Sudah Nyaman dengan Kerjaan, tapi Bos Malah Bikin Baper

Butuh waktu yang cukup lama untuk benar-benar bisa merasa nyaman dengan pekerjaan yang kita jalani. Ukurannya ya, hanya kita sendiri yang bisa menilai.

Bisa jadi setiap orang berbeda dalam menilainya. Ada yang hanya butuh waktu enam bulan, setahun, tapi ada juga yang sudah bertahun-tahun bekerja belum juga merasa nyaman.

Nyaman tidaknya seseorang dalam bekerja biasanya diukur berdasarkan kenyamanan lingkungan kerja, beban kerja, besaran kompensasi yang diterima, dan faktor lainnya.

Faktor lain ini bisa berupa kondisi di luar pekerjaan. Seperti kondisi rumah tangga, tekanan keluarga, atau godaan di tempat lain.

Lingkungan kerja bisa bikin nyaman jika kita sudah merasa cocok dengan pergaulan dengan rekan kerja, cocok dengan aturan-aturan yang ada, bisa mengikuti alur kerja.

Pokoknya nyaman aja menjalankan rutinitas kerja. Tentu saja rasa nyaman itu akan muncul jika gaji dan tunjangan bisa mencukupi dan mensejahterakan.

Setiap karyawan pasti ingin lebih lama merasakan kondisi nyaman seperti ini. Bahkan kalau bisa sampai pensiun tetap nyaman bekerja. Tetapi tidak bisa dipungkiri bila pada suatu saat ada saja godaan atas rasa nyaman itu. Macam-macamlah bentuknya. Yang paling konyol itu ketika godaan datangnya dari si bos. Sudah merasa nyaman bekerja, tapi tingkahnya kadang bikin baper.

Emang ada bos yang tingkahnya bikin baper?

Uwow, jangan salah. Berdasar curhatan kaum hawa nih bisa saya rangkum beberapa tingkah bos yang bikin baper. Apa saja?

Perhatiannya Terlalu Berlebihan

Perhatian yang berlebihan itu yang bikin risih. Meskipun niatnya baik, kadang yang diperhatiin merasa enggak nyaman.

Wajarnya perhatian bos kepada bawahan kan sebatas masalah pekerjaan. Sekadar memastikan bawahan menjalankan pekerjaan sesuai tugas pokoknya. Tetapi ketika intensitasnya jadi lebih sering dan fokusnya melebar ke hal-hal yang enggak perlu, biasanya bikin risih.

Kalau biasanya nanyain laporan seminggu sekali, ini jadi tiap hari. Biasanya jarang ngajarin teknis kerjaan, ini tiba-tiba sering ngajarin. Kalau perlakuan ke karyawan lain sama sih enggak masalah. Tetapi kalau yang diperlakukan beda seperti ini hanya satu orang, ini masalah.

Perlakuan spesial macam ini yang bisa bikin karyawan baper. Enggak hanya karyawan baru, kadang karyawan senior pun bisa jadi baper. Kan pada dasarnya bawahan suka diperhatikan oleh bos. Malah ada juga bawahan yang suka cari perhatian si bos. Nah, loh.

Ketika kita mendapati hal seperti ini, yang perlu dilakukan adalah “eling” alias ingat siapa diri kita dan siapa bos kita. Ingat dalam arti status hubungan kita di tempat kerja itu kan sebatas karyawan dengan atasan. Jangan sampai menyalah-artikan perhatian bos sebagai sesuatu yang lain di luar hubungan itu. Anggaplah ini sebatas bagian dari profesionalisme kerja.

“Eling” dalam arti lain bahwa kita sama-sama punya tanggung jawab di luar pekerjaan. Tanggung jawab menjaga perasaan orang lain yang kita cintai. Apa iya, mereka ridho jika kita menanggapi perhatian si bos dengan suka ria? Menganggapnya punya rasa dan ingin saling lebih dekat lagi. Ingat yang di rumah, Gaes.

Tatapan Matanya Menggoda

Ini terjadi jika atasan kita berbeda kelamin dengan kita. Biasanya bos laki-laki main mata sama karyawan perempuan. Bisa juga bos perempuan main mata dengan karyawan laki-laki. Kalau sesama jenis, berarti parahnya luar biasa.

Tatapan menggoda itu ya, tatapan yang dibuat-buat seolah-olah ingin memberi kode kalau si bos menginginkan sesuatu. Semacam keinginan yang berhubungan dengan kepuasan batin yang tidak diungkapkan secara langsung melalui kata-kata.

Kalau si bos dah kayak gini, colok ajah matanya. Hahaha … jangan, malah imbasnya kita bisa dipidana. Cari cara lain saja.

Caranya sederhana, hindari kontak mata dengan si bos. Kalau dia menatap kita, ya jangan tatap matanya. Kalau dia minta menatap matanya, ya tataplah bagian lain di dekat matanya. Tatap jidatnya yang lebar, misalnya.

Kalau terpaksanya pandangan kita bertemu sejenak, ya berusahalah memainkan perasaan dalam hati kita. Tanamkan keyakinan bahwa tatapan si bos cuma sebatas tatapan biasa. Bukan tatapan seseorang yang kurang belaian. Heuheu …

Suka Ngasih Sesuatu di Luar Gaji dan Tunjangan

Sering traktir makan, ngasih hadiah ulang tahun, ngasih parcel spesial, dan ngasih-ngasih barang lainnya. Pokoknya ada ajah, bahkan perlu hati-hati kalau si bos mulai bertanya, “Kamu butuh apa? Nanti akan saya belikan.”

Meskipun secara gamblang tidak mengungkapkan maunya apa, tapi yakin saja jika pemberian semacam itu pasti berbuntut sesuatu. Apalagi kalau intensitasnya tinggi dan mulai tidak wajar. Karena hak kita sebagai karyawan sudah diatur dalam kontrak kerja. Terkait besaran gaji yang diterima, tunjangan, dan pemberian lain di luar itu oleh perusahaan.

Kita harus pandai-pandai membedakan antara pemberian dari perusahaan untuk karyawan, dengan pemberian yang sifatnya pribadi oleh bos kepada karyawan. Kalau dari perusahaan biasanya karena prestasi karyawan atau berupa santunan, sedangkan jika dari pribadi biasanya menyangkut kemauan personal.

Ya, kasarannya sogokan gitu ajah. Cara menghindarinya ya jelas jangan diterima. Nanti kalau terus-terusan begitu, pada suatu titik kita akan merasa tak enak. Kemudian merasa sungkan menolak sesuatu yang diminta bos. Anggap saja barang itu bukan hak kita, sehingga kita tak layak menerimanya.

Menikmati Ketika Di-bully

Siapa bilang di-bully selalu menyakitkan? Ada juga loh yang menjadikan bullying sebagai modus untuk semakin dekat sama seseorang. Iya, semacam black campaign saat melakukan pendekatan kepada seseorang. Modus lah istilahnya.

Memang orang lain taunya hanya bercanda saja, tapi lama-lama akan menimbulkan tanda tanya. Bakal ada satu dua orang yang dalam benaknya bertanya, “Emang beneran si bos ada rasa sama si Anu?”

Meski pertanyaan ini menjadi retorika, tapi bisa jadi inilah opini yang ingin dibangun si bos di tempat kerja. Secara gamblang tidak mau perasaannya diketahui, tapi di sisi lain ingin si Anu gelisah karena si bos tidak keberatan jika orang-orang tahu perasaan itu.

Duh, gimana ya ngejelasinnya. Hahaha ….

Cara mengatasinya ya, bersikap biasa saja. Jangan frontal menolak, tapi juga jangan terkesan menikmati bully-an itu. Cukup dengan pembuktian terbalik saja.

Misal di-bully mengenai kedekatan kita dengan si bos, ya tunjukin kalau kita dekatnya bukan sama si bos. Misalnya rajin-rajin unggah kemesraan kita sama suami/istri di medsos. Kalau perlu tag semua teman kantor. Atau kalau biasanya kita berangkat ke kantor sendiri, ya minta diantar-jemput suami/istri.

Lah kalau belum menikah gimana dong? Haha … makanya jangan lama-lama menjomblo. Biar jauh dari fitnah. Peace.

Oleh: Seno Ners.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan