Pernikahan tidak terjadi begitu saja. Sesuai syariat, ada proses yang harus dilalui sebelum melaksanakan akad pernikahan, yaitu ta’aruf (perkenalan melalui pihak ketiga), khitbah/lamaran, lalu pernikahan.

Islam sudah mengatur tata cara proses ini sebaik mungkin untuk menjaga diri pasangan calon. Akan tetapi, semakin ke sini banyak hal yang berubah pada kebiasaan masyarakat.

Ajaran Islam tidak diindahkan lagi dan menggantinya dengan mengikuti budaya barat. Dimulai dari proses awal ta’aruf saja, banyak orang yang menyalahgunakan masa ini untuk mendekati seseorang.

Dengan bersembunyi di balik tameng ta’aruf, salah satu pihak beralasan untuk sering berkirim kabar dan menanyakan hal-hal pribadi. Padahal dalam syariat, ta’aruf dilakukan melalui perantara untuk bertukar informasi satu sama lain dalam bentuk dokumen.

Kedua belah pihak tidak diperkenankan untuk melakukan urusan berdua tanpa sepengetahuan perantara.

Apabila pasangan calon sudah ke tahap khitbah, statusnya tetap belum sah. Hanya akad nikah yang menghalalkan keduanya. Dalam masa khitbah, kita tetap harus menjaga diri dari calon laki-laki/wanita.

Tidak berarti dalam masa itu kita sudah berhak pergi bersama hanya berdua, lebih sering berkomunikasi, dan hal lain semacamnya. Tetap semua harus melalui perantara seperti saat melakukan ta’aruf. Sekalipun nantinya pasangan calon ini melakukan pernikahan, akan tetapi keduanya harus tetap menjaga diri dari satu sama lain.

Dalam masa ini setan lebih mudah masuk ke dalam hati karena adanya perasaan memiliki satu sama lain setelah sudah saling terikat dengan lamaran. 

Jangka waktu khitbah dan pernikahan lebih baik tidak terlalu lama sampai berbulan-bulan. Dikhawatirkan nantinya akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada keduanya. Sebaiknya orang tua juga ikut menjaga diri anak-anaknya saat mereka dalam masa ini.

Kebanyakan di masyarakat sekarang malahan orang tua yang mempersilakan pasangan laki-laki untuk mengajak anak wanitanya keluar berdua atau si wanita menginap di rumah laki-laki.

Orang tua merasa aman jika anak wanitanya keluar dengan laki-laki yang sudah jelas-jelas akan menjadi suaminya. Padahal status mereka belum halal, jika di antara keduanya terjadi ikhtilat, maka tetap terhitung dosa. Bukan berarti tugas orang tua untuk menjaga selesai begitu saja dalam masa ini.

Hal yang lebih mengkhawatirkan, di masyarakat sekarang sudah marak prosesi tunangan (tukar cincin). Hal ini tidak ada tuntunannya dalam agama Islam. Kebiasaan ini terpengaruh oleh budaya barat.

Pasangan yang sudah melakukan tunangan, kadang belum jelas akan menikah kapan. Bisa jadi bertahun-tahun setelah itu, tergantung kesiapan pasangan calon. Tunangan ini hanya sebagai pengikat bahwa satu sama lain berjanji untuk melakukan sebuah pernikahan nantinya.

Mereka melangsungkan tunangan agar lebih leluasa untuk melakukan banyak hal berdua, misalnya keluar kapan pun dan di mana pun. Status tunangan sudah membuat mereka merasa aman karena mempunyai ikatan saling memiki.

Pada masa ini, pasangan calon sudah merasa berhak untuk mengurusi hal pribadi satu sama lain. Bahkan dalam hal keuangan, laki-laki sudah menanggung urusan keuangan pihak wanita.

Padahal seharusnya proses pra nikah dilakukan untuk orang-orang yang memang serius untuk menikah. Namun nyatanya tunangan dilakukan kebanyakan orang pada saat dia belum mempunyai kesiapan untuk menikah, akan tetapi ingin menunjukkan kepada pasangannya bahwa sudah ada niat serius. Bisa jadi orang yang sudah tunangan tidak jadi menikah karena ada rasa ketidakcocokan di tengah perjalanan.

Satu-satunya jalan untuk menunjukkan keseriusan bukanlah dengan tukar cincin, tapi dengan langsung mendatangi walinya bagi pihak laki-laki dan memberi kepastian jawaban bagi pihak wanita.

Orang yang hanya mengulur-ngulur waktu untuk menikah, namun di sisi lain dia sering mengucapkan kata cinta, perasaan cintanya perlu dipertanyakan lagi.

Seberapa seriuskah dia?

Mencintai itu dengan menjaga, bukan membawa ke mana-mana tanpa ada kata Qobiltu Nikakhaha. Sebaik-baiknya janji untuk seorang wanita adalah janji di depan penghulu dan wali.

Jangan percaya jika ada yang bilang mencintai sehidup semati, tapi nyatanya kalau ditanya kapan nikah dia selalu lari.

Sebenarnya tunangan dan pacaran itu beda tipis, hanya di letak proses tukar cincinya saja yang membedakan. Pihak wanita jangan bangga jika sudah berstatus sebagai tunangan tapi belum diberi kejelasan kapan akan dinikahi.

Orang yang benar-benar mencintai, pasti memberi kejelasan bukan dengan hanya sembunyi dibalik kata “nanti kalau sudah siap”. Lalu kalau belum siap, kenapa berani tukar-menukar cincin.

Kita harus ingat lagi pada hadist ini:

Wahai para pemuda, siapa saja di antara kalian yang telah mampu untuk kawin, maka hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan.

Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya.(HR. Bukhari-Muslim)

Jika memang belum siap jangan mendekati pada apa yang belum menjadi hak kita. Mirisnya, tunangan seperti ini disaksikan oleh kedua orangtua. Mereka merasa aman jika anaknya sudah mempunyai status tunangan anak orang.

Setidaknya, kalau dilihat tetangga saat keluar berdua, tidak ada lagi kasak kusuk di belakang. Setidaknya kalau ada apa-apa, orangtua tahu kepada siapa harus minta pertanggungjawaban, mungkin begitu pikirnya.

Padahal sebenarnya bukan itu yang harus menjadi pertimbangan. Tapi bagaimana caranya agar Allah tidak murka jika melihat anaknya berada pada hubungan yang belum halal yaitu dengan cara menikahkannya. Bukan membiarkan anaknya ke mana-mana dengan setan yang menjadi pihak ketiga.

Begitulah, Islam begitu baik dan indah mengatur urusan pernikahan. Hal ini ditujukan agar umatnya menjadi orang yang terjaga kehormatannya. Menjadi muslim/ah yang baik juga harus mengikuti setiap aturan agama. Tidak ada ruginya kalau kita berjalan di koridor Islam yang telah ditetapkan. Ya kan?

Oleh: Anik Cahyanik.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: