Siapa Sih Sebenarnya Para “Penghina” Azan Itu?

Ada kisah menarik ini, bisa jadi kalian pernah mendengar cerita ini. Jadi suatu hari, orang-orang dikagetkan oleh suara azan yang terdengar pukul delapan pagi (mungkin di kisah lain disebutkan azannya pukul sepuluh atau dua siang).

“Gila!” kata seseorang, “siapa yang azan jam segini?”

Suara azan itu pun masih terus terdengar. Maka orang-orang pun berduyun-duyung pergi ke masjid. Mereka melihat seorang laki-laki paruh baya sedang azan di sana. Lalu salah seorang dari mereka langsung menghentikan orang tersebut.

“Hentikan!” kata salah seorang warga.

“Ada apa?” tanya muazin itu.

“Kau gila? Ini jam berapa? Kenapa azan jam segini?”

“Aku tidak gila, kalian yang gila.”

“Kok kami?”

“Karena saat waktu salat tiba, aku azan, tapi kalian tidak datang. Sekarang bukan waktunya salat, aku azan, tapi kenapa kalian datang?”

Mendengar jawaban muazin tersebut, orang-orang pun diam, kemudian mereka bubar sendiri-sendiri sambil menahan pilu di hati.

***

Ah, tentu saja kisah itu fiktif. Karena sejauh ini, saya belum menemukan sumber otentik dari keaslian kisah itu. Namun, bagi saya pribadi, kisah itu sangat menampar dan menjadi pengingat dikala lalai.

Lantas, siapakah sebenarnya para penghina azan itu?

Ialah mereka yang sudah benar-benar paham makna lafazh azan, sudah tahu arti pentingnya azan, sudah paham betul apa maksudnya azan itu, tetapi sama sekali hatinya tidak tersentuh untuk mendatangi suara itu.

Maka wajarlah bila Rasulullah Saw marah bila ada laki-laki yang mendengar azan sedangkan ia memilih tidak bergegas untuk salat berjamaah di masjid, sampai Rasul pun berseru: akan aku bakar rumah mereka!

Begitu juga ketika seorang sahabat datang dan meminta izin untuk tidak ikut salat berjamaah, Rasulullah Saw menolak memberikan izin kepadanya—meskipun ia buta dan sudah lansia karena ia masih bisa mendengar azan.

“Orang buta sekalipun tetap wajib shalat berjamaah (ke masjid) walau rumah mereka jauh dari masjid.”

Hingga terdengar oleh kita, ada seseorang yang buta kedua matanya sedang memegang tali yang terhubung dari rumahnya ke tembok masjid!

Maka siapakah sebenarnya para penghina azan itu?

Ialah mereka yang mendengar azan—mendengar dengan jelas di kedua telinganya—tetapi masih pura-pura tidak mendengar, meskipun ia tahu maksud dari azan tersebut.

Ingatlah pentingnya azan ini, kita tidak hanya mendengar azan kemudian mendatanginya, bahkan ketika mendengar suara azan pun, kita harus menyimak dan menjawab azan tersebut.

Dalam kitab Minhajul Muslim yang ditulis oleh Syaikh Abu Bakar Jabil al-Jaza’iri, azan didefinisikan sebagai pemberitahuan mengenai telah tibanya waktu shalat dengan lafazh tertentu.

Jadi bagi orang-orang yang hidup hatinya, suara azan adalah suara yang paling ia rindukan. Maka terdengarlah oleh kita ada seorang shalih yang meninggal dunia di jalan lantaran beliau tertabrak kuda saat beliau hendak menuju ke masjid.

Tersebab beliau sudah begitu tua, namun hatinya selalu terpanggil ketika mendengar suara azan. Meskipun nyawa menjadi taruhan, beliau tetap mendatangi suara azan itu.

Lantas, siapa sebenarnya para penghina azan itu?

Ialah mereka yang mendengar kata-kata, “Hayya ‘alash-shalaat, mari kita tunaikan shalat.” Tapi hatinya masih saja bilang, “Tunggu sebentar lagi.”

Padahal dia telah berkata, “Aku bersaksi, bahwasanya tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah.” Pada saat yang sama, dia justru sengaja melupakan kesaksiannya itu.

Lebih menggelikan lagi, pada saat yang sama ia lebih cenderung pada pekerjaan dan bisnisnya dengan mengatakan, “Bahwa aku bekerja dan berbisnis ini semata-mata hanya untuk beribadah kepada-Mu.”

Bila memang bekerja dan berbisnisnya sebagai jalan beribadah kepada Allah Swt, mengapa suara azan tak lagi menggetarkan hati? Lebih menggelikan lagi, pada saat yang sama dia pun masih merindukan nikmatnya surga.

Padahal mereka yang selamat dari siksa neraka ialah yang istiqamah shalat berjamaah tanpa terlambat takbiratul ihram (takbir yang pertama).

Maka siapa sebenarnya para penghina azan itu?

Ialah mereka yang sudah paham dengan maksud lafadz, “Haiyya ‘ala falaah, mari kita menuju kemenangan.” Sedangkan ia mencari kesuksesan dan kemenangan dengan jalan selain yang Allah Swt ridhai.

Maka sekarang dapatlah dimengerti, mengapa para ustaz dan kiai di pondok pesantren akan membangunkan para santri jauh-jauh sebelum suara azan Subuh berkumandang. Para santri dibangunkan dan dipaksa agar mereka terbiasa bangun sebelum waktu Subuh tiba. Terlihat kejam, kah? Namun begitulah pendidikan di pesantren.

Terutama para santri yang baru datang, mereka akan merasa terpaksa bangun sebelum subuh, hingga akhirnya mereka bisa bangun sebelum subuh, dan benar-benar terbiasa bangun sebelum subuh. Mereka dilatih untuk menjemput kemenangan sedari pagi.

Lantas, siapa sebenarnya para penghina azan itu?

Ialah mereka yang sudah paham dengan maksud lafadz, “Haiyya ‘ala falaah, mari kita menuju kemenangan” untuk kedua kalinya, tetapi mereka merasa bahwa rezeki itu datangnya dari manusia.

Maka, sungguh kita kagum dengan mereka yang berdagang dan langsung menutup dagangannya demi memenuhi panggilan azan. Sebab mereka yakin, bukan manusia yang memberi mereka rezeki, melainkan Allah Swt.

Bahkan ada yang resign kerja “hanya” karena dia tak bisa mendatangi suara azan tepat waktunya. Dzuhur masih harus rapat, ashar masih harus merampungkan pekerjaan, lalu magrib masih macet di jalan (pulang kerja), kemudian isya’ pun sudah kecapekan.

Mungkin sebagian orang akan mengatakan gila kepada seseorang yang resign dari kantornya, hanya karena alasan ini, “Aku hanya ingin khusyuk mendengarkan azan dan mendatanginya tanpa sungkan kepada pimpinan di kantor. Kemudian aku bisa shalat berjamaah dan berdzikir lama setelahnya.”

Lantas siapa sebenarnya para pembela azan itu?

Ialah mereka yang menyimak, menjawab, dan berjuang mendatangi suara azan itu tanpa nanti-nanti, setiap hari, tanpa niat apa pun selain mengharap ridha Ilahi (Rabbi).

Oleh: Dwi Suwiknyo.

Tinggalkan Balasan