Harta tentunya bukan hanya perihal uang, tabungan, aset-aset, tetapi juga apa-apa yang kita asupkan ke mulut kita. Ya, makanan dan minuman kita.

Islam memberikan aturan ketat perihal kehalalan makanan dan minuman ini. Halalan thayyiban, halal dan baik, begitu prinsip ajarannya. Halal bukan hanya dalam aspek dzatnya, alias tidak diharamkan oleh nash dan fiqh, tapi sekaligus dalam cara mendapatkan dan membelanjakannya.

Kopi di mejamu halal secara dzat kopinya. Tapi ia bisa menjadi haram jika cara mendapatkannya dilakukan dengan cara-cara yang melanggar syariat. Misal uangnya hasil mencuri, hasil judi, atau kopi hasil malak. Pun kopi itu bisa jadi haram hukumnya jika kamu tidak mengeluarkan zakat yang ditentukan atau sedekah yang ditetapkan.

Pelik, ya? Betul, kepelikan itu bukan untuk menyusahkanmu, tapi menyucikan makanan dan minumanmu, sebelum masuk tubuh.

Selain halal, juga harus baik. Secara dzatnya, tidak merusak dan membahayakan, bahkan tidak menjijikkan. Jika sebuah makanan yang kamu santap memicu perseteruan sosial, misal menciptakan jurang kesenjangan antara kaya dan miskin, maka makananmu juga bermasalah. Tidak thayyiban.

Kita pun mendengar nasihat, misal, jangan sampai aroma makanan yang kamu makan hinggap ke penciuman tetangga dan ia tak mencicipinya. Apalagi bagi kaum fakir yang kelaparan yang hanya disebarkan aromanya saja. Jelas bermasalah.

Abu Dujanah, salah satu sahabat Rasulullah Saw., ditegur oleh Rasul pada suatu hari karena ia selalu terburu-buru pulang usai shalat jamaah. Dikatakan kepadanya, “Kenapa kamu selalu terburu, marilah dzikiran bersama kami.”

Abu Dujanah berkata, “Saya ada udzur, Ya Rasul, halangan, sehingga harus selalu bergegas pulang.”

“Apa udzurmu?”

Ia menceritakan bahwa keluarganya fakir miskin sampai anak-anaknya kerap kelaparan. Di sebelah rumahnya, tumbuh pohon kurma. Sebagian dahannya menjuntai ke rumahnya. Bila angin bertiup kencang, kerap buah-buah kurma yang masih basah berjatuhan ke tanah Abu Dujanah. Anak-anaknya pun berebutan memungutinya dan memakannya dengan bersemangat. Maklum, lapar. Buah-buah kurma yang jatuh itu bisa mengurangi rasa lapar mereka.

Nah, Abu Dujanah selalu menyegerakan pulang dalam maksud mencegah anak-anaknya yang kelaparan memakan kurma-kurma yang berjatuhan itu. Ia sungguh khawatir mereka memakan dan menelan kurma-kurma milik tetangga itu.

Maka jika dilihatnya anak-anak telah memasukkan kurma-kurma itu ke mulut, ia akan merogoh mulut anak-anak itu agar mengeluarkan kurma-kurma itu. Anak-anak pun kerap menangis kecewa. Abu Dujanah melakukan itu setiap saat sembari berkata, “Keluarkanlah, janganlah kalian menyusahkan ayah di hari pembalasan karena keharaman kurma-kurma yang kalian telan ini.”

Abu Dujanah selalu dan selalu memunguti dan mengumpulkan kurma-kurma yang jatuh sendiri, yang tanggal dihembus angin itu, termasuk yang kadung dikunyah oleh anak-anaknya, lalu mengantarkannya kepada tetangganya—si pemilik batang kurma itu.

Rasulullah Saw. menitikkan airmata. Menangis. Sedih, haru, dan bangga pada kewara’an Abu Dujanah di tengah kefakiran yang membuat anak-anaknya lapar perihal kehalalan kurma itu.

Abu Bakar lalu nenebus sebatang kurma itu dari pemiliknya dengan menukarkan sepuluh batang pohon kurma terbaik di Madinah miliknya dan memberikannya kepada Abu Dujanah.

Rasulullah Saw berkata pada Abu Bakar, “Aku akan menjamin pengembalian sepuluh batang kurmamu, Abu Bakar.”

Maksudnya, Rasulullah lah yang memastikan langsung kepada Abu Bakar bahwa Allah lah yang akan memberikan balasan kemuliaan kepadanya dengan doa langsung Rasulullah Saw.

Bro, Sis, sudahkah kita sebegitu hati-hatinya macam Abu Dujanah dalam memastikan apa yang kita dan minum sepenuhnya halalan thayyiban?

Ataukah, kita tergolong ke dalam golongan muslim yang tak begitu mengindakan kehalalan itu, atau setengah peduli saja?

Mari renungkan: makanan dan minuman yang kita asup akan masuk ke pencernaan kita, diolah oleh tubuh, jadi darah, jadi energi. Dengan energi itulah kita berbuat, berpikir, dan mengarungi hidup ini. Segalanya, lahiriah, bersumber dari energi itu, termasuk shalat kita, ngaji kita, shalawat kita, dan semuanya.

Jika sumber energi (makanan dan minuman) itu subhat kualitas halalan thayyibannya, bukankah logis saja bila kemudian isi pikiran dan perilaku kita juga penuh dengan kesubhatan, keabu-abuan?

Kadang rajin shalat, tapi susah khusyuk, kadang lain malas shalat, gampang saja meninggalkannya demi meeting atau piknik. Wajar, sangat wajar, sumber energinya subhat.

Apalagi bila haram. Wajar, sungguh wajar, bila isi pikiran dan perilaku kita dekat sekali sama kefasikan, kemunafikan, kemaksiatan, dan kezaliman. Mau terlihat tegak shalatnya, tak ada Allah di hatinya, tak ada khusyuk dan faedah pada setiap bacaan dan gerakan shalatnya.

Ia sedang shalat, tapi hati dan pikirannya sibuk ngurusi bisnis, dagangan, utang, tagihan, prospek klien, bahkan selangkangan. Ia tidak sedang fokus menghadap Allah dalam shalatnya. Wajar, sangat wajar, shalatnya tak memberikan dampak ruhani apa pun: shalatnya tak mampu mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar.

Begitu dahsyatnya dampak langsung makanan dan minuman subhat dan haram, maka Islam—dari misal kisah Abu Dujana itu—melarang keras segala praktik perolehan harta dan pembelanjaannya yang tidak halalan thayyiban.

Dan, tentu saja, siapa saja yang mampu menetapi dan memegang ajaran halalan thayyiban ini, niscaya hanya dialah yang hati dan pikirannya sepenuhnya iman kepada Allah. Tidak bisa tidak.

So, ini bisa jadi bahan introspeksi, jika ternyata lelaku dan pikiran kita hari ini masih lekat dengan kemaksiatan dan kefasikan, itu pertanda nyata bahwa iman kita mengidap masalah—dan boleh jadi salah satu pemicunya dikarenakan makanan dan minuman kita tidak benar-benar terjamin kehalalan dan kethayyibannya.

Hayo ….

Oleh: Edi AH Iyubenu.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: