Yakin kamu mau nikah sama dia?

Yakin kamu bisa bahagia hidup sama laki-laki itu?

Yakin mau ngelepas cintamu yang nggak sebentar itu?

Dua tahun lalu pertanyaan itu dan beberapa pertanyaan yang meragukan keputusanku datang dari teman-teman dekatku. Mereka nyaris tidak percaya dengan apa yang kuceritakan. Tidak heran sih kalau mereka tidak percaya dan ragu atas kabar baru dariku yang akan segera menikah. Sebab aku akan menikah dengan laki-laki yang sama sekali belum aku kenal.

Keputusanku saat itu disebabkan oleh melesetnya janji seseorang yang sudah bertahun-tahun kukenal. Melesetnya tidak hanya sehari atau seminggu, tapi hampir dua bulan. Dan dengan alasan yang tidak masuk akal.

Tidak masuk akal, begitulah kata kedua orangtuaku setelah mendengar alasan-alasannya dariku. “Kalau dia memang serius, harusnya dia segera nepati janjinya sama kamu untuk bertemu Bapak-Ibu. Ya setidaknya bertemu kami dulu dan menyampaikan niat baiknya itu. Masalah kapan nikahannya kan bisa dimusyawarahkan.”

Kupikir-pikir apa yang dikatakan Bapak memang benar. Tapi, aku masih terus berusaha meyakinkan Bapak-Ibu kalau dia (sebut saja Ali) serius padaku.

“Insya Allah, Mas Ali pasti ke sini kok, Pak. Mut sudah kenal dia lama. Dan dia bukan tipe laki-laki yang ingkar.” Belaku.

Bapak geleng-geleng kepala, “Nggak ingkar gimana ini? Berapa kali kamu dibohongi? Besoknya Ali itu besok kapan?”

Aku nggak tahu mesti jawab apalagi. Besok yang dijanjikan Mas Ali memang selalu meleset. Sering dalam diam dan kesendirian aku mencari jawaban seorang diri. Kata-kata Bapak-Ibu membuatku menyimpulkan kalau Mas Ali PhP in aku.

Sadar digantung, aku benar-benar merasa perempuan paling bodoh. Apalagi adik perempuanku kerap menggodaku dengan kalimat yang kecut. “Orang pintar tapi dibohongi dan digobloki orang ya Mbakku. Apa bedanya Mbak sama anak SMP/SMA yang hampir setiap hari nangis gara-gara cinta?”

Aku merasa tertampar dengan ucapan Adikku. Akhirnya, kuberanikan diri bertanya dan minta kepastian dari Mas Ali. Meskipun, saat itu aku nggak siap dengan apa jawabannya.

“Kapan ke Malang? Jadi apa nggak Mas Ali bertemu Bapak-Ibu?”

“Insya Allah minggu depan, Dek. Mas nunggu KTP jadi. Ngurus KTP baru soalnya yang lama hilang.”

Aku yang semula bimbang kembali yakin kalau Mas Ali akan datang. Dan aku pun berusaha meyakinkan Bapak-Ibu juga.

“Ya sudah. Tapi, kalau sampai meleset lagi, kamu harus menyudahi lo, Nduk. Jangan mau terus-terusan digantung kayak gini.” Ujar Ibu.

Aku mengangguk terpaksa. “Kalau kali ini meleset lagi, Nduk mau kok dijodohin, Bu.” Kataku pasrah.

Menunggu dan menunggu kepastian adalah rutinitas baruku selain menjadi seorang kasir di salah satu swalayan di dekat alun-alun desa. Aku benar-benar kecewa dan nyerah. Lagi-lagi Mas Ali ingkar. Dia nggak juga datang ke rumah. Jangankan datang, laki-laki yang telah memberiku harapan itu jarang mengirimkan kabar.

“Kalau ada yang pasti kenapa nunggu yang nggak pasti?” tanya Bapak suatu malam.

“Tapi, kan …?”

“Nggak kenal? Nggak cinta?” potong Bapak dengan pertanyaan yang memang akan kukatakan.

Aku hanya mengangguk lemah tanpa berkata apa-apa. Rasanya liurku mengering dan aku tidak bisa menyuarakan apa yang ingin kukatakan.

“Dengar, Nduk. Mungkin dia tidak setampan laki-laki yang sedang kamu tunggu. Mungkin juga dompetnya nggak setebal laki-laki pujaanmu. Tapi dia jantan, nggak kacangan.”

Perkataan Bapak membuat pikiranku melayang pada sesosok laki-laki asing yang datang ke rumah tiga hari lalu; kurus-tinggi, hitam tapi bersih. Berbeda dengan Mas Ali yang tinggi-besar dan berkulit kuning.

“Bapak yakin dia amanah. Insya Allah dia bisa jadi pengganti Bapak yang benar-benar mampu menjagamu, Nduk.”

Aku benar-benar galau. Aku meminta pendapat Ibu melalui tatapan. Dan Ibu mengangguk. Itu artinya Ibu setuju dengan apa yang Bapak katakan.

“Tapi, Pak …”

“Ibu dulu juga nggak kenal sama Bapakmu. Sama sekali nggak kenal. Nggak cinta juga. Tapi, Ibu bisa punya anak cantik-cantik dan bahagia.” Potong Ibu yang berusaha meyakinkanku pada sosok asing itu.

Nduk minta waktu.”

“Iya, Nduk. Nggak perlu buru-buru. Libatkan Allah dalam setiap urusan Insya Allah kamu dapat yang terbaik. Istikharah dulu.”

Dalam kebimbangan yang bercampur kecewa aku mengadu pada Allah usai sujud terakhir saat isya’. Beginikah rasanya pacaran yang bahagianya sesaat saja? Inikah buah dari melanggar apa yang Allah larang? Inikah awal dari kebahagian untuku atau aku tidak berhak bahagia? Sederet pertanyaan yang sebenarnya aku tahu jawabannya.

Ya Allah, kukembalikan hatiku pada-Mu. Aku tidak akan mengulangi menyakiti hati ini lagi. Siapa yang terbaik untuk memiliki dan menjagaku hanya Engkau yang tahu.

***

Seminggu setelah laki-laki asing bernama Lukman itu datang, aku mengambil keputusan. Keputusan terbesar yang kuambil untuk satu masa depan. Aku mengatakan pada Bapak-Ibu bersedia menerima lamaran Mas Lukman. Ya, aku memutuskan menerima Mas Lukman bukan karena cinta tapi bermodalkan keyakinan. Aku yakin Allah kasih yang terbaik buatku.

“Insya Allah suatu hari Mbak akan bersyukur memilih Mas Lukman sebagai suami. Allah nggak pernah salah memilih dan memasangkan hamba-Nya. Niatkan semua untuk ibadah, Insya Allah pernikahannya penuh berkah. Bahagia pastinya.”

Nasihat dari salah seorang adik jauh yang sangat positif itu telah menambah keyakinanku. Aku mantap menerima Mas Lukman sebagai teman hidupku. Pernyataan teman-teman yang meragukan keputuskanku terpendam oleh doa-doa terbaik dari orang-orang yang mengasihiku sepenuh hati.

Kini, dua tahun sudah aku hidup bersama Mas Lukman. Dan aku bahagia sekalipun saat menikah denganya sama sekali tidak ada rasa cinta. Kami tidak pacaran. Kenal pun tidak. Memang awalnya masih terasa berat menerima kenyataan dan benar-benar tidak mudah untuk mencintainya. Tapi, aku pasrah sama Allah, aku melakukan semua dengan niatan ibadah.

Pepatah jawa yang berbunyi ‘tresna jalaran saka kulina’ itu benar adanya. Cinta itu telah hadir dengan sendirinya disebabkan terbiasa. Ya, terbiasa hidup bersama. Melalui suka duka bersama. Apa-apa dilakukan bersama. Terus belajar untuk memahami dan melengkapi bersama. Dan itu indah.

Aku juga besyukur memiliki teman hidup seperti Mas Lukman. Laki-laki tanpa orangtua itu sangat memahami, menyanyangi dan mencintaiku. Apa yang dikatakan Bapak saat aku ragu kala itu benar. Mas Lukman bisa menjaga dan membahagiakanku. Dia tidak pernah ingkar.

Jadi, yang bilang nikah tanpa pacaran nggak bisa bahagia itu nggak benar. Malah pacaran setelah menikah itu bahagianya Masyaa Allah. Buktikan sendiri, deh. []

Oleh: Isti Syarifah.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: