Ada gula ada semut, begitu kata pepatah lama. Pepatah kekinian mengatakan begini: mencari kawan bersuka mudah, mencari kawan berduka lengka.

Tak bermaksud nyinyir, masih ingat kan sama Setya Novanto? Yes, beliau kini sedang menjalani rangkaian sidang pengadilan kasus korupsi e-KTP yang sempat bikin geger negeri ini.

Jika dilihat-lihat kini, ke mana ya orang-orang yang selama ini getol banget menemani, mengawal, dan membelanya sedemikian heroiknya?

Ada Robert Kardinal, Roem Kono, Freddy Latumahina, Yahya Zaini, hingga Azis Samual. Tentu jangan lupakan nama Aziz Syamsudin, Idrus Marham, dan Nurul Arifin.

Mereka tak pernah kelihatan lagi di sekeliling Setya Novanto. Ke mana ya mereka semua?

***

Bukan hak saya untuk mengatakan bahwa apa yang menimpa Setya Novanto kini merupakan titik balik dari istidrajnya selama ini. Masih ingat istidraj, kan? Itu lho, keadaan kamu sedang jaya, mapan, kondang, terhormat, padahal kamu rajin kufur, ingkar, dan bermaksiat kepadaNya.

Sekali lagi, ini bukan mengklaim Setya Novanto telah diistidraj oleh Allah. Itu ndak penting digunjingkan, cukuplah selalu jadi rahasia Allah.

Tetapi saya sengaja menukil jalan hidup beliau dalam maksud untuk menunjukkan betapa Maha Kuasa betul Allah untuk mengubah keadaan, siapa pun, bahkan dalam kondisi yang tak pernah terbayangkan. Siapa membayangkan Setya Novanto akan terbalik sebegitu rupa? Tak ada. Semua merasa beliau kuat, kokoh, jenius, tak tersentuh.

Allah mengubah semua itu semudah-mudahnya. Maka, tak perlulah kita berputus asa dari pertolongan Allah, dalam keadaan apa pun, kapan pun. “Wa la taiasu min rauhilllah innahu la yaiasu min rauhillah illal qamul kafirun, janganlah berputus asa dari pertolngan Allah, seungguhnya hanya orang kufur yang berputus asa dari pertolongan Allah.”

Jika Allah bisa membalikkan kejayaan jadi kejatuhan, hal sebaliknya pun sangat bisa diterjadikanNya. “Qulillahumma malilal mulki tu’til mulka man tasya-u wa tanzi-ul mulka min man tasya-u, katakanlah bahwa Allah adalah Raja Diraja segala kekuasan, Engkau memberikan kejayaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki dan mencabut kejayaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki.”

Berikutnya, bahwa kenyataannya suasana jatuh, hampa, lemah, sunyi memanglah jauh lebih kondusif untuk membuat hati seseorang memasuki jagat permenungan, penghayatan, alias tafakkur dan tadabbur. Kesendirian dalam keterbatasan—sebutlah di dalam ruang tahanan macam yang tengah dialami Setya Novanto kini—amat jauh lebih memungkinkan untuk menghantar kita lebih dekat kepada Allah, bersimpuh mohon ampunanNya, serta menyadari dan menyesali segala khilaf yang telah dilakukan.

Uzlah, begitu istilahnya, keadaan menyepi, menyendiri, dalam serba keterbatasan. Boleh jadi kita semua bisa mendapatkan suasana kondusif uzlah itu melalui lelaku menyingkir dari keriuhan dan kepikukan kota, pekerjaan, sekolah, kampus, dan sejenisnya.

Bila biasanya kita sarapan tinggal menyendok, minum tinggal mendekat ke dispenser, mandi tinggal putar kran, tidur tinggal menggeletak, maka dalam suasana beruzlah kita akan mengarungi model hidup terbatas, ala kadarnya, yang sangat potensial membuat kita lebih peka untuk mampu mensyukuri segala nikmatNya dan mengistighfari selama pongah dan kufur kita selama ini.

Jika kita memahami urgensi ketersambungan batin, iman, kesadaran, pengakuan, dan kebersyukuran kepada hanya Allah, niscaya keterbatasan-keterbatasan fasilitas duniawi yang kita genggam sama sekali bukan persoalan. Bahkan menjadi jalan ampuh untuk senantiasa merawat ketersambungan rohani itu.

Maka, semestinya, orang yang pada suatu masa dijatuhkan oleh Allah dari kursi mewahnya selama ini justru mampu mensyukuri keterbalikan itu sebagai pertolonganNya, bukan petaka dan akhir dari segalanya. Sebab boleh jadi bila tak pernah dijatuhkan, dinolkan, perilaku maksiatmu, mungkarmu, dan kufurmu selama di panggung kemilau itu tak pernah disadari lagi sebagai dosa, keburukan, mengundang azab Allah, malah menjadi-jadi.

Bisa saja bila tak pernah dikurangi atau dihilangkan segala fasilitas nimatNya selama ini, kita akan terus berselubung dengan istidraj-istidraj sampai mati. Jika benar itu yang terjadi, tiadalah lagi waktu untuk memperbaiki diri, bertaubat, dan menyicil amaliah-amaliah kebaikan yang amat dicintaiNya.

Tak usahlah meratap atas suatu kehilangan, kejatuhan, keterbalikan hidup yang material ini. Syukuri saja segala apa yang terjadi. Niscaya senantiasa ada Tangan Allah di balik segala kejadian, termasuk perginya para sahabat dan kolega yang berkerubung di kala kita bersinar, gemerlap, dan bermandikan cahaya duniawi.

Allah ternyata selalu merupakan ‘Sahabat Terbaik’ kita, ya, tumpuan dan sandaran terhakiki kita, kapan pun, dalam keadaan apa pun, dan di manapun. Bila sahabat dalam suka kita bisa hengkang kala kita tumbang, Allahlah yang selalu ada dan merangkul kita sepenuh Cinta untuk kembali pulang ke rumahNya meski kita rajin sekali melupakanNya bila lagi senang.

Dalam duka, sungguh tiada lagi kehakikian yang paling hakiki kecuali Allah.

Semoga kita semua bisa menjadi insan yang selalu mengingatNya bukan hanya dalam duka, tapi pula suka.

Oleh: Edi AH Iyubenu.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: