surat cinta untuk jodohku

Surat Cinta Untuk Mas Jodoh (yang Masih di Rahasiakan-Nya)

Untuk Mas Jodoh.

Bismillahirahmanirrahim.

Kamu, laki-laki sederhana yang tak lupa tersenyum setiap harinya. Selalu bersyukur karena Allah masih mengizinkanmu membuka mata. Tak pernah meninggalkan kewajiban lima waktu, sibuk beraktivitas hingga kadang tak sempat membalas pesan. Tidak apa, justru itu yang membuatmu terjaga, kan?

Kamu mengingatku. Ya, barangkali ketika menjelang tidur dan di sepertiga malam setelah doa untuk Bunda, pun yang tercinta lainnya. Begitulah bayanganku tentangmu. Kamu, yang sering disebut-sebut sebagai jodoh. Untuk gambaran fisik, jujur, aku tak terlalu memikirkannya. Sebab bukan karena kamu ganteng lalu aku jatuh cinta,  melainkan, karena aku jatuh cinta padamu sehingga kamu selalu terlihat ganteng. Hehehe …

Berbincang denganmu, sering kulakukan, sejak dulu. Mungkin semenjak duduk di bangku SMA. Atau setelah aku masuk perguruan tinggi? Aah … aku tak ingat kapan pastinya. Yang kuingat, aku biasa bersimpuh di bawah pohon mangga belakang rumah. Tenang, pohonnya tidak berbuah. Kamu tak perlu khawatir kepalaku kejatuhan mangga. Apa kamu ingin tahu kenapa aku melakukannya? Emm … percaya atau tidak, saat yang lain asyik merajut asmara dengan pacar mereka, inilah yang kukerjakan. Memandangi bintang di atas sana sambil ngobrol denganmu dan Dia. Sebab, tak ada satu cowok pun yang memintaku menjadi pacarnya. Alhamdulillah. Semoga kata itu yang kamu ucapkan setelah membaca kata-kataku barusan. Kira-kira kalimat-kalimatku begini,

Assalamu’alaikum, Mas. Apa kabar hari ini? Sudah hampir jam sembilan malam, apa yang sedang kamu lakukan? Masih berkutat dengan rutinitas yang belum terselesaikan? Atau telah  pergi melesat jauh ke alam mimpi?”

Lalu aku terdiam sejenak. Kusadari, kamu tak akan menjawab. Tentu saja mustahil. Aku akan lari terbirit-birit seandainya ada suara tanpa wujud menanggapi ocehanku. Tetapi tetap kulanjutkan. Kali ini aku yakin mendapat respon. Langsung Dia sampaikan padamu, sangat cepat melebihi pos kilat.

“Ya Allah, dia sedang mengingatku juga, kan? Tolong sampaikan salam kangenku, Ya Rabb. Makasih.”

Aku mengerlingkan mata dan tersenyum bahagia. Duh, kadang percaya tentang keberadaanmu membuatku sedikit tampak kurang waras memang. Tetapi yang penting aku menikmatinya. Aku melakukan hal itu dalam jangka waktu satu atau dua tahun, mungkin. Sampai akhirnya aku tahu, ada cara lain yang lebih ampuh untuk berkomunikasi denganmu. Lewat lantunan doa yang kuterbangkan sebelum fajar tiba. Kalau ini kupraktikkan hingga sekarang.

Tidak hanya itu, tak jarang aku membicarakanmu bersama sahabat-sahabatku. Kamu bisa menanyakannya nanti. Hohoho …

“Jodohku kira-kira sedang apa ya, sekarang?”

Itu kalimat fenomenal yang rasanya semua sahabatku tahu. Jawaban teman-teman beragam. Ada yang terbahak-bahak terus teriak,

“Woy … Mas jodohnya Mbak Alya lagi ngapain?”

Lalu ada pula yang berkata, “Mungkin doi sedang membicarakan Mbak juga bareng temannya?”

Dan yang paling sering kulakukan adalah mengulang namamu—Mas Jodoh—dalam sujud, di akhir salatku. Meminta padanya agar menjaga cintamu untuk-Nya dan cinta-Nya untukmu. Namun, yang perlu kamu tahu, aku cuma wanita biasa, Mas. Sama seperti yang lain, aku juga bisa baper pada ucapan-ucapan tak bertanggung jawab dari netizen. Kata-kata mereka seperti pisau, kecil mungil tetapi menusuk tepat di ulu hati. Mereka seakan sengaja mengejekku karena belum bertemu denganmu. Jawaban apa yang harus kuberikan ketika mereka bertanya,

“Kapan nikah?”

“Mana calonnya?”

“Masih jomlo aja?”

“Apa enggak bosan sendiri terus?”

Seandainya mereka mengerti. Aku juga ingin betanya tentang hal itu. Tetapi kepada siapa? Bertanya padaku tidak akan mendapatkan apa-apa selain meninggalkan bekas luka. Bukankah pertanyaan-pertanyaan itu dapat diubah menjadi doa? Toh lebih berkah untuk mereka. Wahai geng nyinyirer tolong bertaubatlah!

“Semoga segera menikah, ya!”

“Semoga calonnya segera tiba.”

“Insyaallah jomlo lekas berlalu.”

Sedihnya, kalimat-kalimat itu tidak mereka ubah. Bahkan sering bertambah parah. Mereka membanding-bandingkanku dengan orang lain. Padahal masing-masing manusia diciptakan berbeda termasuk jadwal nikahnya. Huft … meski begitu, tetap saja aku cemas, Mas. Tidak bisakah, kamu datang sekarang? Sekadar membuktikan pada mereka bahwa kamu nyata. Bukan hanya khayalanku semata. Terlalu sibukkah kamu, hingga tak juga mendatangi Bapak dan Ibu untuk meminta doa restu? Supaya dapat kita langsungkan akad sakral untuk menggenapkan separuh agama yang belum sempurna

Aku galau. Apalagi setelah kedatangan beberapa pria yang ternyata masih belum kamu. Maaf Mas, jika ada laki-laki sebelum kamu yang sempat menggetarkan hatiku. Itu karena kupikir dia adalah kamu. Kamu begitu lama membuatku menunggu. Sampai-sampai aku lelah. Lelah menghadapi netizen yang tak henti memojokkan, bosan terus melakukan segala sesuatu sendirian dan letih berbicara sendiri seperti orang gila.

Dulu, aku bangga bisa melakukan apa saja tanpa bergantung pada orang lain. Tetapi kini, aku membutuhkanmu, Mas. Aku perlu teman bicara untuk mengambil satu keputusan, teman belajar dan berjuang tentang lika-liku kehidupan, dan ini yang terpenting, bahwa ibadahku hanya bernilai setengah tanpa keberadaanmu. Selain itu ada alasan yang paling menyesakkan. Aku merindukanmu.

***

Waktu berlalu meskipun aku terdiam melamunkanmu. Aku sudah mulai lebih tenang, sekarang. Para netizen juga mulai sedikit kalem. Barangkali hilang timbul, seperti sakit yang bisa kapan saja kambuh. Tetapi ada masalah lain, Mas. Akhir-akhir ini aku sering mendapat cerita buruk mengenai kaum Adam. Katanya, banyak laki-laki hanya dapat bersikap lembut tak lebih dari enam bulan, setelahnya berkata kasar bahkan sampai memukul. Kamu bukan salah satunya, kan?

Kemudian, banyak kasus tentang suami yang lembut sekali pada istri. Tetapi sayangnya malah gampang terjerat oleh rayuan setan yang berwujud pelakor dan sejenisnya. Apa laki-laki susah sekali menetap di satu hati? Hemm … aku bukan anti poligami, Mas. Sungguh aku rida menjadi yang keempat, setelah Allah, Rasulullah dan Bunda. Maaf, bila kalimatku tadi membuatmu berkesimpulan aku tak mau dimadu.

Masih banyak lagi kisah-kisah sedih dalam berumah tangga yang membuatku khawatir. Apa sebaiknya memang kamu tak segera datang? Menunggu, sampai ketakutan-ketakutanku hilang. Tetapi bagaimana kalau netizen kumat lagi? Apa aku mesti pura-pura tuli? Semuanya semakin membingungkan. Aku tak tahu harus meminta apa pada-Nya.

***

Di tengah-tengah kegalauan, aku memutuskan untuk memperbaiki kualitas diri, Mas. Alhamdulillah, aku berada di antara mereka yang dekat dengan-Nya. Jadi, saat aku galau begini, mereka mengajakku mendatangi-Nya. Alhasil, aku sadar terlalu menuntutmu. Kata Ustaz-ustaz di majelis ilmu yang kuikuti, jodoh adalah cerminan diri. Jika begitu, bukankah apa yang kurasakan, mungkin saja kamu juga mengalaminya? Kesepian, gelisah karena netizen, dan yang pasti rindu yang sama. Berarti, aku sangat egois ya?

Belum bersatunya kita, bisa saja karena aku yang memang belum layak menemanimu, bukan? Apalagi, aku masih sangat labil. Hari ini memintamu datang, besok berpikir sebaliknya. Bagaimana bisa aku meyakinkan-Nya untuk mendatangkanmu? Sedangkan sekadar meyakinkan diriku sendiri saja, aku masih belum mampu.

Orang-orang yang rajin menanyakanmu, tidak bersalah. Mereka justru memberi semangat agar aku tak lelah berdoa dan berusaha. Caraku menanggapi mereka yang keliru. Hatiku terlalu dipenuhi prasangka negatif tentang mereka. Aku yang sakit, bukan mereka. Aku akan berusaha mengobatinya, Mas. Supaya besok ketika kita telah diizinkan bersatu, aku sudah menjadi pribadi yang lebih tangguh. Perempuan yang siap menjadi tempatmu berbagi, perempuan yang mau belajar dan berjuang menggapai rida Allah bersamamu. Bukan hanya wanita yang sibuk merengek dan meminta perhatian.

Mas, maaf ya apabila sampai saat ini kamu belum kutemani. Sebab, ternyata masih banyak cacat diri yang harus kuperbaiki. Terima kasih selalu menjaga diri, iman, islam dan tak pernah lelah bekerja keras. Aku percaya kamu akan tiba di waktu dan keadaan terbaik sesuai pilihan-Nya. Sekarang, tugas kita adalah berpuasa. Kesabaran merupakan yang paling utama dalam puasa kita. Agar nanti ketika berbuka, kita dapat mengendalikan diri untuk tidak berlebihan. Iya, semoga rumah tangga kita nanti tidak berlebihan di awal pernikahan. Lalu terpuruk karena tak sanggup bertahan menghadapi ujian selanjutnya.

O, iya … hampir saja lupa, Mas. Seandainya ternyata kita sudah berjumpa, dan kamu merasa tak pernah kusapa atau kuabaikan, percayalah, bahkan aku memahat jam-jam tidurku, untuk mendoakan, semoga kamu senantiasa dimudahkan dalam urusan-urusan kebaikan. Kamu, tolong jangan lupa berdoa baik untukku juga, ya! Terima kasih.

Salam kangen.

Dari Kekasih Halalmu

Note:

Mas, mungkin suatu saat aku akan membuatmu bosan, bertingkah menyebalkan, atau yang lebih parah, tidak seperti yang kamu harapkan. Ketika itu terjadi, ingatlah Dia tujuan kita dan awal mula kita memulai perjalanan. Semoga dengan demikian, kita dapat menggapai sakinah, penuh mawaddah yang berlimpah rahmah hingga ke jannah. Aamiin.

Karya: Fitri Ayu Mustika.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan