kisah single parent

Single Parent: Dua Peran yang Lahir Dari Hati

Jam di dinding menunjukan pukul 07.15. Aku sengaja datang ke kantor sepagi ini untuk menuliskan sebuah kisah atau kamu boleh menganggap dongeng yang terjadi di negara antah berantah. Waktu terus berjalan, tak perduli dengan seberapa kalut perasaan, kesedihan yang mendalam maupun luka yang menganga di relung dada. Semuanya mesti tuntas detik ini juga.

Tak pernah terpikirkan aku menjadi seorang ibu dan ayah sekaligus untuk anakku yang berusia dua tahun. Wanita mana yang mau menjadi seperti ini?

Aku harus tetap terbang dengan kedua sayap yang remuk. Stigma di masyarakat, menjadi perempuan yang single parent adalah hal yang paling buruk. Berbagai cemoohan dan hinaan tak jarang mendarat di telinga.

Kekerasan dalam rumah tangga, baik fisik maupun psikis telah aku alami. Pada awalnya hanya bisa diam, menangis, menangis, dan menangis. Aku cengeng, wanita lemah! Cintaku habis oleh kesalahan yang meminta untuk terus dimaafkan beribu-ribu kali. Luruh satu persatu. Kepercayaan melesat jauh meninggalkan hatikku, pun bab sabar dan ikhlas, aku tak pernah lupa, memberikan kesempatan demi kesempatan yang disia-siakan tanpa ampun.

Ketika melihat seorang anak sedang bermain dengan ayahnya, sampai saat ini aku masih merasa sesak, teringat akan anakku sendiri yang tidak bisa mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah. Dia pergi dengan mudahnya, melenggangkan kaki begitu ringan, tak perduli dengan buah hatinya yang lucu menggemaskan tumbuh dengan sempurna tanpa kekurangan. Aku tak tahu hatinya ada di mana? Apakah hilang? Entahlah ….

Banyak pertanyaan melesak dari dalam dada. Kenapa harus aku? Kenapa terjadi? Kenapa Tuhan tak adil? Apa aku tidak berhak mencecap kebahagiaan seperti orang lain? Kapan kesedihan ini akan berakhir? Bahkan sempat terlintas untuk mengakhiri hidup.

Sungguh. “Lihat itu ada pisau.” Atau saat berjalan, “Ayo menyebrang. Lari! Ada Truk yang melintas dengan kencang,” bisik suara yang tak bersuara. Ini gila. Aku semakin terpuruk.

***

Dahulu aku selalu berpikir definisi pernikahan adalah kebahagiaan, ternyata salah besar. Berandai-andai, suatu hari nanti akan menua bersama dengan orang yang begitu dicintai dan saling berkasih sayang. Aku terlalu naif. Kita hidup di dunia yang berubah setiap saat bukan sekadar imajinasi.

Ada tiga hal yang menjadi misteri di kehidupan manusia yaitu rizki, jodoh, dan kematian. Takdir. Ketetapan yang sudah tertulis di Lauhul Mahfudz. Mau tidak mau, kuat atau tidak kuat, mampu atau tidak mampu, harus bisa menjalaninya, ini adalah jalan yang telah digariskan. Aku tak bisa menghindar apalagi menolak. Titik.

Keluarga dan sahabat adalah harta yang berharga, merekalah yang selalu ada di sampingku, memberi semangat dan dukungan. Doa-doa berhamburan memelukku. Cinta ada di mana-mana tanpa kita sadari.

Berbagai artikel tentang perjuangan seorang ibu yang membesarkan anaknya sendirian telah banyak kubaca, dari sana banyak mendapatkan pelajaran, dengan mengumpulkan keberanian, lapis demi lapis, akhirnya aku memutuskan untuk menuangkannya ke dalam sebuah tulisan walau tak sempuna, aku sangat berharap akan ada secuil hikmah yang dapat dipetik.

Pukul 07.45.

Limabelas menit lagi jam kerja dimulai, tapi aku masih ingin melanjutkan cerita ini, maaf jika menjemukan aku tak pandai menulis.

Beberapa waktu lalu aku mendapat kabar, dia menjadi pemabuk, arogan, dan hutangnya sangat banyak. Aku tidak bermaksud untuk menyebarkan aibnya, tapi ini kenyataannya kawan. Allah sangat sayang padaku, dengan perpisahan ini ada maksud-maksud tertentu yang kita sebenarnya tak ketahui. Aku yakin Allah tak ingin aku terluka berkepanjangan. Allah selalu memberikan yang terbaik … meskipun dibalut dengan kesedihan. Jangan diam membisu, masih banyak hal yang harus disyukuri dari pada terus terpuruk dalam kubangan masa lalu. Interopeksi diri. Belajar di universitas kehidupan.

Jika kamu bertanya, apa kekuatan terbesarku? Maka anaklah jawabannya.

Dia adalah malaikat kecil yang turun ke bumi, dengan senyumannya mampu menghapus air mata, menyembuhkan lara. Celoteh riang dan tingkah lucu membius kesakitan menyihirnya menjadi suka cita.  

“Atu tayang Mamah.” Suatu waktu dia berkata secara spontan, memandangiku dengan lekat dan kemudian memeluk dengan erat. Rasanya tak bisa diungkapkan, terharu, bahagia, Semua beban sirna seketika.

Suatu hari nanti, anakku pasti akan bertanya. Di mana ayahnya? Seperti apa wajahnya? Kenapa dia tidak tinggal bersama kita? Kenapa aku hanya mempunyai ibu? Jujur aku belum mempunyai jawaban yang tepat. Kelak, aku harus menjelaskan mulai dari mana? Mungkin dengan tulisan ini salah satunya, maka akan disimpan baik-baik, yang jelas akan kupastikan dia tak akan kekurangan kasih sayang.

***

Untukmu yang mungkin saat ini sedang mencari pasangan, aku hanya bisa berpesan, selain memilih karena yang baik agamanya, kecantikan atau ketampanannya, nasab atau silsilah keturunannya dan status sosial, carilah seseorang yang berkomitmen serta bertanggung jawab. Kamu harus mengetahui tentang semua kepribadian, sifat, prinsipnya terlebih dahulu.

Tanyakan itu kepada dia atau kalau perlu kepada orang terdekatnya. Kamu harus mengenal semua teman-temannya, di mana dia biasa nongkrong? Itu penting, tentang pergaulan. Latar belakang keluarga, misal seperti apa dia dididik ketika masih kecil? Cukup aku yang rasakan kepahitan ini, jangan ada lagi. Sungguh.

Dan Untukmu: duhai wanita yang ditakdirkan menjalani dua peran. Jadilah seperti karang dihantam ombak yang besar, dia tetap kokoh, tangguh. Kita perlu hati seluas samudera.   

Ada sebuah quote yang sangat aku sukai, “Daun jatuh tak pernah membenci angin. Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan. Mengikhlaskan semuanya. Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus.

Tak peduli lewat apa pemahaman itu datang, tak masalah meski lewat kejadian yang menyakitkan. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya, membawa pergi entah ke mana.” (Tere Liye, Novel Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin).

Pukul 08.00, waktuku habis.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Oleh: K. Nia.

Ilustrasi dari sini.

Tinggalkan Balasan