Masa-masa SMA itu masa yang sangat menggembirakan. Kita tidak akan dipusingkan oleh urusan-urusan yang terlalu rumit. Tugas kita hanya belajar, itu pun kalau orangtua perhatian. Kalau tidak, ya sudahlah yang penting kita naik kelas. Itulah mengapa masa SMA sulit dilupakan dan sangat berkesan. Karena kesan itulah, banyak yang masih berakrab ria dengan teman SMA.

Waktu SMA, aku termasuk orang yang supel jadi aku memiliki banyak teman dengan berbagai latar belakang. Ada anak orang kaya dan ada anak orang miskin. Kalau bergaul dengan orang kaya, aku yang paling sering ditraktir atau diboncengin sepeda motornya. Maklum waktu SMA, aku belum memiliki sepeda motor.

Aku berangkat sekolah saja, masih sering naik sepeda. Kalau lagi apes, misalnya ban sepeda kempes atau terkendala yang lain, aku sering memberanikan diri untuk mencegat guru BK. Ha … ha ….. Jadi kalau teman-teman dan siswa sekolah itu horor dengan guru BK, aku malah akrab.

Kadang aku mencegah mobil beliau di tengah jalan. Dengan lambaian tanganku, beliau akan menghentikan laju mobilnya. Mobil carry merah yang dulu sangat ngehits dan belum banyak yang punya itu, aku malah sering menaiki. Meskipun bukan milik pribadi, tetapi sama saja kan kalau aku bisa menaiki.

Itu kalau berteman dengan orang kaya, nah kalau berteman dengan yang miskin, aku hanya nongkrong. Aku dan dia hanya nongkrong sambil main gitar. Malah pernah punya ide gila ngamen. Ya, serius. Aku dan temanku, Junarko, pernah ngamen dari kampung ke kampung. Tentu bukan kampung di kabupatenku. Kan malu kalau mengamen di kampung sendiri. Makanya aku dan Junarko mengamen di daerah Kulon progo.

Lagu kebangsaan kami adalah “Menanti Kejujuran” dari Godbless. Sebetulnya ada beberapa lagu yang lain, namun yang paling ngehits pada zaman dulu, ya lagu itu. Berulangkali kami menyanyikan lagu itu dari satu pintu ke pintu lain. Hasilnya? Lumayanlah. Bisa untuk naik bus pergi-pulang dari Bantul ke Kulon progo plus untuk makan. Selain itu ya untuk disimpan sebagai uang saku.

Kebetulan kami berdua tidak gemar merokok. Merokok sih pernah, namun kok sayang kalau uang itu dihabiskan untuk membeli rokok. Lagian rokok zaman SMA dulu mahal, jadi sayang saja. Itulah kesibukan kami di sela-sela waktu libur sekolah. Jadi suka saja melakukan touring seperti itu.

Meskipun tidak setiap minggu atau hari libur kami mengamen. Namun saat pingin, ya dilakukan saja, sekalian jalan-alan. Aku memang dekat dengan Junarko sehingga masalah apa pun aku tahu. Meskipun kadang aku suka usil, menggodanya. Untungnya, dia bukan tipe orang yang mudah tersinggung.

Itu teman miskinku. Di SMA ini, teman miskinku lebih banyak daripada teman kaya. Jadi kalau para miskiner ini kumpul kalau tidak main kita ya paling keren main kartu. Kartu remi sering kami mainkan. Bukan mainan seperti pada umumnya. Kami memakai model permainan sanggong. Jadi cuma mengumpulkan nilai maksimal 10.

Kartu As itu termasuk angka 1. Kartu K, Q, dan J itu mewakili angka 10. Permainannya hanya mencari nilai paling tinggi dan kalau nilainya 10 itu tandanya dia menang. Hanya kartu As sebanyak 3 yang bisa mengalahkan nilai 10 tadi. Ah, itu permainan kami dulu. Simpel dan menyenangkan. Cukup kita pegang tiga kartu saja. 

Apakah kami menggunakan uang untuk taruhan? Tidak. Kami tidak pernah berjudi. Kami hanya bersenang-senang saja. Lagian kami orang miskin jadi tidak punya uang lebih. Pernah kami berempat main kartu: Aku, Junarko, Aris dan Esdi. Kami bermain bersama di rumah Junarko. Kami hanya mempertaruhkan muka. Sebab bila kalah main kartu, muka kami akan dicoret-coret pakai tepung.

Waktu itu malam Minggu. Kami berempat kembali bermain di rumah Junarko. Kami sudah stand by mulai Isya. Kami duduk melingkar. Kartu sudah dibagikan. Hanya kami berempat. Setelah kartu dibagi, kami mulai main. Kami kalah secara bergantian. Namun yang paling sering kalah, si Esdi.

Berhubung ia sering kalah kita jadi gemar mengejek. Aku anggap hal yang wajar saling mengolok-olok dalam permainan. Toh, ini tidak serius menghinanya. Hanya permainan belaka. Maka kami pun mengolok-olok Esdi habis-habisan. Paling banyak yang bicara aku, yang lainnya hanya menimpali.

Begitulah kami bermain sampai pukul 10 malam. Kini waktunya pulang. Kebetulan saat pulang, aku bersama Esdi. Kami berdua naik sepeda sendiri-sendiri. Biar pun malam, kami tidak merasa takut. Toh, kami berdua, tidak sendirian. Sedangkan Aris membawa sepeda motor dan mengambil jalan yang berbeda.

Di tengah perjalanan, Esdi menghentikan sepedaku. Aku pun menuruti. Pelan-pelan sepedaku kuhentikan. Tidak ada firasat apa-apa. Esdi langsung memukul mukaku. Pukulan yang keras. Aku sangat kaget, meskipun tidak terhuyung.

“Kenapa, Es?” kutanya dia.

Suaranya tidak terlalu jelas, tapi dia siap-siap mau menyerang lagi. Kalau tidak salah dengar dia tidak terima diejek saat main kartu. Oh, itu. Baiklah. Aku juga bersiap siap, meskipun pukulan pertama masih terasa sakit. Tapi okelah aku harus waspada.

Tiba-tiba, sebuah sepeda motor lewat.

“Lis?” Pengendara sepeda motor memanggil namaku.

“Hai,” jawabku sambil tetap waspada menghadapi serangan Esdi.

Orang-orang yang memanggilku tadi menghentikan sepeda motor. Kemudian mendatangiku. Tanpa dinyana mereka menyerang Esdi. Esdi dipukuli dan ditendang beberapa kali.

“Sulis itu orang desaku,” ucap penunggang sepeda motor sambil terus menendang Esdi. Sementara yang membonceng masih memegang sepeda motor.

Aku jadi kasihan. Aku mencoba menghentikan teman-teman kampungku. “Sudah-sudah, dia temanku,” ucapku memohon.

Aku mendatangi Esdi yang terduduk kesakitan. Sementara kedua temanku yang naik sepeda motor berpamitan. Sosok mereka hilang di kegelapan bersama raungan sepeda motor. Meskipun tidak terlalu jelas kulihat wajahnya, namun aku tahu siapa saja yang telah menolongku.

Aku membantu Esdi berdiri. Aneh memang diriku ini. Baru saja dipukul masih saja mau menolong. Lha, mau bagaimana lagi. Esdi itu teman SMA-ku, mungkin aku juga salah telah mengejeknya. Ejekanku mungkin keterlaluan. Namun apa pun itu saat ini dia butuh pertolongan.

Kami kembali naik sepeda berdua. Di persimpangan jalan, kami harus berpisah. Kuyakin dia apakah dia sanggup meneruskan perjalanan. Setelah dia menjawab mampu pulang sendiri, aku berbelok dan pulang. Sampai di rumah, aku masih tidak mengerti dengan jalan pikiran Esdi.

Mengapa dia harus menyerangku tiba-tiba? Untung aku tidak kenapa-kenapa. Kalau aku terluka atau cacat bagaimana? Banyak pikiran berkecamuk.

***

Keesokan harinya, aku tidak melihat Esdi di sekolah. Mungkin dia sakit, atau mungkin malu bertemu denganku. Entahlah. Saat bertemu Junarko, aku tidak menceritakan apa-apa. Cuma aku bersepakat, nanti sore akan pergi ke rumah Esdi. Aku ingin menyelesaikan semuanya. Meskipun aku harus dengan jalan kekerasan.

Bukannya sok jagoan, namun masalah malam itu pasti belum usai. Maka aku ingin diselesaikan secepatnya. Habis magrib aku menjemput Junarko. Kami berencana ke rumah Esdi. Untuk jaga-jaga, sebab aku di kampung Esdi, aku membawa double sticks (ruyung).

Dalam film, senjata kayu ini biasanya dipakai Bruce Lee. Bukan karena aku nge-fans Bruce Lee, bukan. Namun double stick ini sangat simpel. Kita bisa membawanya dengan mudah. cukup disembunyikan di balik jaket. Aku berbocengan dengan Junarko ke rumah Esdi.

Sampai di rumah Esdi, kami disambut ibunya. Ibunya bilang dengan nada sedih kalau Esdi sedang sakit. Katanya kakinya pincang. Tak berapa lama Esdi keluar rumah. Dengan kaki terpincang-pincang, dia mendekati kami. Muncul rasa iba melihat caranya berjalan.

“Maaf ya, Lis?” pinta Esdi saat menjabat tanganku.

“Iya, sama-sama,” jawabku.

Junarko tampak kebingungan. Jelas dia bingung sebab aku tidak menceritakan kenapa Esdi bisa pincang seperti itu. Setelah beberapa saat berada di rumah Esdi, kami pun berpamitan. Saat pulang itulah, Junarko mendesakku.

“Ada apa tho kamu sama Esdi?” selidiknya.

Kutahan tawaku sebab lucu saja melihat wajah penasaran Junarko.

“Tahu enggak? Pas pulang dari rumahmu itu, aku dan Esdi berkelahi. Dia tersinggung dengan candaan kita. Terus dia memukulku ketika sampai di bulak (tengah sawah). Untungnya, ada beberapa teman kampungku datang, maka Esdi dipukuli.”

“Oalah. Esdi … Esdi,” gerutunya.

“Sekarang aku bawa double stick lho. Siapa tahu di rumah Esdi, kita dikeroyok orang-orang kampung,” kataku penuh kelegaan.

“Kurang ajar. Aku tidak dikasih tahu. Nanti kalau aku ikut diserang gimana?”

“Kan nyatanya kamu tidak kenapa-kenapa? Aman, kan?”

“Iya, sih aman,” jawabnya dengan bersungut-sungut.

“Untung kita sudah saling memaafkan tadi di rumah Esdi. Jadi masalah ini telah selesai.”

“Kamu itu lho kok ya diladeni Esdi?”

Lha bagiku, loe jual gue beli. Kalau dia tidak memulai memukulku tentu aku juga tidak akan memperpanjang masalah ini. Wong cuma geguyon kok sampai segitunya,” ucapku panjang lebar.

Junarko hanya manggut-manggut mendengar penuturanku. Sejak kejadian itu, aku dan Esdi malah tambah akrab. Tidak ada dendam dan tidak ada lagi singgung-menyinggung. Semua tampak baik-baik saja. Alhamdulillah.

Oleh: Jack Sulistya.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: