TADINYA saya tak pernah tahu, ada orang-orang yang bekerja dalam sempitnya kesempatan untuk menumbuhkan mimpi-mimpi orang lain. Mimpi yang diinginkan oleh banyak orang, tapi biasanya memerlukan kocek tebal, yaitu belajar bahasa Inggris. Di sini, beliau menggabungkan sedekah ilmu tentang lingkungan dengan impian belajar bahasa Inggris.

Kursus Bahasa Inggris yang beliau adakan berbayar namun gratis. Loh, bayar atau enggak, sih?

***

Kala itu, saya dan suami tergopoh-gopoh datang ke sekolah anak. Kami telat! Acara panggung seni sedang berlangsung. Seorang MC (Master of Ceremony) sedang asyik menjelaskan acara yang dipandunya. Sekilas, kulihat ada sesuatu di tangannya. Loh, itu kan sedotan bambu!

Semenjak pindah kontrakan, saya dan suami benar-benar harus diet plastik. Bukan karena edukasi yang pernah kami terima tentang sampah yang dihasilkan dan lainnya, tapi lebih pada keterpaksaan. Dan dari hal inilah, kami dipertemukan dengan orang-orang yang peduli akan sampah. Salah satunya beliau ini.

Sedotan bambu yang mengantarkan kami kepadanya menjadi kunci. Saya pribadi akhirnya bisa membuka lebih banyak hal yang beliau kerjakan selama ini.

“Kami sudah tidak membuang sampah kami lagi selama enam tahun ini, Mbak,” tutur beliau usai menjadi MC di sekolah anak kami.

Ada daya magnet tersendiri dari bapak empat orang anak ini saat beliau menjelaskan tentang sampah yang dihasilkan dari rumahnya. Tak hanya untuk diri dan keluarganya, anak-anak di sekeliling rumahnya juga beliau tularkan ilmu persampahan dengan cara yang fun.

Dulu, beliau hanya membagikan apa yang sudah dikerjakan. Namun, karena kini sudah terpatri dalam dirinya, dalam ranah apa pun beliau akan selalu menyelipkan hal-hal tentang sampah. Ada satu hal yang unik, yang beliau bangun di depan rumah, sekaligus homestay holistik minim sampah miliknya, yaitu: kelas Kamis Inggris dengan membawa sampah. Loh, ngapain bawa-bawa sampah?

Mari kita mundur sejenak ke tahun 80-an. Seorang anak laki-laki berseragam putih biru baru saja pulang dari sekolahnya. Bersama beberapa teman, mereka berjalan kaki menuju rumah masing-masing. Dari kejauhan, ada seorang bule celingak-celinguk di atas motornya. Dia tersesat dan tak tahu arah jalan pulang.

Teman-teman anak laki-laki tadi mendorong badannya, lalu bilang,”Dah, sana itu loh, bantuin.” Tadinya, anak laki-laki itu bingung, bagaimana bisa membantu dengan bahasa Inggrisnya yang pas-pasan. Namun, akhirnya dia berani mencoba.

Ajaib!

Anak laki-laki tadi merasakan kepuasan yang tak terkira setelah memulai percakapan. Bule tersebut paham dan sangat berterima kasih atas bantuan kecilnya. Keajaiban itu adalah berbagi dalam bentuk pertolongan.

Nah, karena kejadian itu, anak laki-laki tadi semakin menggebu belajar bahasa Inggris. Dia pikir, dia bisa lebih paham kalau dia mengambil pelajaran tambahan di luar sekolah. Di sekolahnya, bahasa Inggris sudah bertransformasi menjadi language interference. Bisa dibilanng, bahasa Inggrisnya medok dengan dialek Jawa kental.

Maka, dia coba mencari tempat kursus bahasa Inggris yang dituturkan asli oleh pembicaranya. Namun, sayang sekali, biaya kursus itu bahkan lebih mahal dari biaya sekolahnya. Dia akhirnya harus membunuh mimpinya di sana.

Pembunuhan mimpi inilah yang membuat si anak SMP—yang sekarang sudah memasuki usia setengah abad—menyesal. Namun, penyesalan akan terus menjadi penyesalan jika dia tidak berbuat sesuatu. Dengan modal ilmu yang beliau punya, kursus bahasa Inggris dibuka hanya dengan biaya sampah kering. Beliau bernama Josh Handani.

Ya, sampah yang kita yakini sebagai sesuatu yang pantas dibuang, dapat disulap oleh beliau menjadi alat pembayaran untuk belajar. Sampah-sampah akan dikumpulkan dan dijual kepada pengepul. Hasilnya, beliau belikan bahan-bahan bangunan untuk gedung kecil di depan rumahnya. Gedung itulah tempat Kamis Inggris berjalan.

Lalu, apakah semua berjalan baik-baik saja saat beliau membangun mimpi tersebut?

Awalnya, beliau menggerakkan anak-anak sekitar rumah barunya di Gesing, Kasongan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tahun 2011 adalah masa awal beliau membangun mimpi. Membeli sepetak tanah penuh sampah di pinggiran sungai adalah awal perjuangannya bersama keluarga kecilnya. Ular sering beliau temui di sekitar rumahnya, bahkan di dalam rumah.

Untungnya, beliau memiliki banyak teman yang sudah berkecimpung dalam konservasi lingkungan. Ular tak dibunuh, hanya disingkirkan dengan memelihara anjing keluarga. Anjing akan menyalak saat bertemu ular. Lalu, Pak Josh hanya akan memindahkan ular tersebut ke habitatnya. Kini, sudah dua tahun beliau tak pernah melihat ada ular yang bermain di sekitar rumahnya.

“Saya sangat suka anak-anak, Mbak,” tutur Pak Josh saat saya bertanya apa alasan membangun mimpi ini. Tiap hari Minggu, beliau mengajak anak-anak sekitar untuk belajar bareng. Belajar lingkungan. Awalnya, mereka hanya bermain bersama dengan menyelipkan informasi pengelolaan sampah secara sederhana. Seperti mencari benda tak terpakai yang sudah dibuang oleh warga, lalu benda tadi—misalnya gerabah bekas—dibuat tempat sampah sendiri dan ditaruh di jalan-jalan kampung.

Namun, para orangtua anak-anak tersebut tak ‘melepas’ mereka begitu saja. Bergaung anggapan kalau belajar sampah itu tak perlu. “Ngapain ngaji sampah, udah ngaji di masjid, kok.” Begitu alasan para orangtua yang melarang anaknya untuk ikut belajar sampah. Sorot mata anak-anak yang sangat ingin belajar membuat beliau sedih.

“Persoalan sampah memang terkadang seperti persoalan agama, Mbak. Sensitif. Apalagi budaya masyarakat sini yang sudah mendarah daging. Tidak mau diatur oleh saya yang masih muda, pendatang lagi.”

Maka, setelah banyak anak-anak yang tidak bisa meneruskan belajar sampah, dengan segala yang beliau punya, beliau mencoba membuat cara lain. Kamis Inggris jawabannya. Kursus bahasa Inggris yang beliau pakai ilmu neurolingusitik agar anak dan orang dewasa bisa dicampur. Kelas ini menjadi kelas transformasi mengolah sampah yang soft, tapi dengan belajar bahasa Inggris. Ya, bayaran dengan membawa sampah itu.

Kelas ini tetap berjalan untuk menjaga semangat anak-anak yang ingin terus belajar. Tak hanya anak-anak, saat ini malah ada orang dewasa yang juga ikut bergabung. Kelasnya fun dengan melakukan kegiatan, misalnya cooking class dengan berbahasa Inggris secara full.

“Pesertanya paling jauh dari Muntilan, Mbak.” Wow, saya merinding saat beliau menjawab peserta terjauh. Oh ya, for your information, kelas Kamis Inggris diadakan malam hari karena ketersediaan waktu Pak Josh. Pak Josh juga merelakan proyektor yang dia punya untuk nonton film berbahasa Inggris. Semua biaya dan tenaga beliau keluarkan untuk membangun mimpi yang dulu pernah beliau kubur.

Dulu, Pak Josh belajar lebih banyak setelah lulus SMA di FKIP Bahasa Inggris Universitas Tidar Magelang. Ada seorang bule—klien jasanya—yang menghadiahi kamus bahasa Inggris, Semangatnya lebih berkobar. Setiap malam, beliau belajar untuk lebih mendalami bahasa Inggris.

Sering pulang malam untuk belajar listening di losmen milik teman, beliau lakukan. Menjadi penjaja asongan jasa, juga tour guide, menjadi awal masuknya beliau belajar bahasa Inggris sesungguhnya. Pernah beliau harus berjalan 14 km dari Borobudur ke Muntilan untuk belajar. Dan hasilnya itu bisa beliau bagikan kepada peserta Kamis Inggris sekarang.

Bagi beliau, sedekah ilmu adalah sedekah yang paling mendasar. Beliau memang bukan orang berada, namun semangat beliau menularkan ilmu bahasa juga selipan tentang pengolahan sampah selalu berkobar. Dulu, peserta kelas Kamis Inggrisnya selalu sulit mengucapkan kata-kata dengan benar. Misalnya saja building.

“Bu-il-ding,” tutur salah satu peserta saat membaca tulisan di papan tulis.

“No. It’s ‘bildiNG,” kata Pak Josh mengoreksi.

Nyatanya, setelah belajar dengan konsisten, peserta tersebut berhasil ingat untuk mengucapkan kata building dengan benar.

“Kalau saya, jarang menanyakan hasil mereka. Saya lebih suka melihat progress, Mbak. Tapi memang, saya mendengar pengucapan mereka menjadi lebih baik daripada kelas awal,” kata Pak Josh saat saya bertanya prestasi apa saja yang sudah berhasil mereka raih.

Ke depannya, Pak Josh memiliki mimpi lain yang lebih besar. Sawah berukuran 400 meter persegi yang beliau punya, akan dibuat menjadi laboratorium lingkungan beratap joglo. Sekolah lingkungan adalah tajuk utama yang beliau bawa. Beliau bermimpi ingin mempunyai tempat belajar di joglo tersebut seluas 100 meter persegi. Sisanya, luas sawah akan dia jadikan proyek pertanian organik sekaligus mengedukasi petani setempat. 

Untuk sedekah ilmu ini, masih ada kelas yang ingin beliau buat, yaitu Selasa Jawa. Hanya saja, untuk mencari pengajar yang bisa komitmen seminggu sekali masih menjadi kendala. Kini, belajar Inggris gratis di hari Kamis sudah bebas sampah. Pak Josh sudah tidak membebankan peserta untuk membayar dengan sampah.

Beliau punya paham bahwa bank sampah tak harus terus menerus berjalan, karena akan menjadi candu. Saat peserta kursus itu telah paham apa arti sampah dan pengolahannya, beliau sudah memutuskan untuk mengajar gratis sampai saat tulisan ini dipublikasikan.

Tak harus memiliki sesuatu dahulu untuk bergerak. Kebahagiaan atas diri sendiri pun, bisa layak kita bagikan. Sedekah ilmu tak harus menjadi orang nomor satu. Saya teringat lagi pesan beliau, bahwa tak ada yang namanya pemula. Yakini saja bahwa belajar bisa dengan mengajar. Bahwa memberi bisa dalam bentuk apa pun, selama kita mau membagikannya.

Oleh: Dhita Erdittya.

Ilustrasinya dari sini.

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: