Ta’dhim, Ajaran Luhung yang Makin Hilang

Pasti kalian pernah mendengar ya, berita dilaporkannya seorang guru oleh orang tua murid gara-gara anaknya dijewer. Diklaim melakukan tindak tidak mendidik, kekerasan pada anak, dan melanggar HAM.

Inilah gaya sebagian besar para orang tua kini. Mereka mengharapkan anak-anaknya dididik sebaik-baiknya agar jadi orang baik (jangan lupakan sukses, yes, dalam arti masa depannya cemerlang secara material).

Mereka menjadikan lembaga pendidikan sebagai “tempat penitipan” anak karena orang tua sibuk kerja; mereka menjadikan guru-guru sebagai tumpuan harapannya. Tapi, mereka tak sudi anak-anaknya diberi model didikan yang tak sesuai alam pikiran materialis mereka.

Kemanusiaan dan HAM menjadi dua mantra pamungkas bagi barometer hidup mereka. Segala praktik pendidikan yang mereka anggap tak sesuai dengan mantra-mantra kemanusiaan dan HAM, dilawan. Dengan segala cara, termasuk mempolisikan para guru.

Cinta kasih orang tua kepada anak sudah pasti purna. Juga purba. Tak patut diragukan siapa pun.

Tapi, tepat di sebelahnya, memarnya pikiran dan batin orang tua modern dihajar kaidah-kaidah Barat yang mereka puja dan sembah, pada sebagiannya menumpas nilai-nilai mendasar yang tak dikenal pendidikan Barat. Ia bersumber dari tradisi kita sendiri, Timur, dan agama kita, Islam.

Ketika Barat dijadikan tahta mutlak pikiran dan batin, lepaslah mahkota Timur dan Islam yang asalinya tiada tara luhungnya.

Sebut satu saja di sini, yakni ta’dhim (takzim).  

Ia adalah sikap sami’na wa atha’na pada guru (bisa sesepuh, kiai, ustaz, dan pengajar) dalam ekspresi yang sepatuh-patuhnya. Sudah pasti, kita kesampingkanlah adanya oknum guru yang tidak mengusung martabat keilahian dalam perilakunya. Kita bahas saja guru yang lillahi ta’ala, yang terpercaya, yang otoritatif.

Jelas tidak bisa semua pendekatan dan cara guru dalam mendidik murid atau santrinya dipaksa harus sesuai dengan gaya Barat yang begitulah. Barat ada yang baik, bisa diserap, tapi janganlah lalu beralih kiblat kepadanya.

Ta’dim adalah sikap tawadhu’ yag sangat pantas dan bahkan mutlak diberikan oleh murid, santri, kepada guru atau kiainya. Ta’dhim adalah bentuk penghormatan yang paripurna kepada sosok yang kita jadikan sandaran dan tujuan dalam mengail ilmu, amaliah, dan akhlak karimah.

Metode pengajaran di kelas jelas kita karib sekali. Tetapi, dalam tradisi kita yang unik dan tak perlu dipaksakan ngekor ke Barat, ada banyak sekali metode pengajaran yang telah terbukti manjur, bahkan sulit dinalar, yang itu hanya akan berbuah bila dibingkai oleh sikap ta’dhim murid.

Saya tuturkan sedikit saja dari riwayat mu’tabar yang saya dengar dari sejumlah guru saya yang saya yakini benar.

Suatu hari ada seorang putra kiai datang kepada Kiai Syaikhona Kholil, Bangkalan, Madura. Ia datang pagi hari. Kiai Syaikhona Kholil ada. Beliau memimpin shalat jemaah di pondoknya. Berkali-kali. Tapi tak sekalipun ia menemui tamu itu. Sampai habis Isya …

Orang itu sabar menunggu. Benar-benar diam menunggu. Sampai tibalah panggilan itu. Habis Isya’. Berapa jam itu?

Kiai Syaikhona Kholil bertanya, ada maksud apa?

Orang itu menjawab, ia ingin nyantri kepada Kiai Syaikhona Kholil.

Kiai Syaikhona Kholil berkata, kamu sudah pintar begitu, kok, pulang sajalah.

Orang itu tetap menyatakan niatnya untuk nyantri kepada Kiai Syaikhona Kholil.

Akhirnya Kiai Syaikhona Kholil mengiyakan. Beliau meminta lelaki itu masuk ke kamar mandi pondok–bayangkan ya seperti apa kondisinya kamar mandi pondok pada masa itu—dan setelah lelaki itu ada di dalamnya, dikuncilah pintunya oleh Kiai Syaikhona Kholil.

Orang itu diam saja di dalam kamar mandi yang bacin, basah, dan berlumut. Diam dengan penuh keta’dhiman. Pintu kamar mandi itu baru dibuka sendiri oleh Kiai Syaikhona Kholil tiga hari kemudian.

YA!

TIGA HARI KEMUDIAN!

TIGA HARI LAMANYA IA DIPERAM DI DALAM KAMAR MANDI!

Setelah dibuka, Kiai Syaikhona Kholil berkata kepada santri barunya itu, “Pulanglah, kamu sudah matang ….”

Ia pun pulang. Dan, kemudian, diketahui bahwa santri itu menjadi kiai besar, kondang, dan menjadi teladan umat Islam.

Bisakah ini dijelaskan dengan teori pendidikan Barat? Apakah masih ada orang tua hari ini yang percaya penuh kepada guru anaknya, kiainya, dan menyerahkan sepenuhnya cara terbaik dalam mendidik anaknya, apa pun bentuknya? Ataukah, itu akan dianggap pelanggaran HAM, kekerasan, dan dilaporkan polisi?

Guru adalah mursyid kita, pembimbing bukan hanya episteme (pengetahuan nalar) anak-anak, tetapi juga pencerah ruhaninya (pengetahuan ontologisnya).

Untuk poin pertama, buku-buku, diktat-diktat, dan kelas-kelas sangat bisa memenuhinya. Tapi, untuk poin kedua, luaslah sangat wujudnya, ekspresinya, dan gurulah yang paling tahu caranya.

Di dalamnya bisa saja ada untaian doa yang khusyuk di malam buta, dzikir yang menggetarkan langit, dan amaliah yang tak kasat mata para orang tua dan bahkan murid itu sendiri.

Maulana Rumi mengandaikan ta’dhim pada guru ini bagaikan bimbingan di suatu perjalanan. Ia berkata, “Jika kau menempuh jalan menuju Allah tanpa guru kau bisa butuh waktu seratus tahun; tapi jika kau dibimbing guru, kau hanya butuh waktu setahun.”

Lipatan waktu, transfer ilmu bukan hanya nalar rasional tapi juga terutama pancaran ruhaninya, tertolong benar oleh keterlibatan guru. Maka, tidakkah pantas belaka jika murid, santri, memberikan ta’dhim besar kepada guru-gurunya?

Ataukah, kau akan anggap itu sikap otoriter dan hegemoni guru?

Jika kau berada di posisi pertama, kau benar-benar sedang berguru dalam artian epistemologis dan ontologis sekaligus.

Jika kau berada di posisi pertama, kau hanya menempatkan guru sebagai helaian kertas, buku, diktat, yang tentu saja kau telah sia-siakan dimensi batiniah, ruhani, dan spiritualitasnya yang tak ada di helai-helai teori apa pun.

Ta’dhimlah pada gurumu, barulah tuntut ilmunya. Adab harus lebih didahulukan ketimbang ilmu, agar kau jadi manusia yang bukan hanya cerdas, tapi utamanya berakhlak karimah.

Oleh: Edi AH Iyubenu.

Tinggalkan Balasan