Ilustrasi dari Hipwee.

Sulitkah Memilih Antara Berkarier atau Merawat Anak?

Aku menarik nafas panjang ketika Cantik, anak kesayanganku menangis melempar apa pun yang ada di sampingnya. Anakku masih balita. Kemampuan bicara yang belum sempurna sering membuatnya marah ketika apa yang dia inginkan tidak dimengerti oleh orang di sekitarnya. Satu jam kemudian setelah amarahnya reda, dia mengantuk dan seperti biasa aku harus meninabobokkan dia.

Aku mendengar nada ponselku berbunyi “centing.” Aku mengambil dan membuka suatu pesan di grup pertemanan kami semasa kuliah. Aku melihat kiriman foto teman yang sedang mengikuti kegiatan pelatihan. Jujur, aku ingin sekali seperti mereka. Bukan sebagai aktualisasi diri, tetapi aku ingin menjadi wanita mandiri dan dapat membantu suami.

Sehari-hari aku hanya sebagai ibu rumah tangga yang mengurus anak dan mengerjakan pekerjaan rumah. Suatu siang aku mendapatkan pesan singkat dari dosenku sewaktu kuliah. Aku baca dan betapa gembiranya hatiku. Ada tawaran kerja di Surabaya dengan gaji yang nilainya fantastis. Aku langsung menghubungi dosenku. Beliau memintaku menghubungi orang yang ada di perusahaan tersebut.

“Selamat siang Bu. Mohon maaf, saya mendapatkan nomor Ibu, dari dosen saya. Saya diminta menghubungi Ibu, terkait pekerjaan yang Ibu tawarkan.”

“Selamat siang. Ia benar, saya membutuhkan orang untuk menggantikan posisi saya,” kata Ibu yang saya hubungi.

Singkat cerita dari percakapan itu menjelaskan tentang kerjaan, gaji dan segala fasilitas yang nanti akan aku dapatkan. Tapi satu hal yang mengganjal jika aku menerima pekerjaan itu. Bagaimana dengan Cantik? Aku akan sering meninggalkan dia untuk urusan pekerjaan. Apa aku harus cari pengasuh? Meninggalkan dia selama berhari-hari tidak mungkin? Sepertinya mustahil.

Sejak bayi aku memang merawat anakku sendiri sambil menyekesaikan kuliahku. Jadi Cantik tidak terbiasa dengan orang lain. Sehari-hari dia bersamaku. Kutinggal sejenak saja dia sudah mencariku. Kutinggal ke kamar mandi saja saat tidur dia kan terbangun dan menangis.

Aku menghubungi suamiku siang itu juga, terkait tawaran pekerjaan dengan segala konsekuensi yang akan kudapatkan. Suami hanya mengatakan, “Tidak masalah dicoba nek sampean pengen coba (tidak masalah dicoba kalau kamu ingin mencoba)”. Mendengar suami mengatakan seperti itu alhamdulillah suami mengizinkan lalu rasa gembira saya berubah seketika ketika suami mengatakan “bagaimana dengan Ibu?”

Setelah menikah kami tinggal dengan Ibu. Selama ini secara tersirat Ibu tidak mengijinkan kami mencari pengasuh untuk Cantik. Dan aku sendiri tidak ingin membebani orang tua perihal merawat anak jika aku bekerja. Mereka sudah kenyang merawat kami sewaktu kecil. Sekarang sudah saatnya orang tua menikmati masa istirahat tanpa dibebani urusan merawat cucu, itu adalah prinsipku.

“Apa sampean wes minta pertimbangan Ibu terkait tawaran kerjaan ini?” Rasanya Ibu gak akan setuju apalagi dalam sebulan bisa keluar kota lima kali bahkan keluar jawa kata suamiku dengan santainya.

“Lha terus piye penak e (lha terus bagaimana enaknya).” tanyaku dengan nada tinggi. “Sayang tidak mau kalau istrimu ini punya pengasilan sendiri? Apalagi perkataan orang tidak enak didengar, sarjana hanya momong anak di rumah,” seruku.

Aku dan suamiku tidak menemukan titik temu. Semalaman aku berpikir akan mencarikan pengasuh untuk Cantik tapi membawa pengasuh ke rumah tidak mungkin, pasti akan konflik dengan ibu. “Sudah, sampean (kamu) gak bisa menerima pekerjaan ini dari pada nanti yang ada cuma konflik. Kalau sampean (kamu) pengen kerja, buka toko yang sekarang ditutup. Iso (bisa) ngemong anak ya bisa menghasilkan.” kata suamiku.

Aku mengutarakan uneg-unegku kepada Ibu. Suamiku benar, Ibu tidak setuju dengan tawaran pekerjaan itu. Suasana hatiku makin buruk. Kapan aku akan maju kalau aku hanya diam dirumah, umur tambah tua dan kesempatan pasti akan hilang. Itu yang selalu ada dalam pikiranku.

Keesokan harinya Cantik pun makin rewel dan sulit dikendalikan. Pagi dan siang tidak mau makan maunya minum ASI saja. Aku semakin tidak mengerti apa yang dia inginkan. Emosiku bergelombang dan sampai akhirnya tangan inipun mendaratkan pukulan. Ibu marah melihatku melakukan itu. “Kalau kamu tidak bisa sabar, jadi Ibu. Tidak usa punya anak.” kata Ibu seolah tidak memahami suasana hatiku.

Rasa jengkelku pun berdampak pada anakku malam hari dia demam. Semalaman aku tidak tidur karena demam Cantik tak kunjung mereda meskipun sudah minum obat.

Aku membawanya periksa ke rumah sakit. Rasa penyesalan dalam hatiku muncul. “Apakah dia merasakan kegalauan hati Ibunya? Apakah ini sebagai wujud protes kalau dia tidak ingin ditinggal bekerja? Ah, Sepertinya aku terlalu mendramatisir keadaan.” pertanyaan itu muncul dalam pikiranku saat perjalan pulang dari rumah sakit.

Hari kedua demam Cantik tak kunjung turun. Setelah minum obat demam turun tapi akan demam lagi setelah 4 jam kemudian. Setiap malam aku tidak bisa tidur karena Cantik selalu rewel. Besok hari ketiga aku akan membawanya lagi ke rumah sakit untuk cek lab.

“Sayang besok hari ke tiga aku akan bawa Cantik periksa ya!” kataku sambil mengusap kepala dan mencium kening anakku.

“Ia, besok aku akan ijin kerja. Aku antar biar gak naik bus.” kata suamiku.

Aku duduk di ruang tamu sambil menggendong Cantik. Aku melihat jam sebentar lagi Cantik harus diberi obat penurun panas.

“Sampean masih mikir tawaran kerja itu ya? Sepurane (maaf) bukan aku gak seneng (tidak senang) atau tidak mendukung istri, tapi kondisinya seperti ini bagaimana? Lihat sekarang Cantik sakit, nek sampean mekso ninggal kerjo (kalau kamu memaksa kerja) apa jadinya anak kita, dia belum bisa ditinggal.”

Aku menyandarkan kepalaku ke pundak suamiku. “Aku pengen dapat penghasilan mandiri ben iso nyenengne anakku.”

“Aku hargai usaha sampean (kamu) pengen mendapatkan penghasilan,” ucap lirih suamiku.

Aku berdiskusi dengan suamiku. Suamiku benar. Anakku tidak mengerti uang. Yang dia mengerti dia bahagia ketika Ibunya selalu disampingnya, dia merasa nyaman dengan Ibunya bukan dengan orang lain. Rezeki itu tidak hanya uang. Rumah tangga adem, kesehatan, anak yang sehat dan lucu, pasangan yang bisa mengerti itu semua rezeki.

Allah lebih tahu apa yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan. Jika memang saat ini aku tidak dapat bekerja bukan akhir segalanya. Boleh jadi apa yang terlihat bagus justru hal buruk bagi kita. Allah mungkin menyelamatkan kita. Aku harus berbaik sangka.

Semua orang pasti ingin sukses karier dan keluarga, tapi jalan masing-masing orang tidak sama. Semua sudah ada garisnya. Mungkin saat ini belum saatnya. Suatu saat nanti Insya Allah pasti ada. Berusaha dan berdoa, satu paket yang wajib kulakukan.

Bismillah, aku memutuskan menjaga amanah Allah merawat anakku dengan sebaik-baiknya. Aku menjalankan kembali usaha tokoku dan merawat Cantik. Aku berusaha menikmati setiap masa bersama anakku. Anak adalah investasi masa depan.

Soal karier, saat ini anakku adalah karier utamaku. Dia seperti buku putih yang belum bertulis dan berwarna. Dia amanah dari Yang Maha Kuasa. Semoga kelak dia menjadi anak sholehah dan dapat membawa kami ke Jannah-Nya.

Oleh: Anika Anwar.

Ilustrasi dari sini.

Tinggalkan Balasan