Ilustrasi dari Hipwee.

Sudahkah Kita Menjadi Pribadi yang Shidq dan Ikhlas?

Sebagai salah satu sufi terkenal dan guru besar dari banyak guru tasawuf—bahkan Imam Ghazali juga berguru banyak meski tidak secara langsung kepadanya—sosok Imam Junaid al-Baghdadi mewariskan dua istilah yang luar biasa berharga dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub ilallah) melalui peribadahan. Beliau menyebutnya shidq dan ikhlas.

Cukup berbeda dengan pengertian umum kita selama ini tentang shidq yang kita sebut “benar”.

Menurut Imam Junaid al-Baghdadi, shidq dalam peribadahan kepada Allah ialah fase awal di mana kita memiliki dorongan kuat, baik secara lisan, perilaku, maupun tujuan untuk beribadah kepada Allah. Karena ranahnya ada tiga kategori, maka klasifikasi shidq pun berada di level-level tersebut.

Level lisan ialah pernyataan atau ikrar untuk beribadah kepada Allah. Boleh jadi itu beranjak ke level berikutnya, alias diamalkan beneran, atau tidak. Jika diamalkan benar, masuklah ia ke level shidq perbuatan. Misal ia benar-benar shalat, ngaji, atau sedekah. Dan sebagainya.

Level shidq sebagai tujuan ialah tatkala kita telah memiliki kebiasaan yang terbentuk dalam aktivitas beribadah, lalu seiring jalannya waktu menancap di dalam hati, sehingga menjadi suatu kesadaran. Kesadaran, misal, bahwa tugas manusia di muka bumi ini tiada lain kecuali untuk beribadah kepada Allah. Wama khalaqtul jinna wal insa illa liya’budun.

Bila di hati kita telah tumbuh kesadaran tersebut, kita telah kaffah sebagai ahli ibadah yang shidq. Menariknya, Imam Junaid al-Baghdadi mengingatkan bahwa sekalipun umpama kita telah berhasil mencapai level batin demikian, tetaplah shidq adalah pintu pertama bagi mutu utama ibadah kepada Allah, yakni ikhlas.

Apa itu ikhlas menurut beliau?

Ikhlas dalam beribadah kepada Allah adalah kondisi di mana seorang hamba bukan hanya memiliki kesadaran akan kewajiban ibadah kepada Allah ataupun kebahagiaan bisa beribadah kepadaNya, tetapi telah merancak jauh menjelma kerinduan, kelezatan, dan cinta kepada Allah.

Allah selalu menjadi dasein-nya (cara mengadanya), sehingga bentuk ibadahnya kepada Allah bukan lagi semata shalat lima waktu, misal, tapi bisa terejawantah dalam segala bentuk shalat, puasa, ngaji, sedekah, dan sebagainya.

Jadi, segala amaliah, baik yang wajib ataupun sunnah, telah bertapa dalam jiwanya menjadi sepenuh-penuhnya jalannya untuk mengingat Allah, memikirkan Allah, mencintai Allah, dan menyatukan diri pada Allah.

Orang yang bisa demikian disebut mukhlish.

Bahkan lebih jauh Imam Junaid al-Baghdadi menggambarkan bahwa seorang mukhlish telah mampu meletakkan seluruh aktivitasnya yang hanya untuk mencintai Allah itu sebagai karunia dari Allah. Bukan dirinya.

Tatkala ia berpuasa sepanjang siang dan bermunajat sepanjang malam, ia meletakkan aktivitasnya tersebut sebagai karunia dari Allah, bukan sebab dirinya. Allah menjelma lokusnya: ya penyebab, ya tujuan, ya sekaligus keberadaannya.

Jika nasihat ini coba kita aplikasikan dalam ibadah sedekah, misal, kita akan melihat bahwa ayat 261 dari surat al-Baqarah yang menjanjikan balasan hingga 700 kali lipat itu dapat dilekatkan pada kaum pesedekah yang masih shidq. Dari janji balasan besar tersebut, kita tergerak dan tertarik untuk bersedekah, misal. Begitu terus kita melakukan amaliah sedekah.

Lantas, setelah bertahun lamanya melazimkan sedekah pada dirinya, setiap bulan misal, kesadaran akan bergunanya sedekah bagi keadilan sosial dan silaturahmi dan persaudaraan tumbuh di dalam hati, sehingga sedekah pun menjadi tujuan dari kegiatan ekonomisnya, maka ia adalah shidq yang telah mencapai level tujuan. Belum ikhlas.

Ikhlasnya seorang pesedekah ialah tatkala ia terus bersedekah dengan tanpa lagi melakukan hitungan motivasi apa pun. Terus bersedekah atas rezeki yang didapatkannya semata karena cinta kepada Allah, dan akhirnya memupukkan pengertian ruhaniah di jiwanya bahwa kemampuannya bersedekah adalah karena karunia Allah pula.

Jadi bukan lagi pada soal punya uang untuk disedekahkan yang diyakininya sebagai karunia Allah, tapi eksekusinya bersedekah pun adalah karunia Allah yang diberikan kepadanya.

Sebab fondasinya adalah semata Allah, maka sedekah itu dapat dinyatakan telah ‘kehilangan tujuannya’ pada dirinya. Ini bukan tentang diri kita, sama sekali bukan, ini semata murni tentang Allah. Allahlah penggerak didapatnya suatu karunia uang dan Allah pulalah yang menjadi penggerak bagi disedekahkannya uang tersebut. Terjadi hubungan intim yang tak terbahasakan lagi pada ruhani orang yang telah mencapai maqam ikhlas ini.

Berat sekali, ya?

Iya, sangat berat. Hanya orang terpilih yang mampu menjangkau level ikhlas ini. Tetapi, mari mengerti dengan penuh ketulusan bahwa sampainya kita pada level shidq level ucapan saja, itu adalah berkat lahiriah kita bergerak ke sana sehingga nyambung dengan karunia Allah.

Begitu pun saat kita benar-benar telah mengamalkan suatu sedekah. Dan terus begitu sampai pada akhirnya seiring keistiqamahan kita mengamalkan amalan sedekah itu tanpa kita merasa telah sampai pada maqam lillahi ta’ala dan laa haula walaa quwwata illah billah.

Inilah posisi ‘ubbad (ahli ibadah) yang ditradisikan oleh para salik, kaum sufi, di hadapan Allah Swt.

Mari mulai saja dengan cara membangun niat, lalu lakukan saja, lalu lakukan saja, lalu lakukan saja, lalu resapi, resapi, hayati, dan terus lakukan saja, dan terus lakukan saja.

Semoga suatu kelak kita sampai pada level: ini semua hanya mungkin terjadi atas karunia Allah.

Inilah Sang Mukhlish!

Oleh: Edi AH Iyubenu.

Tinggalkan Balasan