Di balik stigma negatif tentang sepak terjang Pegawai Negeri Sipil (PNS), tetap saja masih banyak orang yang suka. Tahun ini saja pendaftara CPNS mencapai 4.436.694 orang. Luar biasa. Itu beralasan sebab memang menjadi sangat enak, bahkan melenakan.

Meskipun syarat-syaratnya semakin sulit, para pelamar tetap saja keukeuh ikut seleksi. Dengan sistem komputerasi dan seleksi berjenjang membuat seleksi CPNS tahun ini terlihat lebih sulit. Bahkan para GTT dan PTT diperlakukan sama. mereka harus mengikuti tes dari awal sampai akhir.

Para pelamar CPNS rela antri melengkapi persyaratan dan mengirimkan semua dokumen kepada panitia CPNS. Mereka berjuang memperebutkan kuota PNS yang tidak banyak tersebut. Semangat yang menggebu-gebu membuat mereka bertekad kuat mengerjakan soal dengan maksimal.

Sebab sudah terbayang bagaimana enaknya menjadi PNS apabila mereka diterima. Namun apakah betul sebegitu enak menjadi PNS? Menurutku setidaknya ada 3 (tiga) alasan enaknya menjadi PNS:

Pertama adalah P (Pensiun).

Inilah alasan yang paling tinggi seseorang ingin menjadi PNS. Jaminan uang pensiun dikala mereka sudah tidak produktif lagi menjadi gambaran yang menyenangkan. Sebab seorang PNS akan mendapat uang pensiun cukup besar. Uang pensiun ini akan diterima oleh setiap PNS yang sudah purna tugas.

Besarnya berapa? Itu tergantung berapa lama dia mengabdi di instansi tersebut. Lama mengabdi ini terhitung dari TMT (Tanggal Melaksanakan Tugas) yang tertera dalam SK (Surat Keputusan).

Secara online—bila ingin mencoba hitung-hitungan—besaran gaji pensiun dan tunjangan hari tua untuk guru PNS dapat dilihat di website PT. Taspen secara online. Di situ ada estimasi berapa uang pensiun yang diterima bila pensiun sekarang atau nanti. Jadi sudah bisa diperkirakan besaran uang pensiun yang akan diterima.  

Namun tahu enggak sih kalau uang pensiun itu, uang kita sendiri? Sebab sebagai PNS kita mendapat potongan gaji setiap bulan. Potongan hanya kecil, sekian persen. Namun kalau itu terkumpul setiap bulan, tahun dan puluhan tahun maka akan sangat banyak. Pada akhir masa jabatan kita, uang tersebut dibagikan ke kita. Jadi ya sebenarnya itu uang kita. Secara sederhananya uang tabungan kita.

Namun berkat pemerintah uang tersebut bisa terkumpul sangat banyak. Coba kalau kita mengumpulkan sendiri, apa mungkin bisa terkumpul banyak? Apa mungkin kita bisa konsisten? Takunya uang tersebut terkurangi untuk inilah, untuk itulah. Kalau yang memotong pemerintah, kita bisa apa? So, terimakasih pemerintah.

Dulu pernah ada isu bahwa pemerintah akan memberikan uang pensiuan sekian milyar kepada setiap PNS. Entah benar entah salah, saat itu banyak orang yang mau pensiun dini. Sebab tergiur uang pensiun yang sangat besar. Namun lambat laun, isu itu menghilang. Bayangkan saja bila uang pensiun sekian milyar, siapa yang tidak ngiler coba.

Kedua adalah N (Nyaman).

Siapa sih yang enggak iri dengan PNS? Kerja nyantai. Berangkat atau enggak tetap digaji. Bahkan kalau tidak berangkat berhari-hari atau cuma sebulan tidak masalah. Hanya ada peringatan saja. Mentok-mentok-nya ‘hanya’ surat peringatan (SP). Sebab untuk memecat seorang PNS butuh waktu yang agak lama.

Mau tidak mau, harus diakui bahwa sanksi terhadap PNS kurang greget. Meskipun pemerintah sudah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin PNS, tetap saja banyak yang bolos.

Malah dalam peraturan tersebut sudah diatur tentang kewajiban, larangan dan sanksi bagi setiap PNS. Jelas tertulis ada 3 (tiga) hukuman disiplin bagi pelanggar yaitu hukuman disiplin ringan, sedang dan berat.

Kalau masih sifatnya ringan, maka PNS yang bersangkutan hanya diberikan teguran lisan dan teguran tertulis. Kemudian untuk hukuman disiplin sedang, PNS yang melanggar akan ditunda kenaikan gaji berkalanya. Berapa lama penundaan kenaikan gaji berkalanya?

Menurut peraturan tersebut paling lama 1 (satu) tahun. Di samping penundaan gaji berkala, juga diberlakukan penundaan kenaikan pangkat selama 1 (satu) tahun. Enggak terlalu berisiko, kan? Masih nyaman, kan? Ha … ha ….

Nah, ini yang paling berat; hukuman disiplin berat. PNS yang melanggar disiplin berat, akan dikenai penurunan pangkat setingkat lebih rendah, paling lama 1 (satu) tahun. Di samping itu, pembebasan dari jabatan, pemberhentian dengan hormat dan pemberhentian dengan tidak hormat. Itu pun masih harus dikaji dan dipikir masak masak bila menerapkan hukuman berat.

Biasanya PNS yang terkena hukuman disiplin berat adalah PNS yang tidak masuk selama 3 (tiga) bulan. Bagaimana dengan penyalahgunaan Narkoba dan tindak kriminal lainnya? Sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 11 tahun 2017 tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil (PNS) mengatur tentang pemberhentian PNS secara tidak hormat.

Ada beberapa kriteria kenapa PNS bisa dipecat atau pemberhentian dengan tidak hormat yaitu:

  1. Melakukan penyelewengan terhadap Pancasila dan UUD 45;
  2. Di pidana penjara atau kurungan berdasarkan putusan pengadilan; (di penjara maksimal 2 tahun, maka diberhentikan dengan hormat dan bila lebih dari 2 tahun di penjara maka diberhentikan dengan tidak hormat)
  3. Menjadi anggota dan atau pengurus partai politik;

Peraturan ini berlaku mulai tanggal 7 April 2017 yang lalu. Demikian longgarnya aturan tentang pemecatan seorang PNS, jadi semakin nyaman kan? Jadi kalau PNS menjadi pengusaha atau bekerja di tempat lain, tidak masalah kan? Ya, minimal tidak akan dipecat selama tidak melanggar PP nomor 11 tahun 2017 di atas.

Pernah sih ada peraturan di zaman presiden SBY (Susilo Bambang Yudoyono) yaitu adanya Undang-undang Nomor 5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN) atau PNS. Dalam peraturan tersebut lebih ngeri lagi aturannya. Ada sedikitnya 5 kriteria PNS langsung dipecat, yaitu:

  1. Negara dalam kritis maka PNS langsung dipecat;
  2. PNS berkinerja buruk, langsung dipecat;
  3. 4 tahun PNS tidak menunjukkan kinerja akan dipecat;
  4. PNS nikah siri bakal dipecat;
  5. Tersangkut tindak kriminal, termasuk korupsi.

Demikian ketat peraturan waktu itu, namun lagi-lagi ketegasan dan penegakkannya kurang mengigit. Sehingga masih saja ada PNS yang kinerjanya kurang bagus. Bisa kok, kita lihat sekeliling kita bagaimana PNS yang ada. Apakah sudah menunjukkan kinerja yang baik atau belum? Atau malah jengkel PNS kok enak banget. Kadang berangkat dan kadang enggak. Kadang pulang pagi, kadang berangkatnya siang. Duh, sak karepe dhewe.

Ketiga adalah S (Sukses).

Ini bisa jadi kesan namun tidak bisa dipungkuri menjadi PNS itu kesannya itu mudah dan terjamin. Mau punya apa? Semua instansi atau bank mudah percaya dengan PNS. Mau pinjam uang ke Bank? Bank sangat welcome. Bahkan mereka sering ke sekolah atau instansi pemerintah untuk menyodorkan program pinjaman dengan bunga lunak.

Tidak hanya pinjaman uang, mereka (bank atau dealer) juga menawarkan banyak produk. Mulai dari sepeda motor, mobil, perumahan dan lain sebagainya. Di samping mudah syaratnya, mereka pun melayani dengan cepat. Meskipun mereka umumnya meminta jaminan. Kalau orang umum biasanya jaminannya akta tanah, maka kalau PNS “hanya” surat pengangkatan PNSnya.

Dengan jaminan selembar surat keterangan PNS tersebut, seorang PNS bisa meminjam uang sampai ratusan juta. Begitu mudahnya. Dengan satu catatan, kepala sekolah atau pimpinan sekolah memberikan izin. Namun mana ada sih pimpinan yang melarang bawahannya mengajukan pinjaman? Toh, itu masalah pribadi, yang penting dibayar kan?

Begitu mudahnya PNS mencari pinjaman dan mendapatkan barang-barang mewah, menyebabkan kehidupan PNS terkesan sukses. Harta benda yang dimiliki dari rumah, kendaraan dan perhiasaan seolah mengindikasikan bahwa PNS tersebut telah berhasil dan hidup berkecukupan. Bahkan untuk pergi umrah dan haji pun, mereka begitu gampang. Sebab penghasilan yang cukup dan kemudahan fasilitas tersebut.

Meskipun hal di atas tidak seratus persen benar. Sebab ada juga PNS yang hidup sederhana atau mungkin juga tidak mendapat tambahan gaji yang lain. Namun secara materi, PNS sekarang ini cukup berlimpah. Setiap tahun pemerintah selalu menaikkan gaji PNS. Malah tahun depan kenaikan gaji PNS sampai 10%. Apa tidak menyenangkan?

Itulah ketiga alasan kenapa seseorang ingin menjadi PNS. Mungkin masih banyak alasan yang lain. Namun menurut penulis, tiga alasan di atas yang paling dominan. Setidaknya tiga alasan tersebut (Pensiun, Nyaman dan Sukses) yang sering disampaikan orang-orang di sekitar penulis. Kalau masih ada orang yang tidak suka menjadi PNS, tentu dia mempunyai alasan yang lain.

Harapan penulis sih, kalau sudah menjadi PNS bekerjalah sebaik mungkin sehingga kesan PNS yang malas dan etos kerjanya lelet sirna. Ya, minimal bekerja sesuai Tupoksi (Tugas Pokok dan Fungsi) dan kalau bisa berikan pelayanan prima (excellent service) kepada siapa pun yang membutuhkan. Semoga.

Oleh: Joko Sulistya.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: