Semestinya, Semakin Pintar Kita, Semakin Beriman Kita

Amat berjubel ayat dalam al-Qur’an yang mendorong kita untuk menuntut ilmu. Begitupun hadits.

“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang berilmu….”

“…apakah kalian tidak berpikir”

“…dan orang-orang yang memikirkan penciptaan langit dan bumi….”

“Tuntutlah ilmu dari gendongan sampai liang lahat”

“Carilah ilmu hingga ke negeri Cina” dan lainnya.

Semua dalil naqli itu menunjukkan bahwa menjadi kewajiban besar bagi setiap kita untuk mengembangkan kapasitas keilmuan dan pengetahuan kita.

Dengan menukil Imam Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin Juz I, mari letakkan saja satu manfaat besar ilmu pengetahuan buat kita dan untuk alasan itulah kenapa ia sangat ditekankan untuk kita gali dan kembangkan di sini, yakni:

Ilmu merupakan sarana (jembatan) untuk memahami ayat-ayat Allah (qauliyah dan kauniyah) yang dengannya menghantarkan kita mampu merasakan dan mengagumi kemahakuasaan Allah dalam pengalaman keberagamaan kita.

“Wahai Tuhan kami, tidak ada apa pun yang Kau ciptakan dengan sia-sia, Maha Suci Engkau dan jauhkanlah kami dari azab neraka ….” begitu tutur salah satu ayat dalam surah al-Baqarah.

Subhanallah, subhanallah, subhanallah, begitulah (mestinya) betikan kalbu kita yang sangat bisa dituai dari pengetahuan yang membesar, memaju, dan mendalam.

Sudah pasti, lesakan kalbu yang bersubhanallah berkat kedalaman ilmunya di hadapan segala ayat Allah mencakup sekaligus segala label moral (akhlak) yang melekat pada dirinya sebagai manusia, lahiriah dan batiniah.

Tegasnya, seorang cendekiawan muslim yang bersubhanallah berkat suatu bacaannya atau risetnya atau pemikirannya, misal, otomatis akan makin membuahkan pengertian yang lebih hunjam lagi pada iman dan agamanya.

Situasi ini lazim diistilahkan tafaqqahu fiddin (makin tercerahkan dalam agamanya). Sampai-sampai muncul ungkapan: la dina liman la aqla fih (tidak ada agama bagi orang yang tidak (menggunakan) berakal).

Sampai di sini, dapat disimpulkan bahwa semakin dalam dan luas ilmu seseorang, semakin jauh jelajah sekolah, bacaan, dan pergaulannya, mesti semakin dalam imannya, semakin khusyuk shalatnya, semakin istiqamah hatinya kepada kemahakuasaan Allah.

Namun, kenyataannya kini justru tak selalu demikian.

Semakin ke sini, kita semakin gampang menyaksikan pentas-pentas amoralitas yang justru diperagakan oleh para ahli ilmu. Ilmu yang tabiat asalinya adalah tafaqquh (mencerahkan) justru berbalik arah menjadi alat manipulasi, pembodohan, dan pembenar hawa nafsunya.

Al-Qur’an menyebut mereka sebagai “zaighun”, yakni penyakit hati yang mendorong pelakunya hanya memproduksi fitnah (keburukan, kemaksiatan, dan hawa nafsu).

Mari introspeksi dengan cara sederhana: apakah semakin tahun seiring dengan semakin luas dan jauhnya kita bersekolah, berkuliah, membaca buku, berdiskusi, dan bergaul, kita semakin istiqamah menjalankan ibadah kepadaNya atau sebaliknya?

Apakah kita setiap hari makin gemar mengaji al-Qur’an seusai membaca karya-karya Nietzsche, Heidegger, dan Paul Ricoeur yang makin mudah dijangkau ataukah justru makin menganggapnya kitab yang nirfaedah?

Jawaban di hatimu bisa dijadikan parameter konkret: apakah ilmumu makin mendekatkan diri padaNya atau malah menjadikanmu makin kufur.

Apa pun yang kita baca, pelajari, atau gali, aslinya bukanlah masalah sepanjang hati kita selalu tangguh dalam menyaring, menyerap, dan menempatkannya secara tepat di dalam cakrawala pemikiran dan batin kita sebagai seorang muslim yang bersubhanallah.

Saya ambil contoh narasi “Tuhan telah mati” yang dipekikkan Nietzeche dalam Ecce Homo.

Secara sederhana, Nietzsche menampik peran Tuhan dan agama karena menurutnya dogma-dogma spiritual tersebut hanya menjatuhkan manusia pada keterkungkungan tata nilai yang kusam dan lawas alias menghambat kemajuan peradaban. Manusia haruslah membongkar doktrin itu melalui Nihilisme: segala doktrin tata nilai (termasuk agama) harus disingkirkan, dinihilkan, lalu diisi lagi dengan melakukan pencarian personal untuk membangun tata nilai baru yang membebaskan. Itulah karakter Manusia Super, kata Nietzsche, alias Ubermensch.

Mari bandingkan dengan satu ayat saja, yakni surat al-Bayyinah ayat 7 yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itulah sebaik-baiknya makhluk.”

Beriman dan berbuat saleh (baik), itulah Ubermensch-nya al-Qur’an.

Saat Nihilisme Nietzsche mencampakkan doktrin Tuhan dan agama sebagai jalan menuju kemajuan peradaban dan keadaban (sebutlah civilized), mari cermati langsung ke lapangan: apa benar suatu masyarakat akan berjalan tenang dan baik tanpa tata nilai yang disepakati dan dianut bersama?

Apakah suatu keluarga–satuan masyarakat yang paling kecil—akan bisa nyaman bila hubungan anak dan bapak tidak diikat oleh kewajiban mendidiknya? Apakah ada orangtua yang nyaman hidupnya tatkala menyaksikan anak-anaknya bergaul seenaknya, pulang dini hari dalam keadaan mabuk, bawa perempuan asing ke rumah, atau terlibat suatu bisnis yang tricky, atas nama Ubermensch?

Muskil! Mustahil!

Sebab khittah paling esensial dari peradaban (civilized) adalah tegaknya kebaikan sebagai khittah kemanusiaan kita, otomatis Nihilisme yang tak menyisakan khazanah apa pun sebagai bekal perjalanan kita selain keporakporandaan tatanan doktrin yang telah ada, diwarisi, dan dianut bersama selama ini hanya akan memicu chaos. Kekacauan. Apa benar ada manusia yang bernurani yang sudi hidup dalam kekacauan tatanan sosial?

Satu-satunya khittah yang bisa mewadahi organ-organ dalam suatu peradaban jelas hanyalah amal-amal saleh alias perbuatan-perbuatan baik, yang tentu saja sebagianya telah diwarisi, dijaga, dan dijalankan secara kolektif sejak dahulu kala dari para leluhur. Di antaranya ialah doktrin agama.

Tidak berkata huh (kasar) pada ibu, misal, itu diajarkan oleh al-Qur’an. Kebayangkah kamu atas nama Ubermensch, lalu hubungan anak dan ibu dibiarkan bebas tanpa langgam doktrin etika apa pun? Niscaya babak belur.

Tatanan sosial, tatanan kemasyarakatan, akan berantakan tanpa ikatan-ikatan nilai dogmatis. Dan, kita mafhum sekali, agama Islam merupakan penyumbang langgam tatanan bermasyarakat yang lengkap, detail, dan luar biasa, yang bersumber dari iman pada Allah dan ‘amilus shalihat.

Nihilisme kelihatan ompong belaka di sini, bukan?

Begitulah tamsil menyerap bacaan di hadapan keimanan kita: bagaimana seyogianya semua luas bacaan dan pengetahuan kita mesti menghantar kita pada makin mendalamnya iman, makin membuat kita bersubhanallah.

Iman tanpa ilmu akan membuat kita pincang dan ilmu tanpa iman akan membuat kita brutal.

Oleh: Edi AH Iyubenu.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan