contoh surat untuk calon mertua

Surat Cinta Untuk Calon Ibu Mertua

Assalamu’alaikum.

Semoga perempuan yang membaca surat ini sedang tersenyum.

Wahai Ibunda yang cantik jelita,

Tentu, melahirkan lalu membesarkan seorang anak laki-laki bukan hanya perlu pengorbanan. Butuh juga kesabaran dan kasih sayang yang mahaluas. Melahirkan itu—katanya—sakit. Saya belum merasakannya, tetapi cerita-cerita yang banyak dibagi di luaran sana, membuktikan demikian.

Menunggu bayi mungil keluar dari perut ibu adalah jarak tipis antara hidup dan mati. Kesakitan itu, berawal dari sembilan bulan penantian yang juga tidak ringan. Pun menjadi ibu tidak cukup hanya dengan melahirkan anak. Menyusui bayi hingga dua tahun pasti memangkas waktu tidur dan menghitamkan kantong mata. Menyuapi, memandikan, mengganti popok menimang-nimang, menenangkan tangisan bahkan bisa berulang kali dilakukan dalam sehari semalam.

Kalau semua energi Ibu dikumpulkan, barangkali matahari—sumber energi terbesar di bumi—kalah telak. Pantas saja ada lagu anak-anak yang liriknya berakhir dengan mengibaratkan kasih Ibu sebagai cahaya surya. Memang demikian adanya. Iya kan, Bu?

Semakin bertambah usia, tugas Ibu tidak semakin ringan, bukan? Pastinya mulai ada ‘perlawanan.’ Larangan-larangan Ibu mulai sedikit dibantah. Ibu harus menahan emosi, mencari kata-kata yang tepat untuk membuatnya mengerti tentang bahaya atau hal-hal tidak baik lain. Ibu mulai harus menjawab pertanyaan-pertanyaan polos yang tidak terduga. Betapa menjadi ibu bukan cuma butuh fisik tapi juga pikiran. Salut sekali saya!

Ketika si kecil bermetamorfosis menjadi sosok tampan, Ibu mulai bersiap untuk melepasnya merantau. Ibu mengatur keuangan agar dia memperoleh fasilitas pendidikan yang mumpuni. Bukan cuma itu, bahkan untuk tempat tinggal yang nyaman. Kamar indekos yang membuatnya betah sampai tiba masa menjadi sarjana. Ibu tidak hanya membekalinya dengan uang dan perbekalan lain tapi juga setumpuk nasihat agar si tampan menjaga diri.

Rindu dan rasa khawatir membuat Ibu tidak lepas merapalkan doa-doa. Betapa rindu memang berat ya? Saya sedang merasakannya kali ini. Rindu dijemput anak Ibu untuk dibawa ke hadapan penghulu. Boleh kan, Bu?

Dear Ibu pemilik lautan kasih dan samudera sayang,

Membersamai putra tercinta tahun demi tahun, mungkin jadi hal yang memupuk rasa tidak mau kehilangan. Segala bentuk emosi yang tercurah dari masa ke masa, meninggikan asa untuk menyatukan laki-laki itu dengan wanita yang setidaknya bisa menggantikan tugas hariannya. Saya sungguh bisa mengerti itu, karena demikian pula yang bunda—ibu kandung saya—lakukan. Tidak ada orang tua yang ingin anaknya jauh dari bahagia.

Saya tahu, semua yang sudah saya sebutkan itu tidak mudah dilakukan. Maka, wajar jika ibu berada di urutan pertama yang harus dihormati. Pun saya bisa memahami, mengapa seorang ibu tidak akan sembarangan melepaskan separuh hatinya itu. Sudah susah-susah membesarkan dan mendidik, mustinya dia dapatkan yang terbaik. Bukan ditemukan dengan yang sembarangan.

Sudah semestinya, laki-laki baik mendapat penjagaan. Meski saya tahu betul, dia bahkan telah sanggup menjaga dirinya sendiri. Sungguh Ibunda, Ibu tidak akan kehilangan laki-laki tampan nan saleh itu. Ibu akan tetap jadi Ibu, perempuan nomor satu. Saya hanya akan meminta separuh dari dirinya, agar nilai ibadah kami tak lagi satu tetapi dua; sempurna.

Saya juga berharap, jika kelak Ibu memberi restu, saya akan melahirkan cucu-cucu yang lucu untuk Ibu. Keturunan dari laki-laki baik yang Ibu besarkan dengan sepenuh hati. Saya akan membesarkan mereka dengan sungguh-sungguh, dengan berbekal petuah-petuah Ibu. Akan ada lebih dari satu orang yang menyayangi Ibu.

Apakah Ibu masih ragu?

Ibunda yang baik hati,

Seperti yang Ibu pikirkan, saya memang memiliki kekurangan. Tapi bukankah itu tanda bahwa saya masih menjadi manusia? Justru karena itulah, saya dan anak Ibu diciptakan. Tidak ada satu orang pun yang sempurna, maka tugas kami lah untuk saling menyempurnakan. Saya kurang, anak Ibu tambah, demikian sebaliknya. Maka, kami menjadi genap di tengah ketidaksempuraan masing-masing.

Ibu tidak perlu khawatir, saya tidak datang sebagai seorang saingan. Saya akan jadi anak Ibu juga, turut menyayangi Ibu sebagaimana saya menyayangi bunda yang melahirkan saya. Mungkin kalau saya belum sempurna membagi cinta, saya harap Ibu mau menegur. Sekali lagi, ini salah satu tanda ketidaksempurnaan saya. Itu juga alasan kenapa saya membutuhkan putra Ibu, untuk membimbing saya menuju kebaikan.

Ibu tidak perlu banyak melakukan apa-apa. Saya yang perlu belajar untuk melakukan segala yang terbaik, belajar berkompromi pada beda, belajar meredam ego dan mengalahkan keinginan untuk bahagia sendirian. Ibu tahu? Suami—anak Ibu—adalah pintu saya menuju surga, dalam bakti saya terhadapnya ada menghormati dan bersikap baik terhadap Ibu. Itu artinya, Ibu juga lah yang jadi pintu surga buat saya.

Tidak ada yang utama bagi saya, kecuali ridanya. Tidak ada yang utama baginya, kecuali ibu kandungnya. Lantas jika saya harus memosisikannya jadi nomor satu, maka Ibu lebih-lebih dari itu. Meskipun nanti, jika telah menikah dengan lelaki kesayangan Ibu saya masih perlu belajar. Saya akan berusaha sekuat tenaga. Itu tidak akan mudah karena saya—yang dibesarkan puluhan tahun—harus mulai membagi diri dan kepentingan kepada keluarga lain—yang sebelumnya orang asing.

Tapi saya yakin, surga (juga) di bawah telapak kaki Ibu (mertua).

Ah, Ibunda. Bolehkah saya curhat?

Saya tidak yakin Ibu dan saya pernah bertemu sebelumnya. Itu membuat saya diserang rasa cemas, akankah rupa saya membuat Ibu kecewa? Saya tidak secantik Raisa atau Maudy Ayunda. Tak berbadan semampai seperti Raline Shah. Kecantikan saya benar-benar tidak seujung kuku mereka pun. Maaf jika di perjumpaan pertama kita—dulu atau nanti—saya terlihat gugup dan malu-malu. Saya hanya terlambat mengumpulkan rasa percaya diri.

Kalau Ibu lihat penampilan saya, sungguh saya bukan perempuan stylish. Tak pandai mencocok-cocokan warna gamis dan khimar. Hanya asal warnanya senada dan tidak norak, itulah yang saya pakai. Tapi, saya dengan senang hati menutup apa-apa yang memang seharusnya dijaga sebagaimana perintah Allah dalam surat An-Nuur ayat 31.

Jika paras saya memang tak menarik di mata Ibu, beritahu saya cara merawat diri ya, Bu? Bagikan tips untuk tampil bugar hingga usia yang tidak lagi muda. Yakinkan saya, bahwa ungkapan ‘cantik dari dalam’ itu benar adanya. Saya percaya pada Ibu karena Ibu lah yang cantik luar dalam. Kecantikan itulah yang membuat Ibu mampu mendidik si tampan hingga hati saya luluh dan cinta saya jatuh. Anak saleh memang lahir dari Ibunda yang salehah.

Ibu ingin tahu apa lagi tentang saya? Biar saya beri tahu sekarang.

Jujur saja ya, Bu. Kadang-kadang masakan saya keasinan atau saya justru lupa menabur garam tapi memastikan suami—yang saya sayangi—tidak kelaparan adalah tugas yang musti didahulukan. Rasa masakan bisa diperbaiki, kan? Saya pikir, saya cuma butuh garam dan gula untuk menyeimbangkan cita rasa masakan saya.

Nanti, saya akan belajar dari Ibu untuk memasak makanan kesukaannya. Saya catat takaran bumbu-bumbu yang dibutuhkan, lalu saya pastikan bahan bakunya benar-benar berkualitas. Ibu juga boleh mencicipinya. Tapi, maaf kalau rasanya tidak seenak buatan Ibu. Sengaja begitu supaya dia masih bisa merindukan rasa masakan Ibunya; itulah romantisme versi saya.

Boleh juga kan, saya belajar memasak makanan favorit Ibu? Biar nanti, ketika Ibu datang berkunjung saya tahu apa yang musti saya hidangkan. Pasti senang sekali, membuat yang disayang bahagia dengan cara sederhana. Menurut Ibu, bisakah saya melakukan itu?

Lalu, kalau-kalau nanti kita tinggal di tempat yang terpisah jauh, saya tidak akan melarang anak laki-laki Ibu untuk berlama-lama menelepon. Saya juga tidak akan menahan dia untuk memanfaatkan teknologi bernama video call. Wajah Ibu yang cantik, pasti membuatnya mudah merindu. Kalau tidak juga bisa langsung bertemu, setidaknya ada layar kecil yang memuat wajah Ibu.

Adakah yang membuat Ibu masih ragu?

Kata-kata saya mungkin bisa meyakinkan Ibu, tapi menikah tidak cukup hanya dengan berkata-kata—merayu calon Ibu mertua. Doa adalah senjata saya yang ketiga, setelah memantaskan diri kemudian menulis surat ini. Kesehatan dan kebahagiaan Ibu sudah wajib saya pinta. Namun doa selanjutnya, biarlah jadi rahasia. Cukup Allah saja yang mengetahuinya. Kelak, saya akan beri tahu salah satunya jika telah sah jadi menantu Ibu.

Tenang saja Ibunda, Ibu akan selalu jadi yang pertama.

Yogyakarta, 22 Oktober 2018.

Salam sayang,

Calon menantu Ibu yang masih misteri.

Dia yang menulis surat ini, sambil memantaskan diri.

Oleh: Hapsari T.M.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

2 thoughts on “Surat Cinta Untuk Calon Ibu Mertua”

Tinggalkan Balasan