Nadia galau! Sejak kemarin pagi dia gelisah. Pekerjaan rumah dikerjakan dengan kasar. Saat mencuci piring dan perkakas masak, antara satu dengan yang lain tak jarang saling beradu, menimbulkan bunyi berdenting bising. Cucian baju menggunung, teronggok mengenaskan di keranjang khusus pakaian kotor.

Bahkan, masakannya dua hari ini, lain dari biasanya. Jika kemarin terasa hambar, maka hari ini terlalu banyak menuang garam dan membubuhkan bubuk merica. Tempe gorengnya mendadak berubah jadi negro, karena terlalu lama berendam di minyak panas. Sayur bayam yang semestinya menggunakan bumbu bawang-kencur, tak sengaja menggunakan bawang-jahe karena tak fokus. Bagaimana rasanya? Hangat!

Bukan tanpa alasan wanita berusia dua puluh lima tahun tersebut uring-uringan tak karuan. Semua bermula dari bisnis baju dan jilbab online yang telah lima bulan lamanya ia geluti tak juga menemui kemajuan. Jualan sprei—milik teman—yang ia tawarkan ke tetangga dan teman-temannya, hanya laku sedikit. Pun beberapa kali ia menawarkan tester kue yang ia buat pada tetangga, tapi belum ada satu pun yang memesan padanya, padahal, bulan puasa tak lama lagi akan berakhir.

Semestinya, para tetangga sudah ramai mempersiapkan hidangan untuk menyambut tamu yang berkunjung di hari raya, juga sudah heboh membeli pakaian dan jilbab baru untuk dikenakan pada hari kemenangan nanti.

Huh! Kenapa malah begini? Tak ada satu pun bisnisnya yang berjalan mulus? Padahal, teman sekolahnya dulu, Dewi, dia sukses sekali berjualan obat yang konon dapat menurunkan berat badan, dan masih ditambah dagangan obat pemutih wajah. Jelas-jelas yang ia jual adalah produk abal-abal, Nadia tahu betul itu. Tapi, mengapa dagangannya laris sekali dan begitu mudah meraup keuntungan? Minggu lalu, dia pamer, membeli tas branded dengan harga selangit, belum lagi aksi jalan-jalannya yang rutin dilakukan setiap bulan. Bali, Jogja, Bandung. Sementara Nadia? Boro-boro!

Ada pula Bu Tutik, pemilik katering yang berada di seberang jalan rumahnya. Warung makannya selalu saja ramai pembeli, padahal rasa masakannya biasa saja. Apa mungkin, menggunakan penglaris?

Grumpyang! Nadia melempar panci yang baru saja ia cuci. Benda setengah bulat tersebut berputar-putar di sudut lemari makan. Napas Nadia naik-turun, jarinya mengepal gemas.

“Apa sih, Bu?” Amran, suami Nadia, tergopoh-gopoh menuju dapur. Matanya beralih antara menatap sang istri dan panci yang tergolek mengenaskan. Dia berjalan mendekat, menyentuh pundak wanita yang wajahnya terlihat memerah.

“Aku kesal, Yah!”

“Iya, kesel kenapa?” Amran membimbing Nadia agar duduk di kursi makan. Jika sedang marah, tak baik berdiri. Duduk, berbaring atau segera ambil wudhu, itu dapat menurunkan hawa panas dalam tubuh.

“Aku bingung, Yah. Kenapa bisnisku nggak ada satu pun yang berhasil? Baju dan jilbab online, sprei, kue-kue kering. Nggak ada yang jalan. Padahal, aku sudah giat promosi. Menawarkan produk ke teman-teman dan tetangga, getol merayu mereka, sudah seperti SPG di mall. Salat sunah juga tak pernah ketinggalan. Tapi apa? Masih begini-gini juga. Nggak ada perkembangan! Apa salahku coba?”

Astagfirullah, Bu. Istighfar! Jangan ujub. Merasa nggak ada salah. Yakin, Ibu sudah sempurna?”

“Ayah! Ya bukan begitu maksud ibu.”

“Bu, perbanyak dzikir. Panjangkan sabar. Namanya orang jualan, nggak bisa instan. Harus pelan-pelan, telaten. Jangan mudah kecewa apalagi menyerah pada hasil yang belum memuaskan.”

“Tapi, temen Ibu, si Dewi, dia sukses banget, Yah. Padahal, dia jualan barang yang sebenarnya tidak semestinya diperjual-belikan. Bahan bakunya berbahaya! Nggak terdaftar di BPOM. Aku sering lihat di facebook, produk yang dia jual itu masuk daftar boikot Badan POM, karena nggak aman digunakan. Tapi herannya, pembelinya nggak ada yang kenapa-kenapa. Balik lagi beli produk pelengsing dan pemutih wajah. Itu kan nggak adil! Masa, Allah malah memudahkn rezeki yang seperti itu, sih?” Nadia mengguncang lengan suaminya antusias.

“Bu, istighfar! Jangan sekali-sekali berani berpikiran buruk pada Allah.” Dewi mengerjapkan mata beberapa kali. Terkejut mendengar intonasi suaminya meningkat. “Syaitan mudah sekali menghasut manusia, dengan gelimang harta salah satunya. Ibu melihat Dewi sukses, lalu iri. Menjelek-jelekan dia, berprasangka buruk pada Allah, bahkan menghujat dengan mengatakan tak adil. Itu sebenarnya Ibu sudah terpedaya hasut syaitan. Ibu terus digoda agar kepengen ikutan jualan produk yang nggak baik tersebut, akhirnya tercebur juga dalam bisnis yang nggak berkah. Padahal, nanti, akan dipertanggungjawabkan di akhirat apa yang kita lakukan di dunia. Seharusnya, Ibu kasihan sama dia, karena sedang memupuk dosa.”

Bibir Nadia berkerut. Ia setuju dengan apa yang dikatakan suaminya. “Itu, Bu Tutik, dulu warung makannya biasa saja. Sekarang, ramainya nggak wajar, ya, Yah? Jangan-jangan….”

“Hust! Jangan su’udzon, Bu. Bu Tutik itu, saat masih susah dulu, rajin sekali menyumbang ke mushola yang waktu itu lagi di bangun, di sebrang jalan sana. Juga sering ngasih santunan anak-anak yatim yang dikelola Pak Makhfud. Bapak tahu beritanya dari pengelola di sana, saat sedang menyumbang juga, kebetulan berpapasan dengan Bu Tutik. Mungkin, sekarang buah yang ditanam sejak lama, sedang berbuah, Bu.” Nadia mengangguk-angguk mendengar penuturan suaminya.

Padahal, dulu, Bu Tutik kehidupannya cukup susah selepas ditinggal suaminya menghadap Allah. Anaknnya ada empat, bersekolah semua. Malah yang besar sekarang hampir lulus kuliah hukum. Nadia sungguh penasaran pada kehidupan Bu Tutik, bagaimana bisa sampai sesukses sekarang?

***

“Salat duha memang untuk memudahkan mendapat rezeki, De. Juga beberapa salat sunah dan bacaan lain. Tapi, sebaiknya, kita mengerjakannya bukan semata agar penghasilan kita dilancarkan saja. Hanya mengejar materi.” Siang yang terik, tak menyurutkan dua wanita berbeda generasi berbincang-bincang. “Bersabar, ikhlas, tak mudah kecewa jika belum berhasil, dan tetap bersyukur pada hasil yang Allah beri. Mantapkan hati kita, jika kita ingin mendapat ridha Allah dalam mengais rezeki yang halal. Setelah dapat, ya tetap salat sunah dan baca Qur’an. Tetap berbagi rezeki yang kita dapat pada yang membutuhkan. Alhamdulillah, bukannya berkurang, malah terus bertambah.”

Nadia ikut tersenyum melihat Bu Tutik tertawa kecil. Karena perasaan irinya, ia sampai mengesampingkan sikap ramah, sederhana, dan murah hati ibu berusia empat puluh lima tahun tersebut. Sepertinya, betul apa yang dikatakan suaminya tempo hari. Bu Tutik sedang memanen buah yang ia tanam sejak dahulu kala. Kebaikan-kebaikan yang beliau lakukan ikhlas karena ingin menolong sesama, diganjar kemudahan dalam mencari rezeki oleh Allah. Ternyata, setelah sukses, Bu Tutik malah semakin sering berbagi. Dan benar adanya, bukannya berkurang, malah usaha Bu Tutik semakin berkembang besar.

Sementara temannya, Dewi? Beberapa waktu lalu, ia tersandung kasus hutang yang cukup besar. Ternyata, uang yang ia pakai untuk foya-foya adalah hasil meminjam dari rentenir. Hanya untuk memuaskan gaya hidup hedonismenya. Belakangan diketahui, beberapa konsumen yang rutin membeli  produk yang dijual Dewi, ada yang mengalami iritasi kulit pada wajah sampai ada pula yang dirawat di rumah sakit sebab menderita radang lambung dan gangguan pencernaan karena mengkonsumsi obat diet melampaui batas.

Nadia bersyukur, dulu ia mendengarkan suaminya untuk tidak mengikuti jejak Dewi. Sekarang, ia ingin berteman dekat dengan Bu Tutik, agar dapat berlaku ikhlas dalam mencari rezeki. “Karena sesungguhnya, berdagang itu hendaklah sabar dalam menjalani prosesnya, untuk mendapatkan hasil. Juga harus jujur dan ikhlas.”

***

Oleh: Ranti Eka Ranti Kumala.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: