Selamat Untukmu, Aku Bisa Bahagia Tanpamu

Suara rintik air di luar menyambutku dari lelapnya malam. Udara dingin pun sampai menembus kulit, inginku menarik selimut dan berada di dalamnya lebih lama. Tapi tumpukan pekerjaan yang belum terselesaikan, mamaksaku untuk bangkit. Aku menuruni ranjang, kemudian segera mengambil handuk lalu menuju kamar mandi.

Dering ponsel berbunyi tepat ketika kumengambil benda mungil itu. Ternyata dari Akbar, segera kugeser icon panggilan warna hijau, “Pagi, Grace, bagaimana gaunnya?”           

“Tenang, 90% lagi selesai kok. Kujamin gaun ini akan membuat calon istrimu menjadi ratu paling cantik,” ucapku lalu tersenyum meskipun aku tahu dia tidak akan melihatnya.

“Terima kasih ya, Grace,” ucapnya lalu memutuskan komunikasi.

Aku memandang gaun yang ada di tengah ruangan. Dengan balutan warna putih, disematkan manik-manik bernuansa bunga membuat gaun itu sangat memesona. Aku melanjutkan menjahit, melengkapi bagian-bagian yang belum dikerjakan.

Dua tahun lalu, aku juga pernah dijanjikan oleh seorang laki-laki, namanya Kenzie untuk mengenakan gaun pengantin dan bersanding bersamanya di altar pernikahan. Aku tersenyum karena geli ketika mengingat masa-masa pacaran saat itu.

Zaman SMA memang penuh sejarah untukku bersama laki-laki bertubuh atletis itu. Karena dia, aku mengenal apa itu cinta, perasaan rindu di malam yang sepi, rasa cemburu ketika melihat dia yang sekedar ngobrol sama gadis lain.

“Ternyata kamu cantik banget pakai kebaya itu. Aku memang tidak salah pilih kartini,” pujimu saat peringatan hari kartini di sekolah.

Karena gemas, aku pun mencubit pipinya, “Bisa saja kamu.”

Suara notifikasi dari ponsel menyadarkanku, ternyata hanya pemberitahuan yang tidak terlalu penting dari media sosial. Sebaiknya aku memang harus fokus menyelesaikan gaun ini, karena siang nanti gaun akan diambil oleh Akbar.

Sebelum menjahit gaun ini, aku telah melakukannya untuk hatiku sendiri. Awalnya perih memang, tapi ini harus kulakukan demi hidupku juga. Kalau tidak begitu, harus sampai kapan membiarkan hati dengan luka menganga?

***

Di luar hujan sudah berhenti, terganti dengan panas matahari yang cukup terik, aku yakin akan ada pelangi di salah satu sisi langit. Setelah memberi kabar pada Akbar kalau gaun sudah siap. Aku pun menunggunya datang, bersama calon istrinya nanti. Aku menyukai pasangan ini, karena mereka adalah sahabatku. Terlebih mereka mau menggunakan gaun buatanku, ya meskipun itu atas usaha paksaanku sendiri.

Kala itu aku dan Kenzie hendak makan malam di salah satu cafe, katanya ada sesuatu yang ingin dikatannya. Sepanjang jalan aku pun menduga-duga akan kejutan apa yang nantinya diberikan oleh Kenzie. Pikiranku sudah melalang buana, dan bersiap akan sebuah lamaran yang romantis.

Ternyata lamaran hanya angan-anganku saja, yang tidak akan pernah menjadi kenyataan. Dia ngajak putus saat itu, karena aku tidak ingin bersamanya. Kata putus memang lebih baik untukku dan untuknya. Aku langsung pulang ketika itu, sengaja menikmati rasa sakit dengan kesendirian, itu lebih baik menurutku, hanya aku dan Tuhan.

Entah kenapa saat itu aku menjadi sepakat dengan quote-quote Islami yang begitu gencar menyuarakan anti pacaran. Karena pacaran itu memang bukan akhir atau pastinya kehidupan dua manusia yang memadu kasih, bukan. Itu hanyalah aktivitas yang sia-sia, karena telah mempraktikan cinta terlalu dini.

Mobil milik Akbar memasuki halaman rumah, aku pun berdiri menyambut kehadiran mereka. Setelah mobil berhenti, keluarlah Aisyah, “Hai, Grace,” sapa perempuan itu sambil melambaikan tangan.

“Hai, calon pengantin, cantik sekali kamu,” pujiku, mengucapkan hal yang sebenarnya.

“Terima kasih, Grace. Kamu bisa saja.”

“Eh Akbar, sudah siap untuk besok?” Mataku berganti pandangan ke arah laki-laki itu.

Dia tersenyum mantap, “Pastinya.”

Aku mempersilakan mereka masuk, ya berbincang-bincang sebentar sembari menikmati teh hangat dan sepiring biskuit yang sudah kubuat.

“Masyaa Allah, cantik sekali,” puji Aisyah begitu melihat gaun miliknya. “Kalau begini pasti sangat mahal ini,” tambahnya.

Aku tertawa sambil mengibaskan tangan ke arahnya.

“Aku serius ini, Grace,” potongnya. Lalu memberi kode untuk ke kamar, sepertinya dia sudah tidak sabar mengenakan gaunnya. Akbar hanya tertawa melihat tingkah kami berdua.

***

Hari ini bisa dikatakan hari bersejarah untukku, sebab gaun buatan perdanaku dikenakan oleh sahabatku pada acara pernikahannya. Selain itu juga ada hal besar di baliknya. Aku sudah bangun sejak azan Subuh memecah kesunyian.

Di pagi buta juga, aku menuju rumah Aisyah. Aku yakin dia pasti grogi hari ini, setidaknya dengan kehadiranku bisa menjadi teman ngobrol untuknya, dan membantu dalam mempersiapkan diri.

“Kamu tahu, Grace, tidak pernah terpikirkan olehku, bakal menikah sama Akbar,” ujarnya sambil berbisik ketika menunggu waktunya mereka untuk akad.

“Kan semua dalam hidup ini sudah ada yang mengatur, sayang, Akbar juga orang baik-baik.”

Prosesi akad pun dimulai, dari dalam kamar, aku menemani Aisyah sambil mendengar kalimat-kalimat yang terucap dari wali dan penghulu. Aku saja deg-degan begini, apalagi Aisyah yang sejak tadi menggenggam erat tanganku.

’Saya terima nikahnya Aisyah binti Mizwar dengan emas kawin tersebut di bayar tunai.’ Lalu kata SAH terdengar menghidupkan suasana hikmat saat itu. Aisyah pun berdiri, lalu perlahan keluar menuju di mana prosesi akad berlangsung.

Aku turut haru menyaksikan kebahagiaan mereka. Selamat berbahagia Kenzieku dengan kehidupanmu yang baru. 

Oleh: Nurwa R.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan