, sebagian besar yang saya butuhkan sebagai referensi, saya cetak kembali dalam bentuk buku konkret. Sehingga saya bisa membaca dengan bebas sesuai dengan kesukaan saya, sambil memberi berbagai kode yang saya inginkan, menggarisbawahi dengan stabilo berwarna dan menorehkan catatan-catatan penting sesuai dengan pemahaman saya.

3. Menyediakan waktu yang cukup untuk membaca materi-materi yang telah saya kumpulkan tersebut.

Ternyata, ini juga tidak mudah bagi saya. Di tengah-tengah rutinitas kegiatan mengajar, membimbing, menguji, dan diskusi dengan mahasiswa, rekan atau seminar, sangat sulit untuk meluangkan waktu membaca secara fokus dengan penuh konsentrasi.

Belum lagi ketika dapat jatah jam mengajar dengan SKS yang cukup banyak dan kegiatan rapat administratif prodi yang sifatnya sangat teknikal.

Lagi-lagi sangat menyita waktu untuk bisa membaca dengan penuh konsentrasi. Padahal ibarat bernafas, membaca adalah oksigennya menulis. Tanpa membaca, tulisan kita sulit bernafas. Tulisan kita menjadi tidak berkualitas. Lebih-lebih dalam menulis wacana akademik yang membutuhkan pemahaman yang sangat komprehensif dan rigorous.

Karena itu, untuk mengimbangi hilangnya waktu membaca pada siang hari, saya melakukannya pada malam hari. Saya mencuri waktu pada malam hari. Ketika tidak ada kegiatan di luar rumah, pada malam hari saya melakukan time blocking: saya menyediakan waktu khusus pada malam hari antara pukul 20.00-01.00 malam.

Antara jam 8 sampai jam 1 malam itu saya gunakan secara khusus untuk membaca, mengonsep, sekaligus menulis. Pada durasi waktu tersebut, saya tidak bisa diganggu oleh kegiatan lain apapun. Saya memblok dan mengunci waktu saya hanya untuk membaca dan menulis.

4. Saya menginventarisir semua ide-ide yang saya dapatkan dari semua buku-buku dan sumber-sumber yang sudah saya baca.

Ide-ide tersebut saya data saja secara random, secara acak apa adanya. Setelah semua bahan bacaan rampung saya baca semuanya, baru saya melakukan sistematisasi terhadap ide-ide yang telah saya inventarisir secara acak sebelumnya.

Kemudian saya mulai menyusun secara numerik; ini yang pertama, ini yang kedua, ketiga dan seterusnya.

5. Tahap refleksi.

Pada tahap ini, saya mulai merenungi, memikirkan, menggumuli, dan menghayati semua ide-ide yang telah saya sistematisasikan tersebut. Pada tahap ini, saya benar-benar menggumuli ide-ide yang telah memenuhi benak saya secara intens di manapun dan kapanpun selagi saya mampu.

Saya mencumbui ide-ide tersebut ketika saya sedang menyopir mobil dalam perjalanan menuju kampus atau mengantar istri belanja kebutuhan sehari-hari di pasar. Saya selalu memikirkan ide-ide tersebut ketika berada di rumah, hatta ketika sedang mandi di kamar mandi atau bab di toilet.

Saya juga selalu merenungi ide-ide tersebut pada pagi dan siang hari, serta pada sore dan malam hari. Pokoknya kapan pun dan di mana pun ada kesempatan, saya gunakan untuk mentafakuri ide-ide yang ingin saya tulis.

Sebab tanpa refleksi, tulisan kita tidak akan bergizi. Tanpa refleksi, tulisan kita menjadi datar saja. Tanpa refleksi, tulisan kita menjadi dangkal. Hanya dengan refleksi-lah, tulisan kita mampu menyengat, menyentuh, dan menyentak kesadaran orang-orang yang menyimaknya.

Sehingga sedikit banyak bisa mengantarkan mereka mengalami pencerahan. Sejauh mana hasil refleksi yang kita lakukan, sejauh itu pula sentuhan tulisan kita.

Dalam proses tafakur ini, biasanya saya tidak lagi terperangkap dalam detail-detail ide tersebut, tapi saya mulai bisa melihat gambaran besar ide-ide tersebut secara keseluruhan.

Saya jadi bisa melihat ide besarnya secara utuh dari detail-detail ide yang sudah saya inventarisir dan sistematisasikan tersebut: “Saya harus mulai dari sini, ide intinya begini, dan harus berakhir begini.”

Dalam tahap refleksi ini pula, biasanya saya dapat beragam kalimat pembuka awal yang menarik, hidup, dan bisa memprovokasi nalar orang-orang yang membacanya untuk berpikir.

Entah dengan narasi berupa pertanyaan-pertanyaan provokatif; Entah dengan pernyataan-pernyataan yang mengejutkan; Ataupun juga kutipan awal dari para pakar yang dapat menarik minat pembaca.

6. Dalam tahap selanjutnya, saya mulai menarasikan ide-ide tersebut dalam bentuk tulisan.

Namun di tengah-tengah proses penulisan secara naratif tersebut, saya tetap berulang kali membaca kembali bacaan-bacaan yang sudah saya baca sebelumnya sampai tulisan tersebut selesai.

Biasanya, poin-poin penting yang akan dieksplorasi yang ada dalam buku-buku sumber tersebut, saya baca antara tiga sampai lima kali agar mendapatkan pemahaman yang tepat, utuh, dan dapat melakukan kontekstualisasi dengan problem-problem aktual yang sedang mengemuka.

Dengan pembacaan yang berulang-ulang inilah, seringkali saya mendapatkan ide-ide baru yang lebih luas lagi, yang tidak saya temukan pada saat pembacaan awal.

7. Tahap editing.

Setelah seluruh tulisan rampung ditulis, saya melakukan proses pengeditan. Kalau tulisan tersebut berupa opini, artikel, atau makalah, biasanya saya print out. Setelah itu, saya baca kembali; Saya telaah kembali; Saya coret sana-sini; Saya beri catatan di sana-sini.

Yang saya edit bukan hanya bahasanya dan kalimat-kalimatnya, tapi isinya juga. Saya bukan hanya mengoreksi kesalahan kata-katanya, tapi juga memperbaiki, memperkaya dan mempertajam substansi wacananya.

Biasanya, ketika melakukan proses pengeditan ini, saya pasti mendapatkan ide-ide baru lagi yang dapat memperkaya dan mempertajam analisisnya.

Itulah tahapan-tahapan proses teknis penulisan yang saya lakukan selama ini. Dengan melihat semua proses tersebut, saya mengakui bahwa saya seorang penulis yang lambat. Ini berulangkali saya katakan ketika ada beberapa orang yang bertanya kepada saya mengenai aktivitas saya dalam menulis.

Sampai sekarang, walaupun sudah ada sekitar 25 buku secara individu yang saya tulis dalam berbagai genre: filsafat (Barat dan Islam), tasawuf, motivasi, pemikiran tokoh dan wacana populer, saya tetap tidak bisa menulis dengan cepat.

Saya cuma memaksakan diri untuk membaca dan membaca berulang kali; Saya cuma menggumuli gagasan-gagasan yang saya dapatkan dari bacaan-bacaan yang saya nikmati; Saya cuma memaksakan diri untuk menarasikan gagasan-gagasan yang telah saya peroleh ke dalam berbagai bentuk tulisan sesuai dengan genre wacana yang ingin saya tulis dan ide-de yang saya dapatkan dari membaca.

Di atas semuanya, saya harus memaksakan diri menyediakan waktu yang cukup agar dapat menyatukan seluruhnya: membaca, refleksi, dan menulis.

Karena itu, kalau ada orang-orang yang menanyakan proses kreativitas dan produktivitas saya dalam menulis, biasanya saya jawab dengan jujur begini: Saya tidak lebih kreatif; Saya juga tidak lebih produktif dalam menulis.

Saya cuma lebih banyak meluangkan waktu untuk membaca. Saya cuma berusaha menyediakan waktu yang cukup untuk refleksi. Saya cuma lebih banyak memaksakan diri untuk menulis. Tidak lebih dari itu. Wallahu a’lam bishowab.

Oleh: Dr. Zaprulkhan, MSI.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: