Ilustrasi dari Hipwee.

Sinyal dari Allah, Pastilah Sinyal yang Terbaik

Ketika kelas 3 SMA, aku benar-benar mengubah hidupku. Aku sadar karena aku sudah tidak seperti anak kecil lagi, dan harus bersiap-siap untuk memasuki dunia sebenarnya. Keadaan ekonomi keluargaku ada di tingkatan cukup, dan aku harus berpikir bagaimana untuk menghidupi keluarga, ya karena aku anak pertama.

Dari semester satu, sudah aku targetkan bahwa aku harus kuliah di Perguruan Tinggi Kedinasan, karena tidak ada biaya untuk semesteran dan setelah lulus langsung mendapatkan pekerjaan. Pada saat itu targetnya hanyalah STAN, namun pada saat pendaftaran STIS, aku tetap mendaftar untuk mencoba keberuntungan.

Mulai dari bulan Oktober 2014, aku aktif mengikuti ujian-ujian percobaan untuk masuk STAN. Jumlah dari bulan Oktober 2014 sampai bulan Mei 2015 itu, sekitar 14 kali uji coba yang aku ikuti. Dan hasilnya selalu naik, walaupun yang dinyatakan lulus hanya 2 uji coba terakhir.

Tidak hanya aktif mengikuti ujian-ujian percobaan, aku juga mengubah kehidupanku dengan menghapus semua game yang ada di komputer, memilah-milah teman, dan yang terpenting adalah mulainya ibadah dengan ikhlas dan khusyuk.

Ada yang aneh? Mungkin iya, dikarenakan aku tidak suka membaca buku, belajar pun aku pikir cukup karena sudah dua bimbingan belajar aku ikuti. Satu bimbingan untuk persiapan UN dan SBMPTN, dan yang satu lagi persiapan USM STAN.

Semester dua tiba, dan aku curhat kepada ibuku, “Mah, abang mau masuk STAN, gmn ya mah caranya?”

Ibuku menjawab, “Abang mau tau ga? Ada cara ampuh buat dapetin yang Abang mau.”

“Gimana tuh mah?” tanyaku cepat.

“Abang tahajud tiga bulan berturut-turut dan tiap di akhir rokaat doa dan minta yang Abang mau, Abang puasa Senin Kamis jangan pernah putus, Abang sholat dhuha juga jgn putus, dan abang lakuin semuanya harus ikhlas karena Allah dan jangan lupa yang wajib harus dilakuin juga,” jawab ibuku.

“Wah susah ya Mah, tapi insyaAllah Abang bisa Mah, bantu doain juga yaa Mah,” jawabku sambil mematikan lampu ruang tamu dan siap untuk tidur.

Shalat lima waktu selalu di awal waktu, tahajud tidak pernah putus bahkan seminggu sekali sampai air mata tak terbendung lagi, puasa senin kamis pun kujalani, dan aku selalu shalat dhuha empat rokaat pada saat istirahat sekolah dan di rumah.

Setelah UN terlewati, dan sampai pada pengumuman SNMPTN, aku dan teman-teman sedang mengikuti perlombaan DOTA2 dan posisinya lagi istirahat sholat maghrib dan untuk lanjut kejenjang Final.

Pada saat sholat maghrib inilah yang benar-benar aku gunakan untuk meminta permohonan terakhir, aku mengulang doa yang selalu aku minta di tahajudku, “Semoga aku bisa masuk ITB, UGM, UI, STAN pilihlah yang terbaik untuk aku dan menangkanlah lomba ini.”

Semua temanku sudah membuka dan hasilnya merah, aku berpikir teman aku orang pinter-pinter tapi ga masuk SNMPTN, ya sudah aku tidak mau membuka karena takut kecewa, dan mulailah laga final, yang akhirnya pun harus mengakui kemenangan lawan, dan mendapatkan Juara 2. Pembagian hadiah selesai, akhirnya aku penasaran membuka pengumuman, dan akhirnya hanya aku yang lolos, dan masuk ke Universitas Indonesia.

Tidak berenti di situ, pada saat aku mengikuti USM STAN, aku berpikir sudah nothing to loose dikarenakan sudah mendapatkan kampus terbaik. Namun, Allah mungkin berkata lain dan akhirnya aku lulus STAN juga di jurusan perpajakan.

Entah apa yang mendorongku memilih STAN dari pada UI, aku seperti mendapatkan sinyal dari hati bahwa pilih STAN, insyaAllah STAN yang terbaik dan akhirnya aku pilih STAN.

Dua hari setelah aku wisuda, ayahku meninggal. Sekarang aku mengerti kenapa aku harus memilih STAN. Allah selalu memberikan jalan terbaik untuk Hamba-Nya, meskipun ada yang lebih baik dari yang ia pilih.

Oleh: Chairil Ansyori.

Tinggalkan Balasan