“Pak Sengkring meninggal, Mi? Sakit apa? Bukannya kemarin masih baik-baik saja, ya?” sahutku kaget mendengar pembicaraan Umi dan Babe.

“Iya, dia kan sakit diabetes. Mungkin tiba-tiba naik atau turun gula darahnya terus jadi drop. Padahal kemarin sore pas Umi beli lauk itu, dia masih seger,” jawab Umi. Babe masuk ke dalam rumah.

“Emm … diabetes memang gitu. Alhamdulillah keluarga kita enggak ada yang terkena penyakit gula. Jadi insyaallah aman.” Aku menjawab sambil merapikan shuttlecock. Siap-siap bermain badminton dengan Babe.

“Aamiin. Memang penyakit gula karena faktor keturunan ya, Dik? Kok menakutkan ya, mendadak meninggal.” Umi melanjutkan perbincangan.

“Iya, Mi. Faktor penyebab utamanya setahuku keturunan. Kalau yang sudah parah bisa tiba-tiba down gitu,” kataku enteng.

“Sudah siap, Dik? Mau kalah berapa set, kamu?” Babe keluar dengan membawa senjatanya—raket.

“Halah, kalian sok-sokan pakai set segala? Wong netnya pun enggak ada.” Umi mengejek kami.

“Biar berasa pemain profesional ya, Be? Hahaha ….” Aku terkekeh bersama Babe.

Kami biasa bermain bulu tangkis bakda asar. Tidak setiap hari memang, kadang Babe pulang dari sawah ketika azan magrib berkumandang. Tetapi beliau lumayan sering menyempatkan waktu berolahraga denganku saat libur kuliah seperti sekarang. Tak hanya bulu tangkis, kami juga biasa lari-lari bersama. Umi yang jarang bergabung. Beliau lebih suka menjadi supporter. Disamping karena setengah hari waktu beliau sudah dihabiskan mengajar, Umi sangat mudah lelah.

**

Aku asyik menatap layar laptopku—nonton drama korea—di ruang tamu. Libur kuliah masih lama. Pun aktivitas di komunitas sedang tidak padat. Jadi aku memiliki waktu panjang untuk berleha-leha. Meskipun aku bukan tergolong anak manja banget, jika dibandingkan dengan mereka yang memiliki saudara, anak tunggal sepertiku tetap lebih manja. Aku hanya sekadar membantu pekerjaan-pekerjaan Umi selama di rumah. Selebihnya ya, nonton TV, ngedrakor, baca buku, hanya itu.

Babe sibuk menonton bola, sedangkan Umi yang sejak siang mengeluh kurang enak badan tertidur di sampingnya. Aku dan Babe biasa menghadapi Umi yang tiba-tiba biduran padahal tidak salah makan apapun. Kemudian setelah kami telusuri, ternyata Umi sakit hati karena satu hal. Hati beliau lembut sekali. Misalnya saja beberapa waktu yang lalu, tetangga kami ada yang dimarahi suaminya lalu cerita pada Umi, apa yang terjadi? Keesokan harinya badan Umi bentol-bentol, mata beliau menjadi sipit, tubuhnya pun lemas. Kalau sudah begitu, beliau tinggal minum obat anti alergi, sembuh.

Kali ini kami—aku dan Babe—berprasangka baik, selesai makan malam tadi, Umi telah minum alerone dan grathazone, seharusnya besok baikan. Namun manusia tetaplah manusia, kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi bahkan satu detik ke depan. Sekitar pukul satu dini hari, ketika baru saja setengah jam aku memutuskan menutup laptop dan terlelap, ada teriakan dari dapur.

“Maaas!” Umi memanggil Babe.

Aku terbangun dan langsung bangkit menuju dapur. Kulihat Babe sudah terduduk di lantai sambil mendekap Umi yang tampak gelisah. Tubuhku gemetar, aku takut terjadi sesuatu pada Umi. Babe terus berbisik lembut di telinga Umi, “Istighfar Ya, astaghfirullahal’adzimastahgfirullahal’adzim.” Aku turut menggenggam tangan Umi sembari melafazkan asma-Nya. Hampir setengah jam kami dalam posisi tersebut.

Setelah Umi lebih tenang, Babe menggendong dan membaringkan beliau di depan TV. Aku dan Babe saling melirik, bingung bagaimana cara membujuk Umi agar mau berobat. Kami sama-sama tahu, akan sulit untuk membuat beliau setuju kami bawa ke dokter. Benar, tiga jam berlalu, Umi masih bersikeras tidak mau periksa.

Aku menghela napas berat, “Hemm … seandainya aku yang berada di posisi Umi sekarang, apa Umi bakal setuju kalau aku tidak mau dibawa ke dokter?” keluhku kesal.

Beliau tak menjawab, barangkali memikirkan apa yang baru saja kukatakan. Akhirnya bakda subuh Umi mau pergi periksa ke dokter. Kami tinggal di desa yang cukup jauh dari layanan kesehatan. Butuh waktu kira-kira setengah jam untuk sampai di klinik terdekat. Sepanjang perjalanan, aku terus bertanya-tanya, kenapa alergi Umi tak sembuh dengan meminum obat anti alergi? Tentu ada masalah lain, tetapi apa?

Kami tiba di sebuah bangunan bercat biru muda dengan deretan kamar-kamar di belakang ruang utama. Tidak banyak kendaraan yang terparkir di halaman, sepertinya tak banyak pasien rawat inap. Aku menuntun Umi yang sudah sedikit kuat menuju ruang UGD (Unit Gawat Darurat). Selesai mendaftar dan melakukan pemeriksaksaan tekanan darah, dokter Tri datang.

“Ada apa, ada apa? Apa keluhannya?” tanya dokter tersenyum menampakkan gigi putihnya.

“Ini, dok, gatal-gatal. Biasanya karena habis makan seafood atau daging sapi, tetapi kok ini enggak makan apa-apa tiba-tiba biduran ya, dok?” jelas Babe.

“Emm … sudah pernah cek gula darah sebelumnya?”

Deg! Allahu Akbar. Aku seperti mendapat jawaban dari pertanyaanku selama di jalan tadi. Aku belajar tentang ilmu kesehatan, pertanyaan dokter barusan sudah menjadi kesimpulan bagiku. Kuingat lagi kebiasaan-kebiasaan Umi sebelum sakit. Inkontinensia Urine (sulit menahan buang air kecil), mudah lelah, rasa lapar dan haus yang berlebihan, dan astagfirullah, beliau terlihat begitu kurus.

Dugaanku tepat, setelah dicek, gula darah sewaktu Umi menunjukkan hasil empat ratus tigapuluh. Angka yang sangat jauh dari kata normal. Alhamdulillah Umi masih tampak kuat jadi tidak perlu menginap. Meski begitu, duniaku tetap berubah. Semua pekerjaan rumah beralih ke tanganku. Waktu liburan tersita untuk mengerjakan aktivitas rumah. Menyesuaikan diri ke kegiatan-kegiatan harian tidak terlalu sulit bagiku.

Justru saat aku mesti mengatur porsi, waktu dan melarang Umi makan makanan favoritnya, dadaku terasa menyempit. Aku sendiri kehilangan nafsu makan. Pikiran semakin kalut karena merasa bersalah selama ini tak peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada Umi. Seharusnya aku sadar bahwa diabetes bisa disebabkan oleh pola hidup yang kurang sehat. Seharusnya aku tahu, di usia beliau sekarang, sangat rawan terkena penyakit-penyakit seperti diabetes ini. Allah ….

Kenapa aku baru menyadari kalau raga beliau sudah tak lagi sekuat dulu? Tubuh yang dulu begitu hangat memelukku, kini terlihat tinggal tulang terbalut oleh kulit yang mulai mengeriput. Harum napas yang waktu kecil menenangkan ketakutan-ketakutanku, sekarang berganti dengan bau tidak sedap akibat dari tingginya keton karena produksi insulin tubuh Umi yang tidak stabil. Setiap malam ketika semua lampu sudah padam, aku terisak sendirian. Menangis tanpa ada yang tahu kecuali Dia dan bantal yang basah karena airmata.

Kalimat-kalimat, seadainya aku bisa mengulang waktu, seandainya blablabla … bermunculan dalam pikiran. Padahal aku tahu jelas kita tidak boleh berandai-andai. Belum lagi membayangkan perjalanan penyakit diabetes, membuat hatiku semakin ngilu. Semua orang tahu jelas diabetes tidak bisa disembuhkan. Aku tidak siap jika keadaan buruk menimpa Umi.

Sebagai seorang anak yang besar tanpa pesaing, aku terbiasa menerima kasih sayang berlimpah dari Babe dan Umi. Lalu dampaknya, aku merasa jauh lebih takut kehilangan daripada mereka yang mempunyai saudara.

**

Dua bulan berjalan, kondisi Umi mulai membaik. Gula darahnya sudah terkontrol meski masih tergolong tinggi. Babe menyuruhku segera kembali ke Jogja untuk mengejar ketertinggalan kuliah. Karena kebetulan ada diklat penting yang harus kuikuti, aku pun meluncur balik ke Kota Gudeg. Kupikir tak ada masalah pada diriku. Aku berhasil meredakan kecemasan-kecemasan Umi tentang sakit yang beliau derita. Tentu dengan bantuan Babe. Jadi seharusnya aku pun sudah tak khawatir lagi, bukan?

Namun salah, ada yang tidak beres dalam diriku. Kadang aku meneteskan air mata tanpa sebab yang jelas. Kebiasaanku menangis sebelum tidur juga belum hilang. Bahkan beberapa teman sadar, suasana hatiku bisa berubah sewaktu-waktu. Di acara diklat pun aku banyak diam. Hingga tiba di sesi praktik konseling islami. Kami—satu per satu—berhadapan dengan seorang psikolog. Di depan kami tersedia Al-Quran terjemahan untuk kepentingan konseling nanti. Setelah ngobrol basa-basi untuk mencairkan suasana, Kak Luqman—Psikolog yang menjadi konselorku bertanya,

“Fitri tidak mau bercerita apa-apa sebelumnya?” Kak Luqman tesenyum manis.

Aku menarik napas panjang, “Tidak ada, Kak.” kubalas senyumnya.

“Oke, sekarang coba istighfar tiga kali, membaca Al-Fatihah, ceritakan keluh kesah pada Allah dalam hati, terus buka Al-Quran secara acak!” Kak Luqman memberikan arahan.

Aku melakukan apa yang diinstruksikan Kak Luqman, selesai istighfar dan membaca Al-Fatihah, aku bertanya pada Allah, kenapa Umi mesti terjangkit penyakit yang tidak bisa disembuhkan, bukankah aku berdoa untuk kesehatan beliau Ya Rabb? Kenapa Engkau tidak mengabulkannya?

Kubuka Al quran di depanku, yang pertama kubaca adalah surat As Syu’ara’ ayat 217 yang artinya, Dan bertawakallah kepada Allah Yang Mahaperkasa, Maha Penyayang (Q.S. As Syu’ara’ ayat 217)

Seketika badanku gemetar, tenggorokanku tercekat, aku merasa menjadi manusia paling lalai yang meragukan kebesaran-Nya. Aku menangis tanpa malu di hadapan Kak Luqman dan beberapa psikolog yang juga sedang bercakap dengan kliennya—teman-temanku. Kak Luqman membiarkanku menyelesaikan tangis sampai tuntas. Setelah air mataku kering, dia membuka percakapan lagi.

“Jangan ditolak, Dik! Apa pun masalah yang Fitri hadapi saat ini, cara paling awal untuk menyelesaikannya adalah dengan menerima, ikhlas terhadap masalah itu sendiri,” ucapnya tenang.

Aku tak menjawab. Sejujurnya, aku masih belum bisa mencerna kata-kata Kak Luqman. Penerimaan seperti apa yang harus kulakukan? Aku tidak menolak apa-apa. Tetapi aku akan berusaha mencari jawabannya.

Selepas diklat, aku berusaha keras menerapi diriku sendiri. Memperhatikan mereka yang lebih tidak beruntung dari Umi tetapi tetap bersyukur, kemudian mensugesti diri agar percaya sepenuhnya pada takdir terbaik yang telah Dia tetapkan.

**

Setahun berlalu, psikologisku sedikit lebih sehat. Umi juga sudah kembali normal. Hanya memang tetap harus mengatur pola makan.

“Umi enggak pingin nanya dokter boleh makan pedes apa enggak, Mi?” tanyaku pada Umi yang sedang menyantap makanan.

“Enggak, Dik. Umi sudah nyaman seperti ini. Awal-awal memang iri rasanya melihat mereka yang bisa makan sepuasnya tanpa dihantui rasa takut. Tetapi sekarang, sudah tidak lagi. Umi malah khawatir kalau dokter memperbolehkan, Umi tak akan lagi bisa mengendalikan diri,” kata perempuan berhati lembut itu mantap.

Aku tertegun mendengar jawaban beliau. Ternyata, Allah sedang mengajarkan kesabaran dan mengendalikan nafsu pada Umiku. Aku memang berdoa untuk kesehatan beliau. Namun, bukankah aku juga meminta surga untuknya? Dan surga yang Allah janjikan, hanya untuk mereka yang lulus ujian. Semoga Umi telah berhasil melalui ujian ini, lalu aku? Entahlah. Yang pasti aku belajar, insyaallah ke depan, aku belajar untuk lebih tegar. Aamiin.

Oleh: Fitri Ayu Mustika.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: