Aku sedang asyik menyelesaikan target tilawah harian saat HP-ku berdering tanpa henti sore itu. Mengingat ini bulan puasa, aku memaksa untuk membaca lebih dari dua juz per hari. Oleh karenanya, gadget di sampingku tak terlihat menarik. Mungkin teman-teman di grup Whatsapp tengah membahas sesuatu. Entahlah, aku tak berniat turut serta.

Aku jarang bercakap di grup kelas jika hanya sekadar ngobrol kosong. Seringnya memberikan informasi tentang dosen, tugas atau hal-hal penting tentang kampus. Selain itu, aku lebih suka menjawab pertanyaan japri untuk meminimalisir salah paham. Ada trauma yang lumayan sulit hilang setelah beberapa waktu, lalu sempat terjadi masalah yang berdampak cukup besar di kelas karena sesuatu yang kuanggap sepele.

Setengah jam sudah aku bermesraan dengan Qur’an. Dering HP belum juga selesai. Aku memutuskan untuk mengecek pembicaraan mereka. Dua ratus chatt lebih, tak semuanya kubaca. Tetapi ketika Jihan membahas akreditas, jelas mereka sedang membicarakanku. Sebab, aku yang menghubungi beberapa teman kelas agar hadir saat asesor datang. Jihan tidak termasuk menjadi salah satunya. Mungkin dia marah karena tak kulibatkan. Seharusnya dia bertanya padaku langsung. Kenapa mesti memprovokasi yang lain? Aku mulai tersulut.

Jihan: Jadi, kenapa tak ada informasi juga tentang akreditasi yang masuk di grup ini? Maaf yaa, selama ini saya merasa gak dihargai di sini. Apa pun infonya gak pernah tau, apa karena saya kurang update, atau sengaja di sembunyiin?

Lena: Nah tu, harusnya kami berhak tahu donk tentang jalannya akreditasi?

Rian: Kita kan lagi liburan waktu itu, kalian pulang kampung.

Jihan: Ok kita lagi liburan, tapi apa salahnya diinfokan? Biar gak terkesan ketikung.

Hendra: Sama Han, aku juga merasa gak dihargai.

Aku: Baik teman-teman, saya jelaskan. Kenapa info tersebut tidak dishare di grup, karena memang hanya dipilih beberapa mahasiswa saja sebagai perwakilan. Terkait kriteria pemilihan, bisa ditanyakan langsung pada Pak Fathan. Saya Cuma bertugas menghubungi.

Jihan: Maaf ya mbak, berarti personal dong? Seharusnya dishare di grup, barangkali teman-teman lain ada yang bisa berpartisipasi, kan gak semuanya pulang kampung. Kalau begini terkesan gak dihargai.

Aku: Lah, Pak Fathan hanya memintaku menghubungi mahasiswa-mahasiswa yang namanya sudah terlampir. Aku punya hak apa untuk share di grup?

Jihan: Ouh, aku baru tau ternyata mahasiswa psikologi semester 3 hanya beberapa gelintir aja Mbak.

Percakapan kuakhiri dengan mengirimkan voice note cukup panjang yang berisi tentang penjelasan lebih detail alasanku tidak berkoar-koar di grup mengenai akreditasi dan permintaan maaf jika teman-teman yang lain pun merasa terzalimi.

Jihan masih tetap bersikukuh bahwa seharusnya aku berbagi informasi tersebut. Karena tak mau masalah ini berlarut-larut, aku bergegas menelepon Jihan. Aku bertambah kesal ketika lima kali panggilanku tak dijawab olehnya.

Aku: Han, angkat! Ayok ngomong! Jangan cuma nyalahin tanpa tabbayun!

Jihan: Aku rasa klarifikasiku udah jelas di grup, transparan lagi.

Aku: Itu bukan tabbayun namanya tapi memojokkan. Saat kita mengetahui aib saudara kita, hendaknya mengingatkan atau klarifikasi langsung pada yang bersangkutan, bukan malah mempermalukan di depan umum. Kita cukup dekat, Han. Apa mungkin aku bisa menikung kalian? Buat apa? Toh seandainya tak sampaikan juga gak bakal merubah list nama mahasiswa yang terlibat.

Jihan: Mbak Fit lagi marah, kan? Aku juga. Udah nah, kita ngobrolnya nanti aja kalo Mbak udah adem. Bisa gak sih Mbak gak usah baperan!

Aku tak bisa menerima jawaban Jihan. Dia memintaku tidak perlu baper setelah mengatakan aku menikung mereka? Dia, Lena, Tantri dan Afni mengerti betul sifat-sifatku. Bagaimana bisa menganggapku menikung? Informasi apa pun, selalu kuberitahukan secara detail selama ini.

Kalau mereka kurang jelas, aku tak bosan menjawab pertanyaan-pertanyaan. Kenapa karena satu kesalahan yang tak kusengaja membuat mereka tak mau mendengarku? Setidaknya aku berhak memberi penjelasan.

“Mbak, itu di grup kenapa dah?” Maya datang ke kamarku.

“Enggak tahu, Dik. Mbak sudah coba telepon Kak Jihan berkali-kali tetapi tidak diangkat, sebel rasanya. Mereka kayak belum kenal sama Mbak. Sesibuk apa pun, Mbak selalu berusaha memberitahukan kabar apa saja yang Mbak rasa penting. Tetapi akreditasi tidak sesederhana yang mereka pikir, pentingnya apa mereka tahu keruwetan akreditasi? Toh akhirnya tidak perlu berpartisipasi. Akreditas sudah keluar dengan hasil yang memuaskan. Kenapa harus dipermasalahkan prosesnya? Tidak juga mengusik kita. Ini sudah dijelaskan, masih saja ribut di grup.” Kuluapkan unek-unekku pada Maya.

“Mbak yang sabar, ya! Aku juga enggak tahu Mbak jalan pikiran mereka. Mending Mbak wudu terus lanjut baca Qur’an.” Maya menyarankan solusi.

“Hemm … ya sudahlah May, percuma mbak ngomel-ngomel sendiri.”

Tak betah juga aku berpura-pura tidak ada masalah. Menjelang maghrib kucoba lagi untuk menelepon Jihan. Dia masih belum menjawab. Kukirimkan pesan padanya.

Kamu jahat Han …

Ternyata usahaku membuahkan hasil. Dia yang malah balik meneleponku usai maghrib. Tetapi sayang, titik temu belum juga kami dapatkan. Jihan semakin marah karena merasa aku suka ikut campur. Sedangkan aku tidak terima dianggap sok tahu. Setelah telinga kami panas karena menelepon hampir satu jam, kami menyudahi perdebatan dengan kegalauan masing-masing.

***

Kebetulan tidak ada kuliah keesokan harinya. Hanya ada acara buka bersama kelas. Awalnya aku tak ingin hadir. Tetapi Maya memaksaku berangkat. Selesai makan, ada diskusi yang lagi-lagi membahas masalah yang bukan masalah menurutku. Aku hanya diam. Aku akan lebih banyak mendengar. Pikirku. Seseorang mendekatiku.

“Mbak, ayo ngobrol sendiri di depan!” Lena mengajakku memisahkan diri dari yang lain.

Kami saling berhadapan. Suasana sudah lumayan mencair. Kami telah saling melempar senyum sejak bertemu tadi. Aku bukan tipe yang tahan lama-lama tak saling sapa. Kurasa mereka pun sama.

“Nah, sekarang keluarkan saja semua keluhan kalian! Insyaallah aku siap mendengarkan.” Aku membuka pembicaraan.

“Betul itu! Mbak Fit dengar aja, biar kami yang ngomong.” Ucap Jihan.

“Mbak, bisa enggak sih Mbak Fit enggak baperan? Kami tahu betul Mbak Fit orang seperti apa. Menu buka untuk Mbak saja, sudah kami pesankan khusus. Cabenya sedikit, porsi kecil, dada ayam, minum buat buka air putih hangat, sedetail itu loh kami memahami Mbak Fit. Jadi tolonglah, jangan suka mengorbankan diri! Bukan Mbak yang kami maksud menikung. Tentang akreditasi, kami tak bawa-bawa nama Mbak, kan? Ya karena bukan klarifikasi Mbak Fit yang kami perlukan. Coba cek percakapan kami. Terus kenapa minta maaf dan pakai acara menjelaskan? Peka sih boleh, tapi Mbak terlalu peka. Itu yang bikin kami kesal. Udah bagus-bagus enggak nongol dari awal, eh … datang-datang menjadikan diri sendiri sebagai tersangka.” Lena nyerocos tak berjeda.

Aku hanya melongo mendengarkan kalimat demi kalimat yang mereka lontarkan. Tak terbesit dipikiran sedikitpun mereka bakal mengadiliku semacam ini. Kecemasan-kecemasan neurotikku telah membuat prasangka bahwa mereka akan mendiamkanku atau lebih parah lagi, terus menyudutkanku di depan teman-teman yang lain.

Tetapi apa ini? Mereka malah marah untuk penjelasan dan permintaan maafku? Seketika aku merasa begitu bodoh. Kata-kata yang sebelumnya kuucapkan, satu per satu seakan menampar mukaku. Bukan mereka yang tak mengerti aku, aku yang tak memahami mereka. Terlepas dari perdebatan mereka di grup dengan yang lain, aku pun tidak melakukan tabbayun pada mereka.

Seharusnya, sebelum menjawab pertanyaan mereka di grup, terlebih dulu kutanyakan tentang maksud chatt mereka via japri. Aku merasa paling benar dengan penjelasan-penjelasanku tanpa mau tahu apa maksud mereka sebenarnya.  

Astaghfirullah. Ucapku dalam hati.

Tidak semestinya aku menghakimi mereka berdasarkan persepsi. Permasalahan di kelas memang belum selesai. Ceritanya masih panjang. Tetapi khusus aku, Jihan, dan Lena, kami sudah berdamai. Satu pelajaran yang kudapat dari pertengkaran kami. Sebelum menuntut hakku dipenuhi orang lain, aku harus menyelesaikan kewajibanku. Dan ini juga penting, kemarahan membuatku merasa paling benar dan tak mau belajar.

Aku akan berusaha memahami sahabat-sahabatku lagi. Ini tugasku. Tak peduli mereka memahamiku atau tidak.

Oleh: Fitri Ayu Mustika.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: