Namanya Wafa, guru mengaji baru di masjid tempatku berkhidmat. Hari pertama masuk ia sudah menjadi buah bibir semua orang karena selain berparas elok, Wafa juga Qoriah yang hafal Qur’an. Pengetahuan agamanya sangat baik, konon karena ia pernah menjadi santri terbaik di salah satu pondok pesantren besar di Sumatera.

Para santri juga terlihat nyaman dengan Wafa. Mungkin karena ia penyayang dan juga keibuan. Bahkan salah satu santri yang terkenal badung, langsung menurut pada Wafa. Tidak lagi berlari kesana-kemari saat jam mengaji.

“Aku maunya ngaji sama Ustazah Wafa!”

“Aku juga … Aku juga!”

Anak-anak berebut ingin diperhatikan lebih dahulu dan langsung tenang saat Wafa mulai memanggil nama mereka satu-persatu. Entah mengapa, aku jadi betah melihat pemandangan itu dari luar jendela kelas tempat Wafa mengajar.

Sudah bisa kupastikan kalau aku pun jatuh hati padanya. Ada keinginan besar dapat menjadikannya pendamping hidup. Apalagi saat mendengar cerita bahwa Wafa juga cerdas di bidang akademik. Kandidat calon istri yang sempurna, bukan?

Malam harinya, aku langsung menelepon Ibu. Bercerita tentang Wafa sambil minta didoakan agar berjodoh dengannya. Dari kampung halaman, terdengar suara Ibu tertawa kecil, mengingat akademikku tidak semelejit Wafa dan juga latar belakang keluarga kami yang berbeda. Wafa anak orang kaya, sedang aku biasa-biasa saja. Di rantau harus numpang di masjid karena keterbatasan biaya hidup.

Tetapi aku percaya, tidak ada yang tak mungkin, kalau Allah sudah berkehendak ‘ya’, tidak tertutup kemungkinan kami bersanding di pelaminan, kan? Apalagi aku dibantu dengan doa Ibu, orang yang kuanggap doanya mustajab dan tentunya doaku sendiri kepada Allah agar dipantaskan.

Sepekan sudah aku mengenal Wafa. Rasanya sudah mantap untuk menyatakan isi hati. Sore itu, setelah TPA, aku mendatangi rumah musyrifku (guru pembimbing ngaji) untuk minta bantuan menghubungi wali atau guru mengaji Wafa. Sebab kalau harus maju sendiri, aku masih ragu. Kebetulan musyrifku kenal dengan Wafa, semoga dia pun kenal baik dengan wali Wafa.

“Kebetulan sekali kamu datang, Yas. Ini saya juga lagi deg-degan,” ucap Mas Arif, sambil menimang-nimang sebuah map di tangannya.

“Ada apa, Mas?” tanyaku.

Usai disuguhi teh hangat dan sepiring gorengan barulah Mas Arif bercerita tentang rencananya ingin mengajak seorang akhwat taaruf. Ia sudah bertekad, tahun ini harus menikah mengingat Ibunya selalu intens bertanya calon menantu.

“Masyaallah, akhirnya ada juga akhwat yang berhasil memikat hati guru saya ini,” selorohku. Mengingat selama ini Mas Arif sangat selektif memilih kandidat calon istri. Entah sudah berapa banyak yang mengajukan calon, tetapi belum juga ada yang cocok di hatinya.

“Akhwat yang ini benar-benar berbeda, Yas. Pemikirannya luar biasa,” puji Mas Arif dengan sangat antusias.

“Berarti wajahnya biasa saja, dong Mas?” lagi-lagi aku menggoda.

“Pastinya juga manis dong?” jawab Mas Arif sambil tertawa kecil.

“Ngomong-ngomong, siapakah gerangan akhwat yang berhasil menaklukkan hati Mas dosen ini?” Aku penasaran, seperti apakah gerangan orangnya. Mestilah ia luar biasa karena yang kutahu tipe akhwat idaman Mas Arif cukup tinggi.

“Kamu tahu orangnya kok, Yas,”

“Oh ya? Siapa, Mas?”

“Wafa. Yang mengajar ngaji di masjid tempat kamu berkhidmat ….”

Sejenak, semua hening. Aku tak mampu mendengar suara Mas Arif yang memuji-muji Wafa. Ada perasaan sakit di hati ini.

Kalau ia untukku, mengapa orang lain harus merasakan rasa yang sama padanya? Ataukah perasaanku ini hanya fatamorgana saja?

“Bagaimana menurutmu, Yas? Saya pantas nggak untuk dia?” tanya Mas Arif.

“Mas, saya pamit dulu, ya?” kataku, sambil bangkit dari duduk.

“Lho, kenapa buru-buru? Katanya tadi ada yang mau disampaikan. Apa Yas?” Mas Arif mengikuti langkahku.

“Nggak jadi, Mas. Saya baru ingat sesuatu,” kataku.

“Apa?”

“Saya belum salat!”

***

Selang berapa hari, aku mendapat kabar bahwa proposal taaruf Mas Arif ditolak oleh Wafa. Aku tidak tahu alasan pastinya, tetapi berita itu tidak membuatku senang karena ada isu lain yang mengatakan Wafa diajak taaruf oleh putra seorang kyai.

Meskipun begitu, dalam hati ini belum ada keinginan untuk mundur. Lagi-lagi aku menelepon Ibu, minta didoakan agar berjodoh dengan Wafa. Selama belum ada khitbah, aku merasa harapan itu masih ada.

“Jangan memaksakan kehendak, Le. Kalau gadis itu sudah punya calon, relakan,” nasihat Ibu.

“Tapi Bu, Ayas benar-benar jatuh cinta sama Wafa,” ungkapku.

“Tapi Wafa cinta enggak sama kamu, Le?”

Ahh Ibu. Entah mengapa air mata ini menetes. Sedih sekali merelakan gadis saliha itu menjadi milik orang. Mungkin Ibu memang benar, Wafa terlalu sempurna untukku yang biasa-biasa ini. Jauh dari kata salih, apalagi kaya raya.

Andai saat ini Ibu melihatku menangis karena patah hati, pasti Ibu akan menertawaiku.

“Tapi Le, Ibu kok pengen ya punya mantu kayak Wafa itu,” ucap Ibu.

Senyum tiba-tiba terkembang mendengar keinginan Ibu. Tuhan, izinkan aku mengabulkan keinginan Ibu menjadikan Wafa sebagai menantunya, sebagai baktiku pada Ibu.

Senja saat ini terlihat begitu indah, seperti hatiku yang tengah berbunga-bunga. Aku berharap betul, suatu saat, entah kapan, segera atau nanti, bisa bersama dengan Wafa dalam ikatan pernikahan. Saat itu tiba, biarlah semua mengalir saja. Aku akan terus memantaskan diri karena Allah.

***

Nama itu sudah tak pernah lagi ku sebut. Sejak aku memasrahkan jodoh pada-Nya dan tak lama kudengar kabar bahwa Wafa akan menikah dengan seorang dokter, setelah ia juga menolak putra kyai yang dulu diisukan menjalani taaruf. Meski aku mencintainya, tetapi pantang bagiku memendam rasa pada istri orang.

Hidup harus terus berjalan. Aku kembali membuka diri pada akhwat lainnya. Dua kali menjalani taaruf, tapi lagi-lagi gagal menuju pelaminan. Kuputuskan untuk fokus dulu pada pendidikan. Lanjut S2 sambil kerja dan terus berdakwah.

“Magister sudah mau selesai, lalu kapan mau menikah?” tanya Mas Arif, musyrifku. Sore itu saat aku datang ke rumahnya setelah mendapat undangan.

“Nantilah, Mas,” jawabku, asal.

“Jangan nanti-nanti. Menikahlah. Mumpung masih muda.”

Aku mengangguk saja mendengar petuah dari Mas Arif yang sudah setahun berumah tangga dengan akhwat pilihan Ibunya.

“Saya punya calon kandidat. Sepertinya cocok denganmu,” kata Mas Arif.

“Tawarkan pada Ikhwan lain saja, Mas,” jawabku, agak malas.

“Kenapa?”

“Belum siap,”

“Loh, bukannya dulu kamu ingin menikah muda? Ingat umur, Yas. Sudah dua puluh lima tahun, kan?”

Aku terkekeh. Entahlah. Setiap menjalani taaruf, akan ada bayang-bayang Wafa. Selalu ia yang ku jadikan tolak ukur untuk kandidat calon istri. Entah itu tanda aku belum juga bisa lepas darinya. Ahh, Wafa …

“Bagaimana?” tanya Mas Arif, membuyarkan lamunanku.

“Nanti saja, Mas,” jawabku, asal.

“Tapi akhwatnya cuma mau sama kamu! Dia sudah mematahkan hati banyak Ikhwan, lho Yas.”

Aku langsung menoleh pada Mas Arif. Menunjukkan raut wajah protes atas kelancangannya, berani mengirim proposal ta’aruf tanpa izin terlebih dahulu.

“Saya enggak mau, Mas!” ucapku, tegas.

“Lihat dulu, Yas. Saya jamin kamu nggak akan menyesal. Lagi pula Ibumu sudah oke!” Mas Arif tersenyum jahil. “Yang lebih penting lagi, akhwat itu ternyata juga menunggumu dua tahun ini.”

“Bagaimana Ibu bisa setuju?” aku panik. Pantas tadi Ibu memaksaku berkunjung ke rumah Mas Arif.

“Saya yang bilang ke Ibu. Beliau langsung setuju. Mantu harapan kata Ibu.”

Aku geleng-geleng kepala. Meski kesal, tapi tetap tidak bisa marah sebab Mas Arif sudah seperti saudara sendiri. Selama ini ia sudah jadi guru yang begitu pengertian padaku. Bahkan dengan Ibu ia juga sudah dekat.

***

Aku tidak berani membayangkan seperti apakah wajah gadis yang sudah menyetujui lamaran Mas Arif atas namaku. Kedatanganku di sini tak lebih karena dorongan kuat Ibu untuk melanjutkan proses dengan akhwat tersebut. Ibu memang sudah beberapa kali mendesak agar segera berumah tangga.

Harapanku, saat melihat gadis itu, perasaan cinta bisa tumbuh. Setidaknya, aku yakin, bisa mencintainya ketika kami menikah nanti.

Mobil yang dikendarai Mas Arif berhenti di sebuah rumah besar bercat putih. Kami bertiga; aku, Mas Arif dan istrinya langsung masuk ke dalam rumah usai dipersilakan oleh tuan rumah. Di sana, di antara pemilik rumah, duduk seorang gadis yang sudah membuatku jatuh cinta sejak dulu. Ialah Wafa.

“Mas ….” aku melirik Mas Arif, meminta penjelasan.

“Kalau ikhwannya seshalih kamu, bolehlah bersaing dengan saya,” celetuk Mas Arif. “Rupanya dulu akhwat  ini berani menolak saya dan beberapa Ikhwan  lainnya karena nungguin kamu. Ngakunya sih jatuh cinta pada pandangan pertama. Jadi, jangan kecewakan dia yang sudah lama menunggumu, Yas!” kami berdua tertawa kecil.

Rindu ini akhirnya terlabuhkan juga.

Ditulis oleh: Fitria Susanti.

Ilustrasinya dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: