Dua puluh satu tahun itu bukan jarak yang sedikit. Ibaratnya, ketika aku telah matang secara biologis dan siap menikah, si calon istri baru lahir. Bukankah itu sesuatu yang ehem?

Keputusan untuk menikahi Alya yang baru saja lulus SMA kupikirkan kembali. Secara naluri, tentu gadis itu sangat menarik. Cantik, muda, juga masih polos. Tapi, apakah kelak ketika sudah menikah dan aku menjadi semakin tua, dia tidak akan menyesal? Usiaku sekarang tiga puluh sembilan sedang Alya baru delapan belas tahun.

Kalau Ustad nggak mau pacaran, Ustad lamar dan halalin Alya secepatnya.

SMS dari Alya membuat dadaku semakin tak karuan. Dia sungguh gadis yang berani. Baru saja kenal beberapa minggu di acara pengajian kampung, dengan tanpa grogi dan malu, Alya mengirimiku surat cinta. Ia menyatakan rasa kagum dan menawarkan diri menjadi ‘kekasih’ agar selalu bisa mendengar nasihatku.

Surat itu kubalas dengan materi ceramah bahwa tidak ada pacaran dalam islam. Ikatan cinta dua insan akan indah jika telah dalam ridho Allah melalui pernikahan. Nampaknya, dia pun paham bahwa ceramah yang itu, kutunjukkan untuk balasan surat darinya.

***

Bukankah menikah dengan perempuan yang jauh lebih muda itu bukan hal buruk? Bukan pula termasuk perkara yang dibenci. Bahkan dianjurkan supaya tercipta kehidupan yang harmonis. Wanita yang lebih muda, jika dibimbing dengan tepat, akan menjadi istri yang sungguh menyenangkan.

Dua minggu berlalu sejak SMS itu kuterima. Tapi, pikiran ini masih saja dipenuhi ajakan nikah dari Alya. Adrenalinku naik turun tak beraturan. Konsentrasi pun sering pecah karenanya. Gara-gara hal ini, aku bahkan pernah salah sebut nama peserta pengajian saat menjawab pertanyaan.

“Jawaban untuk pertanyaan Mbak Alya ….” Belum tuntas kalimat kuucap, peserta dengan mikrofon meluruskan, “Maaf Ustad, nama saya Aura, bukan Alya.” Peserta pengajian pun kemudian tertawa. Duh, malu rasanya.

Sialnya lagi, setelah kejadian itu, panitia pengajian meledek. “Ustad galau ya? Makannya nikah donk!”

Apa hanya itu saja efek dari memikirkan SMS Alya? Ternyata masih ada hal lain yang merisaukan. Hati yang cemas dan tidak tenang ternyata mengganggu nafsu makanku. Dua minggu berlalu dan celana yang kupakai semakin longgar.

Aku pun menepi, mencoba i’tikaf di masjid terdekat. Kuingat-ingat, kupikir-pikir, dan kurasa-rasa, apakah ini jawaban dari doa yang kupanjatkan sekian lama? Doa yang hingga kini belum tampak tanda-tanda akan dikabulkan. Doa yang kubantu dengan ikhtiar, namun dua kali ikhtiar belum juga sukses dan membuatku diam dalam penantian.

Ya Allah, jika ia jodohku maka dekatkanlah. Jika bukan, maka berilah ganti yang terbaik menurut Engkau.

Sepuluh tahun lalu, dengan berbekal doa itu, aku datang ke rumah seorang gadis. Dia adalah gadis baik yang juga telah lama akrab denganku. Kami sama-sama karyawan sebuah salon terkenal di Jakarta. Aku bekerja di bagian service pelanggan, utamanya pada bagian rambut, tapi kadang-kadang juga pegang treatmen lain semisal facial dan lulur. Sedang Dewi, ya, nama gadis itu Dewi, bekerja sebagai resepsionis merangkap bagian keuangan.

“Maaf Kak, aku nggak bisa,” jawab Dewi saat kedua orangtuanya memberi kami waktu untuk berbincang.

Akulah yang membawa dan memasukkan Dewi ke salon tempatnya bekerja sekarang, jadi Orangtua Dewi sudah sangat mengenalku.

“Kenapa?”

“Aku masih mau kerja.”

Aku tahu maksud jawaban Dewi, ia menolak karena menganggapku aneh dan berubah. Sejak ikut pengajian rutin setahun yang lalu, sedikit demi sedikit aku mulai mengurangi jatah pekerjaan. Misal ada pelanggan wanita yang minta lulur, maka aku oper kepada terapis lain dengan alasan yang dibuat-buat.

Gelagatku yang semakin hari semakin terlihat ‘malas’ karena sering mengoper pekerjaan, membuat Dewi menegur. Akhirnya kuceritakan semua padanya. Tentang keresahanku saat harus pegang-pegang tubuh wanita bukan mahrom hingga niat akan keluar dari pekerjaan.

“Kamu gila ya? Cari kerjaan itu susah!” ujarnya kala itu. “Penghasilan kamu kan udah lumayan, malah mau keluar!”

Ya, saat itu gajiku setara dengan PNS golongan tiga. Tapi apa mau dikata, hatiku sudah sangat resah.

“Jadi?”

“Semoga, Kakak dapat calon yang lebih baik dariku.”

Jawaban itu, sekaligus membulatkan tekadku untuk keluar dari pekerjaan. Maka, tidak lama setelah lamaran yang tidak berhasil itu, aku mengajukan resign pada bos yang kebetulan pas ada di Indonesia (Bosku orang Italia dan punya banyak cabang salon di negara lain).

Entah apa yang dipikirkan bos dan teman-teman atas keputusanku. Sedikit kudengar kabar, mereka prihatin ketika mengetahui perihal lamaran yang gagal itu. Bahkan berkembang gosip bahwa penyebab keluarnya aku karena patah hati. Aku tak acuh dan membiarkan rumor itu, toh aku sudah tidak di salon lagi.

Setelah tidak bekerja di salon, aku memilih berdagang. Meskipun hanya berdagang tiga hari dalam satu minggu, ternyata kerja di salon dari jam sepuluh pagi hingga jam sembilan malam terasa lebih santai dari pekerjaanku sekarang.

Pagi buta aku telah berada di Tanah Abang untuk membeli berbagai pakaian untuk dijual lagi. Sasaranku adalah pakaian BS dengan tren kekinian. Biasanya hanya karena cacat sedikit semisal lubang kancing yang belum bolong, kerah baju yang tidak simetris atau jahitan benang kurang rapi, pakaian bagus menjadi turun drastis harganya.

Setelah memborong pakaian BS aku pun menyewa kendaraan untuk membawa pulang pakaian yang beratnya hampir setengah kwintal. Sampai di kontrakan, pakaian itu akan aku pilih berdasar jenisnya kemudian lanjut disetrika. Setelah semua pakaian rapi, lalu bungkus dalam plastik bening dan siap dibawa ke pasar untuk ditawarkan pada pedagang.

Ternyata kesibukanku dalam berdagang mampu melupakan rasa kecewa terhadap Dewi. Aku pun bisa lebih fokus mengembangkan bakat dagang sekaligus semakin giat mengikuti pengajian.

Tiga tahun berdagang, dengan terus mengikuti pengajian rutin, akhirnya aku diminta membantu ustaz untuk menggantikan beliau di beberapa tempat. Jadilah aku berlatih ceramah dengan modal seadanya. Niat tulus mengajak masyarakat berbenah dan memberi contoh nyata dengan tidak silau dunia. Baik ustaz maupun aku, tidak pernah merima amplop sebagai ucapan terimakasih dari masyarakat. Cukup pahala dan rahmat dari Allah saja yang kami harapkan.

Di tahun itu pula, aku kembali mencoba melamar seorang gadis. Kali ini aku sangat yakin akan diterima karena gadis yang aku lamar adalah anak sang ustaz. Dia cantik, berjilbab, dan lembut. Aku berpendapat demikian karena mengamati beberapa kali saat dia menjadi panitia pengajian. Dengan telaten ia menyiapkan snack, menyalami peserta yang datang, juga membuka acara dengan suara yang lembut.

“Saya setuju saja, tapi keputusan tetap di tangan Anisa.” Ustad menyambut kedatangan dan menerima maksudku dengan senyum dan tangan terbuka.

“Nisa, kemarilah,” panggil ustad pada anak gadisnya.

Tidak berapa lama, Anisa datang dengan membawa nampan berisi dua cangkir teh. Ketika jari lentik gadis itu menyuguhkan cangkir di meja, hatiku seakan tersengat aliran listrik. Bergetar dengan tekanan 220 volt. Duh, hatiku deg-degan.

  “Yudi murid Abah, ada maksud sama kamu.” Ustaz mulai menjelaskan saat anak gadisnya telah mengambil tempat duduk persis di sampingnya.

Kulirik Anisa, ia menunduk dalam. Dengan kedua tangan di pangkuan dan jemari diremas, aku yakin ia pun grogi.

“Bagaimana?” ustaz menanyakan jawaban setelah selesai menjelaskan semua tentangku termasuk pekerjaan dan jumlah penghasilan.

“Nisa mohon waktu ya Bah,” jawabnya masih dengan menunduk.

Selama dua minggu aku menunggu jawaban. Selama itu pula, doa yang sama kupanjatkan pada-Nya. Ya Allah, jika ia jodohku, dekatkanlah. Jika bukan, berilah ganti yang terbaik menurut-Mu.

Ternyata kedekatan dengan sang ayah ditambah keahlian ceramah tidak menjamin seorang gadis menerima lamaran seseorang. Untuk kedua kalinya, aku ditolak. Kali ini rasa kecewanya lebih besar daripada saat melamar Dewi. Tapi, ya bagaimana lagi, Anisa tidak bisa menerimaku karena ia masih ingin kuliah di Timur Tengah.

Waktu pun berlalu dan aku telah melupakan perihal jodoh. Meninggalkan angka tiga puluh lima dan masih jomblo, membuatku semakin santai. Kata orang jawa, semeleh (melepaskan keinginan-keinginan dan yakin bahwa Allah telah punya rencana untuk tiap hamba-Nya) dan aku pun semeleh, tidak lagi risau masalah jodoh.

***

Di hadapanku kini terhampar ribuan manusia yang melakukan gerakan sama. Mereka berjalan memutari sebuah bangunan yang sangat aku kenal.

Labbaikallahumma labbaik! Laa syariikalaka labbaik, innal hamda wanni’mata laka walmulk, laa syariikala.

Suara jutaan manusia memenuhi dadaku. Inikah masjidil Haram? Aku terpana menyaksikan itu semua. Apa yang terlihat adalah pemandangan yang telah lama aku rindukan. Tubuh rasanya ringan dan hati lega sekali. Satu tetes air mata membasahi pipiku. Ya Allah … ya Allah ….

“Ayuk ustad kita ikut tawaf.”

Aku tergagap ketika tanganku digandeng seorang wanita dengan lembut. Semakin kaget manakala kulihat wajah wanita itu. Dalam balutan kerudung putih, ia tersenyum, manis sekali.

“Alya?” Suaraku tenggelam dalam kerongkongan dan aku terbatuk hingga tubuh terguncang.  Rupanya batuk itu membuatku tersadar, ternyata tubuh ini terbaring di atas tikar masjid.

Astaghfirullah … Astaghfirullah … istigfar kulantunkan dan bergegas mensucikan diri menuju kamar mandi.

Ya Allah, apa ini jawaban dari-Mu? Apakah Alya jodoh terbaik untukku? Ya Allah, jika benar, lancarkanlah dan barokahkanlah. Serta berilah kekuatan dan kebijaksanaan dalam membimbingnya, seperti Rasul yang sabar membimbing Aisyah.

Doa panjang yang kububungkan ke langit setelah salat malam kututup dengan sebentuk doa yang sama seperti sepuluh tahun lalu. Jika Alya jodohku, dekatkanlah Ya Allah. Jika bukan, berilah ganti yang lebih baik.

Pagi hari, setelah membuat janji melalui telepon, aku pun bergegas menemui orangtua Alya. Kali ini aku siap dengan segala kemungkinan yang ada.

“Alhamdulillah, Allahu Akbar!” seru ayah Alya sewaktu kuutarakan maksud kedatangan. “Mimpi apa Bapak ini, sampai-sampai Nak Ustad melamar Alya?” ucapnya dengan tetap menatap bangga ke arahku.

“Jadi?” tanyaku meyakinkan.

“Bapak sangat setuju, sangat setuju.”

Aku mengatur nafas untuk menyampaikan hal berikutnya. “Bapak tidak mau tanya dulu sama Alya?”

“Alya itu sudah lama bilang sama Bapak kalau dia mau mengajukan diri untuk jadi istri Nak Ustad.”

Wajahku seketika kaku, ternyata Alya menyampaikan perasaannya pada orangtuanya. Benar-benar gadis satu itu, luar biasa pemberani.

Oleh: Sri Bandiyah.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: