If you have a heart, frame your heart to say, “The best for IPS!

“Aduh jadwalku siang ini di kelas XII IPS nih …”

“Mengapa aduh sih? Seharusnya ucapkan alhamdulilah … panas-panas seperti ini aku harus tetap semangat masuk di kelas XII IPS. Kan lebih adem rasanya.”

Kebanyakan guru semangat dan antusias sekali ketika akan masuk ke kelas IPA. Baik itu kelas X, XI maupun kelas XII. Gilirannya masuk kelas IPS, banyak alasan yang muncul. Mulai sibuk keluar kelas dengan alasan fotocopy soal ulangan harian sampai ngeprint perangkat pembelajaran di ruang guru.

Jadwal masuk kelas jadi tertunda beberapa menit. Ada juga yang masuk kelas sebentar kemudian keluar lagi dan melanjutkan obrolan di ruang guru. Jam berakhir kurang sepuluh menit baru masuk lagi. Menutup pelajaran dan memberi pekerjaan rumah ataupun menutup pelajaran dengan mengabsen siswa. Selesai, pulang deh.

Image negatif anak-anak IPS masih melekat dari zaman dahulu hingga zaman now. Dari segi komparasi, masih banyak guru yang masih suka membanding-bandingkan antara anak IPA dan IPS. Ujung-ujungnya memandang sebelah mata anak-anak IPS. Sedangkan dari segi kenyamanan, masih banyak guru yang merasa kurang nyaman ketika mengajar di kelas IPS.

Hal itu berimbas pada banyaknya kesulitan yang ditemui guru dalam pengelolaan di kelas IPS. Program IPS menjadi pilihan terakhir sehingga identik dengan kelas buangan. Kelasnya anak nakal dan malas. Kelas yang suka bikin onar dan bikin heboh.

Image mereka di pandang sebelah mata baik di dalam lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolah. Ironis sekali memang, tapi itulah realita yang terjadi pada sebagian sekolah di negara kita. Lalu pertanyaannya, siapakah sebenarnya yang membuat image miring seperti itu? Dan siapakah yang bisa mengubah image tersebut?

Lha wong pihak sekolah lebih mengutamakan anak IPA dalam hal prestasi. Contohnya kuota delegasi olimpiade MIPA lebih banyak dibandingkan kuota olimpiade ekonomi. Bahkan masih banyak orang tua yang menganggap bahwa jurusan IPS dianggap kurang penting. Terbukti dengan seringnya memaksakan kehendak mereka kepada anaknya agar anak-anaknya masuk program IPA.

Sebenarnya tidak memaksa sih, tetapi terkadang kurangnya pemahaman out put dari jurusan IPS. Apalagi mengenai pilihan fakultas dan prodi yang terkesan bahwa anak IPA lebih banyak pilihannya dibanding anak IPS.

***

Ini adalah kisah inspiratif yang merupakan jihad anak-anak IPS dalam menunjukkan eksistensi mereka. Perjuangan merubah image miring menjadi tujuan utamanya. Berkat dukungan dari berbagai pihak, mulai dari kepala sekolah, wali kelas dan guru-guru yang lainnya. Perubahan sekecil apa pun yang mereka lakukan harus kita hargai walaupun hanya dengan ucapan terimakasih. Ucapan, “tetap semangat ya!” atau acungkan dua jempol bagi mereka. Hal itu sangat berarti dan membawa makna tersendiri bagi mereka.

Queensa adalah sosok ketua kelas XII IPS1 yang disegani. Meskipun dia perempuan, tapi dia mampu mengompakkan kelasnya. Sosok yang power full ini bisa membuat teman-temannya mendukung semua programnya. Program yang positif, tentunya. Bukan program bolos bersama atau program abal-abal lainnya.

Semenjak kelas X dia sudah bergabung dalam ekskul PASKIBRA di sekolahnya. Satu-satunya anggota paskib yang bisa mewakili sekolahnya di tingkat kabupaten. Perwakilan anggota paskib perempuan, maksudnya. Postur tubuhnya tinggi tegap didukung kewibaan dibalik paras cantiknya, membuatnya semakin power full.

Dia yakin dia bisa menjadi power of chance di kelasnya. Termotivasi dari ucapan salah satu gurunya, “ibda’ binafsik” semakin memantapkan niatnya untuk mengubah image miring kelas IPS.

Queensa memilih masuk program IPS adalah keinginannya sendiri. Meskipun dari segi nilai akademiknya bagus, tetapi orang tuanya memberinya kebebasan dalam memilih jurusan. Ketika dia masih di kelas X, dia ingin membuktikan kepada semua pihak yang ada di sekolahnya, bahwa IPS is the best. Atas saran wali kelasnya, dia mencari dukungan dan motivasi dari semua guru yang mengajar di kelasnya.

Dia mulai memetakan beberapa potensi yang dimiliki teman-teman dikelasnya. Memetakan temannya yang punya kelebihan di bidang akademik maupun non akademik. Selain itu dia mulai melirik kelas IPS yang lainnya, karena kelas X ada empat kelas. Usaha tersebut dilakukan dengan menggandeng masing-masing ketua kelas X IPS yang lainnya.

Queensa tidak berani meminta dukungan kepada kakak kelasnya. Alasan senioritas yang belum keluar dari zonanya. Sungkan, istilahnya. Karena dia ingin memulai perubahan dari teman-teman seangkatannya. Hasil pemetaan yang telah dia lakukan selama satu semester membuahkan hasil. Ada kelompok akademis dan non akademis. Masing-masing ada koordinatornya.

Kelompok akademis difokuskan untuk mengikuti olimpiade. Mereka difasilitasi dengan mengikutkan bimbel. Dengan mendapat restu dari wali kelasnya, akhirnya program bimbel pribadi dihandle guru yang mengajar di kelasnya. Maklum bimbel di luar sekolah, mahal administrasinya.

Queensa yang dibantu oleh koordinator bidang potensi non-akademis telah berhasil merealisasikan programnya. Terbukti dia sudah berhasil membuat club bola voly, club basket, dan club sepak bola. Dari keempat club tersebut, ketika di sekolah, latihannya bergabung dengan ekskul. Pada hari libur dan hari-hari tertentu, pulang sekolah, mereka latihan sendiri di luar sekolah.

Di bidang seni ada kelompok teater, jurnalis dan musik serta paduan suara. Kelompok ini latihannya tetap bergabung dengan kelas lainnya,dalam wadah ekskul, begitu juga dengan PASKIBRA. Tetapi masing-masing anggota harus menunjukkan keaktifannya dan kelompoknya. Dengan keaktifannya tersebut akhirnya bisa mendominasi masing-masing kegiatan ekskul tersebut.

Dalam waktu satu tahun, usaha Quensa dan timnya, membuahkan hasil yang cukup amazing. Ada beberapa prestasi olimpiade di tingkat propinsi. Club bola voly mewakili sekolah untuk mengikuti tournament di tingkat kabupaten. Sementara itu club basket diajak joint dengan club basket di salah perguruan tinggi negeri.

Sedangkan club sepakbola anggotanya banyak masuk di tim sepak bola kabupaten. Prestasi yang mereka raih menunjukkan kegigihan mereka dalam kegagalannya. Intinya mereka pernah gagal juga sebelum meraih prestasi. Untuk grup paduan suara, yang awalnya pesertanya campur, lama-kelamaan didominasi oleh kelas IPS. Dari tiga puluh peserta, dua puluh lima dari kelas IPS. Sehingga grup paduan suara tampak dihuni oleh kelas IPS saja.

Lambat laun pihak sekolah mulai mengakui eksistensi dan prestasi anak-anak IPS. Image kurang baik anak-anak IPS perlahan mulai pudar. Dan aktivitas mereka membuat hidupnya lebih bermakna. Kesempatan melakukan perbuatan yang kurang baik semakin sedikit. Kesibukan dalam mengembangkan hobinya, bisa meminimalisir kenakalannya.

Ketika Queensa naik ke kelas XII, statusnya sebagai ketua kelas semakin memantabkan pengembangan programnya. Dia dan kawan-kawan bisa merangkul adik-adik kelasnya untuk lebih aktif. Bisa mensinergikan potensi adik kelasnya dan kakak kelasnya. Kini Queensa akan segera meninggalkan sekolahnya. Dia disibukkan dengan persiapan ujian akhir dan tes masuk perguruan tinggi. Salut banget buat Queensa and the best for you.

***

Sebenarnya siswa-siswi banyak enjoynya ketika memilih jurusan IPS. Karena tanpa ada paksaan dan tekanan dari pihak sekolah maupun keluarga. Sebenarnya kondisi enjoy tersebut bisa menstimulus mereka untuk bisa lebih meningkatkan potensinya. Permasalahannya terkadang mereka bingung dan belum tahu potensinya. Sementara itu orang tua di rumah kurang memotivasi mereka.

Begitu juga sebagian wali kelas dan sebagian guru juga belum mengetahui potensi masing-masing individu. Yang terdeteksi cuma prestasi akademik yang tercover dari nilai raport mereka. Dan nilai non-akademis yang tercover dari pilihan kegiatan ekskul di sekolahnya. Semua itu membutuhkan pendekatan individu yang interaktif dan intens sehingga kita bisa mengetahui potensi non-akademis mereka.

Kini saatnya kita harus bisa mengapresiasi makna sebuah perubahan. Perubahan sekecil apa pun harus kita hargai, apa pun bentuknya. Tetap positif thinking dan memotivasi mereka. Semua itu bisa kita frame dalam hati. Tetap berinteraksi dengan santun dan istiqamah. Kelak energy positif anak-anak IPS akan mengalir seperti air. Membawa ke masa depan mereka yang lebih bermakna. Tentunya dukungan dan doa yang harus kita sinergikan  untuk mereka. Agar selalu bisa berucap, the best for IPS!

Oleh: Siti Zaenab.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: