Tidak ada yang menyangka, gadis kecil yang lucu dan imut itu harus terbaring lemas. Badannya panas, kejang-kejang, dan kaki kanannya mulai terasa tidak bisa digerakkan. Ia yang setiap hari lincah bermain ke sana ke mari itu akhirnya harus duduk saja di kursi. Sebab beberapa hari sebelumnya, ia terjatuh begitu keras dengan posisi duduk saat pengasuh memaksanya mandi. Rasanya begitu sakit, ia menjerit, mengerang-ngerang, menangis sekeras-kerasnya. Tulang punggungnya rasanya seperti patah!

Benar saja, tak ada satu pun dokter yang bisa menyembuhkannya. Kaki kanannya benar-benar lemas tak berdaya. Tak terhitung berapa uang yang dihabiskan orang tuanya untuk berobat, tetapi tidak membuahkan hasil. Ia tetap saja tidak mampu menggerakkan lagi kaki kanannya itu. Bahkan mereka mengikuti apa kata sesepuh desa, kalau gadis kecil itu terkena sambet (kerasukan makhluk halus). Sayangnya tetap saja tidak ada pengaruh apa-apa meski ia sudah diperiksa ‘orang pintar’.

Ia pun harus menerima takdir, seumur hidup harus berjalan menggunakan satu tongkat untuk menyangga tubuhnya. Air mata menetes tak terbendung lagi. Lebih-lebih sang ibu yang begitu sedih melihat putrinya yang tak berdaya itu. Tetapi ia memilih untuk bangkit, sebab ia sadar kalau kesedihan tidak akan mengubah apa pun. Kesedihan tak bisa menyembuhkan sakitnya.

Kalau memang itu ketentuan Allah untuk hidupnya, ia pun rela selamanya berjalan dengan tongkat itu. 

Seperti anak-anak pada umumnya, ia pun bersekolah. Tidak ada masalah di sana, alhamdulillah teman-temannya menyambutnya dengan baik. Mereka tidak membeda-bedakan mana teman yang sehat dengan teman yang cacat fisiknya. Justru cobaan mulai datang saat ia merampungkan sekolahnya, lalu mencoba mencari kerja.

Saat itu, lebih dari lima belas surat lamaran kerja yang telah dikirim, tidak ada satu pun panggilan kerja untuknya. Hingga kesempatan itu datang, ia bahagia sekali. Sebuah perusahaan ada yang memanggilnya untuk bekerja, tetapi pihak perusahaan itu langsung menolak begitu tahu kaki kanannya cacat. Padahal tenaga dan pikirannya sehat-sehat saja. Kejadian itu benar-benar membekas dalam benaknya; perusahaan tidak mau menerima orang cacat.

Sejak saat itu ia bertekad menjadi entrepreneur. Meskipun sebelumnya ia sudah diterima sebagai mahasiswi di Universitas Gadjah Mada, ia pun memilih untuk melepas impian menjadi sarjana sebab orangtuanya tidak mampu membayar biaya kuliah. Terasa pedih memang, namun Allah sepertinya menghendakinya untuk menjadi entrepreneur.

Apa pun ia coba jual. Seperti ponsel seharga Rp 900 ribu ia jual Rp 1.050.000. Ada selisih untung Rp 150 ribu. Aktivitas jualan itu membuatnya semakin bersemangat lagi.

Iseng-iseng mengisi waktu luang, ia kumpulkan kain perca dari pabrik garmen, lalu dijahit sendiri. Jadilah kerajinan tangan. Kalau ada yang minat beli, ia jual. Tanpa ia duga, ada sebuah perusahaan yang menerimanya bekerja. Ia diterima kerja ternyata karena pamannya diam-diam membantunya. Karena tak enak telah dibantu, ia pun mau bekerja di sana. Lagi-lagi jiwanya terasa memberontak dengan pekerjaan yang monoton seperti itu. Ia hanya betah bekerja tujuh bulan saja.

Tekadnya semakin bulat, “Aku harus punya usaha sendiri.”

Ia mulai giat belajar dari satu balai pelatihan ke balai pelatihan lainnya. Dari sana ia banyak belajar membuat keterampilan tangan. Ia yakini, suatu hari nanti dapat sukses berbekal keterampilan tangan itu. Setelah menikah, tanpa ragu-ragu ia mendirikan usaha yang diberi nama Kelompok Usaha Bersama Penyandang Cacat. Usahanya bergerak di bidang jahit-menjahit, seperti permak jins atau jasa pasang resleting. Apa pun yang ada kaitannya dengan jahit-menjahit bisa dikerjakannya.

Tetapi sayang, roda bisnisnya berjalan pelan. Hingga akhirnya ia harus menerima kenyataan pahit kalau usahanya itu semakin hari semakin lesu. Si suami akhirnya mau bekerja di garmen. Sedangkan ia tetap ikhtiar menekuni bidang jahit-menjahit. Entah bagaimana caranya, ia harus bisa menjalankan usahanya itu. Termasuk ia harus jemput bola supaya dapat order jahitan. Sampai akhirnya ia terpikir untuk mengolah kain perca menjadi keset. Para tetangga pun mulai melirik keset hasil karyanya. Mereka akhirnya mau membeli keset itu.

Alhamdulillah, tidak disangka-sangka, justru usaha pembuatan keset itu yang bisa membuat keluarga kecilnya hidup mapan.

Dari mulut ke mulut, dari hari ke hari, keset buatannya semakin laris di pasaran. Akhirnya ia harus meminta bantuan orang lain untuk menjahit keset-keset pesanan dari pasar itu. Bahkan ia mendapat pesanan keset sampai ratusan. Segera ia menambah tenaga kerja dari mulai lima orang sampai 30 orang!

Tahun 1997, usahanya pun bergerak cepat. Hebatnya, tak hanya mengelola usaha saja, ia masih berpikir keras bagaimana bisa memberdayakan penyandang cacat lainnya. Ia mulai menjadi pembicara di beberapa forum agar para penyandang cacat bersemangat menjalani hidup. Ia bersama suaminya membuktikan usahanya bisa maju.

Tahun 2000, ia sudah memiliki 50 karyawan. Ada 3 orang manajer, 15 sales, dan sisanya tenaga penjahit. Asetnya mulai dari motor bisa membeli mobil operasional, sampai memiliki kios sendiri di beberapa pasar. Omzetnya dalam satu bulan mencapai Rp 850 juta rupiah. Itu artinya dalam satu hari ia mendapatkan Rp 4 juta – Rp 5 juta.

Pada tahun 2002, Allah mengujinya. Salah satu manajer berkhianat. Setidaknya ada lebih dari Rp 50 juta uang yang tidak disetorkan kepadanya. Usaha tidak bisa berjalan dengan normal lagi. Sudah tidak bisa terelakkan, omzet bisnisnya makin lama makin menurun. Belum lagi ada beberapa hutang yang masih harus dibayar. Kondisi itu benar-benar membuat usahanya terpuruk. Tak hanya itu, para investor pun mulai mengambil uangnya setelah melihat usahanya gulung tikar. Bahkan mobilnya ikut diambil. Benar-benar tahun yang menyedihkan baginya.

Hanya saja semangatnya masih berkobar. Seorang teman akhirnya meminjaminya modal lagi untuk kembali membuka usahanya. Ia pun mendapat bantuan modal dari pejabat pemerintahan setempat. Kepercayaan itu tidak disia-siakannya, ia kembali kulakan kain perca, menyewa tempat, dan full memberdayakan penyandang cacat untuk menjahit. Beberapa kemitraan ia buka agar penyandang cacat lainnya juga bisa membuat kerajinan dari kain perca. Perjuangannya sedikit demi sedikit membuahkan hasil lagi. Setidaknya ada 20 karyawan yang ikut mengelola usahanya.

Masih dengan penuh semangat, ia membawa 500-1000 keset produksinya sampai ke luar kota. Dipasarkan sendiri di beberapa pasar besar. Kerja kerasnya berbuah manis, setidaknya ada 39 pasar di ibu kota yang menjadi area pemasaran produknya itu. Hingga tak sengaja ia membaca koran berjudul Lomba Wirausaha Muda Teladan Tingkat Nasional yang diadakan Kemenpora. Nekad, ia pun ingin ikut ajang lomba itu.

Padahal pesertanya ribuan, lalu disusut menjadi 100 besar. Tak ada persiapan apa pun. Penilaian dilakukan selama tiga bulan. Sampai di bulan Oktober 2007, ia pun mendapat informasi dari panitia kalau masuk 10 besar. Senang campur bingung. Senang bisa mendapat kesempatan presentasi bisnisnya. Bingung karena ia dan suami harus ke kantor Kemenpora, tidak ada cukup uang untuk ke sana. Ia pun rela menjual mesin jahit biar ada uang saku ke ibu kota.

Sungguh persaingan yang sangat ketat. Ia masih ingat, peserta lainnya presentasi dengan sangat rapi menggunakan power point. Sedangkan ia tak paham apa itu power point, akhirnya di depan juri ia hanya bisa menceritakan perjalanan usahanya itu, seluk-beluk bisnisnya, dan tentu saja impiannya ke depan. Dewan juri hanya diam. Sesekali mereka bertanya. Lalu selesai. Hatinya begitu gelisah. Sepertinya ikhtiarnya ini akan sia-sia saja.

Di luar dugaan siapa pun, pengumuman berkata lain. Ia ternyata menang sebagai juara pertama!

Tak tanggung-tanggung, hadiah pemenang pertama sebesar Rp 100 juta rupiah. Diserahkan langsung oleh Menpora Adhyaksa Dault pada tanggal 28 Oktober 2007. Ia pun mendapat sebuah piagam penghargaan Wirausaha Muda Teladan Tingkat Nasional. Inilah titik kebangkitan usahanya. Uang Rp 100 juta itu digunakannya untuk membayar hutangnya, sekaligus untuk modal.

Bisnisnya berkembang. Sesuai cita-citanya dulu, ia berbisnis berbasis sosial. Ia semakin fokus untuk memberdayakan teman-teman penyandang cacat. Kini usahanya sudah semakin besar, ia pun sering menjadi pembicara di beberapa tempat. Tempat usahanya tak jarang menjadi ruang belajar dan riset bagi mereka yang ingin menjadi pengusaha.

Bisnis keset kain percanya pun semakin terkenal di seluruh pelosok negeri. Namanya semakin berkibar, ia mendapatkan berbagai penghargaan, di antaranya penghargaan Pemuda Andalan Nusantara di tahun 2009, menjadi pemenang di Liputan 6 Award 2012, juga tampil di acara Kick Andy. Ia adalah Irma Suryati.

*** 

Untuk kita renungkan, pada saat kita mendapatkan takdir yang menyakitkan, kewajiban kita tetaplah berikhtiar. Memang kita tidak tahu bagaimana nasib kita di kemudian hari, karena itulah kita jangan pernah berhenti berjuang. Lalu sesampainya di puncak kesuksesan, jangan lupakan orang-orang yang senasib dengan kita. 

Oleh: Dwi Suwiknyo, dari bukunya Menjadi Pribadi yang Selalu Beruntung (Quanta, 2015)

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: