Aku iri dengan mereka yang dengan mudah berprestasi. Aku iri dengan mereka yang dengan mudah mendapatkan apa yang diimpikannya. Sedangkan aku, apalah daya otak yang pas-pasan ini.

Duh, ya Allah. Aku kan mahasiswa bahasa Arab, lah kok bukunya bahasa Inggris gini. Pingin muntah ngerjainnya.

Impian sudah di depan mata, tapi heemm. Hanya karena uang rasanya tidak ada semangat hidup lagi!

Masih banyak contoh keluhan lain dari permasalahan hidup manusia. Memang berbeda-beda, tapi sejatinya solusinya tidak serumit yang kita pikirkan, barangkali demikian. Kita hidup bukan untuk mengeluhkan sebuah tantangan. Tapi kita hidup untuk berani melawan berbagai jenis tantangan. Tak serta merta kehidupan selalu bahagia. Hanya menjadi dusta jika melihat manusia yang hidupnya tak pernah sengsara.

Kita hanyalah kita yang merasakan hidup masing-masing.  Jangan berlebih melihat kenikmatan orang lain sehingga muncul dalam diri merasa menjadi manusia paling nestapa di dunia. Padahal, belum tentu mereka yang sedang diberi kenikmatan itu sudah menjalani hidup dengan bahagia.

Awalnya aku berpikir, apa manfaat kuliah jika pada akhirnya tak menjanjikan hidup yang sejahtera, apa artinya banyak prestasi dan sanjungan yang pada akhirnya pasti sirna. Dulu aku berpikir, aku hanya ingin hidup untuk membahagiakan Ayah dan Ibu. Sayangnya apa yang diharapkan Ibu itu sangat sulit aku jalani.

Berbeda dengan Kakakku yang mewarisi sifat Ayah, dari kecerdasannya, keterampilannya, bahkan sifat pendiamnya. Pun bersamaan mewarisi sifat Ibu yang dengan mudah menghafal. Harapan Ibu memang tinggi, ingin menjadikan keluarganya sebagai Ahlul Qur’an.

Mungkin Ibu sangat bangga dengan Kakak yang sudah jelas hafal 30 juz. Sedangkan aku? Merasa sangat berdosa melakukan ini semua. Menghafal karena terpaksa. Kehidupan selalu merasa nestapa.  

Ah, Ibu, andai kau tidak memaksaku untuk menghafal Al-Qur’an, mungkin aku bisa jalani hidup dengan bahagia, bukan karena selalu terpaksa! Jeritku dalam hati.

Kini aku merasa menyesal tak bisa wujudkan harapan Ibu. Aku terlalu egois, mengharap kebahagiaan tanpa memperdulikan kebahagiaan Ibu. Sejak itulah aku berikrar bahwa aku bisa membahagiakannya melalui jalan lain.

Aku bersyukur mempunyai Kakak yang penuh kasih sayang dan perhatian. Tak hanya itu, setiap kata-katanya seolah menjadi motivasi tersendiri dalam hidupku. Aku dahulu yang nakal, aku dahulu yang egois dan tak pernah peduli. Sekarang aku mulai berpikir bagaimana bisa menjalani hidup dengan bahagia bersamaan membahagiakan orang tua juga.

“Dek, kamu harus kuliah! Tidak boleh langsung kerja habis lulus SMA. Gak harus langsung kuliah tahun ini, kok. Tahun depan juga boleh. Yang penting kamu harus kuliah!” Kata Kakakku menghakimi sepihak.

“Ah, kalau aku disuruh kuliah, aku mau sama Kakak saja, satu kampus sama Kakak, satu jurusan juga,” jawabku sekenanya.

“Enggak boleh! Harus berbeda. Kasian Kakakmu nanti kalau selalu direpotkan,” seloroh Ibu seketika dengan membawa hidangan pisang goreng di hadapan kami.

Aku merasa dilema, rasanya aku tak berguna jika menjalani kehidupan yang tak sesuai dengan keinginan. Apakah hidupku tercipta dengan penuh tekanan? Ah, sudahlah. Aku pasrah.

Hari begitu cepat berganti, waktu menerobos berbagai tantangan kehidupan tanpa permisi. Sedangkan aku, masih meratapi kehidupan tak berbahagia ini. aku terkejut ketika melihat chat Kakak yang penuh itu. Lagi-lagi dia selalu membagikan link untuk mendaftar kuliah. Dari kuliah negeri, swasta, bahkan hingga berbagai jenis beasiswa dalam negeri dan luar negeri.

Iseng saja aku meng’iya’kan tawaran Kakak untuk mendaftar ke luar negeri. Meski aku tak terlalu berharap diterima, aku tetap coba saja. Aku mendaftar beasiswa S1 di Kairo, Mesir. Dengan percaya diri setelah berbagai ujian kujalani, aku bertanya pada Ibu.

“Bu, apakah Ibu yakin aku bisa lolos?”

“Entah, kok Ibu tidak terlalu yakin ya, tapi Ibu tidak sedih kalau kamu tidak diterima.” Beginilah jawaban Ibu. Entah apakah karena ia terlalu meremehkan aku yang dibilang malas ini, atau karena hal lain pun, aku tak paham.

Dengan semangat Kakak masih menyuruhku untuk mencoba daftar beasiswa lain, iseng saja kulakukan lagi arahan Kakak. Aku pilih jurusan umum di Universitas Swasta di negara yang bukan mayoritas muslim, Taiwan.

Tak pernah terbayang, di waktu yang sama, detik yang sama pula, kabar menggelegar riuh di keluargaku. Aku lolos di Mesir dengan Beasiswa, begitu pun dengan yang di Taiwan. Lagi-lagi aku merasa dilema. Meski sebenarnya penuh bahagia.

“Kak, kalau aku kuliah di Mesir, apakah seperti belajar di pondok? Harus serius? Jarang boleh main hp? Dan peraturannya ketat?” tanyaku polos kepada Kakak yang kuanggap penuh wawasan itu.

“Ya pastilah, kalau kuliah di Mesir jangan main-main. Nanti malah lama lulusnya. Harus rajin di sana ya,” kata Kakakku.

“Tapi kan, Kak. Aku enggak bisa harus serius banget. Harus ada selingan hiburannya. Ah, pasti kalau di Mesir banyak hafalannya ya, termasuk Hafalan Al-Quran.” Kakak hanya mengangguk sembari menata baju-bajunya yang akan dibawa kembali ke perantauan.

Bibirku langsung kelu, wajahku seketika pucat pasi membayangkan kehidupan belajar di Mesir. Ah, Kakakku yang dulu bermimpi kuliah ke sana saja benar-benar di larang oleh Ibu, giliran aku yang diterima, kok malam rasanya berat. Mungkin Ibu masih berat melepaskan Kakakku, jelas saja dia sebagai anak pertama yang dipenuhi dengan harapan terbaik dari Ibu. Padahal jika ditimbang dengan kelayakan, bisa jadi Kakak jauh lebih pantas menerima beasiswa belajar di Mesir daripada aku.

Dengan cepat aku memutuskan untuk memilih yang di Taiwan saja. jurusan manajemen pariwisata. Lumayanlah barangkali ke depannya bisa jalin relasi dengan Kakak, yang punya mimpi untuk mendirikan Tour and travel Haji dan Umorh plus.

Beberapa perlengkapan dan persyaratan sudah terpenuhi, jelasnya Kakak tak pernah bosan memberiku semangat. Tiga bulan lagi aku akan terbang ke Taiwan setelah dikarantina untuk belajar bahasa mandarin.

***

Seketika dunia berubah. Aku yang dulu selalu merasa sepi, nestapa, dan tak pernah bahagia, sekarang seolah sedang terbang jauh tinggi di angkasa. Di facebook, whatsapp, dan media sosial lainnya sedang ramai membicarakan aku yang diterima dua universitas luar negeri sekaligus. Kini aku selalu tersenyum bahagia dengan kehidupanku.

Guruku tak lagi memandang sebelah pihak, orang tuaku tak lagi membeda-bedakan dengan Kakak yang sudah jelas jauh punya kelebihan banyak daripada aku. Bagi Ibu, Kakak itu segala-galanya.

Tapi, aku merasa sedih ketika Ibu mengungkapkan, “Kamu anakku yang sering menjengkelkan, tapi aku sayang sama semua anak-anakku. Tak pernah ingin membedakan satu sama lainnya, kini sudah jauh semua, aku merasa sepi. Apakah di usiaku yang semakin senja mampu melihat kesuksesan semua anak-anakku?” Kata-kata Ibu yang paling menyayat hati.

Siapa sih yang tidak ingin membahagiakan orang tua? Kurasa sebagai anak tidak ada yang tidak ingin orangtuanya bahagia. Lantas, ukuran apakah membahagiakan orangtua itu? Dengan kekayaan hidup? Dengan memberangkatkan haji mereka? Dengan membangun yayasan yatim piatu untuk investasi akhirat mereka? Atau dengan selalu merawat Ayah dan Ibu ketika mereka sudah tua renta?

Bahkan, sebagian orangtua ada yang bersedih ketika anak-anaknya dewasa hidup jauh darinya. Sejak kecil dirawat dengan penuh kasih sayang, remaja dituntun untuk menjalani kehidupan yang benar, dan ketika dewasa seolah seorang anak terlalu egois jika memutuskan hidup jauh dari orangtua.

Dari sisi ini, aku merasa sedih. Aku tak ingin Ibu selalu mengkhawatirkan anaknya yang sedang hidup sangat jauh darinya. Tapi tangisan hati itu tak pernah bisa dilarang. Meski Ibu selalu memberi kabar bahagia, tapi sebenarnya hatinya dilanda kerinduan untuk berkumpul dengan anak-anaknya.

“Aku merantau jauh di sini semata-mata untuk kebahagiaan Ibu, maka Ibu jangan bersedih. Cukup kirim doa sebanyak-banyaknya utuk aku dan Kakak ya.”

“Sebagai Ibu, aku tak berharap terlalu tinggi dari anak-anakku. Cukup kalian semua punya bekal banyak untuk mempersiapkan kehidupan di akhirat kelak, ibadah yang rajin, sedekah yang banyak, dan menebar manfaat sebanyak-banyaknya untuk orang-orang di sekitarnya.” Aku membayangkan Ibu mengatakan ini dengan membelai rambutku.

Perlahan deraian air keluar dari kedua ujung mata membasahi pipiku. Dalam sekejap duniaku berubah menjadi dunia penuh kebahagiaan, dan seketika sirna karena sadar bahwa kebahagiaan itu sifatnya hanyalah semu.

Aku tahu bagaimana perasaan sedih Ibu, kesedihan yang pernah kualami, tak sebanding dengan kesedihan Ibu yang ditinggal oleh anak-anaknya merantau jauh. Tapi sejatinya hidup itu harus selalu bersyukur. Bersyukur dengan semua keadaan yang sedang dijalani. Keterhimpitan, kenestapaan, keberuntungan dan lain sebagainya. Semua akan tercipta bahagia jika kita penuhi kehidupan dengan selalu bersyukur dan tersenyum.

Ibu, Ayah. Terimakasih telah mengajarkan aku apa arti kebahagiaan yang abadi. Kakak, terimakasih telah menuntunku ke alam hidup bahagia yang hakiki. Kini aku sadar, bahwa bagaimanapun keadaanku sekarang, aku harus menjalani kehidupan ini dengan penuh syukur, karena di dalamnya akan selalu ada bahagia yang membersamainya. Ukuran bahagia selamanya tak pernah bisa diukur, kecuali dengan rasa bahagia menjalani hidup itu sendiri.

Oleh: Sayyidatina Az-Zahra.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: